peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


tari - Woman Boobs
asmarabuana.peperonity.net

Dinginnya malaM

TEH ENTIEN

Untuk menenangkan suasana yg ada, aku memutuskan untuk pulang ke kampung. Setelah berpamitan dngn tante Ivone dan teh Nungky, aku pun segera berangkat menuju terminal bus antar kota Kampung Rambutan. Jam 17.00 aku telah berangkat dari terminal bus Kampung Rambutan dngn menggunakan bus Wanaraja jurusan Jakarta Garut. Karena memang kampungku berada diGarut, tepatnya didesa Sukapadang kecamatan Tarogong Garut kota. Tak jauh dari R. S. U Slamet Riyadi dan sungai Cimanuk. Bus mulai merayap menyusuri jalan raya, aku menggunakan waktu perjalananku dngn beristahat hingga tertidur dikursik bus yg aku tumpangi. Kebetulan disebelahku duduk seorang nenek yg sudah cukup umur, jadi tak banyak yg kami ceritakan, karena si nenek juga lebih banyak memilih tidur.
*
Saat hari menjelang pagi, kira kira pukul 4.00, bus telah memasuki kota Garut dan menuju terminal bus Ciawitali. Ada rasa rindu yg menggebu gebu terhadap keluargaku, teman temanku serta suasana kampungku. Setelah turun dari bus, aku segera menumpang sebuah becak yg memang telah mangkal diterminal dan menuju rumahku yg memang cukup jauh dari terminal.
Rumahku masih nampak sepi, begitu juga dngn suasana kampungku. Mungking mereka masih tertidur pulas dalam buaian dinginnya malam. Ku ketuk perlahan lahan daun pintu rumahku dngn tak lupa memberi salam pada penghuninya. Tak lama bapakku terbangun dan beranjak membukakan pintu untukku. Dengan perasaan sedikit heran dan tak percaya, bapakku menatapku dngn seksama dari ujung kaki hingga ujung rambutku. " Bang...!? "antara serun dan tanyanya sambil memelukku, membuat ibu dan adik adikku terbangun dari mimpinya. Saat itu juga suasana rumahku menjadi ramai, maklum sudah hampir tiga tahun aku tidak pulang dan bertemu dngn mereka. Ibuku langsung kedapur membuatkan ku kopi hangat, sementara adik adikku mengelilingi dngn penuh kecerian. Aku memiliki empat orang saudara dan aku merupakan anak tertua, jadi semua adik adikku memanggilku abang. Karena asyiknya bersandau gurau dan rasa kangen yg telah terobati, sehingga kami semua tertidur kembali kecuali bapak dan ibuku. Bapakku harus ke kebun sedangkan ibuku dan sibungsu harus kewarung. Karena ibuku membuka warung kecil kecilan diterminal bayangan Maktal, ditepi jalan raya menuju Cikajang, Bayombong terus ke Pamempek.
Aku terbangun matahari mulai ingin tenggelam lagi, setelah makan makanan yg telah dihidangkan adik perempuanku yg nomer tiga dariku. Aku pun bergegas mandi supaya tak terlalu dingin, disamping itu juga teman temanku telah menunggu dirumah teh Entin, yg memang selalu kami jadikan markas.
*
Teh Entin adalah seorang wanita yg telah cukup lama ditinggal suaminya, suami teh Entin pamit akan mencari pekerjaan di Bandung. Namun hampir empat tahun tak ada kabar beritanya atau pulang kerumah, bahkan terdengar berita kalau suaminya telah menikah lagi diBandung. Teh Entin pun tak lagi mengharafkan kepulangan atau kabar tentang suaminya. Ia hidup dngn usaha warung kecil kecilan untuk membiayai dirinya dan anak semata wayangnya yg bernama Meti, yg baru berusia tiga tahunan dan tak mengenal rupa asli bapaknya. Ditambah adik teh Entin yg bernama Udung yg juga merupakan sahabatku. Teh Entin sendiri berusia sekitar tiga puluh tahunan, kulitnya bersih meskipung tak berapa cantik dngn bentuk wajah bulat, hidung pesek, rambuk ikal sebahu, bola matanya bulat dngn bulu yg lentik. Namun bibir teh Entin sangat menggiurkan, tipis dan selalu basah.
Tinggi badan teh Entin sekitar 165 cm dngn berat 55 kg, kedua toketnya tak berapa besar sekitar 32 a. Ternyata dirumah sekaligus warung teh Entin telah berkumpul teman temanku, ada si Ujang, Jejen, Utik, Nandang, Ipah, Nyi Eni dan si Udung tentunya. Mereka nampak begitu ceria menyambut kedatanganku setelah cukup lama tak bertemu. Kami pun tenggelam dalam kecerian sambil menikmati ubi rebus, kacang garing dan teh manis hangat. " Wah, enak atuh jadi orang kota?" sapa teh Entin setengah menggodaku sambil tersenyum dan menjabat telapak tanganku. "Ah, biasa aja teh..."jawabku sambil duduk bergabung dngn teman temanku. Kamipun akhirnya berceloteh, bersandau gurau penuh keceriaan, sambil menikmati minuman yg disediakan teh Entin. Berhubung aku baru datang dari Jakarta, maka hari ini aku menjadi boss buat teman temank. Aku mentraktir makan minum serta rokok buat teman temanku, tak lupa juga aku memberikan sedikit uang kepada teh Entin dan putrinya si Meti.
Setelah puas bercanda ria, kami beramai ramai menuju sungai Cimanuk yg tak jauh letaknya dari tempatku. Di Cimanuk kami kembali bergembira sambil berenang ditenangnya arus air sungai tersebut. Sesekali kami mencuri pandang pada gadis gadis yg tengah mandi atau mencuci pakaian ditepi sungai. Memang sungai Cimanuk merupakan suatu sarana penting bagi penduduk desa atau kampung dikiri kanannya. Disamping airnya yg jernih, sungainya cukup luas dan tempat mencari nafkah bagi sebagian penduduk desa. Ada yg mencari batu dan pasir, ada pula yg mencari ikan.
Menjelang sore hari kami menyudahi dan meninggalkan sungai Cimanuk dngn perasaan senang dan lelah karena berendam terus di air. Kami pun pulang kerumah masing masing dan berjanji akan berkumpul lagi nanti malam dirumah teh Entin.
Setelah hari menjelang gelap, selepas waktu sholat Maghrib, kami pun berkumpul dirumah Entin. Sambil minum teh hangat atau kopi dan goreng singkong atau ubi kayu, kami bercerita tentang pengalaman dan apa yg telah terjadi dikampung ini selama aku di Jakarta. Dengan penuh keakraban dan rasa persaudaraan yg tulus dari mereka, terasa nyaman dan membuatku kerasan tinggal dikampung. Ingin rasanya tak kembali lagi ke Jakarta, namun dikampung pekerjaan sangatlah sulit selain bertani dan niaga. Hal inilah yg membuat aku pergi meninggal kampung dan keluargaku tiga tahun yg lalu. Kembali pada teman temanku yg tengah bercerita dngn diselingi rasa humor sesekali, terutama si Udung yg pintar ngelawak. Mampu membuat kami tertawa dngn cerita dan tingkahnya. Teh Entin pun tak ketinggallan, ia turut membaur sambil meniduri Meti dipangkuanya. Wajahnya nampak cantik sekali tersorot cahaya lampu, bibirnya sangat merangsang apa bila dia tersenyum. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya, ia pun membalasnya dngn senyum serta tatapan mata yg nakal. Membuat hatiku berdesir tak karuan, sementara diluar rintik hujan mulai turun membasahi bumi ini.
Sebenarnya malam ini aku dan teman temanku, Ujang, Jejen, Udung dan adikku Nanda ingin pergi mengobor atau mencari lindung dikampung tetangga di Cibunar. Sayangnya hujan turun sangat deras, membuat kami membatalkan rencana tersebut dan cukup berkumpul dngn menikmati kopi hangat dan singkong. Ditengah suasana keceriaan kami, tiba tiba kang Wawan yg merupakan jagoan dikampung kami datang dngn membawa sekantung plastik kacang rebus dan dua buah botol minuman anggur kolesom cap orang tua. Dengan alasan untuk menghormatiku kang Wawan mengajak kami meminum minuman yg dibawanya, kami pun tak dapat menolaknya. Selain tidak enak sama kang Wawan, ya itung itung untuk menghangatkan tubuh dimalam yg dingin ini. Bahkan aku memberikan uang kepada Ujang dan memintanya untuk membeli beberapa botol anggur lagi. Ujang pun berangkat ditemani si Udung meninggalkan aku, kang Wawan, Jejen dan Nanda. Tanpa Ujang dan Udung kami berempat mulai meminum minuman tersebut dicampur dngn soda water yg kebetulan teh Entin menjualnya. Tak berapa lama Ujang dan Udung telah kembali dngn membawa lima botol anggur kolesom.
Suasana bertambah enak saat Jejen mulai memainkan gitar dan menyanyikan lagu irama dang-dhut. Sambil sesekali diselingi menenggak minuman yg kami be rikan. Sungguh suasana malam ini begitu menyenangkan dan membuat udara dinginya malam tak berarti bagi tubuh kami. Namun setelah minuman botol ke lima dari tujuh botol yg ada, kang Wawan pamit ingin pulang dan meninggalkan kami berlima. Dengan kepergian kang Wawan maka kami berlima terpaksa harus menghabiskan dua botol minuman yg tersisa, namun Jejen dan Nanda sudah menyatakan tak sanggup untuk minum lagi. Akhirnya aku, Ujang dan Udung yg masih mampu melanjutkan minum terus. Sampai akhirnya kami bertiga pun tak mampu lagi dan tumbang tak berdaya.
*
Aku merebahkan tubuhku yg mulai terasa lemas di antara tubuh teman temanku yg telah tenggelam dalam mabuk serta mimpinya masing masing. Namun aku tak mampu memejamkan mata, kepalaku terasa pening dan perutku terasa sangat mual. Dengan tubuh lemas aku bangkit berdiri dan melangkah dngn gontai menuju luar rumah. Sesampai di luar aku langsung menuju kebun samping rumah teh Entin dan membungkuk memuntahkan semua isi perutku. Setelah muntah beberapa kali, baru rasa mual dan pening dikepalaku mulai berkurang. Belum sempat aku melangkah, tiba tiba terdengar pintu belakang rumah teh Entin terbuka. Tak lama teh Entin keluar dan melangkah menghampiriku yg masih merasakan lemas ditubuhku. "Knapa A.., hayu masuk diluar dingin atuh!?" sapa teh Entin seraya memperhatikan wajahku. Teh Entin memapah dan mengajakku masuk kembali ke dalam rumah. "Jangan tidur didepan dingin A, dikamar aja sama si Meti!?" ujar teh Entin setengah berbisik sambil menuntunku kedalam kamarnya. Kemudian merebahkan tubuhku diatas ranjangnya, sementara si Meti tengah tertidur pulas sambil memeluk sebuah boneka. Oh iy, teh Entin memanggilku A'a untuk membahasakan putrinya memanggilku.
Setelah merebahkan tubuhku, teh Entin beranjak keluar kamar dan tak berapa lama ia telah kembali dngn segelas air hangat ditangannya. "Nih diminum dulu A, biar segeran terus istirahat...." ujar teh Entin seraya menyodorkan air hangat yg dibawanya. Aku pun meminumnya diiringi dngn senyum dan tatapan kedua matanya. Tubuhku mulai terasa hangat dan segar, pening dikepalaku pun perlahan lahan mulai menghilang. Aku juga baru menyadari kalau teh Entin yg berada dihadapanku hanya mengenakan kain sarung sebatas dada, sehingga celahan kedua toketnya yg putih terlihat jelas olehku. Putih bersih dan menggairahkan, membuat birahiku bangkit seketika. Teh Entih berusaha meraih dan berniat menutupi tubuhnya kembali. Namun tanpa kusadari tanganku menahannya dan menarik tubuhnya sehingga menindìhi tubuhku. Dengan penuh nafsu ku peluk tubuhnya dan melumat bibirnya, membuat teh Entin mendesah dan membalas lumatan mulutku.
Dengan perlahan teh Entin melepaskan lumatan mulutku dan berbisik pelan ditelingaku. "Dibawah A, nanti siMeti bangun....."bisiknya. Akupun harus rela melepaskan pelukanku terhadap tubuhnya. Kemudian teh Entin bangkit dngn keadaan setengah bugil dan meraih selembar tikar dan menggelarnya. Aku bangkit berdiri dan memeluk tubuhnya dngn tak sabar dari belakang, ku ciumi seluruh leher dan bahunya. Sehingga membuat dirinya bergelenjang kegelian. "Aaacchh..., si A'a sabar atuh.... A"lirihnya pelan, membuat nafsuku kian bergelora dan kontolku semakin tegak berdiri. Teh Entin melepaskan tubuhnya dari dekapanku, kemudian ia berbalik dan membukakan seluruh pakaian yg melekat ditubuhku. Sambil berjongkok dihadapanku, ia pun melepaskan celana dalamku dan memainkan batang kontolku yg ...


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.