peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


cerita.dewasa.2.peperonity.net

Koleksi Chaoz 9

PERMAINANKU DENGAN SINTA DAN DICKY

Masih ada kisah lain yang juga merupakan cerita tersendiri, di mana Sinta menginap di rumah Anna, saat Anna mendapat tugas keluar kota selama dua hari, jumat dan sabtu. Anna sendiri yang meminta Sinta menemani Dicky dan aku.

Jumat malam aku menjemput Sinta dan berdua ke rumah Dicky dan Anna. Dicky mengajak kami berdua makan di luar dan setelah itu pulang. Jam 21 WIB, Anna menelepon Dicky menanyakan apakah aku dan Sinta jadi datang. Karena speakernya dibuka, aku dan Sinta turut mendengar suara Anna. “Tenang saja, sayang. Kerjakan saja tugasmu, ntar lagi Sinta, ponakanmu yang nakal ini akan melayani Oomnya dan kekasihnya,” candanya. Sinta mencubit lengan Oomnya atas gurauan tersebut.

“Sin, hati-hati lho melayani dua lelaki itu, apalagi Oom kamu, sekarang sudah semakin binal aja tuch,” tawanya terdengar.

“Nggak apa-apa Tante, Sinta sudah bertapa untuk mempersiapkan diri menghadapi serangan dua jagoan ini.” Lalu sambungnya, “Tante pulang minggu kan? Biar aku tungguin sampe minggu di rumah.”

“Ya, ya, sayang. Jangan pulang dulu sabtu atau minggu pagi. Tante akan tiba minggu siang di rumah. Minta Agus juga supaya tidak langsung pulang, biar Tante sempat ketemu kalian berdua,” suara Tantenya terdengar.

“Sempat ketemu atau sempat main nich?” godaku mendekatkan mulut ke handphone Dicky, menggoda Anna.

“Gus, an kamu. Udah deh, nggak usah vulgar gitu kalo ngomong! Udah ya! Salam buatmu, Dicky dan Sinta” katanya lalu menutup pembicaraan.

Kami bertiga tertawa mendengar ucapan Anna yang terakhir.

Kami menonton TV. Dicky masuk kamar dan mengganti pakaiannya. Ia keluar dengan mengenakan celana pendek dan kaus oblong, sambil melemparkan celana pendek ke arahku ia berkata, “Sin, kamu nggak ganti baju? Nggak kepanasan?”

“Ya Oom, aku pinjam baju Tante ya?”

“Ambil aja yang kamu suka,” balas Dicky.

Sinta masuk kamar dan mencari pakaian Tantenya di lemari kamar. Sedangkan aku membuka celana dan bajuku dan mengenakan celana pendek pemberian Dicky. Aku dan Dicky masih menatap TV saat tak lama kemudian Sinta keluar kamar dengan hanya mengenakan gaun tidur tipis yang transparan tanpa BH dan celana dalam, hingga terlihat lekuk-lekuk tubuhnya membayang, apalagi puting payudaranya mencuat sedangkan rambut tipis vaginanya membayang dari balik gaun tersebut.

Dicky kemudian mengajak kami berdua main kartu, tetapi entah karena sudah tak tahan melihat paha Sinta yang mengintip dari celah-celah gaun tidur istrinya yang dipakai Sinta, ia kemudian mendekati Sinta dan mencium bibirnya. Sinta membalas dengan pagutan yang tak kalah panasnya sambil meremas-remas penis Dicky yang menonjol dari balik celana pendeknya. Dengan satu sentakan, kedua tangan Sinta menarik turun celana Dicky yang ternyata tidak mengenakan celana dalam sama sekali. Dengan cepat ia mendorong tubuh Dicky berbaring di karpet dan memegang penis Dicky lalu mencium dan menjilatinya. Tangan kirinya menarik tanganku mendekati dirinya dan sambil terus melakukan aksinya terhadap Dicky, tangan kirinya mengelus-elus penisku di balik celana pendekku. Aku mendekati dirinya dan membantu dengan membuka celana pendek hingga bertelanjang. Dengan dua pria yang sudah telanjang bulat, Sinta meremas-remas penisku dan menciumi penis Dicky. Lalu ia memintaku berbaring dekat Dicky sambil menciumi penisku dan penis Dicky secara bergantian.

Dicky lalu bangun dari sikap berbaring dan membukai gaun Sinta hingga terbuka lebar. Sinta kemudian meminta kami berdiri di kanan kirinya, lalu ia berlutut di dekat kaki kami berdua dan menciumi penis kami berdua. Kedua tangannya memegang penis kami semakin mendekati mulutnya dan akhirnya kedua kepala penis kami ia lumat bersama-sama dalam mulutnya. Aku dan Dicky mengerang merasakan serangan Sinta pada penis kami berdua.

Dicky yang sudah horny, menarik tubuh Sinta berdiri dan menempatkan tubuh Sinta tepat berhadapan dengannya. Ia angkat paha kiri Sinta agar penisnya bisa masuk dengan leluasa ke dalam vagina Sinta. Dalam posisi berdiri itu, Sinta diserang oleh Dicky. Kedua tangan Sinta melingkari leher Dicky. Aku mengangkat kaki kanan Sinta agar ikut merapat ke paha Dicky dan bahkan kedua pahanya kini melingkari pinggang Dicky. Kuarahkan penisku ke anal Sinta yang kini dalam posisi digendong oleh Dicky. Tekanan penisku semakin kuat dan dalam, ditambah dengan masuknya penis Dicky ke dalam vagina Sinta. Sinta dan Dicky dengan cepat mencapai orgasme. Mungkin karena tekanan yang begitu hebat, sehingga keduanya tak dapat lagi menahan diri.

Kami kemudian pindah ke ranjang di kamar Dicky dan Anna. Sinta mengambil satu dildo putih, terbuat dari karet dari antara koleksi milik Tantenya dari bufet, dengan tali yang terikat ke dildo tersebut, ia pasangkan sehingga kini ia tampak seperti laki-laki. Aku agak heran sebab tak ingin dianal olehnya, tetapi begitu melihat Sinta menyuruh Dicky menelungkup, barulah aku mengerti siapa yang akan menjadi sasarannya. Dengan ludahnya, ia membalur dildo tersebut dan memasukkannya perlahan-lahan ke dalam anal Dicky. Dicky yang menelungkup merintih menikmati perbuatan Sinta. Kedua tangannya meremas-remas sprey ranjang mereka. Sinta tersenyum melihat Oomnya berada di bawah kekuasaan dirinya. Lalu tangan kanan Sinta menarik tanganku untuk menyetubuhinya dari belakang.

Aku yang belum orgasme, mencari vagina Sinta. Kuciumi sebentar dan kumasukkan penisku ke dalam vaginanya dari belakang tubuhnya sambil meremas kedua belah pantatnya yang indah. Kujejalkan penisku memasuki vaginanya. Ia mengerang merasakan nikmat akibat penisku yang menghunjam dalam-dalam ke vaginanya. Di bawah Sinta, Dicky mendesah merasakan desakan penis buatan yang dimasukkan Sinta ke dalam analnya. Gerakan Sinta pelan tapi mantap sambil sesekali menggeliat-geliatkan pantatnya ke kiri dan kanan menikmati penisku memasuki rongga bawah tubuhnya.

Agar menambah seru permainan, liang anal Sinta kuelus-elus lembut dengan jari telunjuk dan kuborehkan air ludahku ke situ hingga jariku leluasa menerobos masuk. Mula-mula hanya satu jari, kemudian kutambah dengan jari tengah memasuki analnya. Sinta mengerang mengimbangi erangan Dicky di bawah tubuhnya. Melihat geliat pantat Sinta, kucabut penisku dari vaginanya, membuat dia menoleh ke belakang, “Koq dicabut, Gus? Masukin lagi dong sayang, aaahh!” pintanya.

“Sabar sayang, aku takkan meninggalkanmu!” kataku sambil mengelus-elus vaginanya bagian belakang. Sekarang kuarahkan penis memasuki analnya, sehingga kepalanya mendongak menahan nikmat, “Ehhhhsssttt, ooohhh, yaaahh, enak tuch Gussss …… akhhhh kamu memang pinter memuaskan perempuan, aiiihhhhh ….. oooougggghhhhhh …” rintihnya.

Setelah penisku leluasa masuk ke dalam analnya, kucabut lagi dan kuterobos vaginanya. Dua tusukan ke vaginanya lalu dua tusukan ke analnya, begitulah kulakukan, membuatnya merintih makin kuat.

“Gila kamu Gus, kamu kerjain kedua lobangku habis-habisan, ooougggghhh…” desahnya sambil meneruskan gerakannya membongkar anal Dicky.

Kadang kucabut dengan cepat setelah satu tusukan, lalu memasukkan ke lubang yang lain. Silih berganti kulakukan dengan gerakan semakin cepat.

Sinta mendesis-desis seperti orang kepedasan, “Ssssssshhhhh ….. aakkkkhhhh, oooohhhhh. …… mmmpppfff ….. sssshhhhhh …..”

Sambil menarik kedua pantatku agar memperkuat dan mempercepat gempuranku Sinta semakin mempercepat gerakannya di atas tubuh Dicky, sehingga membuat Dicky merintih, “Pelan-pelan Sin …… pelan …. Aaaakkkhhh ….. jangan kuat-kuat, ntar jebol anusku sayang ……. Oooohhhhh ……. Uuuuuhhhhhhh ….. aaaa hhh.”

Sinta bukannya menuruti permintaan Dicky, melainkan semakin mempercepat dorongan pantatnya naik turun di atas tubuh Dicky. Tangan kanan Sinta menyusup di bawah tubuh Dicky meremas-remas penis Dicky. Dicky agak mengangkat pinggulnya hingga tangan Sinta leluasa mengocok penisnya. Pantat Sinta meliuk-liuk di atas tubuh Dicky sambil terus menerima hunjaman penisku secara bergantian pada vagina dan analnya. Desahan Sinta makin kuat. Dengan suatu hentakan panjang, kumasukkan penisku ke dalam vaginanya sambil memeluk pinggangnya erat-erat. “Sin, aaaakkkhhh aku dapet nich….. sayangggg…..” erangku sambil menanamkan sedalam-dalamnya penisku. Vaginanya mencengkeram penisku dengan kuat hingga terasa seolah-olah dijepit oleh kunci Inggris saking kuatnya. Semburan spermaku tertahan oleh gerakannya dan setelah kucabut, kumasukkan lagi penisku ke dalam analnya sambil menyemprotkan spermaku di dalamnya. Sinta melolong panjang, rupanya iapun sudah mencapai puncak kenikmatan, “Aaaaooooohhhhh ….. aku juga sayang ….. bareng yukkkkk?” jeritnya. Di bawahnya Dicky juga menyusul dengan geraman yang tak kalah kuat, tekanan penis buatan dari Sinta dan jari-jari Sinta yang menggenggam penisnya kuat-kuat membuatnya orgasme. Namun spermanya tumpah ruah di kasur, beda dengan spermaku yang kusemprotkan di liang anal Sinta.

Setelah beristirahat setengah jam. Sinta kembali meremas-remas penisku yang lunglai usai menunaikan pekerjaannya. Ia rebahkan kepalanya di dekat pahaku dan menjilati kepala, leher dan batang penisku. Testisku pun dijilati dan sesekali dikulum, dimasukkannya ke dalam mulutnya dan menyedotnya dengan lembut. Aku merasa terangsang lagi oleh tingkahnya. Penisku makin tegang lagi. Aliran darahku terpompa lagi ke bagian bawah tubuhku. Kuelus-elus pundak dan punggung Sinta yang terbuka lalu kuraih kaki dan pahanya mendekati kepalaku. Kuciumi vaginanya yang masih ada cairan yang berbau khas. Kujilati dan kugunakan lidahku mengait klitorisnya dan mendesakkan lidahku mengait-ngait ke dalam liang vaginanya. Erangan kami berdua tidak tidak mampu membangunkan Dicky yang tertidur nyenyak usai mendapatkan kepuasan dari Sinta.

Sinta kemudian memintaku berdiri dan menggendongnya, lalu dengan style monyet menggendong anak, kami bersetubuh. Pekikan kenikmatan Sinta keluar ketika kedua pahanya kunaik-turunkan sambil berjalan selangkah demi selangkah mengitari kamar Dicky dan Anna. Mulutnya mencari-cari bibirku untuk ia ciumi. Kedua tangannya melekat erat melingkari leherku. Sinta tak lama kemudian menggapai puncak kenikmatan lagi. Setelah napasnya agak beraturan, kuletakkan tubuhnya ke ranjang dan aku pun membaringkan tubuhku di sampingnya. Lelah dengan permainan kami beberapa ronde, kami berdua perlahan-lahan tertidur menyusul Dicky yang sudah duluan berangkat ke alam mimpi.

Esok paginya aku bangun dan melihat Dicky sudah tak ada di kamar. Sinta masih tidur dengan tangan kirinya masih memegangi penisku, sedang payudaranya berada di bawah tangan kananku. Aku bangun dan menuju kamar mandi. Kutoleh keluar, kulihat Dicky dari jendela kamar sedang berdiri di luar menatap ke arah luar rumahnya. Tanpa mengunci pintu kamar mandi, aku mandi. Saat menyabuni tubuhku, kudengar daun pintu berbunyi, ternyata Sinta menyusul aku ke kamar mandi. Ia melangkah menuju aku yang sedang berendam di bathtub, lalu ia masuk ke dalam setelah menggosok gigi di wastafel. Sambil berendam di dalam bathtub, jari-jari tangannya mengelus-elus pahaku dan ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.