peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


nungky - Woman Western
asmarabuana.peperonity.net

Toket gedE

NUNGKY KURNIASIH

¤ §] nungky [§ ¤
||
¤
Terlahir dengan nama Nungky Kurniasih, 27 tahun yg lalu didusun kecil diwilayah Bandung Selatan. Nungky putri tunggal dari keluarga yg berada dan bersifat sangat feodal. Sehingga membuat Nungky merasa jiwanya tertekan dngn masa kecilnya yg selalu terkekang. Semuanya harus menuruti kehendak orang tuanya yg lebih mementingkan sifat egonya. Dibandingkan perasaan dan hati putrinya. Termasuk dngn masalah perjodohan putrinya, Nungky dipaksa harus menikah dngn seorang pria yg tak dicintainya. Dengan terpaksa Nungky menuruti dan menjalani kemauan kedua orang tuanya. Namun setelah dikaruniai seorang anak laki laki, baru diketahui ternyata suaminya telah beristri dan memiliki tiga orang anak dikota lain. Maka Nungky memutuskan untuk bercerai dari suami dan menanggung anaknya yg masih kecil. Yang berusia 2 tahun dan diberi nama Rian.
Hal inilah yg membuat Nungky dan anaknya hijrah keJakarta, meninggalkan rumah dan kedua orang tuanya. Mengikuti tante Ivone yg masih sahabatnya saat di SMA. Dan Tita yg masih sepupu dngn tante Ivone. Mereka tiba diJakarta dan tinggal dirumah tante Ivone, yg memang masih banyak kamar kosongnya.
Nungky memang tak secantik tante Ivone, namun wajahnya sangatlah manis. Bentuk tubuhnya pun tak terlalu sexy, namun langsing dan tinggi semampai. Dengan berat badan sekitar 45kg dan tinggi 167cm. Kulitnya putih bersih seperti kebanyakan warna kulit para mojang Priangan. Yang sangat menggiurkan adalah toketnya, kedua toketnya sangatlah besar untuk ukuran orang timur. Mungkin ukuran bra'nya 38b. Sifatnya agak pendiam, hanya bicara seperlunya saja. Hampir serupa dngn sifat tante Ivone. Atau dia hanya menjaga jarak dngn orang lain, mengingat stasus dia yg janda dan ibu dari seorang anak.
¤
Semenjak kedatangan Nungky dan Tita bersama tante Ivone kemarin sore. Suasana rumah tante Ivone yg tadinya selalu sepi, kini berubah menjadi ramai. Kehadiran Rian, putra Nungky yg ceria dan sedikit nakal. Membuat suasana rumah semakin ramai dngn polah dan tingkahnya yg lucu, sehingga membuat gemas kami semua. Disamping itu tante Ivone juga sangat menyayangi dan memperhatikannya. Mungking dikarenakan tante Ivone tak memiliki anak atau rasa kasihan dan senasib dngn Nungky. Sebagai sesama janda dan sekaligus sahabatnya. Maka dari itu, aku menyebut atau memanggil Nungky maupun Tita dngn sebutan teteh. Sebutan bagi orang Sunda untuk wanita yg lebih tua usianya dari pada usia kita.
Awalnya hubungan aku dan teh Nungky biasa saja. Hanya sebatas persaudaraan saja, dikarenakan kami berdua sama sama menumpang tinggal dirumah tante Ivone. Selain itu aku sangat menghormatinya, dikarenakan biar bagaimana pun teh Nungky sahabat baik tante Ivone dan seorang ibu dari seorang anak. Disamping itu ada perasaan iba dan kasihan yg dalam, apa bila memandang raut wajah teh Nungky maupun Rian putranya. Maka aku dipinta atau tanpa dipinta, aku sangat senang jika bisa membantunya. Terutama jika diminta bantuan untuk Rian. Dengan senang hati aku turut mengasuh Rian, apa bila teh Nungky tengah sibuk atau ada keperluan lain. Yang tak mungkin harus melibatkan atau membawa Rian turut serta.
¤
Hari belum begitu malam, boleh dikatakan masih senja. Karena adzan Maghrib baru usai berkumandang di Masjid Masjid ataupun televisi. Seperti biasa kami semua, tante Ivone, teh Nungky, teh Tita, Rian dan aku tengah berkumpul bercengkrama diruang tamu. Kami berempat tengah menanggap Rian, yg tengah bernyanyi dan bergaya didepan televisi. Sikapnya yg ceria dan polos membuat kami semua menyukainya. Setelah merasa lelah bergaya, Rian beristirahat dipangkuan ibunya sambil mengenyot susu dibotol. Rian masih minum susu untuk balita, karena tak lagi menyusu pada ibunya.
"Fad, besok kamu yang lapor sama pak RT ya!?" ujar tante Ivone. "Sekalian kamu bawa foto copy KTPnya Nungky sama Tita.., bilang aja mereka famillyku!!" jelas tante Ivone seraya menyodorkan uang kertas sepuluh ribuan kearahku. "Ne buat uang kasnya!!" ujarnya lagi. Aku segera menanggapi menerima uang pemberian tante Ivone, lalu menyimpannya disaku celanaku. "Teh, jangan lupa ya besok foto coppy KTPnya!?" ucapku seraya menatap kearah teh Nungky dan teh Tita. "Iya Fad.., kayakna aku masih nyimpan dech, didompetku!!" ujar teh Nungky sambil menina bobokan Rian. Sedangkan teh Tita hanya menganggukkan kepalanya saja. "Ya udah, kalo gitu aku istirahat dulu dech!!" ujar tante Ivone sambil beranjak melangkah menuju kamarnya. "Aku juga mau naro Rian dulu ya!?" sambung teh Nungky, yg juga beranjak menuju kamarnya. Sambil membopong Rian yg telah tertidur pulas. Kini diruang tamu hanya ada aku dan Tita yg tengah menyaksikan sinetron disalah satu siaran Tv swasta. "Teh aku keluar dulu ya teh!!" ucapku kepada Tita yg masih serius dngn sinetronnya. "E'em, jangan terlalu malam pulangnya ya Fad!?" jawab teh Tita tanpa berpaling dari layar televisi. "Ya teh!!" jawabku juga sambil melangkah menuju luar rumah.
¤
Seperti yg aku pernah katakan, diminta ataupun tanpa dipinta. Aku akan merasa senang jikam mampu menolong teh Nungky. Seperti hari ini, saat ini aku dan Rian tengah bermain bola plastik dihalaman rumah. Sementara teh Nungky hanya memperhatikan saja sambil berbincang bincang dngn bang Udin, yg tengah merapikan tanaman dipagar rumah. Tak berapa lama teh Nungky menghampiri aku dan Rian yg masih asyik bermain bola. "Ayo ade, kamu maem dulu.., udah siang kamu belum maem ne!?" seru teh Nungky kepada putranya. "Nanti maen lagi sama om Fadilnya." tuturnya lagi. Kemudian dia menggendong Rian dan membawanya masuk kedalam rumah. "Ayo Fad, kamu juga makan..., pan kamu juga belum makan!?" ujar teh Nungky mengajakku kedalam. "Iya teh!" jawabku sambil mengikuti langkahnya dan menggoda Rian dari belakang. Sehingga membuat teh Nungky sempoyongan, karena Rian meronta kegirangan digendongannya.
Sesampai didalam kami bertiga pun makan bersama, makan makanan yg telah disiapkan oleh bi Sum. Teh Nungky makan sambil menyuapi Rian dngn penuh rasa kasih sayang seorang ibu. Sementara aku sambil menyuap nasi kemulutku, sesekali mencuri pandang kewajahnya yg manis. Terkadang kedua mataku juga nakal, mengawasi kedua toketnya yg sangat besar didadanya. Sedangkan teh Nungky seolah olah tak peduli, dia hanya menatap tajam jika kedua mata kami saling beradu pandang. Membuat hatiku menciut kecil dan malu terhadapnya. "Kalau teteh kerja, kamu mau ga Fad jaga si Rian!?" tanya teh Nungky pelan ditengah rasa kebingunganku. "Mau aja teh!!" jawabku sambil berusaha mengusai perasaanku. "Mang teteh mau kerja!?" aku memberanikan diri balik bertanya. "Ya iya lha, aku ga enak tergantung sama Ivone terus, udah tempat numpang masa semuanya juga numpang!?" papar teh Nungky sambil menyuapi Rian yg sudah mengangakan mulutnya, karena mulutnya sudah kosong. "Aku sudah ngomong sama Ivone dan dia setuju aja..., jadi besok aku ada panggilan buat irterview!". "Aku haraf kamu mau jagain Rian!?" jelas teh Nungky dngn tatapan mata penuh haraf. Sambil membelai rambut Rian yg duduk dipangkuannya. Aku hanya terdiam tak memberi komentar apa apa, disamping itu juga teh Nungky tidak meminta komentarku.
"Teteh ga usah khawatir dech, aku pasti bisa jaga Rian!!" jawabku memberi semangat untuknya. "Iya aku percaya sama kamu Fad..., nanti aku ajarin cara bikin susu Rian ya!?" ucap teh Nungky dngn nada berat, seraya senyum simpul dibibirnya. Aku hanya mengangguk sambil menatap wajahnya yg bening. "Besok ade main sama om Fadil, dan ga boleh nakal ya sayang!?" nasehatnya pada Rian, yg tersenyum polos tak mengerti apa apa. "Aku mau renang ya om!?" ujar Rian dngn pandangan ceria kearahku. "Iya nanti kita renang dikamar mandi tante Ivone ya!" jawabku menghibur hatinya. Membuat Rian kegirangan seraya memeluk mamahnya. "Nah sekarang ade bobo siang dulu ya nak!?" bujuk teh Nungky sambil mengangkat tubuh Rian dan menggendongnya. Lalu melangkah pergi menuju kamarnya dngn membawa Rian dalam gendongannya. Meninggalkan diriku yg menatap lekat goyangan pinggul dan bokongnya.
¤
Pagi ini tak begitu cerah, awan mendung menghalangi kehadiran cahaya sang surya tuk menyinari bumi. Namun tante Ivone dan teh Nungky serta Tita tengah berkemas hendak berangkat pergi dngn kepentingan serta tugasnya masing masing. Tante Ivone seperti biasa, ia akan berangkat kekantornya. Tita akan berangkat kuliah. Sementara teh Nungky akan berangkat memenuhi panggilan kerjanya. Setelah menyuapi makan pagi Rian dan memberi tahuku cara membuat susu untuk Rian. Hari ini teh Nungky tampak sangat cantik dan sexy sekali. Ia mengenakan kemeja legan panjang putih bergaris garis hitam berbahan agak tipis. Sehingga nampak samar warna hitam bra'nya yg membungkut kedua toketnya yg bulat dan besar. Ditambah dngn celana panjang biru, yg membuat bentuk bokongnya nampak jelas melekat dibahan celana tersebut. Membuat kedua mataku tak ingin berpaling memperhatikanna. Apalagi anak kancing kemeja dibagian atasnya terbuka sebatas dada, yg nyaris memperlihatkan bra'nya. Sehingga terlihat belahan lurus mengarah ketoket didadanya. "Sudah ya Fad, aku pamit dan titip Rian!" ucap teh Nungky tanpa memperdulikan aku yg nakal memperhatikan toketnya. "Ech iya teh!!" jawabku dngn perasaan tak menentu. "Ade jangan nakal ya nak, mamah nyari uang buat ade!?" teh Nungky berpamitan sambil menciumi pipi dan kening putranya. Kemudian teh Nungky berlalu pergi diiringi oleh tatapan mata aku dan Rian yg melepas kepergiannya.
Aku baru saja usai menidurkan Rian setelah memberinya sebotol susu. Memang mulai kemarin Rian menjadi lebih dekat dngnku, dibandingkan dngn tante Ivone ataupun teh Tita. Mungking dia mendambakan sosok seorang ayah, atau dikarenakan aku sangat sayang dan memperhatikan dirinya. Ku tatapi raut wajahnya yg lucu dan polos, tertidur nyenyak dngn berhias senyum manis dibibirnya yg mungil. Perlahan pintu kamar terbuka dan nampak teh Nungky masuk dngn mimik wajah yg ceria. "Udah lama Rian bobonya?" tanya teh Nungky seraya menutup kembali daun pintu yg tadi dibukanya, dngn perlahan lahan takut Rian terbangun.
"Baru aja teh!!" jawabku seraya beranjak pergi keluar kamar. Aku fikir teh Nungky sudah pulang, maka biar dia yg melanjuti menemani anaknya tidur. "Kamu mau kemana..., udah disini aja temanin teteh sama Rian!?" tegur teh Nungky sambil membuka kemejanya. Sehingga ia hanya mengenakan bra saja. Lalu ia juga membuka celana panjangnya, membuat ia kini hampir bugil hanya mengenakan bra dan celana dalam saja. Membuat hatiku bergejolak tak karuan memperhatikan tubuhnya. Sehingga membuat kedua kakiku diam seperti tertancap paku. Kemudian teh Nungky menghampiriku yg masih diam terpaku. Dengan kedua mata tak berkedip memperhatikan dua buah gunung besar dibalik bra yg berwarna hitam didadanya. "Sekarang kamu kelonin ...


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.