peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Forgot login details?

For free!
Get started!

Mobile Blog


my love - Woman Asian
alyna.oke.peperonity.net

BERIMAJINASI

13.01.2012 15:01 EST
Setiap melihat kepompong di
daun palem di teras rumahku
aku selalu ingat
kata-kata kekasihku: kita, kau
dan aku, adalah kepompong,
yang menunggu waktu untuk
lepas dari bungkusnya dan
terbang menjadi kupu-kupu,
belalang, atau mungkin burung
jiwa.
"Aku lebih suka kupu-kupu.
Dengan sayap-sayap bercahaya
kita akan terbang ke langit," ujar
kekasihku, penuh imajinasi..
Tetapi, aku merasa terlalu lama
jiwaku tidur di dalam
kepompong itu, entah berapa
abad. Namun, kekasihku yakin,
makin lama kita bersemayam di
dalamnya, akan makin
matanglah jiwa kita, dan makin
perkasa pula raga kita. "Kalau
kau jadi kupu-kupu, kau akan
jadi kupu-kupu yang kuat. Kalau
kau jadi belalang, akan jadi
belalang yang perkasa," katanya.
Tapi, bagaimana kalau kita tidak
menjadi apa-apa, atau bahkan
mati di dalam kepompong itu,
karena tidak punya kekuatan lagi
untuk melepaskan diri dari
kungkungan derita. "Ah tidak.
Kita sedang berproses," katanya.
"Kita harus jalani proses itu
untuk menjadi."
Untuk menjadi? Menjadi apa?
Aku tidak tahu jawabannya,
sebab aku tidak punya cita-cita.
Aku ingin hidup mengalir saja
bagai air, berembus bagai angin,
menyebar bagai pasir, meresap
bagai garam, menyusup bagai
rumput-rumput jiwa.
Tetapi, seperti kata kekasihku,
aku jalani juga hidupku sebagai
proses proses untuk menjadi.
Aku jalani hari-hari manis, juga
hari-hari pahit, bersama orang-
orang yang bersentuhan
denganku, bersama jiwa-jiwa
yang bersedia berbagi. Kuliah,
pacaran, bekerja, membangun
karier, bertahun-tahun,
berabad-abad, sampai serasa
lumutan.
Tapi, aku sungguh tidak tahan
menghadapi tahapan
membujang terlalu lama takut
menjadi bujang lapuk. Maka, aku
pun menikah begitu menemukan
gadis yang aku sukai dan
bersedia berbagi meskipun lebih
banyak berbagi duka sebelum
kuntuntaskan cintaku padanya.
Sementara, kekasihku begitu
tahan menjalani tahapan itu,
membujang begitu lama,
setidaknya sampai kami bertemu
lagi di Jakarta.
"Aku ingin kukuh dalam cinta,
cinta pertama," katanya. Aku
terkejut sekaligus terpana.
"Bukankah kita masih dalam
kepompong cinta yang sama?
Sayap-sayap kita sedang tumbuh
untuk bisa terbang sebagai
kupu-kupu, bersama,"
tambahnya. Imajinatif sekali.
Melebihi imajinasi seorang
pujangga.
"Tapi aku sudah menikah dan
punya anak. Aku bukan lagi
yang dulu," kataku. "Masuklah
kembali engkau ke dalam
kepompongku untuk bercinta
seperti dulu," katanya.
"Tapi, bagaimana dengan
kepompongku?"
"Buang saja. Tidak ada gunanya.
Ia telah pecah oleh
perkawinanmu yang tanpa cinta
itu."
"Apa? Tanpa cinta? Ah... kau
keliru. Aku mencintai istriku."
"Bagaimana engkau bisa berkata
begitu jika cintamu tertinggal di
sini, di dalam kepompongku.
Tiap saat aku dapat merasakan
denyutnya."
Aku ingin membantah kata-
katanya, bahwa aku benar-benar
mencintai istriku, meskipun pada
saat yang sama juga mencintai
kekasihku. Bukankah lelaki biasa
membagi cinta, sebab kodrat
lelaki memang poligamis? Karena
itu, meskipun aku telah
memberikan cinta pada istriku,
masih bisa juga aku
mencintainya. "Aku masih
mencintaimu. Aku masih
berhasrat menyatukan jiwa
dalam kepompong cintamu,"
kataku akhirnya.
Sejujurnya, aku memang tidak
dapat membohongi hati kecilku
bahwa aku menikah bukan
semata-mata karena cinta. Tapi,
lebih karena tanggung jawab
dan kewajiban. Aku memang
mencintai istriku, tapi hanya
dengan setengah hatiku. Sebab,
seperti kata kekasihku, separuh
cintaku masih tertinggal dan
berdenyut di dalam
kepompongnya.
Dan, begitulah. Hari-hari kulalui
dalam percintaan ganda. Di
rumah aku
bercinta dengan istriku, berkasih
sayang dengan anak-anakku,
dan membangun kehidupan
sakinah dengan mereka. Pada
hari-hari tertentu aku
mengimami shalat mereka, dan
menemani mereka membaca
Alquran dalam kasih sayang
Yang Maha Kuasa. Tetapi, di luar
rumah aku selalu rindu untuk
memasuki kepompong cinta
kekasihku, memenuhi yang
belum terpenuhi, mencintai yang
belum tercintai.
Kadang-kadang, bosan bermain
kata-kata dalam imajinasi-
imajinasi indah itu ini yang selalu
aku lakukan sambil menatap
wajahnya yang ayu dan
senyumnya yang bagai irisan
salju kami menciptakan
kepompong dari selimut tebal di
suatu tempat yang sejuk dan
sepi.
"Saatnya kita masuk ke dalam
kepompong yang sebenarnya,"
katanya tiap kali kami
merentangkan selimut tebal
seperti biasa.
Dan, kami pun berada di dalam
selimut yang menutup sejak
ujung kaki sampai ujung rambut
kami. Seperti dulu, ketika kami
masih sama-sama di Yogya, aku
kembali merasakan hangat
tubuhnya, degup jantungnya,
lembut nafasnya, dan harum
rambutnya.
"Apa yang harus kita lakukan
sekarang?" tanyanya.
"Kita tidur seperti bayi kupu-
kupu sampai sayap-sayap kita
tumbuh dengan perkasa untuk
terbang ke langit bersama,"
kataku.
"Apakah kau masih tidak ingin
menikmati keperawananku."
"Siapa tidak ingin menikmati
keperawanan gadis secantik kau?
Tapi, tidak. Aku tidak ingin
merampas hak suamimu.
Siapapun dia, kelak. Aku lebih
suka menjaga kemurnian cinta
kita, tanpa seks!"
"Kau memang lelaki yang luar
biasa."
"Luar biasa bodohnya,
maksudmu?"
"Ha ha ha…!"
Kekasihku tertawa di dalam
selimut, cukup keras, hingga
kepompong cinta kami serasa
bergetar mau pecah. Tentu,
menertawai kebodohanku.
Tetapi, anehnya, sepuluh tahun
lebih, dia tetap sabar
mempertahankan cintanya pada
lelaki bodoh seperti aku.
Bukankah itu berarti dia,
kekasihku, juga bodoh sepertiku?
Ya, mau-maunya dia terus
mencintai lelaki yang tidak
mungkin lagi mengawininya,
karena sudah beristri dan
beranak. Apakah cinta memang
misteri yang sulit dipahami, yang
sulit ditolak kehadirannya dan
sulit diusir pergi? Atau, kami
memang orang-orang aneh yang
ingin terus bercinta sebatas
keindahan imajinasi?
Sebagai wanita karier yang
cukup jelita bukannya tidak
pernah ada lelaki lain yang
menginginkan kekasihku.
Banyak. Banyak sekali. Beberapa
kali aku pun perah memergoki
dia berjalan dengan seorang
lelaki di suatu mal atau lobi
bioskop. Tetapi, lagi-lagi, tiap kali
kupergoki begitu, tidak lama
kemudian dia langsung
meneleponku bahwa lelaki itu
hanya kawan biasa.
Suatu hari pernah pula aku
melihat kekasihku dikejar-kejar
oleh seorang manajer tempatnya
bekerja. Aku dengar lelaki itu
sangat tertarik padanya.
Kekasihku didekati dengan
sedannya yang mulus, dibukakan
pintu dan dipersilakan masuk.
Tetapi, dengan halus kekasihku
menolaknya. Dan, ketika kutanya
mengapa, kekasihku hanya
menjawab, "Aku masih suka
tidur sebagai bayi kupu-kupu di
dalam kepompong cinta kita."
Kadang-kadang aku merasa
khawatir juga, jangan-jangan
kekasihku benar-benar
menunggu lamaranku untuk
kunikahi. Sebab, suatu hari ia
pernah mengatakan, "aku sering
merasa diciptakan hanya
untukmu." Dan, bukannya aku
tidak berani melamar dan
menikahinya, atau bermaksud
sengaja mempermainkannya.
Sama sekali tidak! Tetapi, lebih
karena aku sudah memiliki anak
dan istri, dan sejujurnya belum
punya nyali untuk berpoligami.
Kadang-kadang, aku ingin nekat
saja menikahinya sebagai istri
kedua. Tetapi, tiap aku menatap
wajah istri dan anak-anakku
yang polos-polos yang tidak
berdosa, yang saat tidur seperti
menyerahkan seluruh nasibnya
padaku, aku menjadi tidak
sampai hati melakukannya. Aku
tidak tega membayangkan
keluargaku, yang aku bina
sepuluh tahun lebih, tiba-tiba
tercerai berai karena pernikahan
keduaku.
Tetapi, bagaimana kalau
kekasihku memang benar-benar
menungguku, dan terus
menungguku bertahun-tahun
lagi, berpuluh-puluh tahun lagi,
berabad-abad lagi, sampai hilang
seluruh kecantikannya secara
sia-sia? Bukankah itu artinya aku
menyia-nyiakannya? Bukankah
itu artinya aku juga berdosa?
aaBerhari-hari lagi, berbulan-
bulan
lagi, bertahun-tahun lagi, seperti
keyakinan kekasihku, kami terus
berproses untuk menjadi. Entah
menjadi apa. Berkali-kali kami
mencoba tidur bersama lagi,
bagai dua bayi kupu-kupu, di
dalam satu kepompong cinta.
Tetapi, belum juga tumbuh
sayap-sayap perkasa di tubuh
kami untuk terbang ke langit
bersama-sama.
Aku makin suntuk dengan anak-
anakku, memikirkan sekolah dan
masa depan mereka. Aku juga
makin sibuk dengan lemburan
dan pekerjaan-pekerjaan
sambilanku untuk menutup
defisit biaya hidup di Jakarta
yang semakin mahal saja.
Sementara, kekasihku juga makin
suntuk dengan kariernya yang
terus menanjak, dan kini
menduduki posisi sebagai
seorang manajer. Kudengar
bahkan dia sedang diproyeksikan
untuk menduduki salah satu
jabatan di jajaran direksi.
"Syukurlah," pikirku.
Makin hari kamipun makin
jarang bertemu, karena
kesibukan masing-masing.
Bukannnya kami sudah tidak
rindu lagi untuk tidur bersama
sebagai bayi kupu-kupu di dalam
kepompong cinta. Tapi, lebih
karena waktu yang makin ...


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.