peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


cerita.dewasa.2.peperonity.net

Pendatang Baru di Pulau Mentawai 3

Pendatang Baru di Pulau Mentawai 3

Sesampai di rumahnya Virapun kembali kepada rutinitasnya bermain main dengan anak Bu Nur yang kecil dan lucu itu. Dalam keasikannya itu ia selalu dipantau Pak Nur. Pak Nur seakan merasa tak lama lagi Vira akan jatuh ke dalam pelukannya.tak sulit memang baginya. Pak Nur tahu kegundahan hati Vira saat itu yang ditutupinya dengan bermain main dengan anak anak Pak Nur. Bu Nur pun memanggil Vira dan mengajaknya makan di rumah itu karena baru saja masak. Tanpa sungkan lagi Vira pun memenuhi ajakan Bu Nur itu dan makan bersama. Di meja makan itu, Pak Nur berinisiatif membuka perbincangan. Ia ada rencana untuk ke daerah yang amat bagus pemandangan hutan bakaunya, tak hanya akan melihat pantai. Jika Vira berminat ia boleh ikut. Buru buru Bu Nur bilang bahwa ia tak bisa ikut karena ada petugas di puskesmas yang akan datang.
Tanpa berpikir panjang Vira menyetujui untuk ikut karena untuk mengisi kekosongan waktunya.Apalagi suaminya baru pulang 4 hari lagi. Pagi esoknya pak Nur bersiap siap dengan perahunya dan hanya Vira sendiri yang ikut karena Bu Nur tak bisa ikut. Mereka akan ke daerah yang dikatakan Pak Nur itu hanya berdua saja dan sorenya mereka kembali pulang. Virapun menyiapkan makanan kecil yang ia bawa dari rumahnya. Selama perjalanan dengan perahu itu, Vira amat antusias melihat hutan bakau dan sungai yang tenang. Tak ada hawa panas di sana, yang ada hanya bunyi hewan hewan seperti burung dan kera.cahaya matahari menembus sela sela pohon bakau. Ketenangan amat dirasakan Vira dengan segenap jiwanya untuk menghalau kegundahan hatinya. Ia amat bersyukur ada seseorang yang mau menemaninya jalan jalan seperti ini. Iapun mulai simpati kepada Pak Nur yang saat itu ada pekerjaan namun masih mau mengajaknya ke desa pedalaman. Vira merasa mendapatkan tempat untuk menghilangkan segala keluh kesahnya selama di pulau itu.

Sesampai di desa itu,memang penduduknya masih jarang dan Vira dapat menduga bahwa desa itu amat indah dan masih alami. Ia hirup udaranya sedalam dalamnya. Udaranya masih segar dan kicauan burung burung yang saling bersahutan. Kemudian mereka berdua memasuki desa dan bertemu warga desa yang sedang beraktifitas siang itu.

Tak lama hujan turun dengan deras dan angin kencang seolah ingin menghantam gubuk itu. Di dalam gubuk itu mereka berteduh dari guyuran hujan di luar halamannya.

Dengan terpaksa malam itu,mereka bermalam di gubuk itu.Tampak curah hujan amat deras dan membuat mereka tak bisa keluar gubuk

”Nah ibu bisa berbaring di dipan kayu itu” kata Pak Nur.Pak Nur berusaha menghidupkan lampu minyak yang ada di dinding gubuk itu.
Dengan penerangan seadanya malampun beranjak.
”Biar saya di bangku ini saja” terangnya lagipada Vira.

Dalam keasikan ia berpikir, tiba tiba Vira mendengar ada krasak krusuk di luar gubuk. Dinding gubuk seolah di dorong dorong dari luar. Sedangkan bunyinya semakin dekat. Ia bangun dari berbaring dan duduk. Tampak Pak Nur pun waspada dan memberi kode pada Vira untuk diam dengan melertakkan telunjuknya di bibirnya.

Dengan mengendap ngendap Pak Nur berjalan ke pintu dan memalang pintu dengan kayu balok yang ada. Ia lalu menuju ke arah tempat Vira duduk. Sambil berbisik Pak Nur bilang itu suara babi hutan yang mungkin kedinginan karena hujan, maklum di hutan, terang Pak Nur pada Vira. Saat itu Vira menjadi takut dan cemas.

“Pak aku takut pak” suara Vira halus.
Lalu tanpa di suruh ia pun memeluk tubuh tua di sampingnya. Ia tak berpikir siapa laki laki itu. Toh saat itu ia amat ketakutan dan ia pikir biasa saja. Pelukan Vira di sambut Pak Nur dengan pelukan erat, seakan berusaha melindunginya.

Dalam hati Vira berkhayal seandainya saat itu ia hanya berdua suaminya alangkah indahnya melewati malam dengan suasana menegangkan dan menakjubkan berdua.Namun khayalannya terputus saat Pak Nur menutupkan kain panjang yang ada di sebuah lemari kecil di gubuk itu pada Vira.Kain itu tampak bersih dan sengaja di tinggal di lemari itu. Vira menerima kain panjang itu dan menutupkan ke tubuhnya agar tak merasa dingin, sekali lagi ia simpati pada Pak Nur yang amat melindungnginya dari hawa dinginnya malam. Lalu dibalutkannya kain itu ke bahunya.Pak Nur kembali duduk di sampingnya.
”masih dingin ya Bu Vira?” tanyanya.
“Sudah agak mendingan Pak” jawab Vira, “Terima kasih ya Pak? Bapak baik sekali pada saya” imbuhnya lagi.
“Nah jika ibu mau berbaring ya baring saja” kata Pak Nur lagi.
”belum pak, masih belum ngantuk” jawab Vira lagi.
”O,,begitu ya Bu” jawab Pak Nur lagi.
Pak Nur lalu memberanikan diri meraih bahu Vira yang terbalut kain panjang itu untuk rebah di bahunya. Vira pun menurut seolah tak mempermasahkannya. Ia merebahkan kepalanya di bahu pak Nur dan berusaha memejamkan matanya. Tampak pak Nur mulai merangsangi ibu muda ini dengan perlahan. Dari balik daun telinganya, elusan tangan Pak Nur terus turun ke tengkuk yang berbulu halus itu. Vira merasa geli dan terangsang. Dengan gelisah ia berusaha menurunkan kepalanya ke paha Pak Nur, tanpa berusaha melepaskan diri dari elusan itu.matanya masih tetap terpejam seolah tertidur, namun saat itu ia membayangkan suaminya yang melakukannya. Telah lama ia merasa gersang dan tak di sentuh suaminya dengan cara yang seromantis saat itu.

Pak Nur tahu apa yang harus ia perbuat untuk menaklukan ibu muda ini.Selain itu semua ini adalah sudah di rencanakannya dengan rapi dan di restui istrinya.Maka Pak Nur dengan sepenuh hati akan berusaha mewujudkan keinginannya malam itu.Dan selama ini segala rangsangannya tak di tolak Vira maka berarti tak menemui kendala.Merasa kurang lancar usahanya mengelus Vira ,lalu pak Nur membangunkan tubuh Vira dan menyuruhnya berbaring saja di dipan.”Bu,,,berbaring saja ya?Ibu terlihat capai sekali”terang Pak Nur berbasa basi,padahal posisi Vira tadi tak membuatnya nyaman bekerja.Saat Vira sudah berbaring dan menghadap ke dinding membelakangi Pak Nur.Pak Nur pun berbaring di belakang Vira,dan dipan cukup untuk dua orang.Tangannya kembali membelai rambut hingga ke daun telinga Vira..Rasa geli dan gairah yang mulai timbul membuat Vira memegang jari tangan Pak Nur dengan erat.vira seakan ingin menghentikan elusan laki laki yang bukan suaminya itu.Saat di pegang oleh jari Vira,pak Nur membiarkan saja di genggaman tangan halus itu.Ia pun mengalirkan hawa hangat dengan membalas genggaman itu. Saat Vira mengenggam tangan Pak Nur,Vira pun membalikkan tubuhnya dan bangun dari baring.Ia lalu melepaskan tangan itu dengan hati hati takut menyinggung perasaan Pak Nur.Vira lalu duduk dan bersandar di dinding gubuk itu.Dalam temaram cahaya lampu,ia tak ingin tidur malam itu.Ia merasa kuatir nanti salah langkah dan berbuat yang terlarang dengan laki laki tua itu, bagaimanapun ia masih memiliki rasa cinta kepada suaminya.Namun hal tadi membuatnya sedikit bimbang. Di saat kebimbangan itu ,pak Nur pun bangun dari berbaring dan berada di sampingnya.
”ada apa Bu Vira?” tanyanya
” Nggak ada apa apa koq Pak?” jawab Vira, “saya hanya merasa kan dingin dan ingat suami”, jelas Vira menutupi kegugupannya.

Pak Nur bukanlah laki laki biasa.Ia dapat membaca apa yang dipikirkan istri Haryadi itu.Tangannya meraih jemari Vira yang masih melingkar cincin perkawinan itu. Sambil mengusap jari itu, Pak Nur menciuminya. Pak Nur lalu meraih wajah cantik Vira dan memandang matanya.
”Bu Vira,,,boleh saya menciumi ibu?” tanyanya.
Vira tak bisa menjawab sebab ia menjadi serba salah dan takut menyinggung perasaan orang tua yang amat berjasa padanya dan suaminya itu. Selain itu ia masih risih jika menyiyakan atau menolak. Sikap diam Vira ditanggapi Pak Nur sebagai persetujuan, pria itu lalu mendekatkan mulutnya yang bau dan agak dower itu ke bibir mungil Vira. Tak ada pemaksaan dari Pak Nur atau penolakan dari Vira saat itu. Saat bibir laki laki itu menyentuh kulit bibirnya, Vira hanya mampu memicingkan mata. Ia hanya diam pasrah menerima jejelan bibir tebal itu di mulutnya. Perlahan Pak Nur mulai mengulum dan mengecup bibir milik ibu muda itu. Vira seakan menikmatinya dengan menerima secara pasif kuluman itu. Perlahan lahan ia mulai terbakar gairah.Vira mulai membalas belitan lidah Pak Nur dan menerima hisapan lidah Pak Nur di mulutnya. Ia mulai tak peduli dengan bau busuk yang keluar dari mulut laki laki itu. Dalam keasikan kedua manusia berlainan jenis itu berciuman dan saling mengulum, tangan Pak Nur pun ambil kesempatan. Seakan tak mau kalah, jari jari pak Nur menyasar ke dada Vira dan memilinnya dari luar kaosnya. Saat itu Vira seperti tersiram air dingin ia sadar dan menolakkan tubuh Pak Nur. Sambil menepiskan tangan Pak Nur dari dadanya ia juga menghapus air ludah yang sudah belepotan di bibirnya.

Dengan mimik wajah sedikit malu dan kesal ia menatap mata Pak Nur. Ia tak menduga sama sekali Pak Nur akan seberani itu meraba dadanya. Padahal tadi ia mau menerima ciuman bibir Pak Nur hanya karena rasa terima kasih dan simpatinya atas segala bantuan Pak Nur kepadanya selama ini. Tindakan Pak Nur tadi membuatnya sadar bahwa ia masih punya suami.
”maaf pak…kita tak boleh melewati batas seperti tadi” jelas Vira tegas.
“Maaf Bu…” jawab pak Nur.

”Agar ibu tak kedinginan ibu boleh ke pangkuan saya aja bu” tawar pak Nur.
Vira masih tak merasa enak sebab ia tak ingin kejadian tadi terulang,namun belum sempat ia menjawab, pak Nur sudah memeluk tubuhnya ke dalam pelukannya.

Di telinganya Vira mendengar permintaan halus dari Pak Nur untuk menciumi bibirnya lagi.
”Buuu..Vira,,saya cium lagi boleh kan?” itulah pertanyaan yang sayup terdengar di telinganya.

Penerimaan tubuh Vira membantu memperlancar tindakan Pak Nur. Kaos tipis yang melekat di tubuh sintal dan mulus Vira ia angkat dan lepaskan. Vira pun seakan membantu melepaskan busana luarnya saat itu, tak sulit memang. Kaos luar Vira pun akhirnya lepas dan tersisa bra halus yang menutupi gundukan buah dadanya yang berukuran 34b. Vira sempat menutupkan kedua tangannya di dadanya. Ia seakan malu dan jengah dilihat Pak Nur dalam keadaan seperti itu.

Pak Nur tak membuang waktu berlama lama, tangannya dengan cekatan berhasil melepas pengait bra milik Vira.Vira terlihat kaget dan malu.
”ah,,,pak…saya malu” jeritnya sambil menutup kembali payudaranya yang putih mulus bergelayut di dadanya saat itu.
”jangan malu Bu Vira,..kan hanya kita berdua di sini” jawab Pak Nur menyakinkan Vira.”ibu tak akan saya sakiti” terangnya lagi.
Vira tahu arah tujuan kata kata Pak Nur. Namun ia tak mencegah semuanya itu terjadi sebelum terlambat. Vira seolah telah tersihir oleh kata kata yang diyakinkan Pak Nur. Kini Vira malah semakin menyerahkan tubuhnya dibaringkan Pak Nur di dipan yang dilapisi busa itu. Ia hanya memicingkan matanya menanti yang akan dilakukan laki laki tua itu pada tubuhnya. pak Nur membaringkan tubuh Vira yang lemah dan telah menurut itu. Lalu pak Nur pun berusaha melepas celana panjang yang dikenakan Vira saat itu. Tak susah memang celana ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.