peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


frisca - Woman Boobs
asmarabuana.peperonity.net

Gara gara ngintiP

TANTE FRISCA

===== || =====
¤

Jam telah menunjukkan pukul 21.00 WIB, aku dan Erin baru pulang dari Kali Bata Mall. Menemani Erin membeli beberapa potong pakaian untuknya. Untung masih ada angkot yg tengah mangkal distasions Kali Bata, kalau tidak ada terpaksa kami berdua harus menumpang ojek motor untuk sampai kerumah. Yang biayanya bisa tiga kali lipat dari tarif angkot.
"Cepet Rin...., ntar ketinggalan..,!!" ujarku sambil menarik tangan Erin. Berlari mengejar angkot yg sudah mau berangkat, karena merupakan angkot yg terakhir. Disini angkot dibatasi waktu operasinya, hanya sampai jam 21.00 WIB atau jam 9 malam saja. Itu sudah menjadi kesepakatan antara pengemudi angkot dan tukang ojek diKali Bata. Akhirnya aku dan Erin dapat juga naik angkot tersebut dan masih mendapat tempat duduk, walaupun harus berdesakan. Maklum ini angkot terakhir yg masih beroperasi, jadi penumpangnyapun cukup padat. Yang kebanyakan para karyawan dan karyawati mall ataupun swalayan disekitar Kali Bata. Yang baru pulang bekerja dan ingin cepat cepat sampai kerumah.
Akhirnya angkotpun berjalan merayap, melintasi trayek yg dilaluinya. Dan tak berapa lama aku dan Erin pun sampai ditempat tujuan, dimuka jalan tempat tinggal kami. Setelah meminta agar sopirnya berhenti dan membayar ongkosnya. Maka aku dan Erin pun turun dan berjalan menuju rumah kami yg tak berjauhan letaknya.
Nampak pos tempat kami ngumpul masih sepi. Tak satu pun teman temanku yg terlihat disitu. Mungkin karena ini malam Jum'at, jadi mereka malas untuk keluar rumah. Demikian juga dngn toko om Usman yg kelihatannya sudah tutup. "Ko sepi banget ya Fad.,!?" ujar Erin sambil menatap ke arah pos dan toko om Usman. "Pade males keluar kali,...!?" jawabku seraya turut memperhatikan ke arah pos dan toko om Usman. "Ne kan malem Jum'at Rin...!!" sambungku seraya menatap wajah Erin. "Ach Lw, nakut nakutin gW aje ne....?" ucap Erin sambil meninju dngn lembut bahuku. Dan tersenyum manja.
"Ech, Lw mau langsung pulang, ape nganterin gW dulu ne!?" tanya Erin sambil balas menatap wajahku. "Mang knape, Lw takut sendirian?" aku balik bertanya sambil menggodanya. "Gw serius Fadilll...." ujar Erin dngn mimik wajah yg cemberut. "Iye.., iye gW nganterin Lw dulu dech, cantik!!" jelasku seraya memegang tangan kanannya. Lalu kami berdua pun melangkahkan kaki menuju rumah Erin yg cuma berjarak beberapa meter saja. "Ehm, Lw entar mau liat film bokep ga,...?" tanya Erin pelan ditelingaku. "Yang bener Lw Rin...!?" aku balik bertanya setengah tak percaya mendegar ucapannya tadi. "Begini..., tadi siang kan om Danu pulang, gW yakin malem ini dia maen ama tante Frisca...." papar Erin meyakinkan aku. Dengan raut wajah sangat serius, membuat aku menjadi penasaran. Apa lagi saat mendengar nama tante Frisca.
"Wah tante Frisca......, kenapa bukan aku yg menidurimu Friss...," gumamku dalam hati. Tante Frisca adalah tantenya Erin, istri om Danu yg bekerja rebagai pilot di sebuah perusahaan penerbangan asing, sehingga membuat om Danu jarang pulang atau dirumah. Tante Frisca adalah wanita idaman dan impianku. Dia bukan hanya cantik rupawan. Namun tutur katanya sangat lembut, penuh etika kesopanan dan wibawa. Membuat hanyut akal dan fikiran bagi kaum Adam yg melihat atau bertutur sapa dngnnya.
Bentuk tubuhnya yg tinggi dan langsing bah seorang foto model. Konon tante Frisca mantan pramugari. Setelah menikah dngn om Danu, dia memutuskan meninggalkan pekerjaannya itu. Dengan tinggi 169cm, bb 35kg, ukuran toketnya sangat menggiurkan 37a, rambutnya hitam lurus melebihi bahu, kulitnya putih bersih tanpa cacat. Menurut Erin, tantenya itu masih berdarah Australia dari ibunya.
"Wuei.., ngelamunin tante gW Lw ya?" tegur Erin membuyarkan semua lamunanku tentang tantenya. "Ech ga ko!?" jawabku sedikit malu. "Ya udah, ayo masuk...!!" ajak Erin seraya membuka pintu dan mengajakku masuk. "Pelan pelan biar ga ketauan, kalau kita dah pulang!" pinta Erin dngn setengah berbisik. Aku hanya menganggukjan kepalaku saja. Dengan langkah perlahan lahan, kami berdua melangkah masuk lewat pintu belakang.
Melalui pintu dapur yg tak terkunci, aku dan Erin masuk kekamar Erin dngn mengendap endap seperti pencuri. Akhirnya aku dan Erin berhasil masuk kekamarnya tanpa diketahui penghuni rumah. Setelah didalam kamar Erin, Erin naik keatas langit langit dngn bantuan lemari. Erin berdiri diatas lemari dan membuka salah satu enternit yg sengaja tak dipaku. Kemudian masuk kelangit langit rumah lewat lobang enternit tersebut. "Sssstttt..., ayo!" panggil Erin dngn perlahan, agar aku juga mengikutinya. Akupun menuruti dan mengikuti perintahnya. Dengan perlahan aku naik keatas lemari dan memasuki lobang enternit yg telah terbuka itu. Dimana Erin telah menanti didalamnya, yg nampak gelap keadaan disekitarnya.
Dengan perlahan dan hati hati sekali, aku mengikuti Erin merangkak ditulang tulang kayu langit langit rumah atau loteng yg gelap. Rupanya Erin telah hafal akan alur jalan yg kami lalui, sehingga tanpa kesulitan dia terus merangkak. Menuju suatu tempat. Akhirnya Erin berhenti disebuah tempat dan mengisyaratkan aku agar berhenti dan diam. Kemudian jari tangannya menggeser sebuah enternit yg memang tak terpaku. Sehingga nampak celah yg cukup untuk kedua bola mata kami mengintai dngn jelas. Mengintai apa yg ada dan terjadi dibawah dan sekitarnya. Ditambah lagi secara kebetulan lampunya menyala dngn terang. Sehinga sangat membantu penglihatan pandangan mata kami. Ternyata dibawah merupakan kamar tante Frisca dan om Danu. Tapi sayang kami berdua sedikit terlambat menyaksikan kejadian dibawahnya. Dibawah nampak jelas tante Frisca dan om Danu tengah bertempur dngn nafsu. Nampak tubuh tante Frisca tengah duduk diatas tubuh om Danu dalam keadaan telanjang bulat. Terlihat juga raut wajah om Danu yg tengah meringis menahan rasa nikmat. Sedangkan tante Frisca nampak tengah menggoyang goyangkan bokongnya diatas selangkangan om Danu. Terlihat begitu mulus dan putih tubuh serta bokongnya. Namun aku belum dapat melihat kedua toketnya, karena terhalang oleh punggungnya yg membelakangi pandanganku.
Akan tetapi terdengar cukup jelas suara desahan dan rintihan tante Frisca maupun om Danu. Membuat nafsu birahiku bangkit, terbawa dngn suasana adegan dibawah. Sehingga tanpa sadar jari jemariku meremas remas bahu Erin yg berada disisiku. Yang juga tengah hanyut dalam suasana, menyaksikan kejadian dibawah tanpa mengedipkan kedua mata.
Kini nampak tante Frisca tengah terlentang dan mengangkangkan kedua pahanya yg putih mulus bercahaya tersorot cahaya lampu. Yang sepertinya memang sengaja tak dimatikan oleh mereka berdua. Sehingga terlihat jelas bulu jembutnya yg hitam menutupi memeknya. Begitu juga dngn kedua toketnya yg bulat dan besar. Tampak mengkilat basah oleh peluh yg membasahi tubuhnya. Membuat kedua lututku bergetar dan kontolku semakin mengeras dibalik celanaku. Sedangkan Erin asyik terpaku tak bergerak, sambil kedua bola matanya terus melotot kebawah.
Om Danu telah menindihi tubuh tante Frisca yg tergolek dibawahnya. Kemudian bokongnya pun mulai mundur maju, menghujami memek tante Frisca dngn batang kontolnya. "Aaaaachhh...., pah.., oochhh..., eeennak pah...., aaachhh." suara desahan tante Frisca seraya memejamkan kedua matanya. "Ayoo o..., teerrusss pah...., oochh papah, enak pah..., ennnnakk..., aaagghhhh." tante Frisca semakin terdengar merintih sendu. Membuat aku tak mampu lagi untuk menyaksikan dan mendengarkan semuanya. Akupun beranjak merangkak untuk turun dari tempat gelap tersebut. Dan membuat Erin turut mengikutiku turun. Akhirnya kami berdua pun kembali berada dikamar, setelah menuruni lemari yg tadi kami taiki.
"Knape Fad?" tanya Erin dngn raut wajah keheranan. "Gila..., gW ga tahan Rin!!" jawabku sambil berusaha menguasai hawa nafsuku. Memang aku telah dikuasai oleh nafsu, antara nafsu syahwat dan nafsu cemburu. Nafsu syahwat yg teramat cepat mengusai jalan fikiranku. Nafsu cemburu yg membuat aku tak mampu menyaksikan tante Frisca harus bercumbu dan ditiduri oleh orang lain. Meskipun aku tahu , om Danu adalah suaminya.
"Mang Lw ampe konak...!?" tanya Erin seraya menatap wajahku penuh dngn tanda tanya. "Ya iya lah, gW kan cowo normal Rin...!!" jawabku sedikit emosi. "Sekarang masih ga!?" tanya Erin lagi seraya matanya melirik kearah selangkanganku. "Masi sich, mang Lw mau liat!?" ujarku balik bertanya. Yang dijawab hanya dngn anggukkan kepala oleh Erin. Membuat aku hanya terdiam sambil memperhatikan dirinya. Kemudian Erin menghampiriku dan merundukkan kepalanya, serta jari tangannya membuka kancing dan menurunkan resleting celanaku. Lalu telapak tangannya menyusup, meraba batang kontolku dan mengeluarkannya dari dalam celanaku. "Ich, gede banget se...!?" ucapnya, saat batang kontolku menyembul keluar dari dalam celanaku. Seraya mengelus elus batang kontolku dngn telapak tangannya. Terasa dingin seluruh tubuhku dan merasakan elusan elusan telapak tangannya. Sehingga membuat kontolku semakin tegak berdiri.
Cukup lama telapak tangan Erin mengelus elus, mengusap usap batang kontolku. Membuat aku kian terangsang oleh nafsu syahwatku. Akupun segera mendekap erat, memeluk tubuh Erin yg berdiri dihadapanku. Dan menciumi wajahnya, mulai dari pipi, dahi, hidung, hingga akhirnya berhenti pada bibirnya. "Aaaacchhh....., Fadiilll......" desah Erin pelan, ketika mulutku mendarat dibibirnya. Sementara telapak tangannya masih terus menggengam batang kontolku. Telapak tanganku tak mau ketinggalan dngn kedua telapak tangannya. Dengan perlahan meluncur turun dari leher ke dadanya. Setelah terasa menyentuh benda bulat dan kenyal didadanya. Jari jemariku pun meremas remas daging bulat milik Erin.
"Faddhhh...., aaachhh...." bisik Erin ditelingaku seraya merebahkan kepalanya dibahuku. Sementara kedua tangannya telah berpindah, melingkar dileherku. Tak puas meremas remas toket Erin yg masih tertutup t-shirts dan bra yg dikenakannya. Tanganku segera mengangkat keatas t-shirts Erin sebatas dada. Dan jari jemariku menyusup kedalam bra'nya yg berwarna hitam tipis. Lalu meremas remas kembali toket yg mungil menggairahkan nafsuku. "Oooochhhhh...." desah bibir Erin dngn tubuh sedikit bergetar. Telapak dan jari jemariku terus meremas dan memuntir muntir puting toketnya. Membuat tubuh Erin mengeliat geliat dalam dekapanku.
Beberapa saat kemudian Erin merenggangkan tubuhnya dari dekapan tubuhku. Kemudian tubuhnya melorot kebawah, lalu berhenti ketika wajahnya berada tepat diselangkanganku. Kini wajahnya tengah menghadapi kontolku yg memang telah berdiri tegak, karena celana dan celana dalam yg kukenakan telah melorot hingga mata kakiku. Dengan lembut salah satu telapak tangannya menggenggam batang kontolku. Terasa hawa hangat menjalari seluruh tubuhku hingga ke ubun ubun kepalaku. Perlahan ujung lidah Erin ...


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.