peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


tari - Woman Boobs
asmarabuana.peperonity.net

Pemuas nafsU

WANITA HYPER SEX

Ternyata teh Entin benar benar istri yg kesepian dan haus akan kepuasan biologis, meskipun tampak ia wanita yg tegar dan sabar serta mampu menutupi segala kekurangan dirinya. Namun pada dasarnya teh Entin adalah seorang wanita sex maniaks yg tak pernah merasa puas. Hal ini ku alami semenjak aku dan dia melakukan hubungan badan tempo hari. Teh Entin selalu mencari kesempatan dan tempat untuk memuaskan nafsunya terhadapku. Bahkan bisa dibilang hampir tiga hari sekali kami melakukan hubungan badan, setelat telatnya satu minggu jika tak sedang datang bulan. Ada ciri khas jika teh Entin tengah berhasrat dan kepingin ditiduri, ia akan membuatkan aku secangkir susu bercampur telur bebek. Atau ia akan membuatkanku masakkan gulai atau sop kambing.
Maka jika salah satu hal itu terjadi, aku hanya menanti kapan dan dimana teh Entin menginginkannya. Biasanya kami berdua sering melakukan dirumah kontrakkan Ine, Ine merupakan keponakkan teh Entin yg menjadi siswi sebuah Akademi Perawat di R.S.U. Slamed Riyadi Garut. Sebuah sekolah jurusan perawat dan setara dngn SMU.
Anehnya Ine se akan akan mengerti dan tahu akan niat kedatangan kami berdua. Bahkan Ine rela tidur sekamar dngn Meti atau mengajak Meti jalan keluar. Jika aku dan teh Entin tengah berada dirumah kontrakkannya, teh Entin pun tak sungkan sungkan atau merasa risih terhadapnya. Teh Entin suka mencium pipi atau mencolek bokong, bahkan kontolku dihadapan Ine. Dan Ine seolah olah tak perduli atas kelakuan bibinya tersebut.
=
Seperti sore ini, aku, teh Entin dan Meti datang kerumah kontrakannya. Kebetulan Ine tengah asyik bersantai sambil menyaksikan sebuah siaran tv swasta di televisi. "Ech bi, hanyu masuk atuh!?"sambutnya tak kala kami bertiga tengah berdiri didepan pintu rumahnya. Kami pun masuk, aku langsung mengambil tempat duduk dikursi tama dekatnya. Sementara teh Entin dan Meti langsung menuju keruang dalam atau dapur. "Meti kalau mau ma'em ngambil sama mamah aja dimeja dapur!!"seru Ine menyuruh Meti yg tak lain merupakan adik sepupunya.
Tak berapa lama teh Entin dan Meti datang dngn membawa piring berisi nasi dan telur dadar serta sepotong daging ayam goreng. Lalu duduk didekatku menyuapi Meti sambil turut menyaksikan televisi. "Ech si A'a belum dibuatin minum,., ya!?"gurau teh Entin seraya tersenyum sambil menyuapi Meti yg telah mengangakan mulutnya. "Alah, biar aja dia buat sendiri bi!!"celetuk Ine sambil beranjak bangkit dan melangkah kedapur, tanpa menoleh ke arahku. Aku pun branjak mengikuti langkahnya menuju dapur.
Sesampai didapur aku segera membuat segelas kopi hangat. Aku juga memperhatikan tubuh Ine yg tengah mencuci piring bekas ia makan tadi. "Ehm, ternyata Ine montok banget ya..."gumanku dalam hati sambil melangkah dan membawa segelas kopi hangat keruang depan lagi. Aku kembali duduk menyaksikan acara televisi, sementara teh Entin telah selesai menyuapi Met makan. Tak berapa lama Ine keluar, akan tetapi ia telah berdandan rapi seperti hendak pergi. "Met hayu anter teh Ine kapengkolan....!!"ajak Ine kepada Meti. "Iya sana ikut teh Ine, nanti minta dibeliin jajan...."perintah teh Entin juga kepada Meti.
Akhirnya Ine dan Meti berangkat kePengkolan dengan menggunakan sepeda motor, nama sebuah tempat dipusat kota Garut. Tepatnya diJln. Akhmad Yani, tempat yg selalu ramai siang malam dan tak berapa jauh dari alun alun kota Garut. Disana selain pusat pertokoan ada juga bioskop seperti Garut theater dekat radio daerah Antares. Ada juga Cikuray theater atau Wanasari theater, ada juga beberapa caffe atau bar dan macam macam kedai makan. Baik ala resto atau kaki lima, istilah orang Garut diperlan atau emperan jalan. Dengan kepergian Ine dan Meti, berarti hanya tinggal aku dan teh Entin. Dan suasana seperti ini yg memang selalu diharafkan oleh teh Entin, dimana kami berdua dapat memadu asmara dengan leluasa dan tenang. Tanpa rasa takut diganggu atau terlihat oleh Meti akan kebejatan moral ibunya dan aku.
=
Seperti biasanya jika disetiap ada kesempatan aku dan teh Entin mulai saling merapatkan tubuh serapat mungkin, ditambah lagi udara malam yg mulai terasa dingin. Membuat teh Entin semakin merapatkan tubuhnya memepet tubuhku seraya jari tangannya merayap diselangkanganku. Aku hanya mampu menyedot rokok yg tengah aku hisap dan menghembuskan asapnya perlahan lahan. Yang kemudian diraih teh Entin dan serta merta menghisapnya juga. Aku membelai belai rambut ikalnya yg hitam, yg mulai rebah dibahuku. Sambil terus menikmati rokok yg dihisapnya, jari tangan teh Entin terus meraba serta mengusap usap kontolku yg masih tersembunyi dibalik celanaku. "A.., aku mau rokok yang bawah aja ya!?"bisik teh Entin sambil ujung lidahnya menjilati daun telingaku. Sehingga membuat aku bergelenjang menahan rasa geli dibuatnya. Setelah menyerahkan rokoknya kembali padaku, yg masih tersisa setengah batang. Teh Entin menundukkan kepalanya kearah selangkanganku dan jari tangannya segera melorotkan kancing retsleting celanaku. Tangannya pun menyusup dan meraih keluar batang kontolku dari dalam celana dalamku.
Aku pun segera menyandarkan tubuhku pada sandaran sofa yg aku dudukki, saat telapak tangan teh Entin telah menggenggam batang kontolku yg telah menegang tegak berdiri. Dengan perlahan lahan kepala kontolku mulai diemudnya, sedangkan jari tangan yg lainnya memainkan buah pelerku. Sehingga membuat aku harus merem melek menahan nikmatnya setiap emudtan lidah teh Entin pada kepala kontolku. Akhirnya teh Entin melorotkan semua celana yg ku kenakan, termasuk celana dalamku, sehingga membuat tubuhku setengah bugil. Setelah semua celanaku terlepas dan dicampakkan olehnya kelantai, teh Entin kembali melumat batang kontolku dengan mulutnya. Emutan demi emutan, terkadang sesekali teh Entin menjilati batang kontolku lalu dimasukkan kembali kedalam mulutnya. Aku hanya dapat memejamkan kedua belah mataku sambil mengusap usap rambut dikepalanya, menikmati apa yg telah teh Entin lakukan terhadap batang kontolku yg semakin menegang kencang.
Tak lama kemudian teh Entin melepaskan batang kontolku dari mulut dan genggaman telapak tangannya. Lalu teh Entin beranjak bangki dan tersenyum menatapku dngn penuh gairah. Kemudian duduk diatas pangkuanku, menindihi batang kontolku yg tengah berdiri tegak. Membuat aku sedikit meringis menahan gencetan atau tindihan bokong teh Entin yg seakan akan membuat batang kontolku ingin patah dibuatnya. "Enak ga A..?"tanya teh Entin seraya menempelkan salah satu toketnya kewajahku. "O'oh!"jawabku perlahan tertahan oleh tekanan toketnya. Aku pun menciumi toket teh Entin yg masih tersimpan dibalik baju daster dan branya seraya kedua tanganku melingkar pada pinggulnya yg langsing. Tanpa menghiraukan rasa pegal terhadap batang kontolku yg diduduki bokong teh Entin. "Aaaaachhh..."teh Entin mengeliat sambil telapak tangannya meremas remas rambut dikepalaku. Membuat kedua telapak tanganku berpindah dari pinggul ke bagian bokongnya yg kenyal dan mungil. Telapak tanganku pun meremas daging kenyal dibagian bokongnya. Sehingga membuat teh semakin bergairah dan semakin menempelkan toketnya kemulutku, yg mulai susah bernafas karena lubang serta hidungku tertekan oleh toketnya.
Tanganku meluncur dari bokong teh Entin ke arah lututnya dan segera mengangkat naik daster yg tengah dikenakannya. Dengan serta merta jari tanganku segera menarik turun celana dalam yg dipakai teh Entin hingga kebawah dan copot dari tubuhnya. Dan berusaha melucuti juga daster yg dikenakannya. Namun teh Entin menolak dan bangkit dari pangkuanku untuk membuka daster sekaligus bra yg membungkus kedua toketnya sendiri. Sehingga kini tubuh teh Entin dalam keadaan bugil polos. Kemudian teh Entin melenggak lenggokkan tubuh bugilnya sambil salah satu telapak tangannya membelai serta meremas remas toketnya sendiri. Seakan akan ia ingin memamerkan kemolekan tubuh dan keindahan kedua toketnya, bergaya layaknya artis film forno tengah memancing birahi lawan mainnya.
=
Sepintas terlihat oleh mataku sebatang kuas lukis berukuran besar tergolek diatas meja. Mungkin Ine tadi habis melukis, karena sebuah buku gambar besar tergeletak disebelahnya. Namun kuas tersebut mendatangkan ide dalam benakku untuk teh Entin. Maka aku pun segera meraih kuas lukis tersebut dan meminta supaya teh Entin duduk diatas bangku panjang atau sofa kembali. "Mau diapain A...?"tanya teh Entin melihat aku tengah memegang kuas lukis ditanganku. "Udah, teteh duduk aja....."pintaku sambil membimbing teh Entin agar terduduk. Dengan sedikit diliputi perasaan heran terhadapku, akhirnya teh Entin pun duduk pada bangku yg aku maksut. Terlebih dahulu aku membalut bagian plat pembalut bulu pada ujung kuas tersebut dngn kain pembalut luka atau handsaplas. Yang aku dapati pada sebuah laci bufet Ine.
Setelah itu aku pun duduk bersila dilantai menghadap kearah teh Entin yg masih terduduk dan meminta agar teh Entin mengangkat kedua kaki dan mengangkangkan kedua pahanya. Teh Entin hanya menuruti permintaanku dan segera mengangkangkan kedua pahanya lebar lebar, membuat memeknya terkuak dngn daging berwarna kemerah merahan dan sedikit mulai basah. Dengan perlahan ku jilati bulu jembut yg tumbuh jarang disekitar memeknya dngn ujung lidahku. Sehingga membuat teh Entin mulai meringis dngn kedua belah mata terpejam.
Lidahku tak hanya menciumi atau menjilati bulu jembutnya saja, namun mulai menjelajah masuk kedalam lobang memek teh Entin yg telah becek. Sementara teh Entih semakin merintih tak karuan sambil sesekali menggeliatkan tubuh atau mengangkat bokongnya. "Aaaaahhhh...., oouuwhhhhhh......., ttteerruuusss..., ooochhhhh..., ennaaakkk..., terruussss A....., aaaghhhhhhh...."suara rintih yg keluar dari mulut teh Entin terdengar sangat lirih. Sedangkan ujung lidahku tengah menjilati bagian itil memeknya. Mulutku mulai basah dan lengket oleh cairan kental yg keluar dari dalam memek teh Entin bercampur dngn air liurku sendiri. "Auwwww..., ooohhhhh......"jerit kecil teh Entin sambil meremas remas rambut dikepalaku, disetiap mulutku menyedot itilnya. Kadangkala teh Entin juga merapatkan kedua pahanya, membuat kepalaku tergelam dan tergencet olehnya.
Setelah cukup puas menjilati dan mengenyot itil teh Entin, aku pun menyudahinya. Tapi aku tetap meminta teh Entin tetap pada posisi semula. Kini bukan lagi mulut atau lidahku yg memainkan itil atau lobang memek teh Entin. Aku segera memainkan bulu ujung kuas untuk mengusap serta menyapu lobang memek teh Entin. "Oooghhhhh..., gelii...., aaachhhhh...."teh Entin meringis menahan rasa geli dari sapuan atau olesan bulu kuas pada lobang memeknya. "Aaaggghhhhhh....."erang teh Entin seraya mengejangkan tubuhnya ketika bulu kuas mengusap usag itilnya. "Udaahh A..., uddaahhhh...., oocchhh"suara teh Entin lirih memohon. Diiringi oleh jari jari tangannya menahan gerakkan kuas pada tanganku. Aku pun menghentikan olesan kuas pada memek dan itilnya, lalu beranjak bangkit berdiri seiring dngn batang kontolku yg kian tegak berdiri ...


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.