peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


cerita.dewasa.8.peperonity.net

koleksi aliyaku2 2

Ilalang, Diary 6: Sebuah Tiang Pancang Baru
DIARY 6: SEBUAH TIANG PANCANG BARU

Sebuah bayangan gelap menyelinap ke arah dapur. Dari geraknya jelas sosok itu adalah seorang laki-laki, yang bersijingkat mengendap-endap, seolah tak ingin diketahui kehadirannya. Secepat tiba di jendela di balik pintu sebelah kiri dapur, bayangan itu berhenti. Tangannya berupaya melepas kaitan daun jendela dengan hati-hati, sampai akhirnya didapatkannya sedikit celah untuk mengintip ke dalam.

Dalam remang-remang cahaya ruangan itu terlihat Surti tidur terlentang. Laki-laki itu membiarkan matanya beradaptasi dalam kegelapan. Perlahan tubuh gadis pembantu yang lumayan montok semakin jelas. Kulitnya kehitaman, sedikit mengkilat karena butiran keringat yang membasah di sekujur tubuhnya. Posisi kakinya yang mengangkang membuat darah di kepalanya semakin menggelegak. Sudah beberapa malam dia mengamati pemandangan ini, dan dengan cepat nafsunya langsung meninggi.

Beberapa hari lalu ia mencari celah agar pintu kamar itu bisa dibuka dengan leluasa, dan ia menemukan caranya. Ketika kamar itu kosong, ia melonggarkan sekrup selot pintu kamar ini. Selot yang memang sudah tua itu dengan dikerjainya. Dan ia yakin dengan sedikit sentakan pintu itu akan terbuka tanpa banyak hambatan.

Kini, ketika darahnya semakin menaik, segera didorongnya pintu itu dengan berat tubuhnya. "Klek," suaranya lemah terdengar di malam gulita yang senyap. Laki-laki itu terdiam sesaat. Telinganya bergetar mencoba menangkap barangkali ada suara mencurigakan yang tidak diinginkannya.

Sunyi.

Seringai kemenangan membayang di wajahnya. Matanya memerah memancarkan nafsu binatang yang tak lagi bisa dikendalikan. Ditutupkannya lagi pintu itu sebisanya. Dan perlahan tangannya menarik golok yang terselip di pinggangnya sejak tadi. Disiapkannya benda tajam itu di dekat bantal si pembantu. Sejangkauan tangan. Ia pasti memerlukannya bukan?

Perlahan laki-laki itu mendekat ke tubuh perawan yang terbaring di dipan kayu. Dipandanginya sekali lagi wajah pembantunya. Di dekatkannya hidungnya ke sekujur tubuhnya. Endusannya berhenti di ketiak Surti yang terbuka. Bau apek keringat bocah yang belum bisa merawat dirinya itu begitu menggairahkan, membuat penisnya menegang. Ia terus mengendus tubuh perawan di hadapannya ini. Dan ia tahu persis bagian tubuh mana yang paling diinginkannya. Disibakkannya daster yang sejak tadi sudah setengah terbuka, hingga celana dalamnya yang sedikit kumal, terpampang dengan jelasnya. Tubuh laki-laki itu semakin bergetar menahan nafsunya sendiri. Bulu romanya bahkan saling berdiri, tapi tidak, ia memang tak ingin terburu-buru. Ia ingin membaui terlebih dulu aroma yang jauh dari wangi ini. Ia menyukainya. Perlahan endusannya menuju ke pangkal paha bocah perempuan berusia 13 tahun itu. Dihirupnya aroma vagina dari luar celana dalamnya. Dan perlahan tangannya meraba pembantu kecil itu.

Seperti sudah diperhitungkannya, Surti bergerak, merasakan sentuhan yang membuat lelapnya terganggu. Tapi ternyata ia hanya mengubah posisinya dan tak terbangun. Dan laki-laki itu meneruskan aksinya, dengan kasar meremas kemaluan si bocah dari bagian luar celana dalamnya. Bocah perempuan itu spontan melek, terjaga dalam kebingungan.

"Jangan berteriak!" desis si laki-laki. Cekatan di raihnya golok yang disiapkannya tadi.

Surti kaget dan semakin tidak mengerti. Ia tak tahu kenapa majikannya berada di kamarnya, bahkan sambil menghunus golok, yang kini melekat di lehernya. Mata laki-laki itu melotot garang. Tangan kanannya masih menodongkan golok ke leher sedangkan tangan kirinya dengan kasar melepas paksa celdam rombeng yang dikenakan Surti. Bocah itu semakin ketakutan dan berusaha bangkit sambil berusaha menurunkan dasternya yang tersingkap dengan panik.

"Den, jangan!" bocah itu meronta hendak bangkit.

Meski belum dewasa, naluri kewanitaannya memberikan sinyal bahaya. Bocah perempuan ini bisa merasakan bukan jiwanya yang terancam, tapi sesuatu yang lain, yang ia belum mengerti.

Namun laki-laki itu sudah mata gelap oleh nafsu setan. Dengan kekuatan yang tak sebanding dengan pembantu cilik itu, disentakkannya tangannya ke dada Surti yang baru tumbuh sehingga bocah itu kembali terlentang.

"Diam!!" desis si laki-laki, "secepat kau berteriak, golok ini akan menggorok lehermu, ngerti???!!!!"

Tatapan Surti nanar. Ia setengah mengangguk ketika merasakan perih di lehernya. Sebuah luka telah tergores, dan ia tahu, kalau ia bergerak sedikit lagi, luka itu akan semakin dalam. Ia memegang lengan si laki-laki, berusaha menarik tangan yang memegang golok itu. Tapi semakin dia memberikan perlawanan, semakin kekuatan laki-laki itu menekankan golok ke lehernya. Akhirnya pembantu kecil itu menghentikan usahanya. Ia menangis dalam diam.

"Hehehehe, bagus!"

Laki-laki itu menyeringai lebar. Jantungnya berdegup kencang menyaksikan pemandangan di depannya. Seorang perempuan, tak peduli siapa dia, kini berada di depannya tanpa daya. Sayu mata penuh air mata itu semakin membangkitkan gairahnya. Ia seperti melihat seekor kelinci siap dimangsa si raja hutan. Dan dia adalah si raja itu. Saat ini.

Kembali diselusurinya tubuh yang setengah bugil itu dengan matanya. Dan sekali renggut, daster yang dipakai pembantu cilik itu robek memanjang, memampangkan tubuh yang semula ditutupinya.

Bocah itu semakin ketakutan. Terlihat dari matanya. Ia juga hendak memberontak, tapi lagi-lagi golok di lehernya menekan tajam.

Si laki-laki kembali menyeringai. Dengan satu tangannya yang bebas ia segera melepas celana kolor yang dikenakannya. Penisnya mengacung tegang. Kekuasaan yang sekarang berada di tangannya telah membangkitkan gairah birahi yang sejak tadi memang telah berserabutan menuntut pemenuhan. Perlahan ia naik ke dipan kecil itu, mengangkang di atas tubuh si pembantu.

"Jangan Den! Tolong Den, jangan!!!"

Ditatapnya dengan kejam bocah perempuan yang mulai mengerti apa yang akan terjadi itu. Rintihan memohon belas kasihan itu justru semakin membuat darahnya menggelegak. Rintihan itu seolah aba-aba baginya untuk segera menindih. Dibekapnya mulut si pembantu yang mulai memberikan tanda akan berteriak. Ditindihnya tubuh yang meronta itu. Dijambaknya rambut Surti dengan keras, dan rasa sakit akibat tarikan rambut itu membuat kaki Surti membuka. Tubuhnya masih meronta liar. Dan laki-laki itu kesulitan memaksakan kehendaknya. Semakin keras dijambaknya rambut si pembantu.

"Berhenti! Kalau kau tak mau menuruti aku, bisa kupatahkan lehermu." Tangannya menekan mulut dan rahang si pembantu kearah yang berlawanan dengan gerak tangan yang menjambak rambutnya.

Surti mendadak berhenti meronta karena kesakitan.

Lutut laki-laki itu segera mengambil posisi di sela paha Surti yang mengangkang. Dilepaskannya jambakan di rambut bocah itu dan kemudian dengan cepat tangannya mengarahkan penisnya yang telah mengacung tegak itu ke lobang vagina Surti, lantas didorongnya kuat-kuat. Dipaksanya kelelakiannya itu menusuk ke lubang yang tak lentur membuka. Gagal. Surti yang kesakitan akibat tusukan di kemaluannya itu kembali meronta dan gerakannya ini justru mempermudah penis itu menusuk kali berikutnya.

Bocah pembantu itu berusaha meronta-ronta dengan liar di bawah tubuhnya. Kedua tangannya berusaha mendorong tubuh yang menindihnya. Tapi percuma. Tenaga laki-laki yang telah kalap oleh birahi dan kekuasaan menghancurkan itu tak terlawan. Rontaan Surti justru dinantikannya. Semakin Surti meronta, pinggulnya semakin bergerak seolah menyambut hujaman demi hujaman penis laki-laki itu.

Bekapan di mulut surti semakin keras. Dan kini tangan si lelaki menekan leher si pembantu kuat-kuat. Sambil menarik dan menghujamkan penisnya bergantian, laki-laki itu kini juga mencari puting susu Surti. Rakus dikulumnya puting kecil itu. Bahkan kadang digigitnya kasar. Dan Surti semakin meronta kesakitan. Laki-laki yang sudah terbakar nafsu setan ini sama sekali tak peduli dan terus melumat puting itu hingga berdarah, dan dihisapnya darah itu dengan penuh gairah.

Dirasakanya gerakan tubuh Surti melemah. Tidak, tidak boleh berhenti, aku butuh keliaran itu, pikir si laki-laki. Dan kemudian kembali tangannya menjambak rambut Surti dan ditariknya ke belakang hingga kepala si pembantu itu menengadah kesakitan.

"Hhmmpp.."

Kepala Surti menggeleng-geleng liar, meronta kesakitan, tapi renggutan rambut ke belakang itu justru membuat pinggulnya melenting naik dan membuat urat penis si lelaki melesak lebih dalam. Gembira karena menemukan cara untuk membuatnya terpuaskan dengan cepat, lelaki itu segera menjambak kuat rambut Surti ke belakang dan memompa hujaman penisnya semakin cepat. Semakin cepat dan cepat sampai tiba-tiba dirasakannya mani panas menyembur dari otot kejantanannya. Dan laki-laki itu melesakkan dalam-dalam penisnya seraya berhenti bergerak.

Sesaat berlalu. Laki-laki itu membiarkan badai orgasme yang melandanya usai. Masih ditindihnya tubuh si Surti, tapi kini dilepaskannya jambakan dari rambut si pembantu.

Sambil mengatur nafas, si lelaki meraih kembali goloknya.

"Jangan pernah sekali-kali membicarakan kejadian ini. Kalau sampai kau membocorkannya, hm, aku tak ragu-ragu untuk segera menggorokmu! Paham??!!"

Bocah pembantu itu mengangguk ketakutan. Ia hanya bisa menangis ketika majikannya itu bangkit dan meraih bekas dasternya, mengelap penisnya yang kini telah layu, dan mengenakan celana kolornya.

Benci ditatapnya majikannya yang berlalu dari kamar itu dengan seringai kemenangan. Tapi apalah dia, dia hanya seorang pembantu cilik dari sebuah desa di pesisir pantai selatan sana. Dan Surti hanya bisa meneruskan tangisnya dalam gelap dan tanpa suara.

*****

Dua hari menjelang lebaran.

Ketika semua orang berpikir untuk mudik, berkumpul dengan sanak kadangnya, maka untuk Lang hari ini begitu menyiksa. Semakin mendekati akhir bulan puasa, suhu tubuhnya bisa naik turun tak karuan, demam. Bayangan bahwa sebentar lagi ia harus sungkem kepada suaminya, meminta maaf untuk kesalahannya selama setahun berselang, membuatnya tak bisa tidur lelap: Lang sebagai istri yang harus minta maaf duluan kepada Denni, suaminya. Kenapa tidak sebaliknya? Jujur saja, ritual itu begitu mengganggunya.

Tuhan, kenapa tidak segera terhapus rasa sakit ini? Kenapa perselingkuhan Denni dan Windy, adik kandungnya tak juga surut dari ingatan? Bukankah dirinya juga tak bersih dari perselingkuhan demi perselingkuhan?

Nama Abi dan Jossi tiba-tiba berkelebatan dalam benak Lang. Dua lelaki itu telah menularkan kekuatan kepada Lang untuk tetap menjalani perkawinannya. Tapi, mereka bukan bagian lagi dari kehidupannya saat ini. Abi hanya masa lalu. Jossi juga. Laki-laki itu pamitan kepadanya beberapa bulan lalu. Ia harus pindah ke Irian Jaya demi karir istrinya. Dan Lang harus merelakannya. Tapi, kenapa ia merasa tak juga lega telah membalas perlakuan Denni kepadanya?

"Hhhhh.,"

"Hei, kok menghela nafas gitu sih?" Lang merasa bahunya ditepuk Yeli lembut dari belakang. Dia tersadar berada di tengah kerumunan orang berbelanja di supermarket Matahari Malioboro.

...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.