peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Forgot login details?

For free!
Get started!

Downloads


umum.1.peperonity.net

Gara-gara Gadis Pemijat 02

Gara-gara Gadis Pemijat 02

Sambungan dari bagian 01

Paginya pukul 07:00 kakak perempuanku masuk ke kamar untuk membangunkanku. Karena kamarku tidak dikunci, betapa terbelalaknya dia ketika melihat aku tanpa celana tidur terlentang dan melihat batanganku sudah berdiri dan di perutku terdapat bekas mani yang mengering.
"Andraa.. apa-apaan kau ini ha!" hardiknya, aku terkejut dan langsung mengambil selimut untuk menutupi batangan kerasku yang menjulang.
"Eh .. Kakak.. emm.." kataku gugup.
"Kamu ngapain ha..? sudah besar nggak tau malu huh..!"
Au cuek saja, malah aku langsung melepas selimut dan meraih celanaku sehingga kemaluanku yang tegang tampak lagi oleh kakakku.
"Iiihh.. nggak tau malu, barang gituan dipamerin," ia bergidik.
"Biar aja.. yang penting nikmat," jawabku enteng, kakak perempuanku yang satu ini memang blak-blakan juga sih. Ia menatapnya dengan santai, kemudian matanya tertuju pada baby oil yang tergeletak di kasurku.
"Sialan.. kamu memakai baby oil-ku yah? Dasarr!"
Ia ngomel-ngomel dan berlalu, aku pun hanya tertawa cekikikan. "Brak!" terdengar suara pintu dibanting olehnya, "Dasar perempuan! nggak boleh liat cowok seneng," gerutuku.
Aku pun dengan santainya keluar kamar dan sarapan sebelum mandi, kulihat kakak perempuanku sedang lihat TV.
"Eh.. Kak minta sampoonya dan sabunnya dong!" pintaku.
"Ogah ah.. entar kamu buat macam-macam, pokoknya nggak mau," jawabnya ketus.
"Huhh.. wee!" aku mencibir.

Aku langsung saja mandi dan sarapan. Sekitar pukul 08:00 kustater Land Rover kesayanganku dan langsung kupacu ke tempat Ema, mungkin ia sudah menungguku. Benar juga sampai di depan pagar rumahnya ia sudah menungguku di depan teras rumahnya.
"Haii.. kok agak terlambat sih Say?" tanyanya.
"Eh.. sori nih trouble dengan kakak perempuan," dalihku.
"OK lah, mari kita berangkat!"
Kami pun langsung tancap menuju tempat tujuan kami yaitu kolam renang di kawasan Cipanas. Yah, maklum saja itu hari Rabu maka perjalanan kami lancar karena tidak terjebak macet. Kurang lebih 2 jam perjalanan santai kami sampai di tempat tersebut.

"Eh.. yang sini sajalah, tempatnya enak loh," pintanya.
"Baiklah Sayaang.." kataku.
Kami berdua langsung saja masuk.
"Yang, aku ganti dulu yah.. kamu ikut nggak?" ajaknya.
"Yuk, sekalian saja aku juga mau ganti."
Di kolam renang itu paling hanya terdapat segelintir orang yang sedang berenang, karena tempat itu ramai biasanya pada hari Minggu.
"Emm.. kita ganti baju bersama saja yah? biar asyikk.." katanya.
Aku spontan menganggukkan kepalaku. Di dalam ruang ganti kami pun segera meletakkan tas kami dan segera melepas baju, Yayangku ganti baju terlebih dahulu. Ia mencopot dulu kaosnya, Ema memang penyuka kaos ketat dan celana jins, melihatnya melepas kaosnya aku pun hanya terpaku tak berkedip.
"Kenapa Sayang.. ayolah lepas bajumu," katanya sambil tersenyum.
"Habbis.. aku suka memandangmu waktu begitu sih," dan dia hanya tertawa kecil.

Aku pun segera mencopot t-shirtku dan celana panjangku dan cuma CD yang kutinggalkan. Tanpa ragu-ragu aku pun memelorotkan CD-ku di depan pacarku karena ingin ganti dengan celana renang, "Wahh.. Yayang ni.." katanya sedikit terkejut. Rupanya ia agak kaget juga melihat batang kemaluanku yang setengah ereksi.
"Kok tegang sih Say?" selidiknya manja.
"Habis kamu montok sih.." jawabku seraya memakai celana renang yang super ketat.
"Wahh.. hemm," goda pacarku ketika melihat kemaluanku tampak menyembul besar di balik celana renang itu, dia itu memang asyik orangnya.
"Nahh.. aku sudah beres," kataku setelah memakai celana itu.
"Eh.. bantu aku dong!" dia tampaknya kesulitan melepas branya.
"Sini aku lepasin.." kataku.
Kemudian kulepaskan branya. Astaga, sepasang daging montok dan putih terlihat jelas, hemm spontan saja batang kemaluanku tegang dibuatnya.
"Ah.. sayang, dadamu indah sekali," kataku sambil berbisik di belakang telinganya.
Langsung saja ia kupeluk dari belakang dan kuciumi telinganya.
"Eeh.. kamu ingin ML di sini yah?" jawabnya sambil memegang tengkukku.

Aku tidak menjawab. Tanganku langsung bergerilya di kedua gunung kembarnya, kuremas-remas dengan mesra dan kupelintir lembut putingnya yang masih merah segar, "Ah.. Sayang!" desahnya pendek, batang kemaluanku yang sudah tegak kugesek-gesekkan di pantatnya, wahh.. nikmat sekali, dia masih memakai celana sih.
"Aduh.. keras sekali, Yayang ngaceng yah.." godanya.
"Dah tau nanya.. hh," kataku terengah.
Buah dadanya semakin keras saja, rupanya ia mulai terangsang dengan remasanku dan ciumanku di telinganya.
"Ehhmm.. uhh," lenguhnya sambil memejamkan mata.
Melihat gelagat tersebut aku menurunkan tanganku ke ritsleting celananya, kulepas kancingnya dan kupelorotkan ritsletingnya, ia agaknya masih agak ragu juga, terbukti dengan memegang tanganku berupaya menahan gerakan tanganku yang semakin nakal di daerah selangkanganya. Tetapi dengan ciumanku yang membabi buta di daerah tengkuknya dan remasanku yang semakin mesra, akhirnya tanganku dilepasnya, kelihatannya ia sudah terangsang berat. Tanpa basa-basi tanganku langsung menelusup ke CD-nya. Wahh.. terasa bulu-bulu halus menumbuhi sekitar liang kemaluannya. Kuraba klitorisnya, "Aghh.. oouhh.. sayang kamu nakal deh," dengusnya sambil mengerjap. Ia langsung membalikkan tubuhnya, memelukku erat dan meraih bibirku, "Cupp.." wah ia lihai juga melakukan French Kiss. Dengan penuh nafsu ia melahap bibirku. Cewekku yang satu ini memang binal seperti singa betina kalau sudah terangsang berat.

Agak lama kami ber-French Kiss ria, perlahan ia mulai menurunkan kepalanya dan ganti memangsa leherku, "Aahh.. geli sayang," kataku. Rupanya debar jantungku yang menggelegar tak dirasakan olehnya. ia langsung mendorongku ke tembok, dan ia pun menciumi dadaku yang bidang dan berbulu tipis itu. "Wah.. dadamu seksi yah.." katanya bernafsu. Menjulurlah lidahnya menjilati dadaku "Slurrpp.." jilatan yang cepat dan teratur tersebut tak kuasa menahan adikku kecil yang agak menyembul keluar di balik celana renangku. Jilatannya semakin lama semakin turun dan akhirnya sampai ke pusarku. Tangan pacarku kemudian merabai batang kemaluanku yang sudah keras sekali. Aku pun sangat bernafsu sekali karena mengingatkanku pada gadis panti pijat yang merabai lembut kemaluanku. "Ahh.. Sayang.." desahku tertahan. Dengan cekatan ia memelorotkan celana renangku yang baru saja kupakai, alhasil batanganku yang keras dan panjang pun mendongak gagah di depan mukanya.
"Ihh.. gila punyamu Sayang.." katanya.
"Ema.. hisap dong Sayang!" pintaku.
Ia agak ragu melakukan itu, maklum ia masih virgin sih. Ia belum menuruti permintaanku, ia hanya mengocok pelan namun gerakan kocokannya pun masih kaku, sangat berbeda dengan gadis pemijat tempo hari.
"Ssshh.. uahh.." aku pun mendesah panjang menahan kenikmatanku.
"Sss.. sayang hisap dong!"
Aku pun menarik kepalanya dan mendekatkan bibirnya yang mungil ke kepala kemaluanku, sekali lagi ia agak ragu membuka mulut.
"Aah.. nggak mau Say, mana muat di mulutku.." jawabnya ragu.
"Egh.. tenang saja sayang, pelan-pelan lah,"

Dia agaknya memahami gejolakku yang tak tertahan. Akhirnya ia memegang batanganku dan menjulurkan lidahnya yang mungil menjilati kepala kemaluanku.
"Slurpp.. slurpp.." sejuk rasanya.
"Mmhh.. ahh, nah begitu Sayang.. ayo teruss.. ahh sshh, buka mulutmu sayang."
Ia masih saja menjilati kepala dan leher kemaluanku yang mengacung menantang langit, lama-lama ia pandai juga menyenangkan lelaki, jilatannya semakin berani dan menjalar ke kantong semarku. "Ih.. bau nih sayang.. tadi nggak mandi ya?" katanya menggoda ketika menjilati buah zakarku yang ditumbuhi bulu-bulu halus, aku memang merawat khusus adikku yang satu ini. "Ihh.. nggak lah sayang, kan yang penting nikmat," kataku tertahan. Mulut mungil Ema perlahan membuka, aku pun membimbing batang kemluanku masuk ke mulutnya. "Mmhh.. eghh.." terdengar suara itu dari mulut Ema ketika batangku masuk, tampaknya ia menikmatinya. Ia pun mulai menghisapnya dengan bernafsu.
"Slerpp.. cep.."
"Ahh.. mm.. oohh.." desahku penuh kenikmatan.
"Mmmhh.. sayang, nikmatt sekali.." gumamku tidak jelas.
Setelah agak lama, aku pun menarik kemaluanku dari mulut Ema. Segera kubopong tubuhnya ke bangku panjang di dalam ruang ganti. Kurebahkan badannya yang lencir dan montok di sana, dengan keadaan pusakaku yang masih mengacung, kupelorotkan celana jins Ema dengan penuh nafsu, "Syuutt.." dan tak lupa CD-nya. Ia pun tampaknya pasrah dan menikmatinya karena tangannya merabai sendiri puting susunya.

Kemudian tampaklah lubang kemaluannya yang merah dan basah, aku pun segera mendekatkan kepalaku dan.. "Slurp," lidahku kujulurkan ke klitorisnya.
"Hemm.. slurp.."
"Aachh.. uhh!" desahnya panjang menahan kenikmatan yang dirasakan tarian lidahku di kemaluannya yang sangat lincah, makanya Ema mati keenakan dibuatnya.
"Sssh.. sshhss.." desisnya bagaikan ular kobra.
"Andraa.. aku nggak tahan lagii.." ia menggeliat tak karuan.
"Akuu.. nyampai nihh.."
Jilatanku semakin kupercepat dan kutambah ciuman mesra ke bibir kemaluannya yang harum, "Cup.. cupp," kelihatannya ia hampir mencapai puncak karena kemaluannya memerah dan banjir.
"Sshh.. aahh.. oohh Yaangg.. aku keluarr.." erangnya menahan kenikmatan yang luar biasa.
Benar juga cairan kemaluannya membanjir menebar bau yang khas. Hemm enak, aku masih saja menjilatinya dengan penuh nafsu.
"Aduhh.. hh.. Sayang, aku udah nihh.." katanya lemas.
"Ma, aku masih konak nih.." kataku meminta.
Langsung saja tanganku ditariknya dan mendudukkanku di atas perutnya, batang kemaluanku yang masih tegang menantang belum mendapat jatahnya. Langsung saja Ema mengambil lotion "Tabir Surya" dan mengolesinya ke batang kemaluanku dan ke dadanya yang montok, dan ia segera mengapitkan kedua gunung geulis-nya agar merapat. Ia mengambil lagi lotion itu, dan mengusapkan ke kemaluanku, "Ahh.." aku pun hanya merem-melek. Kemudian ia menarik batang kemaluanku di antara jepitan gunung kembarnya. Wahh.. nikmat juga rasanya, aku pun memaju-mundurkan pantatku layaknya orang yang sedang bersetubuh.

"Bagaimana rasanya sayang.." tanyanya manja dan memandangku sinis.
"Aahh.. mm.. ss nikmat sayang.." ia pun tertawa kecil.
Ia merapatkan lagi gunungnya sehingga rasanya semakin nikmat saja.
"Uuahh.. nikkmatt sayangg..!" erangku.
Ia hanya tersenyum melihat mukaku yang merah dan terengah menahan nikmat.
...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.