peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


cerita.dewasa.7.peperonity.net

koleksi kakus 1

Koleksi kakus
Bimbingan Belajar

Cerita ini mulai ketika aku baru lulus SMA. Waktu itu aku baru sibuk - sibuknya nyari universitas. Maklum kota pelajar, semua orang sibuk kesana kemari cari sekolahan. Enggak laki enggak perempuan semuanya sibuk ngurus legalisir, ijazah, formulir pendaftaran dan lain sebagainya. Begitu juga dengan diriku. Aku sudah berkeputusan untuk kuliah di universitas negeri yang paling terkenal di kota ini bagaimanapun caranya. Untuk itu aku harus kerja keras supaya lulus UMPETAN, ujian masuk perguruan tinggi negeri. Salah satu perjuanganku adalah belajar sambil cari pembimbing yang tahu tentang soal - soal UMPETAN(UMPTN red.).

Sore itu sewaktu aku bengong di teras rumah nglepasin rasa penat setelah belajar seharian, Anto datang dengan motor barunya yang bermerek 'ngacir'. "heh,... masuk - masuk!" kataku mempersilahkan dia masuk ke dalam rumahku. "He...he..., nggak usah,... aku keburu - buru" jawabnya sambil meringis kayak kuda. "Apaan sih, koq kesusu gitu? Baru dateng udah mau ngacir lagi !, duduk dulu!" kataku kesel. "Kesusu kan enak?", katanya mesum, "Kamu udah mandi belon?". "Enak aja, ya belum no! kayak nggak tau aja kamu!", timpalku. "Udah, cepetan, nggak usah mandi. Ganti baju sana, trus pake sepatu, kamu ikut aku". "Eh, ada apa ini? Saya tidak bersalah pak! Bukan saya yang mencuri ayamnya, he.. he.. ngapain to?" tanyaku. "Aaah, nggak usah banyak tanya, cepetan!!!", katanya sewot. "Iya, iya,... santae aja", jawabku.

Singkat cerita aku dan antok pergi bareng pake motor ngacirnya. Di tengah perjalanan aku mulai nggak sabaran. Kutanya si Antok yang sedang konsentrasi mengendarai motorn. "Eh, mau kemana sih? Kayak cerita detektif aja pake rahasia - rahasiaan segala!", "Tenang aja, katanya kita mau lulus UMPTN, naah, kamu aku ajak ke tempat kenalanku. Dia tentor bimbingan belajar 'Pri------'. Sekarang dia lagi nggak ada jatah ngajar. So,.. kita bisa belajar sama dia to?", jawabnya. "Huuuu... aku pikir kemana... kalo tau gitu, tadi aku gak mau ikut.... Baru capek nih otakku, seharian cuma mikir yang namanya sinus sama cosinus itu", kataku ketus. "Santae aja, ntar disana pasti kamu seger lagi, dijamin deh!", jawabnya. Ya udah, pikirku. Lagian mau gimana lagi, udah jauh dari rumah juga.

Sepuluh menit kemudian kami sampai di daerah utara kota pelajar tercinta ini. Daerah ini terkenal sejuk dan tenang, sehingga banyak orang datang ke sini untuk refreshing dan tentunya pacaran. Akupun dulu sering kesini sama temen cewekku yang rada sableng itu. Dulu kami sengaja pacaran disini malem - malem, soalnya sepi dan tentunya bisa sedikit senggol sana senggol sini. Ada seninya sendiri dating sambil duduk di atas motor. Saking seringnya, kami sampai punya tempat favorit, tempat yang strategis dimana enggak ada orang yang bisa ngelihat kami berduaan. Tapi sebaliknya, dari tempat itu kami bisa leluasa ngawasin semua tingkah laku orang yang datang dan pacaran. Sering kami saling muasin satu sama lain sambil lihat 'live show'. Aku sering mainin clitorisnya dan dia juga menggosok lembut si otongku sambil kami berdua ngitip orang gituan dari jarak yang lumayan dekat. Kami berdua tentunya masih berpakaian lengkap karena takut kalo tiba - tiba ada orang yang mergokin. Supaya pakaian kami nggak kotor, aku sering minta dia ngisep si otong sampai klimaks di dalam mulutnya. Mulanya dia nggak suka, tapi setelah dia coba ngrasain rasa spermaku, dia ketagihan. Cewek sih enak, kalo klimaks nggak ngeluarin cairan sebanyak cowok sehingga nggak perlu repot - repot mbersihinnya. Cara dating kayak gini ini yang membuat kami berdua puas sepuas - puasnya. Saking puasnya, satu kali jam terbang aku bisa klimaks empat sampai lima kali sedangkan dia bisa sampai belasan bahkan puluhan kali, gila nggak?

Memori ku buyar karena tiba - tiba Anto membelokkan motornya ke arah sebuah rumah yang lumayan besar. Tidak terlalu mewah, bertingkat dua, dan terawat rapi. Aku nggak sadar kalo kami berdua udah sampai di dalam halaman rumah. "Sebentar ya?", kata Antok. Setelah kami turun dari motor Antok masuk ke dalam rumah itu sementara aku ditinggal sendirian di halaman depan kayak orang blo'on.

Bagus juga pemandangannya. Waktu itu kira - kira sudah pukul setengah enam sore, matahari yang sedang terbenam kelihatan jelas dan bagus sekali. Rumah yang enak, pikirku. Tenang, sejuk, jauh dari keramaian, kanan kirinya cuma sawah. Tetangga kiri kanan jaraknya jauh - jauh. "Hey, ngelamun!! Ntar kemasukan setan baru tahu rasa kamu!!", gertak si Antok yang rupanya sudah muncul lagi. "Heh? Udah? Enak ya ninggalin orang!", jawabku. "Gitu aja marah!! Ayo masuk, aku kenalin sama mbak Lina", katanya sambil meringis mamerin giginya. "Mbak Lina? Tentornya cewek to? Aku kirain cowok !!", jawabku. "Hey.. ayo masuk.... Kok masih di luar sih??? Masuk... masuk !" rupanya mbak Lina, kenalan Antok sudah membukakan pintu kamar tamunya. Manis juga, pikirku. Kulitnya putih langsat, tinggi, lebih tinggi sedikit dari si Antok. Kira - kira sekitar 163 cm. Wajahnya oval dengan hidung yang mancung. Yang paling menggairahkan adalah bibirnya. Kecil merah merekah. Rambutnya hitam sebatas bahu. Badannya lumayan bagus, agak kurus tapi montok, terutama bagian pantat dan dadanya. Ia mengenakan rok putih pendek dan baju yang longgar. Kakinya putih mulus. Dari bajunya yang semi transparan itu bisa terlihat Bhnya yang ketat. BH yang dipakainya adalah model BH yang tanpa gantungan lengan, jadi hanya dilingkarkan ke belakang. Aku nggak tahu model apa namanya tapi yang jelas sexy sekali. Kata si Antok mbak Lina ini baru brumur 24 tahun. Masih muda juga, pikirku.

Tanpa disuruh dua kali kami pun bergegas masuk. "Kenalin Di, ini mbak Lina, kenalanku... dia jago lho", katanya sambil tersenyum aneh. "Andi", kataku memperkenalkan diri sambil berusaha memberikan senyum seramah mungkin. "Lina", sahutnya. Tangan mbak Lina bener - bener halus. Pikiranku mulai ngeres mbayangin gimana kalau tangan sehalus itu membelai si Otong. "Temen SMAnya Antok ya?", tanyanya membuyarkan pikiranku."Eh, enggak kok mbak, kami ketemu waktu dia jadi kuli angkut di pasar.", kataku sambil berusaha bergurau. Pok! Tangan si Antok mendarat di kepalaku "Enak aja! Yang kuli itu kamu!", katanya sewot."He..he.....", aku cengengesan. "Udah, udah... ayo duduk dulu", kata mbak Lina sambil tertawa. Kamipun duduk di kursi kamar tamunya yang mewah. "rumah sendiri mbak?", tanyaku berbasa basi. "Oh, enggak... kontrakan. Sewa rumah bareng sama temen - temen. Lebih nyaman kalo ngontrak rumah", katanya. "Koq sepi mbak?",tanyaku lagi. "Iya, pada ngajar di 'pri------. Ya ginilah keadaannya, pada gantian jaga rumah. Paling - paling mereka pulang jam sembilan nanti, Eh, Sebentar ya, mbak buatin minum dulu.". Sekejab kemudian mbak Lina masuk ke dalam.

"Eh,... Di, aku pergi rokok sebentar ya? Kamu di sini dulu, paling cuma lima belas menit aku perginya", kata Antok tiba - tiba. "Tadi enggak sekalian beli di jalan?!", kataku. "Lupa !, sebentar ya?", katanya ngeloyor pergi. Sebentar katanya,... aku tau kalo perginya bakalan lama, soalnya si Antok itu perokok yang fanatik sama merek Marlboro. Kalo enggak merek itu dia nggak mau. Dan merek itu biasanya cuma dijual di toko - toko besar kayak supermarket. Lagipula selama perjalanan kesini nggak kulihat supermarket, so pasti perginya lama sekali. Sayup - sayup kudengar motor Antok pergi meninggalkan aku sendirian. Ah, persetan,.... Pergi aja yang lama, biar aku bebas omong - omong ama mbak Lina, pikirku.

"Lho, mana Antok?", tanya mbak Lina yang tiba - tiba muncul sambil membawa dua gelas Ice tea alias es teh. "Pergi mbak, pergi rokok", jawabku singkat. "Ya udah,.... Ayo diminum dulu..", jawab mbak Lina "Adanya cuma itu, nggak papa kan?". "Ma kasih mbak..... benernya pengen susu sih, tapi.... Nggak papa deh..", jawabku setengah bercanda setengah mesum. "Dasar..", sahut mbak Lina sambil tersenyum manis. Mbak Lina duduk berseberangan denganku. Waktu dia duduk kaget juga aku karena dia ternyata nggak pake cd. Ini bisa kulihat karena mbak Lina duduknya nggak rapi. Kakinya yang mulus itu agak membuka. Dari tempat aku duduk memang enggak begitu jelas tapi aku yakin kalo dia nggak pake cd karena di dalam rok itu jelas nggak kulihat sepotong kainpun. Sambil minum aku terus mandangin bagian bawah mbak Lina. Sepertinya mbak Lina enggak menyadari hal ini karena pandangan mataku agak ketutup gelas yang aku pegang.

Tau kalo ada barang bagus si otong mulai bertingkah. Si otong mulai bangun, ini membuat aku salah tingkah berusaha nyembunyikan sikap si otong. "Kamu enggak ngerokok, Di?", tanya mbak Lina mengagetkanku."Eng... Enggak mbak..",jawabku terbata - bata."Mbak Lina enggak ngerokok?", tanyaku balik. "Eh,... enggak, mbak lebih suka nyedot cerutu", jawabnya agak nakal. Celaka, kali ini si otong bener - bener nggak bisa diajak tenang lagi, si otong spontan nyembul di balik celanaku. Sundulannya di balik celanaku membuatku kaget. "Eh,... mbak... bisa pinjem kamar mandinya", tanyaku agak panik. Kelihatannya mbak Lina sempat lihat nyembulnya si otong ini. Kelihatannya ia agak kaget juga. "Bisa,... masuk aja.... Sepi koq, nggak ada siapa - siapa. Kamu jalan terus aja, ntar kamar mandinya di sebelah kiri." Jawab mbak Lina. Sambil berusaha menutupi si Otong demi menjaga sopan santun, aku bergegas menuju kamar mandi guna mengatur letak si otong. Kamar mandinya luas juga. Lengkap dan mewah perbotannya. Di pojok kanan ada bathtub ukuran sedang, di sebelahnya ada shower, dan laen sebagainya yang semuanya serba putih bersih. Segera kututup pintu kamar mandinya. Bergegas aku membuka kancing celanaku dan meraih si otong. Si otong kali ini memang bener - bener bandel. Si panjang gemuk itu sudah keras sekali rasanya, udah minta dikocok kayaknya. Belum sempat aku mbenerin si otong tiba - tiba pintu kamar mandi dibuka. Celaka, aku rupanya lupa mengunci pintunya. Rasa panikku hilang berganti rasa deg - degan waktu orang yang nongol dari balik pintu itu adalah mbak Lina. Si otong langsung berdenyut - denyut melihat situasi yang terjadi, ia tahu peristiwa apa yang akan terjadi selanjutnya. Kini sengaja tidak kututup celanaku sehingga mbak Lina bisa melihat dengan jelas si otong.

"Eh,.. sorry, mbak cuma mau nganterin sabun....", kata - kata mbak Lina terhenti. Mulutnya ternganga dan matanya melotot melihat si otong. Agak lama juga kami berdua terpaku. Lalu perlahan - lahan tanganku mulai mengocok si Otong dengan pelan. Mbak Lina tetap diam sambil merhatiin apa yang aku lakuin. "Tolong dong sekalian sabunin si otong, mbak.....", ajak ku berharap. Mbak Lina kelihatan ragu. Kuhampirinya dengan pelan. Kutarik tangannya dan kutuntun ke otongku. Dipegangnya si otong dengan ragu ragu. Kemudian dengan lembut ia mulai mengocok si otong turun naik. Kesampaian juga fantasiku untuk dikocok tangan halus itu. "Enak Di?", tanyanya lirih penuh nafsu. "Ahh..." enak sekali mbak....uh...". tanpa disuruh tanganku mulai merengkuh payudaranya yang sintal. "Ssshh.., ahh...jangan... " mbak Lina merintih keenakan. Tak kuhiraukan omongannya, tanganku mulai merogoh payudaranya. Mbak Lina mulai terangsang tangannya mulai mempercepat ritme gosokannya. Segera tanganku mencopoti kancing baju dan BH nya. Segera setelah baju dan BH nya jatuh ke ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.