peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


cerita.dewasa.8.peperonity.net

Temuduga Gadis Bertudung

Temuduga Gadis Bertudung
Kat mana dan sapa-sapa boleh tolong translate citer ni ke bahasa melayu. Saya tak fahamlah bila dibaca dalam bahasa melayu...sorry admin...tak tau nak letak kat mana.

( Temuduga Utk Iklan bertudung

Tak pernah kusangka sebelumnya. Me gadis-gadis bertudung ternyata begitu mudah. Pakai cara biasa, mendekati, merayu, memacarinya lalu menidurinya, jelas sulit. Mereka pasti sudah kabur sejak awal. Suatu hari, ideaa gila itu muncul lalu membaca deretan iklan di akhbar. Kubincangkan idea itu dengan empat temanku. Mereka ngakak, saking girangnya.

"OK, mulai hari ini kita bakal jadi pe dengan target khusus, awek-awek bertudung !" Kata Hassan, kawanku yang biarpun suaranya keras, akhirnya lembut juga.

Strategi mulai dijalankan. Hari itu juga kupasang iklan di akhbar terbitan esok. Oh ya, keluar modal sedikit. Sewa bilik hotel buat 3 jam saja. Iklannya begini: "Dicari, model produk kosmetik untuk remaja bertudung. Syarat, asal bertudung dengan hujungnya selak kebelakang (bukan tudung labuh), biasa berkebarung, 16-20 th, kulit putih, wajah menarik, tinggi min. 160 cm, belum menikah. Tawaran lengkap dengan gambar seluruh badan, dibawa sendiri ke hotel X bilik no. Y. Hanya hari ini, pukul 11.00-14.00"

***

Esoknya, kami sudah stand by di hotel. Hassan yang berwajah lembut, duduk di kerusi pendaftaran didampingi Jantan. Lalu, Jali dan Steven mendampingiku di kerusi dan meja yang diatur seperti kantor. Tentu saja, semua temanku memakai t-shirt dan seluar dalam. Biar tak nak kelihatan koneknya.

Belum jam 11, strategiku mendatangkan hasil. Seorang gadis Bertudung putih dengan ekornya dilibas ke bahu dan berkebarung coklat susu datang menenteng Surat.

"Betul di sini yang memasang iklan diluar ?" tanyanya kepada Hassan.

"Betul, Akak. Silakan tinggal tawarannya dan tunggu dipanggil. Jam 11 kita mulai temuduga," sahut Hassan.

Gadis itu menyerahkan Surat, lalu duduk di kerusi di luar bilik hotel.

Jantan membawa Surat tawaran gadis itu kepadaku. Aku tersenyum penuh minat kepada Steven dan Jali. Gambar gadis itu tampak semanis asalnya. Namanya Syifa Aryani. Umurnya baru 19 tahun, masih belajar. Tinggi 161 cm.

"Sayang kita tak nak boleh buat formulir ukuran tOKt dan cd ya, Brur !" kataku kepada dua temanku.

"Tak nak papa bos, ntar kita ukur sendiri berapa dalem aweknya," sahut Steven.

"Lee mau yang tadi, Steven ?" tanyaku.

"Bertuahnya kalau tak hendak mau," balasnya.

Dari mejaku, kulihat datang lagi berturut-turut tiga gadis bertudung dan berkebarung. Bertuahnya, semuanya cantik. Lalu, tepat jam 11, datang lagi sampai 6 orang. Aku memberi isyarat kepada Hassan untuk mulai memanggil semua awek.

***

Di depanku kini duduk Syifa. Huh, dia betul-betul cantik. Hidungnya mancung, bibirnya tipis.

"Syifa ya ? Pernah jadi gambar model ?"

"Belum," sahutnya. Ufff suaranya lembut sekali. Rasanya ingin segera mendengar rintihannya.

"Bagus, kami memang cari yang amatir. Lalu kenapa kamu tertarik bertemuduga ?"

"Yaaa, karena saya pikir ini produk yang spesifik,"

"Begini. Misal ya, contoh kamu nanti diminta pakai tudung yang agak pendek dan kebarung yang agak ketat. Mau ?" aku ingin tahu reaksinya jika tubuhnya dibuat agak terbuka.

Reaksinya luar biasa. Keningnya berkerut. Kulit wajahnya yang putih jadi memerah.

"La, saya pikir iklannya mencari gadis yang bertudung dengan hujungnya selak kebelakang dan berkebarung ?" sahutnya.

"Saya kan bilang contoh. Kamu betul-betul tak nak mau tampil seperti itu ya ? Kenapa ?"

"Malu," jawabnya singkat. Ini dia. Aku ingin melihat seorang gadis pemalu dipaksa bertelanjang bulat.

"Begitu. Maaf ya, Syifa pernah punya pakwa ?"

Lagi-lagi wajahnya bertukar merah.

"Ah, ya belum. Maksud saya, tak nak akan. Saya lebih suka terus menikah. Boleh tahu, kenapa tanya itu ?" Wah, ini awek pemalu tapi tegas juga.

"Ya, kami tak nak ingin dong citra produk rusak karena citra modelnya," jawabku dengan cerdas.

"OK, temuduganya cukup. Kamu sudah tinggal no telepon dan HP di tawaran kan ? Esok, yang diterima akan kami telepon dan terus pengambilan sampel gambar di lokasi yang ditentukan esok," kataku menutup dialog. Padahal, aku masih ingin lebih lama dengan awek satu ini. Tapi, 9 awek lain menunggu di luar. Eh, tak nak, ternyata sudah belasan !

***

Wah, susah juga menyeleksi dari akhirnya 21 awek yang masuk.

"Gimana kawan ? Yang mana yang mau kita sikat esok ?" kataku.

"Susah bos. Semuanya buat ngaceng aku !" sahut Jali.

Tiba-tiba Hassan menyampaikan usulan yang tak aku pikirkan sebelumnya.

"Hoi!!. Kenapa pula bingung-bingung. Ambil semua lah. Sehari 5 atau 6. Kan kita boleh pesta 4 hari !" katanya.

Bertuahnya, Hassan betul !

***

Esoknya, tugas Hassan menelepon 5 calon korban. Kami sudah memilih urutan prioritas. Pertama, jelas Syifa Aryani. Kedua, Nur, gadis berkacamata yang baru lulus Fakultas Psikologi. Ketiga, Rina, mahasiswi yang juga parttimer di sebuah toko kaset. Keempat, Isni, siswi SMU kelas 1. Kelima, Ramadhani Putri, mahasiswi Fakultas Hukum
semester 3.

Pagi-pagi sekali, Hassan sudah menelepon. Intinya, ia minta mereka datang tepat pukul 10.00 ke lobbi hotel X. Sembari ucapkan selamat tentunya, agar mereka semangat dan mau datang.

***

Yang pertama datang adalah Isni, calon korban termuda.

"La, kamu tak nak sekolah ?" sapa saya.

"Hi hi, bolos. Habis, kapan lagi ada kesempatan begini," katanya.

"Iya betul. Mungkin cuma kali ini ada kesempatan seperti ini," sahutku dengan makna yang berbeda. Isni tampak segar betul. Sekilas, meski paling muda, terlihat tonjolan dadanya tak boleh disembunyikan oleh tudungnya yang panjang.

Lalu, menyusul Rina. Kulit tangan dan wajah gadis ini betul-betul putih. Hoi!!kan, urat di baliknya tampak kebiruan. Ada beberapa jerawat di wajahnya. Rina yang ceria, saat temuduga sempat menunjukkan sikap kurang pede.

"Saya jerawatan begini, kok boleh lolos?" katanya.

"Ya boleh. Kosmetik produk kami tak hanya menyamarkan, tetapi juga boleh menghilangkan jerawat," sahutku. Tapi yang kubayangkan adalah menyemprotkan sperma ke wajahnya itu.

Yang menarik pada Rina juga, adalah payudaranya yang besar. Tudung lebarnya yang berwarna hitam pun seringkali menampakkan cetakan gundukan besar itu. Lalu, pinggulnya pun besar. Model begini, enaknya disikat dari belakang.

Akhirnya, satu per satu datang dan komplit.

"OK, selamat datang semuanya." kusapa semua calon pemuas nafsu ini.

"Kita akan ke lokasi pengambilan sampel gambar di pegunungan. Di sana, juru rias dan juru gambar sudah siap. Jadi, sebaiknya kita segera berangkat," lanjutku.

Jantan mengemudikan kereta L300 kami. Aku di sebelahnya. Di belakang, kelima gadis berbagi tempat duduk. Dasar awek, kalau kumpul, biar baru kenal rame juga. Tapi aku tak nak peduli. Aku lebih peduli rintih kesakitan mereka nanti. Kukeluarkan penis dan mulai onani. Jantan melirik dan geleng-geleng.

***

Namanya juga pegunungan, banyak lokasi yang walaupun terbuka, tetapi betul-betul sepi. Steven, Jali dan Hassan sudah survei sebelumnya. Mereka sudah dirikan tirai di lapangan berumput yang dikelilingi pepohonan agak rapat. Betul-betul ***** dan jauh dari pemukiman serta orang lewat.

Para gadis turun dari kereta. Angin gunung membuat kebarung mereka sesekali mencetak bentuk tubuh mereka. Steven keluar dari tirai dengan membawa kamera. Ia menghampiri kami, sekitar 20 meter dari tirai.

"Juru rias sudah siap. Gantian deh masuk. Akak Syifa dulu," katanya.

Syifa tersenyum. "Aku duluan ya ?" katanya kepada teman-temannya. Aku dan Steven tersenyum geli.

***

Di dalam tirai, Hassan dan Jali sudah siap di dua sisi pintu tirai. Begitu Syifa masuk, Jali membekap mulutnya. Hassan dengan sigap menelikung kedua tangan gadis itu dan mengikatnya di belakang punggungnya.

Serangan kilat itu betul-betul membuat Syifa tak berdaya. Apalagi, kini mulutnya disumpal celana dalam lelaki yang bau. Entah milik siapa. Gadis itu kini terlentang di tanah. Matanya mendelik. Ia mengerang-erang, tapi tak boleh lebih keras lagi. Apalagi, kini Hassan mendekatkan belati yang tajam ke lehernya.

"Berani bersuara, kamu habis !" ancamnya.

Syifa takut betul. Sebab, kini tudungnya disingkapkan, lalu kancing kebarungnya diputuskan oleh belati Hassan. Dengan kasar, bagian dada kebarung Syifa dibuka lebar-lebar. Lalu, kaus dalam dan BH-nya dicabik-cabik. Syifa menangis. Payudara telanjangnya kini jadi sasaran jamahan Hassan dan Jali.

Hassan kini malah mengulum puting kanannya. Tangan kasarnya mulai meremas-remas pangkal paha Syifa.

Steven mengintip ke dalam tirai. Dilihatnya telapak tangan Hassan ada di balik cd Syifa. "Bagaimana, siap masuk lagi ?" katanya.

Jali memberi tanda jempol.

"OK, sekarang Akak Rina," kata Steven.

Rina berjalan riang, seperti melompat-lompat. Dan akhirnya, ia pun mengalami hal yang sama. Kedua tangannya diikat, mulutnya disumpal cd lelaki yang juga bau, kebarungnya dikoyak dan sebelah payudaranya yang montok dikeluarkan dari cup BH-nya. Steven pun sempat-sempatnya masuk hanya untuk memelintir puting Rina dan menghisapnya. Tapi tak cuma
itu. Ia jua menyempatkan menyingkap cd Rina, lalu menguakkan bibir vaginanya dan menyedot-nyedot klitorisnya.

Lalu Steven keluar, kini memanggil Ramadhani Putri.

"Silakan Akak Putri, teman-teman di dalam udah tak nak sabar," kata Steven di depan tirai. Begitu Putri masuk, dari belakang tanpa setahu siapapun, Steven meremas pantatnya.

"Eihhh..." Putri terpekik. Tapi cuma itu. Mulutnya terus terbungkam oleh telapak tangan Hassan. Dalam sekejap, nasibnya seperti dua temannya terdahulu. Bagian muka kebarungnya terbuka lebar. Hassan dan Jali pun punya mainan baru. Keduanya kini berebut menggigit-gigit puting Putri.

***

Dari depan tirai, Steven memberi isyarat jempol. Aku lalu memandangi dua calon korban terakhir. Nur meski berkebarung, bahannya dari kain yang lembut, sehingga aku boleh melihat garis cd-nya di pantatnya yang bahenol. Sementara si ABG Isni tampak betul-betul ranum. Ia bersedekap sehingga tonjolan dadanya sedikit terlihat di balik tudungnya.

"Yuk ke sana," ajakku kepada keduanya.

Nur jalan di depan. Kunikmati betul goyangan pantatnya. Pantatnya begitu montok, padahal tubuhnya cenderung kurus.

"Sudah beres Steven ?" tanyaku.

"Sudah bos. Hassan dan Jali juga sudah beres kok," sahutnya.

"La, periasnya cowok toh ?" Nur agak kaget.

"Iya. Tapi Nur tak nak usah dirias deh. Udah cakap kok. Saya aja ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.