peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


cerita.dewasa.7.peperonity.net

sex devoted wife

Sex Devoted Wife
Jika anda orang yang menyukai cerita hardcore, cerita di bawah ini bukan untuk anda. Ini posting pertama gw untuk bluefame. hope you like it!

------------------

Judul itu terpampang jelas pada satu halaman di Majalah Prestige Indonesia. Bram tersenyum. Ada foto-foto seorang wanita di situ, memperagakan busana-busana malam seksi dan mewah. Patricia Kaunang Wijaya, A Sexy Devoted Wife. Benarkah? Ingatan Bram melayang ke kejadian 4 tahun yang lalu ...

-------------

Pamannya sudah 1 bulan ini sakit-sakitan. Bram merasa bersalah. Dia sudah 2 tahun menumpang di rumah pamannya ini, untuk kuliah di sebuah kursus pendidikan komputer. Istri Paman, Bibi Ena, menanggung seluruh beban keluarga, dengan Bram dan 3 orang anak mereka yang masih kecil. Sebelum sakit-sakitan, Paman bekerja sebagai supir di keluarga Wijaya. Cukup lama, sekitar 5 tahunan.

"Paman, boleh ga aku tanya sesuatu?" Bram berkata suatu hari kepada pamannya yang tergolek lesu di ranjang sempit.
"Apa Bram?"
"Boleh ga, aku gantiin paman jadi sopir di rumah Wijaya?" tanya Bram.
"Bram, .... . Aku tidak bisa mengijinkan hal itu," kata Paman dengan berat hati. Pamannya mengingat perjanjiannya dengan ayah Bram, ketika mereka masih kuliah. DIa berjanji bahwa ketika ada sesuatu terjadi pada ayah Bram, dia akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap hidup Bram, dan tidak akan mungkin memaksa Bram untuk bekerja, membantu rumah tangganya.
"Paman, aku harus bekerja! Aku tidak tega melihat Bi Ena menanggung semuanya sendiri."

Sekilas mereka berdua melihat ke arah Bi Ena yang sedang sibuk menyuapi anak terkecil mereka.

"OK, Bram, aku akan menelepon pak Wijaya untuk mengabarkan penggantiku."

-------------

Rumah keluarga Wijaya di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan, sungguh mewah dan sangat luas. Bram duduk tepekur, sementara Pak Philip duduk di depannya sambil menerima telepon dari seorang rekan bisnisnya. Sebelum itu, Pak Philip berkata bahwa dia sudah tahu mengenai akan datangnya pengganti Pak Akhsan (paman Bram).

"OK, Bram, kamu mulai bekerja besok pagi. Tugasmu adalah mengantar ketiga anakku dan istriku kemanapun mereka pergi. Kamu boleh menginap di sini, atau kamu boleh pulang pergi. Tapi, kamu harus siap kapanpun anak-anakku atau istriku memanggilmu."
"Baik, pak. Paman saya menyarankan saya untuk menginap di sini saja pak," jawab Bram.
"Minah akan mengantarmu ke kamar sopir. Minah!" panggil pak Philip kepada satu-satunya pembantu di rumah besar itu. Seorang wanita muda dengan dandanan sederhana kemudian muncul sembari tersenyum manis kepada Bram. "Mari mas Bram, saya bantuin angkat barangnya," kata Minah tulus.

-------------

Hari-hari berlangsung cepat minggu itu. Bram kemudian berkenalan dengan ketiga anak keluarga Wijaya, yang secara mengejutkan mempunyai kepribadian yang sangat menyenangkan. Yang tertua, Sisca, benar-benar pribadi yang mengagumkan. Cantik, pintar, rendah hati, dan humoris. Steven, nomer dua, benar-benar konyol dan seorang penggila sepakbola. Tifanny, si bungsu, benar-benar anak yang manis, penurut, dan lebih suka bermain di dalam dunianya sendiri. Bram belum pernah bertemu dengan istri pak Philip, karena Ibu Patty, panggilan istri pak Philip, sedang berada di Singapura untuk urusan bisnis.

Bram menjalankan aktivitasnya setiap hari, mengantar ketiga anak itu kemanapun mereka mau pergi. Sisca, seorang siswi SMA Internasional terkenal di Jakarta Selatan, paling sering pergi membawa mobil, tentu saja dengan Bram sebagai sopirnya. Bram pun mulai menikmati aktivitasnya sebagai supir. Untuk sementara, kursus komputernya dia tinggalkan, demi menopang hidup keluarga Paman.

-------------

"Mas Bram, tolong antering Sisca ke sini dong, ada pesta Prom Night soalnya," rayu Sisca suatu sore ketika Bram sedang duduk santai di teras belakang, ngobrol dengan Minah.

Sore itu matahari sungguh indah, memancar menjelang tenggelam. Sinarnya berwarna keemasan menyinari sosok Sisca yang sempurna. Kuning langsat, dengan tubuh yang menawan. Dia mengenakan tanktop warna biru muda dengan tali kecil, dengan celana putih super pendek, seperti kebiasaannya. Tali BHnya terlihat di bahunya. Warnanya biru.

"OK deh non, mau jam berapa berangkatnya?" tanya Bram
"Jam 7 kita berangkat ya mas. aku dah pamit ama papa kok."

Dia kemudian duduk jongkok sambil bermain air di kolam ikan di dekat tempat duduk Bram dan Minah. Bram terpana. Itu bukan pemandangan yang dilihat Bram setiap hari, bahkan seumur hidup Bram. Oh Tuhan, pikir Bram dengan jantung yang berdegup kencang. Tanpa disadari Sisca, posisinya membuat belahan dadanya terlihat. dan itu bukan belahan dada yang biasa. Belahan itu dalam, membentuk jalur yang panjang dari pangkal dada ke arah baju tanktop. Begitu indah, dengan kulit kuning langsat tanpa cela. Belahan dada itu berguncang-guncang mengikuti gerakan lengan Sisca yang bermain air kolam. Bahkan sekilas Bram melihat BH Sisca.

Pemandangan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Minah beranjak dari tempat duduknya dan mengajak Sisca masuk ke dalam rumah. Tidak baik anak cewek di luar pas Maghrib, katanya.

-------------
"mas Bram, Pak Akhsan gimana kabarnya sekarang?" tanya Sisca membuka percakapan. Malam itu Bram mengantar Sisca ke Prom Night di sebuah hotel berbintang di Jakarta Pusat.

Sisca mengenakan baju malam yang sangat mewah, dengan model kemben terusan. Model itu cukup pendek, sehingga setiap orang pasti bisa melihat keindahan kaki jenjang Sisca. Bram berusaha tidak melihat fakta itu, mengingat Sisca adalah anak majikannya.

Lobby Hotel itu penuh sesak dengan gemerlap anak-anak ABG yang merayakan Prom Night. Mobil yang disupiri Bram berhenti tepat di depan lobby. Bram bergegas keluar, dan membukakan pintu untuk Sisca, sebuah kebiasaan baru yang dipelajarinya dari pak Akhsan, pamannya. Bram sungguh menyukai kebiasaan baru itu, karena ketika dia membukakan pintu Sisca, dia melihat kembali pemandangan indah yang dilihatnya sore itu. Ketika Sisca keluar dari mobil, kaki kirinya melangkah pelan keluar dari mobil. kakinya yang jenjang terlihat jelas ditimpali lampu lobby hotel yang terang benderang. Pahanya sekilas terlihat, benar-benar tanpa cacat cela. Belum lagi pemandangan selanjutnya, benar-benar memukau. Ketika Sisca sedikit membungkuk untuk keluar dari mobil, dadanya yang hanya ditutupi baju malam model kemben membentuk lekukan dalam berbentuk V terbalik. Renda BHnya mengintip dari belahan dada itu. sepertinya BH tersebut tidak kuasa menahan volume bukit indah Sisca.

Bram masturbasi malam itu, pertama kali dalam sejarah hidupnya...
-------------

"Mami, kenalin, ini mas Bram, sopir kita yang baru," kata Tiffany menyeret ibunya. Oh, jadi ini istri pak Philip, Ibu Patty.
"Saya Bram bu, pengganti pak Akhsan," kata Bram sambil menyalami Bu Patty.

Bu Patty adalah seorang wanita yang mencerminkan anggapan Bram selama ini mengenai wanita kaya. Glamor, dengan pakaian yang mewah, perhiasan yang kentara, dengan dandanan yang luar biasa. Umurnya sepertinya akhir 40an. Yang membuat heran Bram, dengan umurnya, Bu Patty sungguh luarbiasa menawan. Jantung Bram berdegup jencang ketika tangan dia menyentuh tangan bu Patty. Kulitnya sungguh halus, dengan tubuhnya yang begitu harum, membuat Bram terpaku. Seumur hidupnya, belum pernah dia melihat sosok wanita yang glamor, begitu harum. Dia mengenakan baju kerja blazer, dengan dalaman sutra berenda yang kelihatan begitu halus. Roknya pendek sebatas lutut, menampilkan kaki jenjang dengan sepatu hak tinggi.

Tampaknya dia baru saja pulang dari Singapura. Bu Patty segera meninggalkan Bram dan Tiffany, menemui teman-temannya di ruang tamu. Bram mengintip dari dapur, mengamati percakapan di ruang tamu. Teman-teman bu Patty tidak jauh beda dari bu Patty. Elegant, glamor, setengah baya, namun super seksi.

Bram tidak tahu mengapa. Sejak saat itu dia terobsesi dengan wanita setengah baya.

Bram masturbasi malam itu, sungguh nikmat ... membayangkan bu Patty ... membayangkan wanita mengeluarkan penis Bram dari celana, mengelusnya dengan tangannya yang lembut, ...

-------------

Sejak bu Patty datang, kegiatan Bram didominasi dengan acara mengantarkan bu Patty kemanapun dia pergi. Setiap hari ada saja acara bu Patty, dari mulai bertemu dengan kolega sampai makan malam di restoran atau hotel mewah. Dan sungguh, mengantarkan bu Patty benar-benar membuat Bram kecanduan. Bu Patty mempunyai kebiasaan mengenakan gaun-gaun mewah yang seksi, yang dipastikan selalu menampilkan lekuk tubuhnya yang indah, dengan pinggang yang indah, kaki jenjang, dan dada yang membusung indah. Dada bu Patty besar, dan Bram tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengamatinya, baik ketika di mobil ataupun di rumah.

Suatu kali ketika Bram mengantar bu Patty ke sebuah pesta, bu Patty mengenakan busana malam dengan dengan belahan yang sangat rendah, memperlihatkan hampir seluruh bulatan dadanya. Bram bersumpah, dia melihat puting susu bu Patty pada saat dia keluar dari mobil. Warnanya merah kecoklatan, dengan lingkaran sekitar puting yang berwarna sama. Bram merasakan penisnya memberontak. Penis itu tidak menyusut sampai malamnya mereka kembali ke rumah Wijaya.

Bram memikirkan sebuah rencana ....
-------------

Rumah Wijaya kembali sepi hari itu. Hari yang dingin, dan hujan yang sangat deras. Pak Philip dan ketiga anaknya pergi ke Hongkong untuk berwisata, meninggalkan Bram, Minah, dan bu Patty.

Bram duduk di kamarnya seorang diri, menonton TV. Minah sudah terlelap tidur kelelahan setelah seharian membantu packing anak-anak Wijaya. Sejak melihat pemandangan terakhir itu, Bram menjadi terus-menerus terangsang setiap hari.

Petir menggelegar. Bram keluar dari kamarnya dan menuju ruang cucian. Dia perlu pelampiasan setelah terangsang terus-menerus. Ada sebuah dorongan yang mendorong dia pergi ke tempat cucian. Dorongan kuat yang membuat dirinya sendiri heran. Dia mulai mencari-cari sesuatu dalam tumpukan pakaian. Tidak lama, diapun menemukannya. Tumpukan BH dan celana dalam, yang dia tahu pasti bukan milik Minah ataupun Tiffany. Bram mengambil salah satu BH. BH itu berwarna merah dengan bahan sutra, dengan renda-renda di bagian cupnya. Tali bahu dan penahan belakangnya kecil, seukuran 1 cm. Bram mencium BH itu. Bau harum Sisca langsung merebak. Tangan kiri Bram meraba penisnya yang sangat tegang, sedangkan tangan kanannya memegang BH itu di depan hidungnya. Bram benar-benar terangsang. Dia kemudian membuka celana pendeknya, mengeluarkan penisnya dan mulai meremas-meremasnya. Ooh, begitu nikmatnya. Kemudian dia mencari-cari lagi. Sebuah celana dalam seksi, dengan potongan pinggang yang tinggi menjadi pilihannya. Pasti itu milik Bu Patty. Celana itu merah, tipis dengan bahan sutra yang sangat halus, berwarna biru tua. rendanya benar-benar membuat Bram terangsang. Renda itu berada di bagian depan, dan di bagian elastisnya. Renda di bagian depan mempunyai bagian yang tembus pandang yang apabila dipakai, hampir pasti menampilkan bulu-bulu lembut vagina wanita.

Bram mulai mengeluskan celana dalam itu ke penisnya yang sangat tegang. Sensasi halus bahan celana dalam itu membuatnya tidak bertahan lama. Sebentar saja, cairan putih lengket menempel di celana dalam itu. ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.