peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


cerita.dewasa.3.peperonity.net

Koleksi Nano 3

Tante nancy Yang binal bag 1
Nancy adalah seorang wanita yang sudah cukup berumur. Walau usianya sudah menginjak awal 50-an, tetapi perawakannya masih mengundang air liur lelaki yang memandangnya. Tubuhnya setinggi 160 cm dan berbobot 48 kg dengan buah dadanya yang ranum itu (34B) selalu mengundang lirikan lelaki dan memancing fantasi liar untuk dapat menggaulinya. Wajahnya menunjukkan garis-garis kecantikan sekaligus kebinalan seorang wanita penggoda sejati. Baru beberapa bulan lalu ia kembali dikaruniai seorang putra setelah lama menjanda. Kehamilan itu sesungguhnya sebuah “kecelakaan” akibat hubungan gelapnya dengan seorang pengusaha muda di Jakarta. Tak lama sesudah anaknya itu lahir, si pengusaha mengambilnya dan kini keduanya tak pernah terdengar lagi kabarnya. Tinggallah kini Nancy dibiarkan sendiri lagi. Namun masih bisa dibilang Nancy beruntung karena pada awal affairnya ia sempat diberi deposito dalam jumlah besar yang sangat lebih dari cukup untuk membiayai persalinannya yang terpaksa dilakukan lewat operasi caesar mengingat usianya.

Tak biasanya jam 6 sore itu Nancy sudah ada di rumah. Hujan turun sangat deras sore itu. Sore itu sebetulnya Nancy mengenakan pakaian yang kelihatan sangat sensual dan menantang. Ia mengenakan kaus feminin longgar dengan berlengan ketat sesiku dengan bukaan leher yang sangat lebar, menampakkan leher dan pundaknya yang mulus terawat. Kaus kuning itu terbuat dari bahan yang lemas dan tidak terlalu tebal, membuat siapa pun yang menatapnya bisa langsung memastikan kalau di balik kaus itu Nancy tidak mengenakan bra, puting susunya kelihatan menyembul dari balik kausnya. Bagian bawah tubuhnya tertutup long dress sewarna dengan belahan samping sampai ke paha atasnya, sehingga jika ia melangkah akan menampakkan pahanya yang putih mulus menggairahkan.

Baru saja Nancy selesai menutup semua jendela dan akan menutup pintu rumah, seseorang masuk ke teras rumah itu, sambil terus melihat-lihat. Melihat ada tamu yang masuk, Nancy membuka pintu dan langsung menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nancy.
"Oya, kenalkan nama saya Bram," pancing pemuda itu.
"Oh, saya Nancy," balas Nancy.
"Saya mesti panggil Mbak atau Tante nih?" tanya Bram lagi.
"Terserah deh! Enaknya Bram aja gimana…………Panggil Tante juga nggak apa-apa. Hmmm…… apa kita pernah bertemu? Rasanya saya kenal nama itu" jawab Nancy.
"Aduh, Tante……. Lupa ya? Kita sering chatting kan, tapi baru kali ini ketemu" kata Bram lagi.
"Astaga…..!! Kamu rupanya……..," balas Nancy agak kaget. Nancy sudah kira-kira seminggu ini chatting dengan seseorang yang bernama Bram itu. Mula-mula obrolan biasa, lalu makin berkembang ke arah obrolan pribadi, sampai mulai menyerempet-nyerempet ke arah seks. Dalam hatinya Nancy sendiri masih belum yakin apakah lawan chattingnya itu memang seperti yang diakuinya, berbadan tegap dan memiliki alat vital besar serta mempunyai stamina luar biasa di atas tempat tidur. Maklum, banyak yang mengaku-ngaku perkasa tapi ternyata payah. Itu sebabnya ia tidak mau sembarangan berkencan. Nancy bukan tipe tante-tante pemburu brondong yang main tubruk begitu saja, meski tubuhnya sangat membutuhkan pelampiasan nafsu biologis yang cukup besar. Setelah setahun ditinggal pria yang sempat mengisi hari-harinya.

Belum sempat Nancy menyelesaikan kalimatnya, Bram langsung memeluk Nancy, sambil membungkam mulut wanita itu dengan tangannya. Dengan satu tangan erat memeluk pinggul Nancy, tangan satunya lagi dengan cepat menutup pintu rumah itu dan menguncinya. Otomatis Nancy meronta dan berusaha berteriak, sambil memukuli punggung Bram. Akan tetapi, hal itu sia-sia belaka, tangan Bram yang lebih kuat semakin mendekap tubuhnya dan membungkam mulut Nancy, hingga akhirnya Nancy sadar bahwa usaha apapun yang dilakukannya akan sia-sia. Tubuh montoknya pun menjadi lemas ketakutan. Bayangan akan diperkosa terbayang di benaknya.

Melihat Nancy sudah menjadi lemas, Bram mengendurkan dekapan dan bungkaman pada bibir Nancy. Ia langsung menciumi bibir wanita itu, dilumatnya habis wajah Nancy. Diciumi dan dijilatinya wajah cantik itu sambil nafasnya tersengal-sengal penuh nafsu.
"Aa..Apa yang kamu lakukan?? Kurang ajar kamu!!!" bisik Nancy terpatah-patah karena ketakutan.
"Tenang Tante..... Jangan takut, Tante nurut aja... Lagi pula teriakan Tante nggak akan terdengar karena derasnya hujan," jawab Bram sambil terus menciumi bibir Nancy dan tangannya sudah mulai menjamah bagian buah dada wanita itu.
"Jjjangannn... please... Kenapa kamu nggak nyari perempuan yang lebih muda aja?" pinta Nancy sambil berusaha menepis tangan Bram yang sudah mulai meremas lembut puting kirinya yang masih terbungkus kaus casual nan seksi itu. "Kalau kamu mau uang, ambil aja di lemari... Tapi jangan seperti ini...please..."
"Aku mau Tante aja... Sudah deh, Tante nurut aja... Ntar pasti Tante nikmatin juga. Percaya deh!" bisik Bram di telinga Nancy, sambil kemudian dijilatinya telinga yang putih kemerahan itu.
"Mmmhhh... Tante begitu harum... Kulit Tante mulus dan wangi......Tante cantik dan seksi, lho!" sambung Bram sambil terus menggerayangi buah dada dan lengan wanita itu. Nancy enggan mengakui kalau ia merasa tersanjung oleh kata-kata pemuda yang sedang mencoba memperkosanya itu, tetapi hati kecilnya tergoda juga oleh kata-kata pemuda itu.

Nancy menjerit, ia meronta, namun dirinya tetap tak berdaya melawan tenaga pemuda yang lebih kuat darinya itu. Sebenarnya Nancy yang rajin berolah raga bukanlah wanita lemah, namun tenaga Bram tetap lebih kuat darinya. Sambil mendorong tubuh Nancy agar rebah ke lantai, tangan Bram kini mulai berpindah ke daerah perut Nancy, yang kelihatannya sudah semakin tak berkutik. Direnggutnya kaus wanita itu ke atas, dan terpampanglah perut yang putih mulus dan buah dada ranum tanpa bra yang masih cukup kencang. Ciuman-ciuman Bram kini mulai turun ke leher, buah dada yang montok, dan akhirnya mulai menggerayangi perut dan pusar Nancy. Mulutnya menjelajahi buah dada, belahan payudara dan puting susu Nancy.

Rupanya ciuman dan rangsangan Bram itu lama kelamaan menimbulkan sensasi yang nikmat. Tak munafik, Nancy menikmati hal itu. Teriakannya berangsur-angsur berubah menjadi erangan. Tangannya yang tadinya meronta dan berusaha mendorong tubuh Bram, sekarang sesekali meremas rambut Bram dan menekan kepala Bram semakin dalam dan merapat dengan daerah dadanya. Saat ini yang terdengar hanyalah erangan-erangan kecil dari mulut Nancy yang tubuhnya sedang dirangsang oleh lidah nakal Bram.

Nancy pun akhirnya dilanda kebimbangan karena di satu sisi ia merasa harus mempertahankan dirinya agar tidak diperkosa oleh pemuda itu, di lain sisi ia mulai menikmati permainan yang agresif itu. Sementara itu, tanpa disadarinya tangan Bram sudah berhasil menyingkapkan long dress-nya, dan tangan pemuda itu sudah mulai menggerayangi daerah kemaluan Nancy.
"Nngghhh……Ooooggghhhh………." tak sadar Nancy melenguh nikmat.
Tangan kekar itu tak henti-hentinya mengelus-elus vaginanya yang sudah mulai basah. Ciuman pemuda itu pun tak henti-hentinya menggerayangi bibir, leher dan buah dadanya yang montok itu.
"Ahhh... Sshhh...Oooohhhhhh……Aaaggghhhkk………" lenguh Nancy.
Diam-diam dalam hatinya Nancy semakin menikmati kenakalan pemuda itu. Saat ini ia justru mengharapkan agar pemuda itu semakin berbuat kurang ajar padanya. Matanya mulai terpejam seiring dengan semakin membanjirnya lendir kenikmatan di vaginanya. Pikirnya, pemuda itu memang tahu caranya memanjakan wanita. Nancy pun sudah tak merasa bahwa dirinya akan diperkosa. Ia justru mendambakan seks dengan pemuda itu.

Jemari Bram bermain di pinggiran vagina Nancy. Sesekali jemari nakalnya menyelip masuk ke dalam celana dalam Nancy sambil mengusap lembut gundukan yang ada di dalamnya. Terlebih saat Bram memang sengaja mencubit klitorisnya. Hal ini membuat Nancy semakin tak kuasa untuk menahan lendir kenikmatannya yang semakin membanjiri daerah itu.
"Aughhh... Nakal kamu ya!" jerit Nancy saat merasakan jari telunjuk pemuda itu menyelip masuk dan mengusap lembut labium mayoranya.

Sesaat telunjuk pemuda itu keluar dari dalam celana dalam Nancy, ia langsung menyodorkan jemari yang dibasahi oleh lumuran lendir kenikmatan Nancy itu ke bibir seksi wanita itu. Dan langsung saja Nancy menyambut dan mengulum telunjuk yang penuh dilumuri oleh lendir kenikmatannya sendiri itu dengan penuh nafsu. Bram sendiri tak henti-hentinya menggerak-gerakkan telunjuknya yang sedang dikulum Nancy seakan-akan ingin mengorek-ngorek bagian dalam mulut wanita itu dengan lembut. Melihat wanita itu menjilati telunjuknya dengan penuh nafsu, Bram langsung mendekati bibir wanita itu, Nancy agaknya mengerti oleh apa yang diinginkan pemuda itu. Ia langsung menyambutnya dengan bibir sedikit terbuka penuh gairah. Bram langsung melumat gemas bibir Nancy.

"Aaagghhh... Sshhh...Kita ke dalam aja, Bram…. Di kamar lebih leluasa……" lenguh Nancy. Gila, pikirnya dalam hati. Ia hendak diperkosa oleh lawan mainnya, namun jadi terhanyut dan malah mengundang pemuda ini ke ranjangnya. Kelihatannya kerinduan akan penis mengisi vaginanya, sebentar lagi akan berakhir.
"Bener nih, Tante? Aku mau cicipin Tante, kalau Tante bisa melayani dan memuaskan aku, Tante pun pasti kupuaskan, percaya deh, Tante…….!" Bisik Bram di tengah desah nafasnya yang memburu karena nafsu. Tanpa lupa mengunci pintu kantor itu, Nancy membimbing Bram ke kamarnya di belakang, sementara mulutnya dan mulut pemuda itu terus berpagutan dengan ganas penuh birahi.

Sesampainya di kamar, Bram langsung melepas seluruh pakaiannya. Ternyata yang diungkapkan lewat chatting bukanlah bualan, badan pemuda itu kekar dan tegap, tubuhnya nampak atletis dan proporsional, sementara ukuran penisnya yang kini mengacung tegak sunguh luar biasa, dengan panjang sekitar 25 cm dan diameter batang sekitar 5 cm. Melihat tubuh telanjang Bram, Nancy menjadi semakin terbakar oleh nafsu. Ia semakin lupa pada keadaan dirinya yang hendak diperkosa. Dan agaknya keadaan itu sekarang telah berubah menjadi keinginan untuk sama-sama saling memuaskan karena Nancy yang segera melepas long dress dan celana dalamnya langsung mengambil posisi telentang di ranjang, dengan pahanya agak terbuka. Nancy langsung menarik kepala pemuda itu, diciuminya bibir pemuda itu dengan penuh gairah. Kemudian direngkuhnya kepala pemuda itu agar mulutnya mengarah ke vaginanya. Bram yang memang sudah terbakar oleh nafsu sejak pertemuan tadi, langsung saja menuruti keinginan wanita itu. Seperti terungkap lewat chatting mereka, selain seks dengan berbagai gaya Nancy juga sangat suka cunnilingus maupun fellatio.

Bram mulai melakukan cunnilingus, ia langsung menjilati vagina Nancy dan digigitnya dengan penuh nafsu sambil kepalanya terus dipegang dan dijambaki oleh Nancy. Rupanya Nancy tak cukup hanya dipuaskan dengan jilatan-jilatan liar Bram, ia juga menekan-nekan wajah pemuda itu pada vaginanya. Hingga tak lama kemudian, Bram merasakan daerah sekitar selangkangan wanita itu bergetar, dan makin lama getaran itu makin hebat, hingga tak lama kemudian, saat ia sedang menggigit-gigit kecil klitoris wanita itu, ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.