peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


cerita.dewasa.2.peperonity.net

Asmara di Pulau Mentawai

Asmara di Pulau Mentawai

Seperti biasanya, sore itu terlihat rutinitas keramaian di pelabuhan Muaro, Kota Padang. Pelabuhan itu adalah sarana perhubungan orang dan barang dari Padang ke Mentawai dan sebaliknya.Senja itu orang orang akan berangkat ke pulau Mentawai yang berjarak 80 mil tenggara pantai barat Sumatera Barat. Sebelum semua penumpang naik ke kapal terlihat orang-orang bersileweran,ada yang dengan mimik sedih,gembira saling bercampur baur.Diantara keramaian orang itu terlihat satu keluarga mengantar sanak familinya. Dengan memarkir mobil jenis kijang dan memakai plat merah menandakan orang yang mengantar itu bukanlah orang sembarangan. Terlihat juga seorang ibu yang tak henti-hentinya memeluk anak gadisnya. Rupanya ibu itu merasa berat hati melepas anaknya itu.Lalu terdengar aba aba bahwa calon penumpang di persilahkan untuk menaiki kapal karena akan segera berangkat.Gadis itu berusaha melepaskan pelukan ibunya dan menuju kapal dengan ditemani ayahnya yang seorang pejabat didaerah tersebut.Tidak lupa si gadis meraih tangan seorang pria yang cukup tampan berdiri disampingnya saat itu.Rupanya pria tersebut adalah kekasih si gadis dan hubungan mereka telah direstui oleh orang tuanya. Saat itu si gadis dengan ditemani ayahnya menaiki kapal dan sesekali melambaikan tangannya kearah pengantarnya. Terlihat juga si ibu dan si pria itu melambaikan tangannya. Tak lama kemudian kapal mulai bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan Muaro Padang menuju ke Pulau Mentawai.


Perjalanan itu akan memakan waktu kurang lebih 12 jam pelayaran ke Mentawai malam itu dan jika cuaca memungkinkan maka akan merapat di pelabuhan Tua pejat pagi esoknya.Selama perjalanan si ayah tak henti-hentinya berbincang dengan gadisnya itu yang bernama Reisa. Usianya saat itu sudah menginjak 24 tahun. Reisa adalah seorang dokter yang akan di tugaskan PTT di pulau tersebut atau tepatnya di Pulau Sipora. Goyangan kapal membuat mereka merasa tak nyaman,maklum terjangan gelombang ombak yang amat keras saat itu.

Syukurlah mereka dapat memicingkan matanya beberapa saat selama perjalanan yang melelahkan tersebut.Hingga kapal itu akhirnya merapat di pelabuhan Tua Pejat pulau Sipora .Pantainya amat indah dan tidak jauh dari situ jika ingin menikmati pemandangan dan selancar laut bisa dengan menaiki kapal yang jika ditempuh memakan waktu kurang lebih dua jam. Setelah menurunkan barang bawaannya, Reisa dan ayahnya telah disambut oleh perangkat desa tempatnya akan menetap. Orang itu adalah petugas kesehatan yang bertugas di puskesmas desa tersebut bernama Pak Nurfea, dia ditugaskan untuk menjemput Reisa dan ayahnya. Dengan sedikit basa basi, Pak Nurfea mengemasi barang bawaan Reisa ke sepeda motornya, sedangkan Reisa dan ayahnya telah disediakan dua buah ojek yang akan membawa mereka ke desa yang akan di tuju.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dan jalan yang tidak begitu mulus, sampailah mereka di desa tempat Reisa bertugas. Di sana Reisa dan ayahnya di bawa ke rumah yang telah disediakan. Tampak rumah itu amat bersih dan tertata dengan rapi. Rumah semi permanen itu terletak tak jauh dengan puskesmas yang akan ditempati Reisa. Dengan sopan Pak Nurfea menyilahkan Reisa dan ayahnya memasuki rumah itu. Pak Nurfea membukakan pintu rumah itu yang masih terkunci. Reisa dan ayahnya memasuki rumah dinas tersebut. Di dalamnya itu telah tersedia semua perlengkapan yang dibutuhkan termasuk isi kamar dan juga perabotannya. Tak lama kemudian datanglah istri Pak Nurfea yang membawa air minum dan makanan kecil. Pak Nurfea mengenalkan istrinya kepada Reisa dan ayahnya.Mereka terlibat perbincangan yang mengasikkan dan ternyata istri Pak Nurfea juga menguasai seluk beluk masalah kesehatan dan dialah yang akan membantu tugas-tugas Reisa selama disana.

Esok harinya mulailah Reisa masuk ke puskesmas dengan di dampingi oleh perangkat desa termasuk kepala desa dan ibu Nurfea. Selama pengenalan kepada petugas puskesmas, Reisa amat senang dengan sambutan yang begitu familiar selama ini.Apalagi dari kata kepala desa tadi,bahwa hampir 2 tahun ini tidak ada lagi dokter yang masuk di puskesmas itu.Dan kedatangan Reisa dianggap telah membawa angin pencerahan dan peningkatan taraf kesehatan masyarakatnya.Setelah melakukan ramah tamah maka mulailah Reisa melakukan tugas-tugasnya dengan sebaik mungkin.

Sore itu tampak Reisa mengantar ayahnya ke pelabuhan didampingi Pak Dan Bu Nurfea. Ayah Reisa menitipkan putrinya kepada Pak dan Bu Nurfea. Ayahnya pun selalu memberi nasihat tentang hidup dilingkungan baru itu kepada Reisa,Ia berpesan agar Reisa bisa membawakan diri dan menjaga harkat sebagai wanita, juga sebagai dokter.Pesan ayahnya itu di terima Reisa sambil menganggukkan kepalanya.Dengan sedikit mimik sedih ia lepas ayahnya menuju Padang.


Setiap hari libur misalnya hari Minggu Reisa selalu diajak pak dan bu Nurfea keliling pulau melihat keindahan pantai yang cukup terkenal itu.Reisa pun amat menyukai pemandangan di pulau yang cantik tersebut.Biasanya mereka jalan pagi,sebelum pak dan bu Nurfea melakukan ibadah kebaktian di gereja.Sedangkan Reisa yang seorang muslim hanya diam dirumah. Banyak pekerjaan yang ia lakukan kadang mencuci pakaiannya yang kotor atau membersihkan rumah. Memang sebagian besar penduduk disitu memeluk agama Kristen.Reisa cukup melakukan ibadah di rumahnya saja. Selama melaksanakan tugas medis dan penyuluhan kesehatan terkadang Reisa tak hanya berada di puskesmas saja.Ada jadwal yang akan ia lakukan untuk masuk kedesa desa di pelosok.

Suatu hari Reisa dan Bu Nurfea masuk ke pedalaman, namun mereka dikejutkan oleh panggilan dari orang desa bahwa,mereka amat membutuhkan bantuan sebab baru saja seorang rohaniawan tertimpa sebuah pohon di sana. Dengan segera mereka menuju tempat yang di tunjukkan masyarakat pedalaman tersebut. Sesampai disana terlihat seorang pria yang terbaring dalam rumah kayu dengan luka yang cukup serius. Pria itu baru saja tertimpa pohon yang tumbang karena angin beberapa saat sebelumnya. Setelah mengeluarkan peralatan secukupnya mulailah Reisa dengan dibantu bu Nur melakukan pengobatan seperlunya. Melihat kedaan pria itu yang cukup parah,maka diputuskan bahwa pria itu harus dibawa ke puskesmas.

Sesampai di puskesmas,pria itu dibaringkan di tempat pertolongan pertama. Dengan ditangani Reisa dan bu Nur akhirnya mereka melakukan sedikit pembedahan kecil. Tak lama kemudian pertolongan pada pria itu pun berhasil dan lega lah hati mereka karena itu pertama kalinya Reisa melakukan pertolongan darurat tampak pria itu tertidur karena pengaruh obat penenang. Tak lama kemudian pria itu siuman dan Bu Nur menanyakan identitas pria tersebut.Dengan gambalang pria itu menyebutkan namanya.Ia bernama Jonas, berasal dari Ende NTT dan sampai di pulau Sipora itu karena dalam rangka praktek kerohanian dari Seminari di Semarang jawa Tengah.Usianya sekitar 26 tahun.Iapun menceritakan sebab kecelakaan yang menimpa dirinya pada Bu Nurfea, tidak lupa ia mengucapkan terima kasih yang dalam atas bantuan tenaga medis di puskesmas itu. Bu Nurfea juga bilang bahwa yang menolong Jonas bukan saja dirinya juga ada dokter yang saat itu sedang pulang.


Hari-hari berikutnya Reisa tenggelam dalam rutinitas melakukan penyuluhan dan pengobatan hingga ke pedalaman pulau itu. Di suatu kesempatan di pedalaman Reisa kembali bertemu Jonas dan mereka pun saling berbincang. Riesa dan Bu Nur di ajak Jonas untuk singgah di pondok yang merupakan tempat tinggal yang juga sebagai tempat tinggal Jonas.

Tak lama memang mereka pun minta diri,sebab saat itu sudah agak sore,dan menghindari sampai di tempat mereka malam hari. Dengan ramah Jonas pun mengantar mereka ke perahu yang sudah siap berangkat.

Malam itu setelah mandi dan makan malam, Reisa beranjak untuk tidur karena ia terlalu capai siang itu. Tiba tiba handphone nya berbunyi, rupanya Jonas yang ingin mengetahui keadaan Reisa. Dengan sedikit basa basi Reisa di tanya keadaan Reisa yang sudah sampai apa belum, tanpa terasa obrolan lewat telpon itu meninggalkan kesan pada Jonas, Reisa pun demikian sebab Jonas amat terkesan pada Reisa yang seorang wanita cantik, juga tangguh,dan berani mau di tugaskan di pulau yang masih terisolir itu demi tugas mulia memberikan perwatan kesehatan pada masyarakat. Bagi Reisa juga begitu,ia terkesan pada Jonas yang berasal dari wilayah timur Indonesia itu,masih mau di tempatkan di pulau yang jauh dari daerah asalnya. Obrolan mereka pun di sambung dengan smsan, tanpa sadar Jonas sempat menanyakan tentang hal pribadi Reisa, ya masalah pacar atau orangtuanya.Reisa pun dengan gamblang menceritakan tentang pacarnya yang sudah bekerja dan akan segera menyuntingnya itu. Juga orangtuanya yang amat merestui hubungan mereka saat ini. Dengan penuh perhatian Jonas membaca pesan singkat dari Reisa dengan sedikit rasa cemburu, namun ia pendam dalam hatinya.

Dan disuatu kesempatan ia bertemu Jonas yang baru selesai memberikan pelayanan rohani kepada warga pedalaman tersebut. Reisa dan Bu Nur di tawari singgah ke pondokannya, sekedar beristirahat sebelum pulang ke puskesmas. Selama di pondok Jonas, Reisa terlibat pembicaraan serius dengan Jonas mengenai rendahnya mutu kesehatan di tempat Jonas itu. Reisa berjanji akan serius menangani warga disana. Selama Reisa di tempat tugasnya, Jonas selalu menghubunginya sekedar mengetahui keadaan di tempat Reisa atau sekedar menanyakan kabar Reisa. Mereka pun sering terlibat saling mengirim pesan singkat, mulai dengan tugas tugas Reisa juga tugas tugas Jonas.Tak lupa Jonas memberikan sugesti pada Reisa agar selalu kuat dalam menjalankan tugasnya sebab Reisa pernah tak mendapat penerimaan yang ramah disuatu tempat didesa tetangga pulau itu.


Di dusun itu tampak ramai ibu ibu dan anak anak yang sedang melakukan acara dengan gembira. Mereka merayakan hasil ladang dan tangkapan ikannya yang melimpah dengan atraksi tari tarian dan diakhiri dengan acara makan bersama. Tampak saat itu, mereka merayakannya dengan makan makan dan minum, juga disuguhi babi panggang. Reisa pun bilang ke Jonas, bahwa ia tak boleh makan makanan itu. Dengan bijaksana Jonas memberikan Reisa ikan bakar. Jonas tahu bagi Reisa babi adalah hewan yang tak boleh dimakan. Selesai acara sudah malam,karena suka citanya warga desa itu merayakannya. Reisa tak mungkin pulang ke tempat nya tugas, apalagi malam itu,juga masih terbilang bulan purnama dan diselimuti awan kelam seolah akn turun hujan, jadi malam itu pasang air laut akan naik dan tak mungkin diantar dengan perahu.Reisa berusaha menghubungi rumah Bu Nur,ia mengabarkan bahwa tak bisa pulang karena acara usai malam.Bu Nur pun bilang ya tak apa,sebab besok juga kebetulan tanggal merah,jadi tak ada kegiatan.

Malam Itu Reisa terpaksa menginap di pondok kediaman Jonas. Jonas terlihat sibuk membersihkan pondoknya itu. Ia tak ingin Reisa merasakan tak nyaman di pondoknya.

“Nah Reisa,,,kamu tidur dikamarku ini aja,aku biar diluaran saja.” kata Jonas.

“Duh, jadi merepotkan lo Bang” jawab Reisa.

“Ahh,,,tak apa apa koq.Aku biar tidur di ruang depan saja”


Jonas lalu memberikan sebuah sweater pada Reisa karena ia lihat Reisa amat kedinginan. Saat berangkat tadi siang Reisa tak tahu bahwa ia akan menginap di tempat itu, makanya ia tak sempat bawa pakaian salin. Dengan dibantu Jonas, Reisa mengenakan sweater itu. Sambil menyilangkan kedua tangannya didada Reisa masih melayani obrolan ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.