peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


zahra
asmarabuana.peperonity.net

Sentuhan nafsU

TANTE TANTE BINAL

** ¤ **

Seperti yg prnah aku critakan sbelumnya. Aku sudah jarang datang atau menginap dirumah Hendri. Meskipun aku dan Nita masih suka brtemu dan jalan brsama. Tapi smuanya terjadi diluar rumah. Ini semua ku lakukan demi hubunganku dngn Nita. Aku tak ingin hubunganku dngn ibunya atau tante Rita dan tantenya, tante Ivone diketahuinya. Walaupun sulit untuk menjelaskannya jika Nita sampai mngetahuinya. Tapi aku harus tetap mencoba. Akan tetapi tante Ivone tak ingin melepaskan diriku bgitu saja. Dia selalu brusaha mencariku demi kepuasan nafsunya.
¤

Sore ini sperti biasa aku brkumpul dngn teman temanku dipangkalan. Menanti datangnya malam Minggu, malam yg selalu dinanti nantikan oleh kaula muda sperti aku dan teman temanku Meskipun cuaca agak mendung dan gerimis. Tak menggangu suasana kecerian dan kebrsamaan kami, kami asyik brceloteh, brsendau gurau dan brnyanyi dngn iringan petikan gitar salah seorang temanku. Dengan suguhan kacang rebus dan whisky yg kami beli brsama sama.
Namun kecerian kami trhenti sesaat, ketika sbuah mobil taxi brhenti didepan kami. Tak lama kaca pintu blakang trbuka dan nampak wajah penumpangnya. Seorang wanita melihat kearah kami yg menatap kearahnya pnuh rasa heran. "Fadhill... !!" suara wanita itu memanggil namaku, sraya mengulapkan tlapak tanganya kearahku. Akupun brpaling kearah wanita trsebut yg tak lain adalah tante Ivone. Kmudian aku menghampirinya. "Ada apa tan!?" tanyaku sambil menatap kedalam taxi yg ditumpanginya. Nampak disebelahnya duduk seorang wanita yg sebaya dngnnya. "Ayo naik dulu dech!?" jawab tante Ivone dngn senyum manisnya. Akupun kembali pada teman temanku dan mohon pamit pada mreka. Lalu mlangkah kembali kearah taxi yg masih menunggu dan naik dibagian depan, disebelah pengemudinya.
Akhirnya kami brangkat mninggalkan teman temanku yg kembali pada suasana smula. Aku hanya trdiam duduk disebelah pak sopirnya sambil mnatap kedepan. "Tadi kamu lagi apa Fad..??" tanya tante Ivone mmecahkan suasana yg sepi. "Ach, biasa ko cuma kumpul kumpul aja!" terangku sambil memalingkan muka mnghadapnya. Aku juga mlirik wanita yg duduk disebelahnya. Wanita itu juga menatap dan tersenyum nakal kearahku. Terlihat deretan giginya yg putih tersusun rapi diantara kedua belah bibirnya yg merah dan basah.Ternyata dia cukup cantik meskipun tak scantik tante Ivone. Tapi dia mmiliki tubuh yg bagus, trutama pada kedua buah dadanya. Yg membusung besar dan mnggiurkan. Membuat pendulumku turun naik ingin menjamahnya. "Oh iya, knalin ne temanku, namanya Zahra... Fad!?" ucap tante Ivone mmperknalkan wanita disebelahnya sraya melirik kearah wanita itu. Zahrapun mnyodorkan telapak tangannya kearahku. Yg aku sambut dngn menggenggam telapaknya ditelapak tanganku. Terasa dingin dan halus telapak tangan trsebut. Smentara taxi telah meluncur kearah Jatinegara dan telah melintasi jalan Matraman raya. "Mm.., aku manggilnya apa ne tan!?" tanyaku pada tante Ivone sraya mlirik kearah Zahra. "Emm.., panggil mbak aja!!" jawab Zahra dngn suara serak serak basah. " Dia masih single lho Fad, he he he" ujar tante Ivone brgurau. Yang dibalas dngn cubitan dipinggul tante Ivone oleh mbak Zahra. Mmbuat tubuh tante Ivone mnggeliat kegelian. " Ich bener, masih kturunan Arab Pekalongan lagi!!" goda tante Ivone lagi, mmbuat Zahra cemberut kesal. Tak lama taxi yg kami tumpangi sudah memasuki kawasan Tebet menuju kediaman tante Ivone diTebet timur. Akhirnya kami sampai didepan sbuah rumah mewah, milik tante Ivone. Rumah mewah trsebut pemberian dari mantan suaminya.
Setelah turun dan tante Ivone membayar taxi yg kami tumpangi. Kami brtiga pun masuk stelah aku membuka pintu gerbang yg kbetulan tak trkunci. Seorang pria paruh baya dngn tergopoh gopoh datang menyambut kami. Ditemani seorang wanita yg tak beda jauh usianya. Mereka adalah bang Udin dan bi Sum, pasutri yg bekerja dngn tante Ivone. " Wah.., mas Fadil dan mbak Zahra toh!?" sambut bang Udin dngn ramah dan pnuh rasa hormat. "Rupanya mbak Zahra sudah sering kesini ya, buktinya bang Udin sudah mengenalnya!?" ucapku dalam hati. Kamipun masuk kedalam rumah tante Ivone dan duduk diruang tamu yg pnuh dngn hiasan, lukisan dan beberapa barang antik yg mahal harganya. Tante Ivone memang seorang janda kaya, slain dngn harta peninggalan mantan suaminya dia juga bekerja pada salah satu bank swasta yg terkenal diJakarta. Tapi entah knapa tante Ivone tak mempunyai niat untuk bersuami lagi. Padahal banyak teman temannya dikantor atau koleganya yg menginginkan dirinya. Aku tak peduli dngn semuanya, itu urusan pribadi tante Ivone sendiri. Yang memang tak pantas untuk ku campuri.
Tante Ivone mlangkah dan masuk kekamarnya. Sedangkan Zahra mrebahkan tubuhnya disofa. Nampaknya dia ingin mlepaskan rasa lelahnya. Karna tak lama kmudian dia trtidur dngn lelapnya. Tetapi hal trsebut mrupakan sebuah pemandangan indah buat kedua mataku. Aku dapat mnyaksikan stiap lekuk bentuk tubuhnya yg menggairahkan. Dan membangkitkan gairah birahiku. Wajahnya nampak manis dngn hidungnya yg mancung. Bibirnya tipis dan basah dngn dagu brbentuk bulat. Rambutnya hitam lurus melebihi bahu dngn poni yg mnghalangi dahinya. Payudaranya membusung besar di dadanya dngn bra brukuran 36d. Nampaknya tinggi badannya tak beda jauh dngn tante Ivone 167cm dngn berat 41kg. Lebih berat dari tante Ivone. Pinggulnya tak brapb besar, tapi bokongnya cukup besar, padat dan berisi. Betisnya putih mulus, banyak ditumbuhi dngn bulu bulu halus. Sangat enak tuk dilihat karna jarang dimiliki kaum hawa.
Ternyata benar apa yg diucapkan tente Ivone ditaxi tadi. Zahra masih brdarah keturunan Arab. Stelah dirinya kuperhatikan dngn seksama, memang ada untuk kearah itu. Belum lagi kalau dilihat dari namanya, 'Zahra' nama yg brbau Islami dan brgaya Timur Tengah. "Kamu ga mandi Fad!?" tegur tante Ivone sdikit membuatku kaget. "Ngapain sich, ngeliatin orang tidur?". "Entar kepingin lho!?" tanya tante Ivone penuh curiga. Aku tak ingin menimpalinya dan branjak pergi kekamar mandi. Stelah usai mandi aku mngenakan salin milik tante Ivone, clana pendek dan kaos oblong. Akupun mlangkah keruang tamu, tapi aku hanya mndapati tante Ivooe yg tengah mnyaksikan acara Tv dan mnikmati sbatang rokok putih yg trselip dijarinya. Aku duduk disisinya dan mnyalakan juga sbatang rokok filter milikku. Aq enggan mnanyakan keberadaan Zahra kepadanya, skedar menjaga prasaannya. Sambil mnghembuskan asap rokok yg ku hisap, aku mmperhatikan paha tante Ivone yg putih mulus. Apalagi dia mengenakan clana pendek tipis, shingga tampak jelas CDnya yg brwarna hitam. Dia juga tampak sexy dngn kaos tanktop dan bagian bawahnya hanya sbatas dada, sehingga pusarnya bebas trlihat. Membuat nafsu syahwatku mulai terusik dan kontolku mulai brdiri prlahan lahan.
"Ehm, ehm, lage pada marahan ne!?" Zahra tiba tiba brada dibelakangku. Wangi harum bau tubuhnya menusuk kedua lobang hidungku. Dia mengenakan clana pendek ketat, shingga menceplak bentuk bokongnya besar. Smakin terlihat sexy dngn kaos oblong tipis, mmbuat bra yg menutupi payudaranya trlihat jelas. "Sudah mandnya.., kita pada makam dulu yuwk!?" ajak tante Ivone, tak mngindahkan ucapan Zahra yg masih brdiri dibelakangku. Kami brtiga pun branjak menuju kedapur, lalu duduk mnghadap meja makan. Tak mnunggu lebih lama lagi, sgera kami santap hidangan yg telah disediakan oleh bi Sum. Tak butuh waktu yg lama buat kami brtiga makan, karna baik tante Ivone maupun Zahra makannya hanya sdikit. Maka stelah selesai makan dan mmbersihkan mulut dan tangan, kami brtigapun kembali keruang tamu dan menyaksikan acara Tv kembali. Dan menikmati asap rokok lagi.
Smentara hari diluar sudah smakin gelap, mnandakan waktu kian malam. Meskipun diJakarta masih bisa dikatakan siang, karna kota metropolitan memang tak pernah trtidur. Apalagi ini malam Minggu, malam yg panjang bagi kaula muda. Walaupun tadi sore gerimis telah membasahi bumi. Trdengar suara bang Udin tengah menutup pintu gerbang. Kulihat jam didinding, jarum jamnya telah mnunjukkan angka 9 yg brarti tlah jam 21.00. Sdangkan kami brtiga masih asyik mnyaksikan acara Tv diruang tamu. Tante Ivone dan Zahra nampak terfokus pada pmbicaraan tentang kantor dan pekerjaannya. Beberapa saat kmudian tante Ivone branjak bangkit dan mematikan lampu, shingga kini ruang tamu hanya diterangi oleh cahaya televisi aja. Membrikan suasana romantis, remang dan meredup. Mmbuat kedua mataku turut meredup ngantuk, ditambah lagi aku tak begitu memahami apa yg mnjadi pembicaraan tante Ivone dan Zahra.
"Kamu udah ngantuk Fad!?" tanya tante Ivone sambil menatap mmperhatikan kedua mataku. "Ga ko tan!" jawabku berbohong. "Kalo dah ngantuk Tvnya dimatiin.., kamu tidur dikamarku gih!!" ujar tante Ivone lagi. Mmbuat aku bangkit dan mlangkah mnuju kamarnya, meninggalkan mereka brdua. Sesampainya didalam kamar, akupun merebahkan badanku diranjang mewah brkasur empuk yg dilapisi kain sprai brbahan tebal, lembut dan wangi. Akan tetapi kedua klopak mataku tak mau trpejam. Fikiran jauh menerawang tentang pmandangan yg aku lihat tadi sore, tentang Zahra yg tengah trtidur. Aku melamun mmbayangi stiap lekuk tubuh Zahra yg bagus, trutama bagian dadanya. Payudaranya yg bulat dan besar, apa lagi disaat dia mnghembuskan nafasnya. Trlihat daging bulat brisi itu smakin busung mmbesar. Ingin rasanya kuremas dan jilati pentilnya hingga sepuasku. "Achh.." tanpa sadar aku memegangi kontolku yg trasa mulai bangun brdiri. Tiba tiba pintu kamar trbuka dan nampak tante Ivone masuk diiringi oleh Zahra dibelakangnya. Membuyarkan sluruh lamunanku yg ada. "Ko belum tidur se!?" tegur tante Ivone lembut. Aku hanya trdiam tak menjawab tegurannya. Sdangkan Zahra hanya trsenyum menatapku nakal. Kemudian tante Ivone mrebahkan tubuhnya disisiku, shingga aroma harum tubuhnya trcium olehku. Mmbuat diriku terangsang hebat, rasa hangat mnjalari sluruh tubuhku. Smentara Zahra brlalu dan duduk didepan meja rias sambil brcermin mmperhatikan raut wajahnya yg cantik. Dia tak pduli dngn tante Ivone yg telah mrebahkan tubuhnya disisiku.
"Kalo yang ini udah bangun blom!?" tanya tante Ivone sraya memegang kontolku yg memang sudah tegak berdiri dibalik clanaku. Kemudian dia memiringkan tubuhnya dngn salah satu pahanya mencemplah pinggulku. Sehingga buah dadanya yg mungil trasa menekan sbelah dadaku. Dia menatapku yg juga menatapnya penuh nafsu, smentara jari tangannya meremas remas kontol kerasku dngn lembut. "Kita maen bertiga yuwk..!?" bisiknya pelan mengundang nafsu. Aku hanya trdiam pasrah karna telah dikuasai nafsu birahiku.
Kulumat bibirnya yg mungil menantang agar dia tak lagi berbicara. Tante Ivonepun mmbalas lumatanku, mmbuat mulut kami saling brpagutan. Lidahku mulai mnjelajahi mulutnya, demikian juga dngn lidah tante Ivone yg brusaha melilit lidahku. Tanganku pun mulai meremasi payudaranya yg brusaha menekan dadaku. Tangan tante Ivone tak lagi meremas remas kontolku yg menegang keras. ...


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.