peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


cerita.dewasa.2.peperonity.net

Rumahku, Surgaku & Nerakaku 2

Rumahku, Surga dan Nerakaku 2
Rumahku, Surga dan Nerakaku 2

Semenjak kejadian kemarin tubuhku masih terasa sakit, apalagi bagian vagina dan anusku yang kemarin sempat dikerjai habis-habisan oleh ketiga pembantuku. Selesai mandi aku langsung ke belakang rumahku. Pagi ini rumah ku tampak sepi sekali, maklum semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, kecuali Ari yang saat ini terbaring lemas karna sakit, sebagai Ibu kost yang baik aku harus merawatnya. Ari anak yang baik, kalem dan rajin, sehingga aku menyayanginya seperti anakku sendiri.

Tok.. tok… pelan-pelan aku mengetuk pintu kamarnya, “Ri, boleh ibu masuk?” tanyaku dengan lemah lembut.

“Iya Bu silakan, masuk aja ga di kunci ko!” suara Ari yang terdengar dari dalam,

Akupun membuka pintu dan melangkah masuk, anak itu terbaring di ranjangnya di bawah selimut.

“Gimana Ri keadaanmu sekarang?” sambil tersenyum aku duduk persis di samping wajahnya, saat itu aku masih menggunakan daster berwarna putih,

“Baik kok Bu udah mendingan” katanya sambil berusaha untuk duduk, tapi dengan cepat aku menahanya,

“Sudahla Ri kamu tiduran aja, lagi sakit gini harus banyak istrahat“ kataku sambil terseyum, dan dia membalas senyumanku, entah kenapa hari ini aku merasa bahagia sekali tidak seperti hari-hari biasanya.

“eh iya Bu, makasih ya Bu“

Aku berdiri melihat sekeliling, isi kamarnya terlihat sangat rapi sekali, berbeda dengan cowok pada umumnya. Mataku tertuju ke bagian tumpukan majalah yang terletak di samping lemarinya, sambil berjalan santai aku mendekati majalah tersebut.

“kamu juga suka baca majalah ya Ri?” Aku sangat kaget saat melihat majalah tersebut, banyak sekali foto-foto cewek yang sedang berbugil ria,

“eh.. hhmm… itu bukan punya saya Bu” jawab Ari dengan terbata-bata, aku menatap mukanya yang sekarang memerah,

“ Semenjak kapan kamu suka mengumpulkan majalah-majalah seperti ini Ri” kataku dengan ketus, seolah-olah ingin marah, padahal aku mulai terangsang melihat isi dalam majalah-majalah tersebut.



Aku semakin kaget saat melihat benda yang sangat aku kenal ada di dalam tumpukan majalah tersebut, aku semakin deg-degan, dan napasku semakin tidak teratur, perlahan aku kembali mendekati Ari dan duduk di sampingnya,

“Ari, kamu kok diam, semenjak kapan kamu suka baca-baca yang seperti ini?” mukanya semakin pucat, bingung harus berkata apa,

“itu… itu… bukan…pu..punya Ari Bu, tapi punya temen Ari, iya punya temen Ari” katanya dengan penuh keraguan, rasanya ingin sekali aku tertawa melihat wajahnya yang ketakutan,

“oohh begitu, tapi kalau ini,” aku menunjukan celana dalamku yang berwarna pink, mukanya semakin pucat saja, aku yakin dia pasti sangat malu sekali karena ketahuan belangnya

“punya temen juga” sambungku sambil tersenyum penuh kemenangan, Ari hanya diam saja,

“Pantesan selama ini celana dalam Ibu sering hilang ga taunya kamu ya yang ambil“

Entah kenapa aku merasa bangga dengan apa yang aku miliki. Ternyata anak pendiam seperti Ari saja tidak sanggup untuk menolak kecantikanku,

“maaf Bu, Hmm… Ari ngaku salah, Ari janji ga bakal melakukan itu lagi, maafin Ari ya Bu” mukanya terlihat sangat memelas, rasa takut bener-benar menghantuinya,

Tapi aku kaget melihat perubahan terhadap dirinya, bagian boxsernya sedikit mengembung, mukanya yang tadi pucat pasi kini merah merona seperti tomat, aku sadar ternyata bagian dalam dasterku keliahatan, kini aku yang dibuat bingung. Jantungku terasa berdetak kencang, napasku semakin susah di atur. Saat membayangkan celana dalamku dilihat jelas oleh anak yang masih seumur jagung, tapi aku tetap berusaha tenang, tanganku sedikit gemetar saat mengompres kepalanya,

“Ibu harap ini yang terakhir kalinya Ibu liat majalah-majalah ini ya,”

“eh iya Bu, Ari janji,” aku yakin sekali, Ari pasti bisa menyadari kalau vaginaku sudah sangat basah.

“semenjak kapan Ari menyimpan celana dalam Ibu“

Tanpa kusadari kepala Ari semakin mendekati selangkanganku, napasnya sangat terasa di bagian vaginaku yang masih terbungkus celana dalam berwarna putih. Semakin lama wajahnya semakin dekat mungkin hanya tinggal beberapa senti saja, hembusan napasnya semakin terasa di pori-pori selangkanganku,

“eh, ta…tapi Ibu ja..ja..jangan marah ya? “ aku diam saja hanya membalasnya dengan usapan lembut di rabutnya yang ikal,

“Semenjak pertama kali Ari kos di sini Bu, soalnya saya diem-diem ngagumin Ibu”

Ohh…aku sudah semakin tidak tahan lagi, seluruh tubuhku terasa panas, ingin rasanya aku memeluk dan mencium setiap inci tubuhnya,

“Ooh gitu, ya sudahlah tapi kamu janji ya, jangan di ulangi lagi?” Ari hanya mengangguk lemah,

“ya sudah Ibu mau ke pasar dulu,” sebelum aku meninggalkannya, dengan sengaja celana dalam itu tidak aku ambil dan kubiarkan saja di samping Ari, anggap saja itu obat buat dirinya agar cepat sembuh.



***********

Hari semakin siang. Saat itu aku hendak memasak tapi aku lupa kalau persediaan di dapur sudah kosong, akhirnya kuputuskan untuk belanja ke supermarket terdekat

“Pak Joko….tolong antar saya ke supermarket ya,”

“Iya Non,” jawabnya dari seberang, selesai bersiap-siap, aku menuju mobilku yang sudah siap di depan rumahku,

“Siang ini non terlihat sangat cantik sekali, he..he… “ aku sedikit risi saat tangannya mencolek pantatku,

“Jangan kurang ajar ya Pak, ini masih siang!” bentakku saat tangannya semakin berani meremas-remas pantatku,

“Galak amat si Non, kemaren keenakan gitu, gimana sih” katanya sambil membuka pintu mobilku di bagian depan, “mulai sekarang Non duduk di samping saya saja ya, he..he…”

Entah setan dari mana aku menuruti kemauannya begitu saja, terus terang aku terangsang membayangkannya walaupun ada rasa marah dalam hati. Perlahan mobilku pun berjalan menuju supermarket, saat dalam perjalanan tangan Pak Joko tidak henti-hentinya mengelus pahaku yang ditutupi celana jins, ingin sekali aku menamparnya tapi itu tidak mungkin karena saat ini aku dalam kekuasanya, lagipula kalau terlihat orang di luar tentu tidak enak.

“Kok ga pake rok sih Non, saya kan jadi susah pegang-pegangnya Non,” tanyanya kurang ajar, aku cuek saja, tiba-tiba tangannya semakin berani meremas vaginaku dari luar

“Pak…cukup! Jangan keterlaluan gitu dong!” aku menatapnya marah dan tanganku menahan tangannya yang berusaha meremas-remas selangkanganku, mungkin karena takut dengan tatapan galakku, Pak Joko melepaskan juga tangannya dari selangkanganku

Ia terseyum dan mengambil Hp nya, lalu memperlihatkan isi video yang ada di layar Hpnya. Aku sangat kaget sekali saat menyadari di dalam video itu adalah diriku saat diperkosa oleh mereka bertiga, aku melihat diriku sendiri menggelinjang dalam dekapan mereka. Betapa panas wajahku dan malu melihat semua itu.

“Kalau ini kurang ajar gak Non? Gimana coba kalau suami Non tau, he…he….!!” Ejeknya dengan senyum menjijikkan

Tubuhku terasa lemas sekali saat mendengar perkataan Pak Joko,

“Maksud Bapak apa sih!? Apa sih mau kalian!?” kataku dengan lirih, mataku sembab, ingin sekali aku menangis

“Saya tidak bermaksud apa-apa kok Non”

“Bapak mau uang kan? oke saya akan berikan Pak, tapi tolong jangan ganggu saya lagi” kali ini aku sudah tak mampu lagi menahan air mataku



Pak Joko tersenyum puas, ia sepertinya sangat menikmati telah membuatku tunduk hingga menangis di depannya.

“Ah, saya tidak butuh uang kok Non, gaji yang di berikan ke saya itu lebih dari cukup saya hanya membutuh kan memek Non buat puasin saya, ha..ha…”

Tiba-tiba Pak Joko membelokan mobilnya ke tempat yang agak sepi,

“Nah, sekarang Non tau kan tugas Non apa?” katanya sambil tersenyum, lalu ia langsung melumat bibirku, lidahnya menyeruak masuk ke rongga mulutku tanpa dapat kutahan, jari-jarinya mulai bermain di payudaraku, remasannya semakin lama semakin kasar. Tubuhku pun tak mampu lagi menolaknya, darahku berdesir, putingku mengeras, aku mulai terangsang lagi.

“Pak cukup, jangan di teruskan…oohhkk yyeaahh!“ aku merintih saat tangannya menyusup ke dalam kaosku, sekali-kali putingku ditarik rasanya sangat nikmat sekali,

“Ayo Non buka celananya jangan malu-malu, katanya sambil menjilati daun telingaku.

Ia membuka ikat pinggangku dan menurunkan resleting celanaku. Anehnya aku malah membantunya melepaskan celana dan cdku sendiri. Kini bagian bawahku sudah bugil total dan jari-jarinya mulai bermain pada vaginaku yang sudah basah oleh lendirku

“Oohhkk pak, jangan di terusin, saya ga kuat, hhmm….” desahku merasakan jari-jarinya semakin liar mengobok vaginaku,

“Ayo Non kita selesaikan sekarang” katanya sambil membuka resliting celananya dan mengeluarkan penisnya,” sini Non duduk di pangkuan saya “

Tanpa babibu aku menurut saja disuruh menduduki penis Pak Joko yang sudah mengeras. Saat penis itu melesat ke vaginaku rasanya masih terasa sakit sama saat pertama kali Pak Joko menusukku kemarin

“Ooohhhkkk Pak…sakit!“ rintihku ketika semua batang penisnya masuk semua ke dalam rahimku



“Ayo Non digoyang, ohh… yeess… enak Non,” perintahnya padaku

Dengan rasa was-was takut ada orang atau mobil lewat, aku mulai menaik-turunkan tubuhku di pangkuannya. Untungnya daerah kompleks perumahan ini terbilang sepi dan kaca mobilku tidak tembus ke dalam namun kalau dilihat dari depan tentu tetap terlihat aku sedang naik turun pada pangkuan sopirku ini.

“Ssshh….jangan…aahh…jangan Pak!” aku menahan tanganya ketika hendak membuka kaosku, aku tidak ingin orang melintas di luar sana melihat tubuh bugilku.

Syukurlah ia cukup mengerti, sebagai gantinya ia hanya mengangkat bagian depan kaosku yang menghadap ke arahnya beserta cup braku sehingga dengan demikian ia dapat melumat payudaraku sambil menikmati genjotanku.

“Udah Pak cukup aaahhhk…. saya udah ga kuat Pak, lepasin saya Pak jangan perkosa saya lagi, hhmm….” kata-kataku semakin membuat Pak Joko bernapsu,

“Gimana ya Non kalau suami Non tau kalau istrinya saya entot, ha..ha… “ aku semakin terangsang mendengar pelecehan-pelecehan yang terlontar dari mulut ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.