peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Forgot login details?

For free!
Get started!

Mobile Blog


alynadwina
alyna.oke.peperonity.net

Hati2 dngan nomer tak dikenal

13.01.2012 15:19 EST
Pastikan Anda Benar-Benar Tak
Mengenalnya
Aku sama sekali tak
menduganya. Bukannya aku
sudah lupa dengan suaranya.
Tapi aku memang benar-benar
tak menduga bahwa yang
meneleponku di siang hari itu
adalah dia. Lagi pula aku sudah
lama menghapus nomornya dari
ponselku. Aku bahkan tidak tahu
apakah itu nomor dia yang dulu
atau nomor baru. Aku selalu
lupa pada angka. Atau memang
angka demikian mudah
dilupakan.
"Hallo… Ini siapa, ya?" Jadi aku
memang benar-benar bertanya.
Bukan sedang berpura-pura
untuk menggodanya.
"Alah, masa lupa, sih?" Aku jadi
tak enak. Kau pun akan merasa
demikian kan? Jika bertemu
dengan seseorang yang seperti
mengenalmu tapi kau sama
sekali tak bisa mengingat, kapan
dan di mana kalian pernah
bertemu sebelumnya.
Aku berusaha keras mengingat.
Sebenarnya bukan berkeras
mengingat, tapi berusaha keras
untuk meyakinkan diri. Suaranya,
aku tak pangling lagi: Alina. Tapi
benarkah dia? Aku tak segera
bisa meyakinkan diriku. Ada
urusan apa? Sedang aku sudah
lama tak berurusan dengannya.
"Alin, ya?" Tebakku tak yakin.
Sama sekali tak yakin.
"Ooo… Masih ingat, ta? Kirain
udah lupa." Lalu ia tertawa.
Ngakak. Tawa yang seharusnya
segera bisa meyakinkanku bahwa
yang sedang bicara di seberang
sana itu adalah dia. Tapi
bagaimana aku bisa meyakinkan
diriku saat itu? Sudah lama ia tak
ada lagi bagiku. Dan aku benar-
benar sudah berhasil
melupakannya. Kau mungkin tak
akan mempercayai
keberhasilanku yang satu ini:
melupakan seseorang dengan
sempurna. Tidak mudah,
memang. Tapi nyatanya aku bisa.
Aku bisa melupakan seluruh
pertemuanku dengannya.
Seluruh cintaku kepadanya.
Seluruh wajahnya. Juga bau
tubuhnya. Aku seperti bisa
memotong satu kurun waktu
dari hidupku yang
bersinggungan dengannya. Dan
membuangnya jauh-jauh dari
hidup yang terus kujalani.
Tapi teleponnya siang hari
bolong itu seperti mengejek
keberhasilanku itu. Panas
setahun hilang oleh hujan sehari
kata orang lama. Tapi karena
nila setitik rusak susu sebelanga
lebih tepat bagiku. Karena
teleponnya rusaklah
keberhasilanku melupakannya.
Sial! Aku tak tahu harus
menyalahkan siapa. Jika kau
gagal bukankah kau selalu
mencari kambing hitam? Sialnya,
tak ada kambing hitam yang
tepat untuk kejadian yang
kualami ini selain diriku sendiri.
Aku mulai mencurigai diriku.
Jangan-jangan aku tak pernah
sekali pun melupakannya. Bahwa
selama ini ia tetap ada tapi aku
berpura-pura tak menyadarinya.
Aku hanya sekadar menumpuki
ingatanku tentangnya dengan
beragam ingatan yang lain. Jadi,
aslinya ia tetap ada. Tak kurang
tak lebih. Ia tetap bersemayam
dengan kuat dalam kepalaku.
Diam. Seperti menunggu saat
yang tepat buat membalas
dendam. Dan saatnya telah tiba.
"Tentu saja aku masih ingat.
Nggak mungkinlah aku bisa lupa
sama kamu." Tentu saja tak
kukatakan bahwa aku telah
gagal melupakannya. "Apa
kabar?"
"Baik. Kamu?"
"Baik. Mmm… Lagi di mana, Lin?"
Semoga ia tak berada di tempat
yang dekat. Jawablah dengan
nama kota yang terjauh dari
jangkauanku. Syukur-syukur
nama sebuah kota asing.
Mendadak aku mulai merasa
ketakutan. Aku mulai terancam
dengan kehadirannya kembali.
Pelan-pelan aku mulai berjaga-
jaga. Menjaga apa? Aku tak
tahu. Menjaga diriku. Mungkin
saja.
"Kampung. Aku balik kampung.
Dah 5 tahun." Aku sedikit lega.
Meski kampung yang
dimaksudkannya itu cuma enam
jam perjalanan darat saja dari
tempatku. Setidaknya ia tak
berada di kota yang sama
denganku.
"Dapat kerja di situ?"
"Yup." Kelegaanku sedikit
bertambah. Aku sedikit merasa
nyaman bercakap dengannya.
"Gak sedang sibuk kan?"
Sebenarnya aku ingin langsung
menjawab, "Sibuk." Dan
selesailah. Aku bisa kembali
menyibukkan diriku untuk
kembali melupakannya. Sialan!
Tiba-tiba saja aku marah pada
diriku sendiri. Marah dalam arti
yang sebenar-benarnya. Jadi
selama ini seluruh kerja yang
kulakukan ini hanyalah sebuah
usaha untuk melupakannya? Jadi
selama ini diam-diam dialah yang
menggerakkanku? Aku wayang
dan dia dalang?!
"Gak kok. Kebetulan lagi
istirahat. Ada apa nih?" Benar
kan aku cuma wayang? Aku
hanya mengucapkan kata-kata
yang ingin didengarnya. Kata-
kata barusan bukan kata-kataku
sendiri. Adalah kata-katanya.
Aku cuma mengucapkannya.
"Ada apa nih, Lin? Kok njanur
gunung."
"Janur gunung? Apa tuh?"
"Tumben."
"Janur gunung kok bisa jadi
tumben?"
"Njanur gunung sama dengan
menyerupai aren. Menyerupai
aren bahasa Jawanya
kadingaren. Kadingaren bahasa
Indonesianya adalah tumben."
"Kamu kok nggak capek-capek
sih jadi orang Jawa."
"Ya capek sih kalau dipikir-pikir.
Tapi jika sejak kecil kau berada di
dalamnya, dipaksa terus-
menerus berada di sana, apa
kau akan sempat memikirkannya
lagi?"
"Kamu gak capek. Yang denger
yang capek, tauk!"
Seperti dam yang pintu airnya
jebol. Serupa bendungan yang
tanggulnya ambrol. Percakapan
kami mengalir tak habis-habis. Ia
dalang yang tak pernah
kehabisan cerita. Aku wayang
dari kulit kerbau terbaik --ulet
dan tahan lama; siap memainkan
kisah apa saja. Juga kisah antara
aku dan dia. Sebuah kisah cinta.
Atau hanya kangen-kangenan
biasa.
"Aku sudah nikah, Lin. Anakku
satu. Tapi kami sudah pisah."
"Wah, duren dong."
" Duren ?"
"Duda keren. Ha ha…" Ia
tertawa ngakak lagi.
Mengingatkanku pada banyak
hal tentang dirinya. Mungkin
benar kata orang, segala sesuatu
mengingatkan kita pada sesuatu
yang lain. Tawanya
mengingatkan pada senja oranye
di sebuah pantai di mana
jemariku menggelitiki
pinggangnya. Mengingatkanku
pada hari di mana ia meniup lilin
ulang tahunnya yang dua puluh
dua. Juga mengingatkanku,
aneh, pada tangisnya yang
berwarna kelabu. Warna
favoritku. Warna sejumlah t-
shirt-ku. Warna perpisahan kami.
"Tahu tidak? Berbulan-bulan aku
mencari nomormu." O, ya?
Untuk apa? Tidakkah seluruh hal
tentang kita telah kita tinggalkan
karena tak satu pun dari kita
kuasa menanggungnya? "Dan
baru hari ini aku
menemukannya."
Aku memang selalu berganti
nomor. Dan baru kali itu aku
benar-benar menyadari
alasannya: menghindar darinya.
Dan seperti bocah yang tempat
persembunyiannya ketahuan,
aku tersenyum kecut, merasa
kalah dan gagal.
"Mmm… Dari mana kau dapat
nomorku?"
"Darimu."
"O, ya? Kapan?" Tiba-tiba aku
cemas. Jangan-jangan tanpa
kusadari ada bagian dari diriku
yang meneleponnya terlebih
dulu, atau meninggalkan nomor
terbaruku di e-mailnya. "O, ya,
ya. Aku lupa." Aku harus
mengakui perbuatan yang tak
pernah kulakukan. Atau tak
sepenuhnya kusadari.
Kecurigaanku kepada diriku
sendiri makin berlipat. Jangan-
jangan diriku memang terbelah
menjadi dua. Satu bagian masih
berusaha mempertahankan
kehadiran Alina. Yang lain
berusaha keras melupakannya.
Dan selama ini mereka
bertarung di luar kehendak dan
kesadaranku. Mereka sama-
sama mengkhianatiku. Sama-
sama meninggalkanku. Sendirian.
Dan kedinginan.
"Aku hanya ingin tahu sebahagia
apa kamu sekarang." Ah, jika
bahagia itu ada, aku akan
menjawab dengan pasti bahwa
aku bahagia. Tapi sebagai jalan ia
adalah jalan yang licin, sebagai
sebuah tempat ia tak beralamat.
"Aku bahagia sekaligus tidak
bahagia. Bagaimana, ya,
ngomonginnya? Ya, gitu-gitu
deh. Kau sudah tahu bagaimana
aku." Jawabku aman-aman saja.
Tak menjawab sesungguhnya.
"Bagaimana dengan kamu
sendiri?"
"Nggak tahu ya. Tapi aku senang
dengan seluruh hal yang
kulakukan sekarang." Syukurlah.
Bagaimanapun aku turut senang
mendengarnya.
"Juga sekarang kau senang?"
"Ya. Aku senang sekali bisa
meneleponmu. Kupikir kau
sudah melupakanku."
"Mmm… Kau sudah nikah, Lin?"
"Belum." Entah kenapa aku
merasa lega. Tapi segera ada
bagian dari diriku yang kembali
mengikatnya. Erat dan
menyesakkan. Kelegaan itu
segera menghilang.
"Tapi beberapa hari yang lalu
kami sudah memutuskan untuk
menikah."
"O, ya. Selamat deh." Aku
meresponnya dengan biasa saja.
"Semoga kau makin bahagia
karenanya."
"Thanks. Eh, minta e-mailmu
dong."
"Ya, ntar ku-sms. Ini nomormu
kan? Aku minta e-mailmu juga
ya?"
"Yup."
"Eh, dah dulu, ya? Aku ada
janjian ketemu orang. Kapan-
kapan kita sambung lagi."
Sebenarnya aku tak ada janji
dengan siapa-siapa hari itu. Aku
hanya berjanji kepada diriku
sendiri untuk segera mengakhiri
percakapan itu. Secepat-
cepatnya. Makin cepat makin
baik.
"Oke. Sampai ketemu lagi. Sorry
sudah ngganggu waktumu.
Mmmmuuaaahhh!"
Aku segera mematikan ponselku
sebelum ciuman akhir itu benar-
benar mendarat di pipiku. Dan
baru kemudian aku merasa lega.
Tak sepenuhnya memang. Tapi
seperti ...


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.