peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


cerita.dewasa.7.peperonity.net

koleksi dvdnine 3

Ngak Tertahan Nafsuku
Saya adalah salah satu wanita muda yang berumur 20-an bekerja pada satu perusahaan swasta yang ternama di Jakarta Barat, daerah Kota. Rambutku hitam sebahu. Wajahku lumayan, banyak orang yang mengatakan aku cantik. Sepanjang umur ini, terus terang aku senang melakukan masturbasi dan belum mempunyai pacar sampai sekarang ini. Aku sering nonton blue film dan sering membayangkan bagaimana rasanya disetubuhi itu, tapi aku masih belum berani ambil keputusan tapi rasanya gatal seks tiap malam tak kusadari aku membuka baju sampai telanjang bulat dan melakukan masturbasi dalam keadaan mengangkang di atas ranjang dengan bantal guling di gosokkan ke bibir vaginaku sampai mencapai orgasme.

Pada suatu hari aku berkunjung ke rumah seorang teman sekantorku, seorang pemuda yang umurnya kira-kira sebaya denganku sebut saja namanya Irwan. Ia adalah seorang yang sangat rajin di tempat kerjaku, aku sangat menyenangi dirinya, ingin jadi pacarnya. Aku suka merasa horny kalau membayangi disetubuhi oleh laki-laki itu. Nah waktu aku sampai pintu rumahnya di daerah Gajah Mada, yang membukakan adalah adiknya, terus aku tanya di mana kakakmu terus dia bilang di atas loteng kamar, adik laki-lakinya tidak mengantarku, dia lagi asyik nonton TV. Aku langsung bergegas ke atas. Aku melihat suatu pemandangan yang sangat membuatku merasa basah. Kulihat Irwan sedang dalam posisi senggama di atas membelakangiku, tangannya memeluk sesuatu dan badannya maju mundur dengan irama yang bersamaan. Aku langsung bengong tidak pernah saya lihat begituan, cuma pernah lihat di blue film. Rupanya dia sedang onani juga. Aku langsung tidak tahan rasanya kubuka baju kantorku dan rok ketatku kulepas dan kuhempaskan ke lantai.

Dadaku yang cukup indah dan vaginaku yang penuh bulu ini langsung terbuka tanpa sehelai baju yang menutupi. Aku langsung bergegas ke kamarnya kupanggil namanya dia menoleh. “Linda?” kuterjang dia, satu tanganku memegang batang penisnya dan ingin menghisapnya. Tapi entah kenapa penisnya itu sudah mengeras sekali dan mendadak keluar cairan berwarna putih karena masturbasi tadi. Aduh cairannya itu ke wajahku. Hidungku yang mancung merasakan bau yang menambah suasana nafsu. Kuhisap penisnya sampai bersih tak kupedulikan rasa sperma itu. Ini yang kutunggu-tunggu sejak berumur 15 tahun yaitu nge-seks sama orang yang aku suka dan berisi. Dari umur 16 tahun aku suka bikin laki-laki nafsu terhadapku. Dengan memainkan mata ke arah mereka dan melakukan action yang bikin mereka tegang dan aku sangat enjoy ini tapi mereka itu cuma laki-laki ABG yang seperti anak-anak kecil. Kuhisap penisnya, tangannya menjambak rambutku keras-keras. Rambutku jadi terurai berantakan. Dia menarik penisnya lalu menggencetku dan mengincar payudaraku dan menghisapnya dengan penuh nafsu seperti seorang bayi yang netek terhadap ibunya. Lidahnya menggeliat-geliat bikin aku merasa geli. Mataku terpejam kegelian rasanya nikmat sekali dibanding masturbasi. Tangannya yang satu lagi meraba vaginaku yang sudah basah, langsung aku mendesah pelan sambil memencet-mencet penisnya yang sudah seperti rudal scud yang siap diluncurkan. Dia menjilati pinggangku yang ramping juga selangkanganku. Aku mendesah pelan tak terasa suaraku keluar, “Sudah Irwan sudah.. aku tidak tahan nih”, kupeluk tubuhnya erat-erat kugigit lehernya, aku mendesah rasanya nikmat sekali. Makin erat pelukanku tanpa kusadari penisnya yang siap meluncur itu masuk ke dalam vaginaku yang terbuka lebar. Bress, aku menjerit tanganku memeluk pinggangnya erat-erat. Satu tangan lagi mencakar cakar punggungnya. Dia memajukan penisnya maju-mundur maju-mundur terus aku merasa kenikmatan tiada tara, tanganku pasrah tidak memeluk pinggangnya lagi aku sudah dalam posisi setengah telentang. Dia langsung mencabut penisnya. Aku langsung terhempas di atas ranjang dengan bercak darah di selimut yang berwarna putih. Irwan langsung memegangku dengan tangannya yang kekar dia memintaku agar mengarahkan pantatku ke arahnya. Loh aku bingung kenapa? maklum saja blue film yang aku tonton biasanya tidak ada anal sexnya. Dia tanpa banyak bicara lagi menancapkan penisnya dari belakang. Aku menjerit keras sekali sambil teriak, “Ampunn Wan argh.. eeuhh.” Aku merasakan sesuatu keluar dari penisnya, cairannya banyak sekali aduh nikmatnya.

Kami berdua mendengar suara kaki naik ke atas loteng siapa gerangan? “Adiknya!” yang umurnya kira-kira 20 tahun, wah dia kaget melihat posisi kita yang seperti begini, Irwan tetap tenang ia bertanya kepada adiknya, “Hey Johny, ini yang dinamakan ngewe beneran.” Dia langsung melongo, Nafsuku tambah muncak lihat satu lagi jejaka muda didepanku ini. Mataku memandang tajam kearahnya tanganku memberikan hint supaya dia maju mendekatiku seperti terhipnotis. Kucoba memberikan dia senyum yang menantang, kudekati dia tapi aku sudah tidak kuat rasanya tenagaku banyak habis waktu sanggama sama Irwan tadi, langsung si Johnny tanya sama Irwan, “Boleh nih kak?” tapi Irwan masih terbaring lemas di ranjang tak berenergi lagi. Aku langsung berbisik, “Ayo say.. cobalah!” Dia lebih ganteng dari kakaknya sedikit dengan tubuhnya yang atletis. Johny meraba-raba tubuhku dari bahu, pinggang sampai selangkangan, waktu dia raba selangkanganku dia langsung bilang, “Wah Kakak baru main pertama kalinya ya.” Aku langsung mengiyakan, tanganku tanpa basa-basi lagi meremas penis yang di balik celananya. Dia juga no mercy langsung melepaskan baju dan celananya, gila panjang penisnya, sayang saya tidak bawa penggaris. Dia tidur telentang juga di ranjang, aku berada di atasnya. Aku disetubuhi juga olehnya sampai habis basah semua ranjangnya. Aku mendesah keenakan waktu dia mengeluarkan maninya. Tak terasa sudah Irwan terbangun ia kaget sekali melihat adiknya menyetubuhiku. Dia langsung berteriak marah dan menyalahkan adiknya.

Aku membela adiknya walau kurasa diriku terlalu letih, aku berkata bahwa aku bersedia kawin dengan Irwan, aku mencintaimu sejak dulu aku senang keluargamu, aku senang melakukan ini. Dia memelukku menciumku membelai rambutku dan seluruh tubuhku. Dia juga senang sama aku sejak tahun lalu di ruang kantor, cuma dia seorang lelaki yang pemalu alias tidak berani first action, dia ingin sekali kawin dengan seorang wantia karir. Aku balik memeluknya dan menciumnya juga, “Aku sayang kamu, Linda”, Johnny langsung minta maaf padaku katanya dia khilaf terhadap ini, ia berkata ia ingin sekali punya pacar. Setelah ini ia bergegas ke dapur dan memasak makanan malam dan kami makan malam bersama. Akhirnya Johnny kukenalkan dengan adik perempuanku yang umurnya sama dengannya mereka jatuh cinta dan mencintai satu sama lain dan hubunganku dengan Irwan sekarang adalah suami istri yang harmonis kami mempunyai seorang bayi laki-laki yang berumur 5 bulan.

Aku menulis ini bersama suamiku di tengah malam mengenang masa lalu yang indah yang penuh dengan kenangan yang selalu terbayang di hatiku. DVDNine
Addicted Kakis

Join Date: Nov 2007
Posts: 32
























































17-06-2008, 11:54 PM #22
Musibah Yang Nikmat
Aku telah bekerja selama hampir 6 tahun di bagian akuntansi dan juga masih menempuh kuliah semester 4 di sebuat PTS ternama di Surabaya. Aku selalu mengendarai motor bututku ke mana aku pergi, baik itu ke kantor maupun aku ke kampus.

pada suatu hari, waktu itu jumat pagi aku akan berangkat senam di kantor, aku mengendarai motorku dengan agak tergesa-gesa, maklum sudah agak terlambat. Sesampainya di jalan Ahmad Yani aku terperanjat hebat karena ada mobil Timor memotong di depanku, tanpa dapat aku kuasai akhirnya akupun menabraknya dan terjatuh dengan luka yang lumayan parah, kemudian aku pingsan. Aku sadar saat aku sudah di rumah sakit AL di dekat kawasan itu, aku membuka mataku pelan-pelan dan seorang gadis cantik sudah tersenyum kepadaku.
“Mas, maafkan saya”, dia mengucapkan kata dengan penuh pesona.
“Nggak pa-pa..”, kataku lirih.
“Nama saya Rifa”, kata gadis itu.
“Saya Dimas”, jawabku singkat.

Kamipun ngobrol kesana kemari, aku sudah agak enakan dengan kehadirannya aku bersemangat sekali untuk segera sembuh. Sejak peristiwa itu aku dirawatnya hingga aku pulang, kedua orang tuanya pun selalu menjengukku tiap sore hari, maklumlah aku anak perantauan yang jauh dari keluarga.

Setelah seminggu dirawat aku diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Semua biaya ditanggung oleh keluarga Rifa termasuk motorku yang rusak. Aku diberi motor baru sebagai gantinya dengan harapan aku akan lebih baik, aku selalu dianggap sebagai keluarga Rifa sehingga aku diminta tinggal di rumahnya. Akupun sangat berterima kasih sebab akan banyak mengurangi biayaku. Rifa di rumah itu adalah anak tunggal dan selalu dimanja.

Setelah hampir 6 bulan aku tinggal aku mulai merasakan bahwa Rifa mulai menyukaiku, memang sih usia kami tidak jauh terpaut aku masih 24 tahun sedang rifa 20 tahun. Rifa kuliah pagi di PTN semester 4 juga. Rifa adalah gadis yang sangat cantik dengan bentuk tubuh yang sangat seksi, sehingga banyak cowok yang ingin jadi kekasihnya.

Singkat cerita, pada hari jumat sore aku di telepon ke kantor untuk segera pulang sore karena ayah dan ibunya akan ke Jakarta. Aku segera pulang setelah jam 14.30. Sesampainya di rumah aku mendapati rumah dalam keadaan sepi. Aku pencet bel dan Rifa hanya berteriak dari dalam bahwa pintu tidak dikunci. Aku masuk ke kamarku di atas, aku yakin orang tua Rifa sudah berangkat, akupun mandi dan bermaksud istirahat, akan tetapi dari bawah Rifa berteriak.
“Mas, sudah saya bikinkan kopi cream di meja belajarku”, teriak Rifa.
“Ya..”, aku turun dan mengetuk kamar Rifa.
“Masuk saja tidak dikunci, aku lagi mandi”, jawab Rifa.

Dadaku berdebar kencang ketika aku lihat di sudut ruangan ada bayangan tubuh Rifa yang seksi itu diguyur air dan hanya terhalang partisi plastik tipis (seperti di hotel-hotel). Aku duduk di meja belajar Rifa dan menikmati kopi buatannya.
“Mas, udah mandi belum”, tanya Rifa.
“Udah, emang kenapa?, tanyaku balik.
“Mau mandi lagi”, kata Rifa.
“Nggak”, jawabku singkat.

Aku membuka majalah di meja Rifa, ketika tiba-tiba Rifa berteriak, “Mas, tolong ada kecoak”, dengan tanpa pikir panjang aku melompat ke kamar mandi itu. Jantungku berdegub kencang ketika aku melihat Rifa hanya tertutup daster kecil jauh di atas lutut.
“Kecoaknya udah pergi”, Rifa berkata sambil tersenyum.
Aku terdiam dan terpana, Rifa tidak merasa malu sedikitpun dia malah menyemprotkan shower yang dia pegang ke arahku, akupun basah kuyup. Kamipun bercanda, aku ambil shower kloset dengan tak kalah cerdik aku menyemprot bagian tubuh Rifa yang aku rasa bikin geli. Rifa menggeliat-geliat ketika air itu menyemprot ke payudaranya, seolah ia menikmatinya, aku kaget ternyata Rifa tidak mengenakan BH. Aku semakin turun dan melihat Rifa juga tidak mengenakan celana dalam, darah laki-lakiku memuncak, tanpa kami sadari kami berpelukan dan aku mencium serta mengulum bibir Rifa yang merah dan seksi itu, Rifa sangat ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.