peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Forgot login details?

For free!
Get started!

Text page


images - Wallpaper
jendela.hikmah.peperonity.net

(Jangan) Berhenti Pada Sebuah Takdir

::<>::<>::-=¤)§(¤=-::<>::<>::

::<>::<>::<>::

Apakah yang dimaksud dengan takdir?
Dapatkah manusia mengubah takdir yang telah digariskan ROBB untuk dirinya?
Perbincangan tentang takdir dan sejauh mana manusia punya kuasa untuk ikut berperan didalamnya telah lama menjadi bahan perdebatan para mutakallimin atau teolog pada masa-masa awal perkembangan pemikiran Islam.

Maka sejarah Islam pun mencatat lahirnya dua kekuatan arus utama pemikiran Islam mengenai takdir pada masa itu, yaitu Kaum Qodariyah yang percaya bahwa manusia memiliki kuasa mutlak atas takdirnya, dan kaum Jabariyah yang percaya manusia hanyalah wayang yang tak mampu menulis takdirnya sendiri karena sepenuhnya bergantung kepada kehendak ROBB.

Saya tidak bermaksud mengajak untuk memperdebatkan kembali konsep mana diantara dua pendapat ekstrim tersebut yang lebih mendekati kebenaran, karena pada dasarnya keduanya mengambil pendapatnya berdasarkan kepada Al Qur'an, sumber referensi tertinggi dalam Islam.

Takdir memang sesuatu yang kompleks dan rasanya tidak mungkin orang bersepaham pendapat mengenainya.
Tetapi mungkin kita bisa mengambil pelajaran dari pendapat Umar bin Khaththab ra.

Dalam sebuah perjalanan perang, Umar bin Khaththab mendapat kabar bahwa kota yang akan dimasuki tentaranya sedang terjangkit sebuah wabah penyakit menular.
Maka Umar pun mengurungkan rencananya memasuki kota itu.

Salah seorang sahabat memprotes tindakan yang diambil Umar.
Ia mendatangi Kholifah kedua itu dan bertanya,
"Wahai Umar, apakah engkau hendak menghindar dari takdir yang telah digariskan ROBB kepada kita?"
Umar pun menjawab,
"Tidak, aku berpindah dari satu takdir kepada takdir yang lain."

Apa yang bisa kita petik dari jawaban Umar diatas?
Mungkin setiap orang memiliki tafsir sendiri-sendiri atas jawaban Umar yang seperti itu.
Tetapi bagi saya, Umar tampaknya berusaha mengakomodasikan dua pandangan diatas yang pada masanya sebenarnya belum tampil sebagai wacana yang dipolemikkan secara umum, apalagi sampai menimbulkan friksi dikalangan umat.

Di satu sisi, Umar mengakui free will, kehendak bebas manusia untuk membuat pilihan atas persoalan riil yang dihadapinya.
Tetapi di sisi lain, Umar menganggap pilihan yang diambil oleh manusiapun, pada akhirnya, mau tidak mau, tetap berjalan dalam takdir ROBB juga.

Jika kita sekarang hidup dalam kondisi stag (mandek) dalam sebuah karir atau status pekerjaan tertentu, kita mungkin bisa menyalahkan takdir.
"Ah, memang rezeki saya cuma segini."
"Ya, mungkin takdir saya memang begini."

Mungkin demikian jawaban kita ketika disodurkan pertanyaan dari orang-orang yang miris melihat ketidak beruntungan kita.
Bagi kita, takdirlah yang membuat hidup kita seperti itu.
Tetapi Umar memberi kita pilihan cerdas;
`Memilih takdir lain selain yang kini kita jalani.`

Artinya apa?
Jika sekarang kita terpuruk dalam takdir yang kurang menguntungkan atau kurang membahagiakan, pindahlah, carilah takdir lain yang lebih membuat kita beruntung dan bahagia, karena sesungguhnya ROBB masih menyediakan takdir lain bagi kita.
Jadi, jangan berhenti pada sebuah takdir!

-=¤)§(¤=-


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.