peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


cerita.dewasa.2.peperonity.net

Koleksi Chaos 8

PENDEKAR NAGA LANGIT

Lian-hong-san disebut juga gunung Lian-bong-san, mempunyai ketinggian empat ratus kaki dari permukaan laut, jauh memandang ke depan terlihat samudra luas terbentang hingga ke kaki langit, memandang ke arah barat terlihat rentetan pegunungan saling menyambung. Bila memandang ke arah timur maka terlihatlah pulau Chin-huang-to berada nun jauh di sana.

Di atas pintu gerbang sebuah gedung yang sangat megah dan indah, terpampang sebuah papan nama yang bertuliskan “Hay-thian-it-si” (samudra dan langit satu pandangan), penulisnya tercatat sebagai: Ong Sam-kongcu.

Dibalik halaman gedung yang luas banyak ditumbuhi pohon siong yang lebat dan kekar, aneka bunga tumbuh mengelilingi sebuah taman dengan jembatan batu yang indah, disana tampak juga sebuah kebun menjangan serta tugu peringatan.
Dihalaman bagian belakang tampak sebuah kolam mandi yang amat lebar, kolam itu beralaskan batu hijau yang lebar, air kolam berasal dari sebuah mata air yang memancarkan airnya deras, kolam itu cukup dalam tapi terawat bersih, sebuah ukiran nama terpampang diatas sebuah batu besar: Ti-sim (pusat mandi).

Bulan tiga, udara di wilayah Kanglam amat sejuk dan nyaman, rumput tumbuh amat subur, burung beterbangan sambil menyanyikan lagu yang indah, tapi suasana dalam gedung Hay-thian-it-si milik Ong Sam-kongcu masih nampak bersih bagai sedia kala, hanya tampak asap mengepul dari arah dapur.

Pada saat itulah tampak seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang berperawakan tinggi tapi kekar, berwajah tampan, dengan bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek sedang berenang didalam kolam.

Selain pemuda itu, tampak juga dua belas orang gadis muda belia yang rata-rata berwajah cantik berkumpul disitu, kawanan gadis itu terbagi dalam tiga kelompok, kelompok pertama mengenakan kutang berwarna merah, kelompok ke dua memakai kutang berwarna putih dan kelompok ke tiga mengenakan kutang berwarna kuning.

Saat itu mereka sedang bermain kejar-kejaran dengan pemuda tampan itu di dalam kolam, suara tertawa cekikikan meramaikan suasana.

Pemuda tampan itu adalah Ong sam-kongcu (tuan muda ke tiga dari keluarga Ong) Ong It-huan, seorang jago silat yang termashur dalam dunia persilatan sebagai “cepat serangannya bagai petir, kuat pukulannya bagai bukit karang, memandang uang bagai tanah dan menyayangi perempuan bagai bunga”.

Sementara ke dua belas orang gadis cantik bertubuh seksi itu tak lain adalah dua belas tusuk konde emas, pengawal pribadi Ong Sam-kongcu.

Bicara soal Ong Sam-kongcu, dia benar benar termasuk seorang manusia aneh.
Ditinjau dari ilmu silat yang dimiliki, perawakan tubuh serta tampang wajahnya yang menawan, ditambah kekayaan keluarganya yang berlimpah, boleh dibilang dia merupakan idaman setiap gadis dan pendekar wanita, tapi anehnya dia tak pernah tertarik dengan gadis mana pun, entah sudah berapa banyak gadis yang menitikkan air mata kekecewaan.

Sementara ke dua belas orang tusuk konde itu terhitung gadis gadis yang berperangai lembut, hangat dan setia kawan, bukan saja mereka sudah bergabung tanpa imbalan, bahkan mereka pun rela melayani semua keperluan Ong Sam-kongcu tanpa berkeluh kesah.

Pada mulanya, Ong Sam-kongcu pernah mengemukan perasaan hatinya kepada ke dua belas orang gadis itu, apa mau dikata ke dua belas orang gadis itu tetap bersikeras untuk melayani keperluannya, kata mereka, asal tiap hari dapat memandang wajahnya, biar mesti berkorban pun mereka rela.

Menghadapi desakan seperti ini, terpaksa Ong Sam-kongcu menerimanya sambil tertawa getir.

Karena gagal membujuk mereka untuk mengurungkan niatnya, Ong Sam-kongcu pun memberi kebebasan seluas luasnya kepada para gadis itu untuk berbuat sekehendak mereka, toh resiko ditanggung penumpang.

Ke dua orang gadis itu berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, namun tujuan kedatangan mereka rata-rata hampir sama.

Mereka telah sepakat untuk berjuang hingga titik darah penghabisan, batu cadas yang amat keraspun akhirnya akan berlubang bila tiap hari terkena air, apalagi perasaan cinta seseorang, toh pepatah bilang: Cinta itu datang bila sering bertemu.

Mereka semua berjanji, bila tuan muda tidak mendahului melakukan reaksi, siapapun dilarang memikat atau merangsang majikannya dengan cara yang licik.
Selama dua tahun ke dua belas orang tusuk konde emas selalu memerankan posisinya sebagai seorang “dayang”, jika Ong sam-kongcu tidak memanggil, siapapun tak berani mendekat atau mengiringinya.

Perasaan manusia memang tidak sekeras baja, siapa bilang napsu dan cinta bisa dibendung? Apalagi satu-satunya perempuan yang dicintai secara diam-diam tak pernah memberi tanggapan, dia selalu bertepuk tangan sebelah, lama kelamaan jalan pikiran Ong sam-kongcu pun mulai berubah.
Ia mulai mengajak bicara ke dua belas orang tusuk kondenya, mulai bergurau dan menggoda.

Akhirnya dia putuskan untuk pergi meninggalkan kota Kiem-ling, kota penuh kesedihan itu dan mendirikan pesanggrahan megah Hay-thian-it-si diatas bukit.

Setiap pagi jam 6 dia selalu bertelanjang dada menceburkan diri ke dalam kolam yang amat dingin itu untuk membenamkan diri, dia ingin menggunakan hawa dingin yang menusuk tulang untuk mengusir rasa rindunya terhadap kekasih hati.
Orang bilang, jika kau patah hati, makanlah kulit pisang yang dibubuhi abu gosok, Tapi untuk Ong sam-kongcu dia lebih suka memakai “ilmu membeku” untuk menghadapi perasaan patah hatinya, dia ingin mendinginkan gejolak hawa panas yang membara dalam dadanya.

Untuk mengimbangi kemauan tuannya, setiap kali Ong sam-kongcu terjun ke kolam maka dua belas tusuk konde pun ikut terjun ke kolam menemani, tak heran kalau tak sampai sepuluh hari, ilmu berenang yang dikuasahi ke dua belas orang gadis itu sudah sangat hebat.

Diluar kebiasaan, semalam Ong sam-kongcu mengundang mereka berdua belas untuk berenang bersama pagi ini.

Undangan itu membuat mereka terkejut bercampur girang, saking tegangnya nyaris semalaman tak bisa tidur. Belum lagi jam menunjukkan pukul 4 fajar, Mereka sudah tiba di tepi kolam untuk melakukan pemanasan badan.

Begitu tiba ditepi kolam, Ong sam-kongcu segera mengejek sambil tertawa:
“Hahaha..... mana ada orang melakukan pemanasan dengan mengenakan pakaian setebal itu!”

Sambil berkata ia lepaskan jubah luarnya dan bertelanjang dada.

Berdebar keras hati kawanan gadis itu setelah melihat kulit tubuhnya yang putih bersih tapi kekar berotot, tersipu sipu mereka tundukkan kepala dengan wajah bersemu merah.

Menghadap datangnya sang fajar Ong Sam-kongcu tarik napas panjang sembari mengatur hawa murninya, lalu diiringi pekikan nyaring mulai mainkan ilmu pukulan Pat-kwa naga sakti Yu-liong-pat-kwa-ciang.

Terlihat bayangan manusia berkelewat ringan bagaikan asap, deruan angin pukulan menggelegar bagai guntur, begitu dahsyat ilmu pukulan itu membuat ke dua belas orang tusuk konde terbelalak kagum.

Tiba tiba Ong Sam-kongcu berpekik panjang, tubuhnya melambung setinggi tiga kaki, sambil menekuk tubuh, sepasang tangannya diluruskan ke muka, dan.......”Byruuuur....!” diiringi percikan air, ia sudah terjun ke dalam kolam.
“Ilmu gerakan tubuh yang indah!” puji dua belas tusuk konde serentak.

Buru buru mereka melucuti pakaian sendiri dan beruntun menceburkan diri ke dalam kolam.

Sesudah berenang berapa saat, Ong Sam-kongcu mengusulkan untuk bermain “perang air”, biarpun dua belas tusuk konde tak paham bagaimana mainnya, namun mereka segera menyanggupi seraya tertawa cekikikan.

“Ayoh kita mulai!” teriak Ong sam-kongcu tiba tiba, badannya segera menyelam ke dasar kolam.

Kolam Ti-sim ini mempunyai kedalaman hampir dua kaki, dengan ilmu berenang yang dimiliki Ong sam-kongcu ditambah tenaga dalamnya yang amat sempurna, biarpun berada di dalam air, dia dapat melihat pemandangan di sekelilingnya dengan jelas.

Tak selang berapa saat kemudian ia dapat melihat dengan jelas paha, pinggul serta payudara kawanan cewek muda itu.

Apalagi tiga cewek yang mengenakan kutang berwarna putih, lekukan payudaranya nampak begitu jelas dan nyata, ditambah bentuk tetek nya yang besar tapi kenyal, betul betul membuat darah ditubuhnya mendidih.

Sejak terjun ke dalam dunia persilatan, walaupun Ong sam-kongcu sudah banyak pengalaman bermain cewek, sudah berulang kali mencicipi pelbagai jenis cewek, yang kurus, yang gemuk, yang muda, yang setengah tua, namun semuanya itu hanya terbatas iseng saja, apalagi kawanan cewek itu adalah cewek penghibur dan semuanya tak pandai ilmu silat.

Sebaliknya ke dua belas orang cewek itu berani mendekati Ong sam-kongcu yang status sonya tinggi dan berilmu silat hebat, tentu saja karena mereka anggap status serta kemampuan sendiri mampu menandingi pemuda itu.

Oleh sebab itu mereka berdua belas bukan saja termasuk “barang yang pantas digunakan”, bahkan terhitung “barang kelas satu”.

Dalam pada itu Ong sam-kongcu sudah mulai terangsang setelah melihat paha paha mulus itu.

Karena pikirannya bercabang, dua orang gadis yang berada di belakangnya segera menyusul tiba.
Sadar akan terkejar, buru buru tangannya mendayung ke belakang sembari menjejakkan kakinya, lagi lagi tubuhnya menyelam ke bawah air.

Kebetulan, waktu itu ada seorang gadis berkutang merah sedang muncul diatas permukaan air untuk ganti napas, Ong sam-kongcu segera menghampirinya sambil menggelitik ketiak kirinya.

Tiba tiba gadis itu merasa geli bercampur kaku, badannya jadi lemas hingga tak tahan lagi minum satu tegukan air kolam.

Sambil munculkan diri berganti napas, Ong sam-kongcu membuat muka setan kepadanya lalu menyelam lagi ke dalam air.

Gadis itu malu bercampur girang, dengan badan lemas dia paksakan diri berenang ke tepi kolam, lalu sambil merendamkan kakinya ke dalam air, ia menonton Ong sam-kongcu mempermainkan gadis lain.

Dari balik air kolam yang jernih, terlihat tubuh Ong sam-kongcu bagaikan seekor naga berenang kian kemari, menggelitik setiap gadis yang dijumpai, membuat nona nona muda itu kegelian dan tertawa cekikikan.

Mereka berniat mengepung pemuda itu, sayang kepandaian mereka masih kalah setingkat, tiap kali sudah terkepung tahu tahu anak muda itu terlepas lagi.

Yang lebih parah lagi, setiap kali menerobos keluar dari kepungan, seperti tak disengaja, atau mungkin memang disengaja, Ong sam-kongcu selalu menyentuh payudara mereka yang montok, sentuhan ini membuat mereka merasa kaku, gatal dan membangkitkan hawa napsu, tubuh mereka seakan kena listrik tegangan tinggi.

Tak heran kalau gerak tubuh mereka semakin melambat, menggunakan kesempatan itu Ong sam-kongcu semakin bergairah mempermainkan mereka, kalau bukan menyentuh, menyenggol atau bahkan seakan menumbuk...... anehnya, hanya bagian tertentu dari kawanan nona itu yang disentuhnya.

Gelak tertawa, jeritan kaget bergema memenuhi angkasa dan memecahkan keheningan fajar.

Dua belas tusuk konde menganggap mereka senasib ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.