peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


cerita.dewasa.2.peperonity.net

Pendatang Baru di Pulau Mentawai 2

Pendatang Baru di Pulau Mentawai 2

Beberapa minggu kemudian Haryadi pun libur ke Jakarta selama seminggu untuk bertemu keluarganya. Selama di Jakarta, Haryadi dan Vira istrinya tak melewatkan kebersamaan di ranjang, namun sekembalinya dari pulau itu, Vira merasakan sikap Haryadi yang berubah juga dengan dalam menunaikan kewajibannya sebagai suami istri. Biasanya Vira bisa mendapatkan kepuasan jika berhubungan badan dengan suaminya itu, namun kini ia tak mendapatkannya. Perubahan itu membuat Vira curiga dan ingin tahu lebih banyak tentang aktifitas suaminya di Mentawai. Memang sebenarnya Haryadi selalu menjalin hubungan dengan Dewi semenjak ia melakukan hubungan dengan Dewi di pulau itu hampir setiap ada kesempatan Haryadi selalu minta Pak Nur mengantarnya ke desa untuk bertemu Dewi. Haryadi seolah telah jatuh cinta dengan wanita pulau itu. Sebagai istri, Vira tahu benar apa yang berubah dari sikap suaminya dan kebiasaannya. Kebetulan saat ini Vira sedang menunggu penempatannya sebagai PNS makanya ia tak merasa keberatan ingin ikut suaminya ke Mentawai, apalagi saat pertama kali ke pulau Haryadi sudah menawari Vira ikut ke pulau untuk melihat pantai dan alamnya. Dengan alasan itu Vira ingin ikut suaminya. Awalnya Haryadi menolak keinginan istrinya itu, namun ia kuatir akan menambah penasaran hati Vira, maka ia pun mengijinkannya. Sesampai di Padang mereka istirahat sebentar di sebuah hotel karena kapal yang akan mengangkut mereka berangkat malam nanti. Kebetulan saat itu cuaca agak sedikit buruk. Sore itu mereka pun chek out dari hotel dan sudah berada di pelabuhan Muaro Padang. Suami istri ini pun bersiap siap menaiki kapal karena tiket sudah mereka dapatkan. Mereka berdua pun mendapatkan kelas bisnis dan menempati sebuah kamar di kapal motor itu menuju Mentawai. Selama di atas kapal tampak ketegangan di wajah Vira karena ke pulau itu tak serumit itu. Meski ia amat senang dengan perjalanan laut namun kondisi cuaca dan ombak yang menghempas kapal membuatnya cemas. Namun karena saat itu ia berada bersama suaminya kekuatiran itu bisa ia atasi.

Malam itu pun dimanfaatkan suami istri itu untuk memadu kasih di kamar kapal itu. Dimulai dengan mengulum bibir istrinya dan disambut Vira dengan amat bernafsu sebab sudah lama ia menginginkan saat saat seperti itu bersama suami tercinta. Kuluman demi kuluman dan rabaan tangan Haryadi di dada Vira istrinya terus ia lakukan. Vira pun akhirnya menuruti semua perbuatan suaminya itu. Goyangan kapal tak menghentikan perbuatan suami istri ini. Perlahan tapi pasti elusan rabaan tangan Haryadi mampu membuat Vira melepaskan busana atasnya hingga tersisa Bh nya dan masih memakai celana panjang. Tubuh putih mulusnya dan rambut sebahunya seolah menambah pembakaran birahi Haryadi suaminya. Cupangan dan kuluman Haryadi pun singgah di dada dan perut istrinya yang cantik itu. Begitupun Vira tak tinggal diam sebagai istri ia pun berusaha membalas dan memberikan pelayanan terbaik kepada suaminya. Kedua tubuh suami istri itu akhirnya sama sama bugil dan menampakkan wujud sebagai pasangan resmi yang akan menunaikan kebersamaan ragawi. Tanpa penolakan dan penghalang lagi, keduanya mulai saling memberikan peluang. Vira membuka kedua pahanya yang putih dan kakinya yang panjang itu agar suaminya mendapat akses yang mereka inginkan.Tanpa menunggu lama Haryadi mulai memasuki liang kewanitaan istrinya yang sempit dan belum pernah melahirkan itu. Saat saat itu amat memberi moment yang syahdu bagi keduanya. Apalagi goyangan kapal yang di hempas ombak mampu menambah percikan birahi mereka berdua. Di saat penis Haryadi sudah berada di dalam jepitan vagina Vira dan dalam gerakan maju mundur, Vira merasakan ada yang lain dari aktifitas suaminya itu. Haryadi tiba tiba bergerak melambat dan menumpahkan spermanya di dalam rahimnya.Vira merasa kecewa, sebab ia masih ingin merasakan persenggamaan itu berlangsung agak lama hingga ia mencapai orgasme seperti di saat awal awal mereka menikah dulu. Vira merasakan perbedaan suaminya itu,semenjak bertugas di pulau itu. Dengan memendam kekecewaan yang dalam Vira tidak memberikan nada protes kepada suaminya itu. Ia hanya diam dan bangun dari tidurnya menuju kamar mandi di kamar itu.

Di kamar mandi Vira membersihkan tubuhnya dan kembali ke dalam kamar dan berpakaian. Ia langsung rebah di samping suaminya. Hingga paginya menjelang kapal bersandar di pelabuhan Tua Pejat, Vira masih memendam rasa penasarannya itu. Haryadi tidak merasakan perbedaan yang terjadi pada dirinya itu. Malah ia merasa senang kembali bisa sampai di pulau itu dan menyusun rencana untuk bertemu Dewi. Ia merasa kan Dewi amat bisa menentramkan dirinya. Di pelabuhan Tua Pejat, Haryadi dan Vira dengan dua buah ojek menuju ke rumahnya.Vira merasa kan memang alam Mentawai amat romantis dan cantik. Dalam perjalanan menuju rumah ia merasa sedikit asing sebab dari pelabuhan menuju rumahnya agak jauh dan menempuh jalan yang tidak mulus dan terbuat dari kerikil tak diaspal. Sesampai di rumahnya Haryadi,menghubungi Pak Nur. Saat dalam rumah, Vira merasakan agak rikuh sebab ia tak menduga sama sekali kehidupan di pulau itu,amat sederhana dan tidak seperti di kota besar seperti Jakarta. Sebagai istri dan nantinya ia juga akan bertugas di daerah, ia harus bisa menerima kondisi dan suasana seperti itu. Memang amat jauh jika di bandingkan dengan kehidupannya di Jakarta yang serba tersedia, baik itu rumah, mobil, atau perlatan dapur semua sudah tersedia. Selama perjalanan tadi Vira hanya menemukan satu salon kecantikan, itupun dia lihat tak layak. Rumah yang ditempati suaminya pun cukup sederhana dan dari beberapa rumah lain yang masih kosong dan tampaknya di sekitarnya hanya inilah yang berpenghuni,apalagi ditumbuhi pohon pohon kelapa.jadi rumah itu tidak panas kalau siang hari dan amat sejuk. Beberapa waktu kemudian,terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumahnya. Haryadi, suaminya bilang itu Pak Nur datang, Sambil membukakan pintu, Haryadi menyilahkan Pak Nur masuk.sambil bersalaman dan berbasa basi, Pak Nur pun duduk di ruang tamu rumahnya sambil berkata-kata
“Pak Haryadi kesini bersama Ibu..apa iya?”
“O…ya..sebentar istri saya sedang di kamar Pak” jawab Haryadi.Sambil memanggil istrinya dan masuk ke kamar.

Tak lama kemudian mereka keluar kamar berdua. Tampak Vira keluar bersama Haryadi. Pak Nur terkejut saat Haryadi mengenalkan istrinya.
“Ini Pak Nur Vir!”
dengan sedikit senyum Vira mengulurkan tangannya pada Pak Nur.
“Vira…” sambil mengucapkan namanya, begitu juga Pak Nur juga mengenalkan dirinya.
Pak Nur tak menyangka bahwa Haryadi memiliki seorang istri yang amat cantik, baik, berpendidikan dan juga rendah hati. Di saat itu, Vira keluar kamar bersama suaminya mengenakan baju kaos putih dan celana pendek ¾ yang menampakkan kemulusan kulit dan betisnya yang sangat putih dan bercahaya karena terawat. Saat itu Pak Nur teringat akan kecantikan Dokter Reisa yang dulu pernah dekat dengannya. Apalagi saat itu sosok Vira amat porposional sekali dan mirip artis ibukota. Saat itu Vira mengenakan kaos putih dan membayang bhnya yang putih dan kulit mulusnya. Pak Nur terpancing untuk menghayalkan hal yang tak pantas bagi Vira saat itu. Namun khayalannya terputus di saat Haryadi bilang kepada Vira bahwa Pak Nur inilah orang yang di tuakan dan banyak membantunya selama di pulau ini. Dengan merendah Pak Nur pun bilang bahwa Pak Haryadi pun banyak membantunya dan meringankan beban masyarakat di pulau itu dengan adanya proyek yang di kerjakannya di desanya. Sambil beramah tamah keakraban di antara mereka semakin terjalin dan pada akhir pertemuan itu Pak Nur pun berjanji akan mengenalkan istrinya dan minta istrinya untuk menemani Vira disaat Haryadi bertugas ke proyek di pedalaman pulau. Tak sulit untuk beradaptasi dengan kehidupan barunya di pulau itu meski Vira berencana hanya untuk sementara menjelang Sk nya sebagai tenaga medis turun dan ditempatkan di suatu daerah. Keakraban Vira dan Bu Nur sedikit banyak mempengaruhi pikiran Vira bahwa tugas suaminya di pulau itu amat berat apalagi melihat medan yang amat sulit ditempuh dengan menggunakan perahu masuk ke pedalaman dan tinggal di base camp berhari hari.

Untuk mengisi kekosongan waktunya Vira sering bertandang ke rumah Pak Nur dan terkadang dengan sukarela membantu tugas Bu Nur di puskesmas,apalagi Vira juga seorang dokter.Jadi tidaklah sulit baginya menyesuaikan diri,meski awalnya berat dikarenakan Vira biasa hidup di kota besar dan segala sesuatunya serba berkecukupan.Bu Nur pun amat senang Vira dapat membantu tugas tugasnya yang terasa agak berat sejak di tinggalkan Reisa. Padahal Bu Nur amat berharap Reisa akan menetap di pulau itu.Namun sejak hadirnya Vira,Bu Nur tak kerepotan lagi meski hanya sementara. Di saat saat waktu senggangnya pas Haryadi sudah pulang dari base camp amat membuat Vira gembira sebab ia sering diajak Haryadi jalan ke pantai atau terkadang di bantu Pak Nur berjalan ke pedalaman dengan menggunakan perahu. Terkadang mereka menghabiskan waktu di pantai dan Bu Nur bersama Vira menyuguhkan hidangan barbeque kesukaan Haryadi. Itulah rutinitas Vira sejak di pulau bersama suaminya. Kini Vira sudah dapat menganggap keluarga Bu Nur sebagai keluarganya meski mereka berbeda suku dan keyakinan. Tak jarang Vira tidur di rumah Bu Nur saat suaminya ke base camp. Bu Nur pun amat concernt dengan keyakinan Vira yang juga taat dalam beribadah meski pun tak terlalu fanatik pandangannya, mungkin karena Vira terbiasa hidup di kota besar dan terpelajar. Tak jarang Bu Nur mengingatkan Vira di saat waktu untuk beribadah datang kepadanya. Terkadang Bu Nur sendiri yang tidur di rumah Vira untuk menemani ibu muda itu. Atau jika ada halangan Bu Nur pun minta anak atau Pak Nur yang menemani karena suasana rumah Vira yang agak jauh dan belum ada tetangga itu. Dan semua itu amat membahagiakan Vira selama di pulau itu. Haryadi sendiri tak lagi kuatir jika ia meninggalkan istrinya untuk beberapa hari karena sudah ada yang menjaga dan menemani. Lagipula selama ia ke base camp, Haryadi selalu mendatangi tempat tinggal Dewi untuk memadu kasih berdua dan akhirnya tanpa sepengetahuan Vira, diam diam Haryadi sudah menikah secara adat dengan Dewi dengan di saksikan Pak Nur karena hubungan mereka yang sudah semakin dekat.Mereka menikah secara adat karena keyakinan mereka berdua berbeda, namun bagi Pak Nur dan orang tua Dewi tak mempermasalahkannya.Yang penting anak mereka sudah memiliki pendamping. Semua rahasia Haryadi di pegang Pak Nur dan Bu Nur agar Vira tak mengetahuinya.

Seringnya Vira tidur di rumah Bu Nur dan juga sebaliknya,membuat hubungan mereka semakin erat dan tak jarang mereka berbincang masalah keluarga mereka,baik mengenai keuangan,sex dan kebiasaan pasangannya. Sejauh ini Bu Nur masih bisa mengikuti dan mendengar keluh kesah Vira yang merasa sikap Haryadi yang agak berubah dan sudah jarang memberinya nafkah bathin. Vira berani bicara mengenai itu karena ia amat percaya pada Bu Nur. Dan dengan sikap keibuan Bu Nur pun memberikan nasehat dan saran agar Vira tak merasa curiga pada suaminya. Suatu malam saat Vira menginap di rumah Bu Nur, matanya tak bisa tidur karena adanya aktifitas di kamar Bu Nur. Malam itu Pak Nur sedang menunaikan tugasnya sebagai suami istri. Vira mendengar dengus dan lirihan nafas juga erangan Bu Nur disaat menanti orgasme juga saat Pak Nur menggumuli istrinya. Erangan dan dengusan suami istri itu seakan memancing Vira untuk mengingat suaminya. Sebagai wanita yang sudah ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.