peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


cansas.cerpen.peperonity.net

-= PAMAN ARJO =-

------------ = ------------

------------ = ------------



Hari ini Paman Arjo akan kembali ke kampung. Aku dan Aris mengantarkan sampai stasiun. Bapak dan ibu tidak ikut mengantar karena hari Minggu ini kantor tempat mereka berdagang mengadakan acara yang membutuhkan konsumsi tambahan.
“Temani Paman ke wartel, ya Ro!?” ajak Paman Arjo. Aku tinggalkan Aris dan mengiringi langkah Paman Arjo.
Di sebuah tempat yang tidak terlihat oleh Aris Paman Arjo menarikku merapatkan tubuhku ke tubuhnya.
“Tetap diingat, ya ucapan Paman! Jangan kamu apa-apakan Aris!” desisnya sambil menatapiku dengan redup. Aku hanya mengangguk. Selama ini tidak terjadi apa-apa lagi dengan Aris.
“Sebelum Paman pulang, ada yang kamu inginkan?” tawar Pamanku. Wajahku langsung memerah. Apakah ini ajakan yang berikutnya? Pamanku ingin diisap lagi kontolnya olehku! Aku mengangguk ...
“Tapi kamu janji tidak melakukannya pada Aris, ya? Nanti kalau kita bertemu lagi Paman serahkan lagi kontol Paman buat kamu!” pintanya. Mana mungkin aku berjanji? Aku sudah pernah mengocok kontol Aris sekali. Di samping Paman Arjo persis!“Saya takut pada Aris, Paman ...” ada dusta dalam ucapanku. Aku takut kalau Aris akan marah. Namun, aku tidak takut melakukan apa yang telah kulakukan pada Paman Arjo ke Aris! Kalau Aris tidak menolak tentu saja ...
Kami menuju toilet stasiun. Masuk bersamaan ke salah satu wc. Aku langsung jongkok di depan Pamanku yang sudah memelorotkan celananya. Lagi-lagi tanpa sempak!
“Jangan lama-lama! Nanti Aris curiga ... “ ingat Paman Arjo. Aku tak menjawab ucapannya. Mulutku sudah terisi penuh oleh kontolnya yang besar panjang dan hitam kekar. Akan butuh waktu lama lagi untukku bisa menikmati kontol itu. Paman Arjo harus kembali ke kampung. Kontol Aris senikmat kontol bapaknya tidak ya? Seandainya Aris juga bersifat seperti bapaknya ...
Tujuh menit. Usai sudah.
Kereta Matarmaja akan segera berangkat. Aris mencium tangan bapaknya. Paman Arjo merangkul anaknya itu. Sungguh berat melepas anak satu-satunya hidup jauh dari orang tua. Paman Arjo juga menarikku ke dalam rangkulannya.
“Yang akur, ya!” pintanya sebelum masuk ke dalam kereta.
Kereta meninggalkan stasiun ...
“Ro! Kok aku jadi sentimentil begini, ya?” Aris menangis sambil memelukku. Oh, my God! Aku harus menetralisir nafsuku.
“Wajar, Ris! Justru aneh kalau kamu tidak sedih berpisah dengan orang tuamu!” hiburku.
“Kamu janji tidak nakal, ya?” katanya. Air matanya sudah terhapus. Kupikir ia bergurau.
“Ya, ampun memangnya aku anak kecil ...”
“Kamu janji tidak menakaliku, ya!” Aris mengulang ucapannya dengan penekanan di akhir kalimat. Aku paham maksudnya. Ya, aku janji pria jantan!, kataku dalam hati. Lemas ... kesempatan itu semakin tertutup ...
“Kita ke mall dulu, yuk!” ajak Aris. Ia sering mendengar kata itu dan ingin sekali berkunjung ke sana. Namun, keinginannya belum terpenuhi sebab aku sendiri tidak pernah keluar rumah. Kebutuhan pakaianku sudah dipenuhi bapak dan ibuku dengan membelikannya di pasar. Lagi pula kalau aku ke mall dengan siapa?
“Aku belum pernah ke mall ...” ucapku sunguh-sungguh.
“Ya, sudah cuek saja! Kalau kita tersasar kan berdua ini!” yakinnya. Benar, Ris! Kesasar ke manapun aku tidak keberatan asalkan selalu dengan kamu.
Jadilah kami berdua menuju mall yang tidak terlalu jauh dengan stasiun. Dua orang yang belum pernah ke mall pun berjalan beriringan. Yang satu memang berasal dari kampung yang tidak ada mall di sana. Yang satu lagi sekor katak dalam tempurung ...
Meskipun agak canggung kami berdua memasuki mall tersebut. Hmmm ... sejuk sekali. Kami hanya berputar-putar saja. Tidak ada niat untuk berbelanja memang. Tiba-tiba seorang satpam mendekati kami.
“Kalian berdua ikut saya!” ucapannya yang tegas mengejutkan kami. Kami saling berpandangan. Ada apa?
Kami diajak ke suatu tempat melewati tangga darurat. Apa kami dianggap pengutil? Kami tiba di tempat yang dituju. Di sebuah ruangan ada seorang laki-laki sebaya kakak iparku yang sulung.
“Yang ini, Pak?” tanya satpam itu sambil mendorong perlahan tubuh Aris ke lelaki tersebut. Orang itu mengangguk. Ia berdiri dan menuju sebuah ruangan yang lebih kecil di dalam ruangan yang kami masuki. Ia mengajak Aris masuk.
Satpam yang membawa kami menarikku ke ruangan yang lain. Aku sempat takut dengan seragamnya tetapi karena satpam itu tersenyum manis padaku, rasa takutku hilang. Di sebelah sepertinya Aris sedang diinterogasi oleh pria tadi.
“Isep, ya?!” satpam itu sudah menyodorkan kontolnya yang setengah ngaceng. Hahhhh ...
“Tapi teman saya ...” kataku gagap. Wahh, mimpi apa aku semalam? Ada pria jantan yang menawarkan kontolnya padaku. Memang tidak sebesar kontol Paman Arjo, tetapi tubuh satpam ini ramping kekar. Perutnya terlihat lebih keras daripada Paman Arjo.
“Teman kamu sudah diurus orang tadi!”
“Salah apa dia?” aku belum mengerti.
“Sama seperti kamu ...” satpam itu tidak melanjutkan kata-katanya. Tangannya menarik kepalaku ke kontolnya. Aku tidak berontak. Aku menginginkannya. Kudengar di ruangan sebelah Aris sedang berbicara dengan orang tadi. Membicarakan apa, ya? Akh, nikmati ini saja dulu ...
“Terus... terus ... Isep yang lebih kuat!” satpam itu memaju-mundurkan pantatnya. Oh, sensasi yang baru kali ini kualami. Kontol satpam itu betul-betul mengentoti mulutku! Tidak sekonvensional Paman Arjo...
“Toro! Kita kabur! Orang itu ternyata ...” Aris! Ia sudah berdiri di ambang pintu ruangan tempatku dientoti satpam. Aku kaget. Kulepas kontol yang sudah mengeras di mulutku. Pucat. Malu ...
Aris membalikkan badan. Ia berlari.
“Aris, tunggu!” aku berdiri dan berupaya menyusul Aris. Satpam itu mencoba mencegah, tetapi karena celananya sudah ia pelorotkan dan dengan kontol dalam keadaan ngaceng ia tidak mengejarku. Saat aku keluar ruangan, pria di sebelah sudah berdiri di pintu sambil menaikkan risleting celananya.
Aris tidak lagi berlari. Aku tertinggal di belakang. Kami sudah kembali berada di dalam sebuah counter pakaian remaja. Tidak berhenti tetapi langsung menuju ke luar.
“Aris! Tunggu, dong!” teriakku lagi setelah berada di pinggir jalan. Ia membalikkan badan. Menatapku penuh kemarahan.“Kamu ingin saya kembali saja ke kampung?!” tanyanya menggugat.
“Aku juga menjadi korban, Ris! Kok, kamu marah padaku ...”
“Kamu menikmatinya, kan?!” tantangnya, “ ... kalau tidak, bagaimana mungkin kamu sudah ada di selangkangan satpam itu? Dasar banci!” cacinya kasar.
Ya, Tuhan! Aku harus jawab apa? Apa yang dikatakan Aris benar. Aku menikmatinya. Aku banci!
Kami pulang.
Sebulan kami tidak saling berbicara. Di kamar maupun di sekolah. Hanya di depan ibu dan bapak kami menutupi kerenggangan kami dengan berbicara ala kadarnya. Mereka mungkin menduga kalau kami butuh waktu untuk bisa lebih akrab.
Aris! Jangan kamu siksa aku dengan seperti ini! Tubuhmu tergolek seranjang denganku tetapi engkau tidak mengizinkan aku menikmatinya. Ketika aku memperolehnya dari satpam yang tidak kukenal itu mengapa engkau pun tak memakluminya. Marahlah pada satpam dan lelaki itu! Satpam itu yang membawa kita ke ruangan itu. Aku yakin lelaki yang sudah menunggu di ruangan itu sangat menginginkan dirimu. Salahku apa padamu, Ris?
Menikmati kontol ngaceng yang sangat aku impi-impikan adalah sebuah kesalahan?
Selesai..


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.