peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Forgot login details?

For free!
Get started!

Text page


zedt09.peperonity.net

adik2

“Kamu pernah melihat ayah menindih ibu waktu malam?” tanyaku pada Suti. RUmah kami tidak berkamar. Hanya dibatasi oleh kain saja, membedakan dimana ibu dan ayah kami tidur dan dimana aku dan Suti tidur. Suti menjawab pernah. Dua atau tiga kami kai pernah mengintip ayah dan ibu tidur tindih-tindihan di tengah malam, saat kami sudah tertidur lelap.
“Ya sudah. Kita juga seperti tu,” kataku.
“Tapi Mas kan berat?” katanya.
:Kalau ayah bisa menindih ibu, kenapa kamu tidak. Kita ciba saja,” kataku. Suti setuju. Kami berpelukan dulu seperti ayah dan ibu. Berciuman seperti Lek Parto dan isterinya. Mengisap tetek dan menjilati memek dan mengemut kontol bergantian. Semua yang pernah kami lihat, kami lakukan. Ternyata memang enak.

“Mas buka tempikmu ya. Mas masukkan titi Mas ke dalamnya ya?” kataku. Suti setuju. Setelah mejilati memeknya, aku tujukan ujung kontolku ke lubang memek SUti. Aku menekannya. Suti merintih.
“Sakit Mas…”
“Ya… Mulanya sakit, tapi nanti kalau sudah hilang sakitnya, jadi enak,” kataku.
“Memang Mas sudah pernah melakukannya?” tanya Suti.
Aku bercerita, teman-temanku sudah pernah melakukanna dan mengatakan begitu. Suti pun mau. Ku tekan kontolku ke dalam lubang memeknya. Suti merintih.
“Bagaimana, masih tahan?” tanyaku membiarkan kontolku di lubang memeknya. Suti diam saja.
“Tapi betulkan, kalau sudah hilang sakitnya, pasti jadi enak kan?” tanyanya.
“Ya.. pasti,” kataku. Padahal itu hanya ucapan Lek Parto yang kutanyai dan bercerita tentang persetubuhan di bawah pohon kelapa sembari kami memperbaiki jaring. Kutekan lagi kontolku dengan lebih kuat. UJung kontolku terasa sakit.
“Aduh.. Mas… Sakiiiiittttt,” rintihnya.
“Ya. Mas juga kesakitan kok. Bagaimana, KIta berhenti atau kita teruskan,” kataku. Suti diam tak menjawab sembari menggigit bibirnya. Ketkika kucium pipinya, terasa olehku ada lelehan airmata di sana.
“Maaf dik…” kataku.
“Bu ne merasa sakit, Mas…” katanya meringis.
“Maaf Bu ne. Tapi sebentar lagi gak sakit lagi kok. Mas janji Bu ne,” kataku. Suti kembali senang dipanggil Bu ne.
“Ya.. Sudah diteruskan aja Mas. Tapi pelan-pelan ya?” katanya. Aku menciumnya dan memeluknya, lalu menekan kuat-kuat kontolku. Sreeeggg… sreeeggg. Kontolku sudah terbenam semuanya. Suti menjerit agak kuat.
“Massss…” Aku langsung menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya, agar suaranya tak keluar. Dia terus menangis. Aku membelai-belai rambutnya.
“Sakit ya Bu ne…” rayuku. Suti terus menengis. Aku mengatakan, kalau kontolku juga sangat sakit. Tapi aku percaya dua hari lagi, sakitnya pasti hilang. Hari ketiga kita sudah menikmatinya. Suti pun tak menangis lagi. Tapi sesekali suara sesenggukan terdengar juga.

Pagiitu, kami tidak ke laut, karena kesingan bangun. Ketika kami bangun, mata hari sudah menyapu-nyapu waja kami. Kami bangun dan aku menuntun Suti ke belakang untuk mandi. Aku takut juga, ketika Suti menangis saat melangkah. Katanya sangat sakit dan perih. Begitu juga saat dia pipis, katanya lubang pipisnya sangat sakit sekali. Aku jadi ketakutan dan sedih. Akhirnya setelah dia usai mamndi aku membopognya. Aku memasak nasi. Ketika kami makan, tubuh Suti hangat. Aku takut. Bu Mantri lewat dan aku memangilnya. Bu Mantri memagang kening Suti. Suti disuntik dan diberikan obat. Besok sudah tenang dan sehat, kata bu mantri. Aku senang. Setelahkusuapi makan, aku memberikannya obat.
“Biar cepat sembuh ya Bu ne…” rayuku. Suti tersenyum. Akupun minta izin untuk memancing, agar kami nanti malam dan sore serta besok pagi kami punya lauk ke laut. Suti melepasku dengan senyumnya.

Begtiu aku pulang membawa empat ekor ikan dan dua ekor kepiting serta 15 butir kerang, Suti melaporkan, kalau darah dari memeknya sudah berhenti. Kupegang keningnya sudah tak hangat lagi. Aku menyuapinya makan dan memberinya obat.
“Besok aku belum bisa melaut Mas. Aku takut dingin…” katanya memelas.
“Ya sudah Bu ne., Mas saja besok y ag melaut,” rayuku sembari mencium pipinya. Suti nampaknya senang sekali.
Kami pun tidur berpelukan dengan kegelapan malam. Ah… indah sekali rasanya tidur bertelanjang di bawah selimut sepotong kain batik. Suti sepertinya begitu erat memelukku. Dia kedinginan. Aku menebalkan selimut untuknya. Dia minta dikeloni terus agar hangat. Aku memeluknya. Subuhpun menjelang. Akuterbangun dan membanguni Suti. Cepat dia berpakaian dan menyiapkan bekalku. AKu berangkat ke laut dal;am lambaiannya. Kubisikkan padanya, agar semua kejadian dia tak boleh bercerita pada siapapun juga.
“Bu ne janji, Mas…” katanya setengah berbisik. Aku menuruni tangga rumah memikul jaring menuju perahu. Aku mengkayuh menuju tengah laut. Setelah menebar sekali jaring, akupulang. AKu takut, Suti entah bagaimana. Aku menjual ikan dan langsung pulang.
“Kenapa cepat pulag, Mas?” tanya SUti. Aku menjelaskan, hanya sekali menebar jaring dapat ikan sedikit dan langsung pulang. Aku takut kalau Bu ne entah kenapa-kenapa, kataku. Suti tersenyum manja. Dia memelukku Aku balas memeluknya. Nasi sudah siap, kami makan bersama, kemudian memberinya obat. Sudah empat hari, obat sudah habis dan Suti benar-benar sudah sehat. Langkahnya sudah pasti. Pipis sudah tak sakit lagi. Sudah biasa, katanya. Aku tersenyum.
“Jika kita lakukan lagi, pasti sudah enak, tak akan ada sakit lagi,” kataku memastikan.
“Bu ne mau Mas…: katanya.
“Setelah memperbaiki jaring, nanti kita mancing ke hutan bakau,” katraku. Suti setuju. Maksudnya sebagai uji coba, apakah Suti sudah mampu mendayung dan siap memancing.
Pandangan ahli

Setelah makan siang, aku masuk k peahu dengan membawa pancing dan jala. Adikku Suti ikut. Perlahan kami mendayung ke laut. Orang-orang melihat kami dan kagum. Mereka tahu, kami kerja keras, untuk kehidupan dan untuk orang tua di rumah sakit. ABRI yang masuk Desa pun tidak memaksaku yang masih berusia 18 tahun untuk ikut bekerja membuat benteng kampung nelayan dan saluran ar.
Angin menyeruak dari laut. Kamu harus melawan angin untuk bisa sampai ke tengah laut. Bersama kami mendayung perahu. Udang dan sotong kecil sebagai umpan sudah kami bawa. Juga ada sedikit ubi goreng sebagai makanan selingan kami. Satu jam lamanya kami mendayung, akhirnya kami sampai juga pad sebuah paluh. Kami mulai menetak pancing kami di rimbunnya pohon-pohon bakau. Sesekali aku menebar jala. AKu kurang pintar mengembangkan jala. AKu berpikir, jika jala tidak kutebar, sudah pasti aku tidk dapat ikan. Setidak pandainya aku menebar, jalan bila dia kutebar, mana tau nasib berkata lain, aku bisa dapat seekor-dua ekor ikan. Benar saja, tali jalaku bergetar. AKu menariknya lamat-lamat. seekor ikan hampir sekilo beratnya tertangkap. Kakak merah yang nyasar ke paluh. Aku dan Suti gembira sekali. Kami akan menggorangnya, dan akan kami bawa ke rumah sakit untk ayah dan ibu. Tak lama, pancing Suti juga menangkap seekor ikan ukuran sedang. Kami senang sekali.

“Bu ne, kamu cantik sekali,” rayuku.
“Apa benar, Mas?”
“Ya… benar kamu cantik sekali, kataku. Sebenarnya, kontolku sudah mengeras. Mataku awas ke sekeliling.
“Maukah kamu mengisap tititku?” kataku memohon. Suti tersenyum manis. Dia menganggukkan kepalanya. Dia mendekatiku. AKu mengeluarkan kontolku dari balik celanaku. Suti berjongkok di lantai perahu. Kontolku yang sudah mengeras dia jilat lalu dia kulum dan mempermainkan lidahnya pada bagian bawah kotolku.
“Aku senang, Mas…” katanya. Aku tersenyum. Kuelus kepalanya, lalu kusapu-sapu teteknya dari bawah.
“Kalau dia keluar, boleh aku menelannya, Mas?” tanya Suti.
“Terserah saja…” Kontolku kembali dimasukkannya ke dalam mulutnya. AKu melihat, Suti semakin dekat denganku. Perahu kami sesekali diterpa alun kecil, membuatnya bergoyang. Tapi ujungnya sudah kami tambatkan ke sebuah akar bakau. Aku semakin menikmatinya. Aku pun mengejang lalu aku menyemburkan maniku dalam mulutnya. AKu mendengar spermaku tertelan oleh Suti.
“Asin Mas…”
“Karena belum terbiasa,” kataku. Aku pipis dari atas perahu dan mencuci kontolku dengan air laut. Aku tersenyum pada Suti. Dia membalas senyumku.
“Kamu mau?” tanyaku?
“Dijilat saja ya Mas…” katanya tersenyum. Aku mengangguk. Kuminta dia mencucui memeknya terlebih dahulu. Suti yang tak memakai celana dalam setiap kali kami melaut dan juga di rumah, menurutinya. Setelah bersih kuminta dia rebahan di kepingan lantai papan perahu. Aku melihat sekeliling. Aku yakin kami aman. Belum lagi aku memulainya, pancingku ditarik oleh ikan. Aku menariknya. Seekor ikan sembilang terangkat dan aku memasukkannya ke lantai dasar perahu yang berair, biar Kakap dan sembilangnya tidak mati.

Suti mengangkangkan kedua kakinya selebar mungkin. Betisnya berada di sisi perahu dan dia bersandar pada ujung perahu. Sesekali burung-burung kecil bersiul-siul di pucuk-pucuk pohon bakau. AKu memulai menjilati memeknya. UJung lidahku bermain pada itilnya. Sesekali kusedot itil itu dan lidahku pun menari-nari pada sebiji kacang memek-nya. Aku tahu Suti menggelinjang dan menikmatinya. Dia semakin mampu menikmati betapa enaknya dijilati. Sesekali dia mendesah. Desahnya cepat hilang ditelan angin laut. Kedau kakinya sudah berpindah. Kedau kakinya sudah berada di atas punggungku dan pahanya menjepit kepalaku.
“Akhhhh….” desahnya kuat lalu melemas. Aku menghentikan jilatanku. Aku tahu Suti sudah sampai pada puncaknya. Dia tersenyum. Kami kembali menetak pancing kami, seperti tak terjadi apa-apa. Semenit kemudian, sebuah perahu melintas mau memasuki paluh. Orang itu, berhenti dan memutar haluannya, karena melihat kami dan paluh sempit itu tak mungkin dilintasi dua perhu yang bercadik.
“Sudah banyak dapat?” orang itu menegur kami.
“Baru satu Mang…” jawabku tenang. Kami meneruskan memancing. Suti tersenyum.
“Dia melihat kita tadi, Mas?” tanya Suti.
“Aku yakin tidak,” jawabku. Aku kembali mengambil jala dan menbarnya. Sekali, dua kali, tiga kali dan kali yag ke empat, aku dapat dua ekor ikan ukuran sedang. Aku mengajak Suti pulang ke rumah, sebelum angin berbalik arah. Suti setuju. Kami mengayuh perahu keluar dari paluh. Suti menancapkan tiang layar dan menarik layarnya. Angin berhembus membawa perahu. Sore seperti itu, pasang naik dan angin mengencang dan kembali sedikit enang setelah tengah malam. Kami terbawa angin dengan cepat ke tepian.

“Ada dapat dik?” tanya pak tentara.
“Satu ekor pak. Untuk kami masak dan kami bawa kerumah sakit untuk ayah,” jawabku. Tentara itu tersenyum.
“Ya… hatimu bagus sekali dik. Kamu sayang pada ayahmu. Begitulah seharusnya kepada orangtua,” katanya bangga. Aku tersenyum. Kami meneruskan mengayuh perahu kami ke bawah kolong rumah dan menambatkannya. Delapan ekor ikan kami bawa naik. Tiba, tiba seorang ibu bidan mendatangi kami.
“Sebentar lagi, kami ke rumah sakit. Ada titipan,” kata bu Bidan yang ikut dengan tim ABRI masuk Desa.
“Ya.. BU. Kami boleh titip ikan untuk ibu dan ayah?” kataku.
“Boleh… setengah jam lagi aku ambil,” kata bu Bidan. Kami cepat mempeisangi ikan-ikan itu. Kami goreng dan kami sambal. Ikan Kakap yang besar dan ikan Sembilang. IKa dan sambalnya, kami bungkus pakai daun pisang dan kami ikat dengan baik. Bu Bidan datang dan kami memberikan oleh-oleh untuk ibu.
Setelah bu bidan pergi, Suti pergi mandi, lalu kususul, dan kami mun makan setelah usai ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.