peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


ml
cansas.cerpen.peperonity.net

-= KONTOL PAK SATPAM =-

------------ = ------------

------------ = ------------

“Siapa kamu!?” Pertanyaan Pak Satpam tersebut sangat mengejutkanku. Aku rasa lebih tepat jika disebut dengan hardikan. Kalau bertanya kok nadanya sadis amat? “Ssss…” tentu saja aku sangat gugup untuk menjawab pertanyaan (hardikan) tersebut. “Siapa!!” kali ini benar-benar berupa hardikan. “Tri, Pak…” dengan susah payah kukumpulkan keberanianku untuk menjawabnya. “Mau apa di sini!?” lagi-lagi hardikan. “Mmmm…” Sial! Kenapa aku masih gugup saja ya? “ Heh dengar, nggak kamu!?” “Sss…saya… mmm….mau… nyari da…un bu… at… obat, Pak” “Daun apa!?” kali ini tanganku dipelintirnya. Sakit sekali! “Aduh! Sakit, Pak…” aku mulai menangis. “Jawab yang jujur: mau apa kamu di sini?” kali ini suaranya agak diturunkan.
Namun, pelintirannya belum dilepaskan. “Maaf, Pak…. Saya…” tak berani aku melanjutkan untuk berbicara jujur. “Saya panggilkan teman-teman saya baru kamu mau bicara?!” ancamnya. “Jjjj..jangan, Pak…” aku memohon padanya. Ia melepaskan tanganku. Aku tidak berani kabur. Hanya menangis. “Mau apa kamu di sini?” nada bertanyanya mulai mendatar. Ketakutanku berkurang. Aku tak mau berbohong. Biar aku jujur saja! “Maaf, Pak…” aku tidak berani meneruskan ucapanku. Kupandangi wajah satpam itu. Kesangaran di wajahnya sudah berkurang. Bahkan, ia sekarang mencoba meredakan ketakutanku dengan senyuman. “Ya… saya mau maafin kamu… tapi jujur. Saya sering lihat kamu lewat depan pos ini. Rumah kamu di dekat kali, kan?” “Ya, Pak…” “Kamu ke sini ada perlu apa?” suaranya sudah berubah 180 derajat dari yang sebelumnya. Aku benar-benar bisu. Takut sekali. Kututup wajahku. Menangis sejadi-jadinya. “Kok nggak mau jawab juga?” tegur satpam itu dengan lembut. Mungkin dia telah menyadari yang ia tangkap bukan penjahat kambuhan, tetapi seorang lelaki feminin yang rapuh.
“Kamu nyari ini, ya?” ia mendekati aku yang terduduk lemas. Kurasakan kepalaku ditekan bagian tubuhnya yang kenyal. Kontolnya! “Buka..” bukan perintah. Aku sudah menginginkannya sejak awal. Kubuka perlahan celana seragam tersebut. Aroma lelaki sudah terasa menyengat. Aku mengelus onggokan kontol yang masih tertutup kancut tersebut. “Keluarin…” kupelorotkan kancut satpam tersebut. Benda yang sangat kuinginkan itu langsung mencuat. Kokoh. Besar Panjang. Hitam. Kekar. “Isep….” Segera kumasukkan batang hangat tersebut ke mulutku. Kumainkan dengan penuh nafsu. Ia bergetar kenikmatan. “terus….terus…” racaunya. Aku mengikuti kemauannya dengan semakin merangsang kontolnya dengan berbagai teknik jilatan dan hisapan. Namun,…. “John! Di mana lu?” terdengar suara dari depan pos. Satpam, yang ternyata bernama John itu, mendorong kepalaku. Ia segera merapikan celananya. Akh, aku sangat terkejut. Permainan belum selesai! “Sembunyi kamu di situ!’” bisiknya sambil mendorongku ke kolong tempat tidur. Pak John sendiri langsung ke arah depan, menemui orang yang memanggil tadi. “Ada apa, Mad? Teriak-teriak begitu lo!” kudengar suara Pak John. Ia terdengar santai. Gila! Aku sendiri gemetaran di kolong tempat tidur. “Ini habis muter…” suara si Mad. “Saya ngantuk banget ini, numpang tidur boleh kan?” Hah…. Aku semakin bergetar. “Gi dah sana! Tapi jangan kelamaan nanti Si Bos ngamuk!” Pak John mengizinkan. “Hhh… Jali gila! Paling-paling lagi ngasah peler tuh orang!” mungkin yang dimaksud Si Bos. Kudengar Pak John terbahak-bahak. Lucu? Aku sendiri menjadi terangsang. “Ah elo! Kayak nggak pernah aja!” suara Pak John. “Gua mah nggak sesering dia, saban hari ngeloco!” si Mad mengejek. “Lo ke sini bukan mau tidur kan? Mau coli kan lo?!” Pak John langsung memvonis. Glekk. Aku semakin terangsang. “Yah begitulah…. Maklum sudah tiga hari nggak dikeluarin…
” suara si Mad. Kuintip dia sedang memelorotkan celananya. Sayang aku tidak bias melihat utuh tubuhnya. Hanya sebatas betis ke bawah. “Dah buruan lo! Jangan lama-lama! Nanti si Jali benar-benar dating, mati lo!” Pak John kembali bicara. “Santai sobat… ach…” si Mad menggoda. “Ngentot, lo!” Pak John memaki. “Kocokin gua John… ouch..” “Peler lo!... Gua cari rokok dulu” “Siip…lo balik gua dah kelar… okh nikmat John…” “KONTOL” suara Pak John menjauh. Si Mad tertawa. Aku mati-matian menahan nafas dan hasrat.


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.