peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Forgot login details?

For free!
Get started!

Text page


vitron.peperonity.net

SATU :

MENJINAKKAN HARIMAU


Pikiran yg terkendali adl pangkal kebahagiaan.
(Buddha Gautama)

Pikiran adl akar dr semua pengalaman kita, baik yg menyangkut diri kita & org lain. Jika kita memandang dunia dng cara yg tdk jernih, kebingungan & penderitaan pastilah akan muncul. Bagaikan se2org yg pandangan matanya telah rusak memandang dunia ini dlm kondisi terbalik, / se2org yg dicekam ketakutan terkejut melihat segala sesuatu. Kita mungkin sekali tdk menyadari kebodohan & pandangan salah kita, shg skrng ini pikiran bisa diibaratkan seekor harimau liar, berkeliaran dlm kehidupan se-hr2. Atas dorongan nafsu keinginan, kebencian, & kekacauan, pikiran yg tdk terlatih ini scr membabi buta mengejar apa yg diinginkannya & menabrak semua yg berada dijlnnya, dng sedikit sekali / tanpa pemahaman ttg sifat segala sesuatu.
Keliaran yg hrs kita geluti tdklah hanya berupa amarah & emosi, melainkan lbh bersifat fundamental. Kecenderungan utk ditaklukkan oleh kebodohan, kebencian, & khayalan memperbudak kita, menjadikan kebingungan & emosi negatif berkuasa penuh. Dng demikian, pikiran menjadi liar & tdk terkendalikan serta kebebasan kita scr efektif hancur.
Biasanya kita sedemikian buta shg tdk menyadari betapa liarnya pikiran kita ini. Ketika segala sesuatu tdk beres, kita cenderung menyalahkan org lain & situasi lingkungan, dp melakukan introspeksi diri utk mencari penyebab penderitaan tsb. Akan ttp, jika kita ingin menemukan kedamaian / kebahagiaan sejati, sifat liar di dlm diri kita inilah yg hrs kita hadapi & geluti. Hanya stlh itulah kita bisa belajar utk menggunakan energi kita scr lbh + & seimbang, shg kita bisa berhenti mengakibatkan bencana bagi diri kita sendiri & jg org lain.
Seblm kita bisa menjinakkan harimau itu, kita hrslah menemukannya terlbh dahulu. Tdk ada tujuan yg mdh dicapai, ttp kesukaran & bahaya tsb hrslah dihadapi. Jika seorg anak lemah & blm berkembang, tdklah bijaksana utk membiarkan anak tsb tanpa diawasi. Adl tanggung jawab orgtua utk memacu semangat anak tsb utk berjalan, shg badannya bisa tumbuh dng benar & kuat. Dng demikian, ketegasan dr orgtua bisa dipandang sbg suatu manifestasi dr welas asih sejati. Demikian pula halnya, walaupun pelatihan pikiran mungkin sukar, bahkan menyakitkan pd awalnya, kita msh sj hrs menjlnkan & meneruskannya.
Ajaran2 didlm 'Menjinakkan Harimau' bisa diterapkan pd semua org yg mengalami penderitaan, bukan hanya pd org Timur / umat Buddha. Org Timur mungkin berbeda dr org Barat dlm perawakan wajah, cara berpakaian, adat kebiasaan & cara berbicara, ttp sifat kemanusiaan adl universal & jauh menembusi ciri rasial / warna kulit. Kebaikan, dimanapun ditunjukkan, biasnya akan membangkitkan respons yg menyenangkan, sedangkan kebalikannya akan membangkitkan amarah, kesedihan, / rasa sakit. Bilamana kita meninjau kegembiraan & penderitaan scr langsung & praktis, akan menjadi jelaslah bhw pikiran, yg berada dibalik semua yg kita lakukan / katakan, pd dasarnya adl sama, Timur maupun Barat. Walaupun demikian, dimanakah pikiran tsb? Kita hanyalah perlu menelusuri situasi kehidupan se-hr2 & mengkaji perilaku kita, nafsu keinginan kita & penderitaan kita didlm peristiwa kehidupan kita se- hr2 utk mendeteksi kehadirannya.
Sbg seorg manusia, terdpt banyak sekali nafsu keinginan & keterikatan didlm kehidupan kita. Ini bisa mengakibatkan banyak penderitaan, baik thd diri kita sendiri maupun org lain. Jika nafsu keinginan tsb tdk dipenuhi, kita menjadi tdk senang. Bahkan walaupun jika kita mendptkan apa yg kita inginkan, kebahagiaan yg muncul hanyalah bersifat sementara, krn scr tdk bisa terelakkan suatu nafsu keinginan yg baru akan muncul menggantikan posisi tadi. Dr waktu ke waktu, yg kita kerjakan ialah mencoba memuaskan nafsu keinginan kita yg tiada batas, tdk berbtk, & seluas angkasa.
Proses ini ber- ulang2 didlm kehidupan kita. Ketika masa kanak2, kita menginginkan banyak barang mainan -satu tdk akan cukup- & dng segera kita bosan thdnya, satu per satu scr bergiliran. Nafsu keinginan menjadikan kita berjuang utk mengumpulkan harta benda material, memiliki sejml pakaian yg ber-beda2, membeli jenis makanan yg khusus, mengoleksi rmh, mobil, radio, & tv. Jg tdk kalah seringnya, kita mungkin berkeinginan utk tetap tampak cantik / berusaha menghindari penyakit selama kita hidup. Kita bahkan mungkin jatuh sakit utk menarik perhatian, simpati, & kasih sayang. Walaupun, seketika stlh kita jatuh sakit, kita ingin sembuh kembali.
Sama halnya, sikap kita utk makan jg terpengaruh: ketika lambung kita penuh, kita berharap agar menjadi kosong, ketika dlm keadaan kosong, kita berharap agar terisi penuh. Didlm semua peristiwa ini, kita trs menerus mencari & memimpikan ttg apa yg blm kita dptkan, tanpa bisa mendptkan kepuasan yg sejati. Tanpa memandang semua usaha, tantangan, & pengorbanan kita, tetap sj gagal memuaskan nafsu keinginan kita.
Kesalahannya ialah bhw kita berharap utk menemukan kebahagiaan di luar diri kita, gagal menyadari bhw itu hanya bisa berasal dr dlm diri kita. Jika kita mengagumi sekuntum bunga & memetiknya, dlm waktu bbrp hr keindahan bunga tsb akan pudar. Akan ttp, ketika bunga itu layu & mati, nafsu keinginan kita msh ada & kita menginginkan bunga yg lain lg. Jelaslah bhw nafsu keinginan kita tdk bisa dipuaskan setiap saat oleh bunga yg manapun. Jika demikian, kita memerlukan pemasokan bunga terus menerus tanpa henti. Jadi, yg perlu diubah ialah cara kita memandang dunia ini. Kita hrs belajar utk menerima nafsu keinginan kita & tdk terseret olehnya, hanya stlh itulah kita bisa senang atas apa yg tlh kita capai, & bkn menginginkannya terus menerus.
Nafsu keinginan tdklah berbatas. Dikatakan bhw krn pikiran tdk berbtk & tdk ada ujung yg nyata, demikian pulalah nafsu keinginan tdk mempunyai btk, tdk ada ujung yg nyata - tdk berbtk jelas, trs menerus mengalir & mengalir. Hanya dng menjinakkan pikiran, oleh krnnya, pencarian tanpa akhir akan pemuasan diri bisa ditaklukkan & pemahaman kita mencapai kemajuan. Pd tahap tsb, kita menjadi sedikit lbh matang, sedikit lbh dewasa.
Tentu sj, hingga taraf tertentu, pikiran kita tlh terlatih. Ketika kita msh berupa bayi, kita bergrk, bertingkah, & bersuara atas dorongan naluri. Selanjutnya, stlh kita tumbuh lbh dewasa, kita mempelajari ttg bbrp btk pengendalian & kebebasan. Menahan cobaan & berhubungan dng org lain menjadikan diri kita lbh dewasa, & kematangan diri berkembang scr alami. Jadi, bisa dikatakan bhw tlh menjinakkan harimau itu sedikit, sejln dng hidup & pertumbuhan diri kita dr hr ke hr. Walaupun demikian, kita msh blm bisa menduduki harimau tersebut.
Gurdjieff melukiskan pelatihan pikiran dng seekor kuda liar & pelatihnya. Kuda liar tdk akan menjadi terlatih dng dibiarkan bbs sendiri, & jg tdk dng cambuk yg dikenakan pdnya trs menerus. Tindakan yg extrim spt ini pastilah akan gagal. Kita hrs menggunakan jln tengah. Disatu si2, tdk ada manfaat yg bisa dipetik dr sikap - shg sama skl tdklah ada gunanya lg mencoba & melatih kuda liar itu. Disisi lain, kita hrs menerima kenyataan bhw kuda tsb liar & mempunyai pendekatan welas asih utk melatihnya. Mungkin, yg plg penting dari antara semuanya, kuda trsbt haruslah menerima kita sebagai pelatihnya.
Kedewasaan hanya akan muncul apabila kita tlh bisa menerima siapa diri kita ini. Tdklah ada manfaatnya melemparkan kesalahan atas liarnya diri anda thd masy, keluarga, / musuh. Kita hrslah mencapai kesepakatan dng diri kita sendiri ttg diri kita sebnrnya & menerima pemikiran kita, apakah itu yg baik/buruk. Dng demikian, pemikiran apapun yg mungkin muncul akan bisa mengalir didlm diri kita, tanpa tindakan kita utk memaksanya, / usaha utk menekannya, utk menjadikannya tahanan kita.
Misalnya, jika kita memisahkan pemikiran yg buruk dan tdk menerimanya, mencoba utk menyembunyikannya di dalam sebuah kantong sampah, maka pd tahap tertentu, kantong tersebut akan menjadi sedemikian penuh sehingga pecah. Ini akan bisa mengarah pada penyakit kejiwaan dan, bagaikan seekor harimau yg tidak jinak, kita akan bisa melakukan hal-hal yg membahayakan, mengakibatkan byk kerusakan. Sebaliknya, kita bs saja menggeluti dan mentransformasikan semua yg bersifat negatif, kekuatan harimau itu bs diarahkan pd hal yg bermanfaat positif.
Pendekatan yg benar ialah menjinakkan harimau tsb dng cara yg berharga, dng cara yg sangat bermanfaat. Kita menerima keberadaan harimau tsb walaupun kita tdk scr langsung melihatnya. Hal yg terpenting ialah menghadapi situasi sbgmana adanya. Tdk peduli apakah kita adl org yg relijius, pria / wanita, muda / tua, semua penderitaan kita hampir mirip, hanya penyebabnyalah yg berbeda scr mencolok. Jika kita adl org tua, misalnya, kita mengalami penderitaan yg menyertai usia tua; jika berusia pertengahan, penderitaan bersumber dr pekerjaan & hubungan dlm masy; & jika kita muda, kita mengalami penderitaan yg menyangkut pendidikan, pertumbuhan. Spjng hidup ini, kita dihadapkan pd serangkaian penderitaan yg tdk ter-putus2, sesuai dng perkembangan & perubahan pd tubuh kita.
Walaupun variasi penderitaan tsb bnyk sekali, dan intensitas serta tingkatannya bisa berubah, hanya terdpt satu cara efektif untuk membebaskan diri kita dr sakitnya kehidupan ini, yakni menerimanya. Kita masih saja menggeluti kesibukan hidup sehari-hari tetapi kita berhenti mencoba memaksa agar dunia ini sejalan dgn keinginan dan harapan kita. Jika kita tua, kita menerima kondisi ketuaan kita; jika kita muda, kita menerimanya pula dlm situasi apa pun, kita menerima sebagaimana adanya. Sekali penerimaan ini kita lakukan, dlm jangka panjang kita terbebaskan dr penderitaan. Sekali kita bisa membiarkan apa adanya, penderitaan itu akan menjauh dr kita.
Yg dimaksud bknlah bhw jln pemecahannya berupa mengembangkan sikap apatis & pasif dlm menjalin hubungan dng dunia. Kita jg tdk boleh bergolak trs menerus utk menjadikan hidup kita sempurna. Sebaliknya, kita mengikuti jln tengah, diantara kedua kondisi extrim. Stlh menerima keterbatasan sbg seorg manusia, kita senang melakukan yg terbaik dlm setiap situasi & bertindak scr fleksibel sesuai dng tingkat pemahaman kita, dng mempertimbangkan perkembangan diri kita & situasi yg kita hadapi. Tujuan kita scr umum ialah terbebaskan sepenuhnya dr penyebab penderitaan & berhenti menciptakan penderitaan baru bagi diri kita sendiri & org lain.
Per-tama2 kita berusaha utk mengobati penderitaan kita sendiri. Cara utk melakukannya sama sj dimanapun se2org berada. *Skl kita menerima bhw penyebab utama penderitaan ialah ketdkmampuan pikiran kita memenuhi keinginannya, kita akan menyadari bhw penyebab ini adl bersifat internal & bknlah hasil dr lingkungan external kita*. Dr lingkungan masy manapun kita berasal, apakah kita adl org yg mencapai kemajuan batin/ tdk, pemahaman bhw nafsu keinginan muncul didlm pikiran kita memungkinkan kita utk mulai berusaha. Kita akan sdr bhw org lain jg menderita sbgmana halnya kita, & welas asih pun akan bangkit scr spontan. Lg pl, menjadi jelaslah bhw mrk, sama halnya dng kita, hanya menginginkan kebahagiaan.
Welas asih berarti keinginan utk menolong semua makhluk & membebaskan kita dr penyebab penderitaan. Akan ttp, ketika kita 'menyalahkan' diri kita sendiri atas kesukaran yg muncul didlm pikiran kita sendiri, tampaknya kita kekurangan sifat welas asih thd diri kita sendiri. & jika kita tdk mempunyai sifat welas asih thd diri kita sendiri, bgmana bisa kita kembangkan thd org lain? Sebenarnya, ini bknlah permasalahan 'menyalahkan' sama sekali, & jg kita tdk mencoba utk menyiksa / menghukum diri kita sendiri. Kita hanyalah mengakui bhw nafsu keinginan muncul didlm diri kita sendiri & bkn dr sumber lain. Penerimaan akan kenyataan ini akan melahirkan keyakinan diri & kebijaksanaan di dlm diri kita & kita mulai menyadari bhw nafsu keinginan muncul didlm pikiran org lain jg sbgmana halnya dng yg kita alami. Pd saat spt itulah kita bisa melakukan koordinasi ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.