peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


cerita.seks.4.peperonity.net

Shima 2


Shima and Kent
episod
Conference and Bontot


Dalam hal pekerjaan Shima tidak lari dari melakukan tugas tugas luar …meeting dan
conference menjadi sebahagian daripada tanggungjawab kepada syariket. Dan sambil
enjoy , bagi Shima, bukan cuma untuk mendapatkan pengetahuan baru. Ia juga
mendapatkan banyak relasi baru yang penting dalam business . Apalagi, conference
yang diikuti Shima kali ini di Awana, Genting Highland adalah sebuah conference
bertaraf international atau dunia . Banyak ahli dan eksekutif dari a round the world hadir.
Pada masa istirahat, Shima berkenalan dengan mereka dan saling bertukar business
card Lalu, ada beberapa yang tertarik melanjutkan pembincangan business di tengahari
. Dalam waktu dua hari saja, tas tangannya penuh berisi aneka business card Namun
conference ini juga boleh sangat meletihkan dan sangat membosankan. Terutama
ketika memasuki hari ketiga yang juga hari terakhir ini. Selain bosan oleh topik yang
semakin tidak menarik, Shima juga bosan bertemu orang-orang berpakaian formal,

Conference belum lagi selesai, masih jauh dari penutupan yang akan diadakan pukul 8
malam, tetapi Shima sudah tak tahan lagi. Pukul 11 pagi ia menyelinap ke luar, balik ke
bilik hotel. Dengan cepat ia berganti pakaian, berseluar jeans ketat pendek yang
menampilkan keseksian belakangnya , dan berblaus tanpa lengan, tanpa beha.
Kacamata hitam menambah menawan penampilan ranjang shima ini, dan sebuah topi
baseball Chicago Bull melindungi rambut perangnya dari sengatan matahari Genting.

Dengan teksi, Shima pergi ke Genting Thame Park , lebih jelas lagi ke pub yang dulu
pernah ia kunjungi bersama Blake ketika berhibur . Pub itu memang berada di lokasi
yang hiruk-pikuk, seperti pasar, tetapi Shima menyukainya. Suasana di pub ini penuh
keseronokkan . Percakapan dilakukan seenaknya no formality here! . Pakaian
dikenakan sekenanya. Duduk pun tak pernah diatur-atur. Shima menghenyakkan
tubuhnya di kursi bambu, mengangkat kakinya yang indah seperti layaknya orang kaya
duduk . Gin-tonic segar sudah ada di tangannya, dan seorang lelaki yang terbuka
dadanya sudah jadi teman boraknya.

Tak lama kemudian, lelaki itu bosan dengan Shima, dan digantikan oleh seorang
pelancong Itali yang berbahasa Inggris patah-patah, tetapi sangat tampan seperti
Leornado De Caprio . Ia juga nampak berusaha menampilkan sisi gentleman-nya, tetapi
masih saja tak berhasil menyembunyikan keinginan utamanya: meniduri Shima dengan
sesegera mungkin. Dalam hati Shima tertawa melihat tingkah lakunya.

Lelaki ketiga dan keempat sama saja. Dua-duanya datang dari Amerika, dan duaduanya
dikalah oleh Remy (itulah burunya) Shima, selalu membandingkan lelaki-lelaki
yang ditemuinya. Shima akhirnya menyerah, merasa tidak akan mendapatkan teman
lelaki malam ini, dan memutuskan untuk balik ke hotel untuk makan petang . Hari telah
menunjukkan pukul 2 petang . Bergegas dibayarnya bon minuman, lalu ia melangkah
ringan ke luar pub.

Langkahnya terhenti kira-kira semeter dari pintu.O-my-God, Shima menjerit dalam hati
melihat seorang lelaki yang baru muncul di pintu pub. Rambutnya yang panjang diikat
terkuncir ke belakang, berwarna hitam legam. Seperti hero dalam film seri Renegade.
Hidungnya tidak terlalu mancung, tetapi okeylah dengan wajahnya yang agak persegi.

Pasti ada darah Latin atau Indian di tubuhnya. Matanya tajam seperti burung elang,
dengan alis yang menggores tegas. Bibirnya juga membayangkan ketegasan, dengan
rahang kokoh. Tubuhnya tegap, dan di sebalik baju jelas tersembunyi otot-otot perkasa,
walau tak menonjol-nonjol berlebihan. Shima terkedu, ... hendsome sekali lelaki ini,
dagunya yang terbelah mengingatkan ia pada bintang film Mel Gibson.

"Hi..," siapa si hendsome dengan ringan ketika mereka berkepit "Hello ...., " sahut Shima
sambil melambatkan langkah, lalu dari mulutnya tahu-tahu sudah meluncur kalimat, "...
gorgeous, care for a quick lunch near the balkony "Lelaki itu berhenti melangkah,
memutar tubuhnya perlahan, "Say that again?" katanya sambil memandang tajam tetapi
juga ramah. Shima menahan nafas melihat kedua mata lelaki itu. Begitu memikat, dan
begitu seksi! "I said I was going for a lunch in a restourant near the balkony ," jawab
Shima sambil menyunggingkan senyuman termanisnya. "And...?," lelaki itu berjalan
mendekat, menelengkan kepalanya dengan gaya menawan.

"And you are invited, that is if there is no other appointment," jawab Shima, tetap
tersenyum, dan kali ini menambahinya dengan kerlingan menggoda. Lalu, seakan-akan
tidak sungguh-sungguh, Shima mulai berjalan meninggalkan pub. Hatinya berdebar,
akankah lelaki itu mengikuti? Langkahnya dipercepat, dan kini Shima sudah hampir
keluar dari pintu, dan hampir menyerah, ingin membalikkan badan dan mengajak sekali
lagi. "Hei, wait!" terdengar suara lelaki itu. Shima melepas nafas lega. Berhasil!

Mereka makan petang dengan lahap di cahaya neon . Udara panas dan kelembaban
yang tinggi membuat tubuh keduanya berkeringat terus. Berulang kali Kent -lelaki itu-
menghapus keringat dari wajah dan lehernya. Begitu pula Shima, telah menghabiskan
berlembar-lembar tisu. Empat botol coca-cola telah pula habis direguk. Sebotol besar Bir
Carsberg telah pula pantas diminum Kent. "Sebaiknya, aku buka saja baju," ucap Kent
sambil mulai membuka abjunya i. Shima tertawa kecil, lalu segera berhenti kerana
melihat tubuh lelaki di depannya. Untuk orang kulit putih, tubuh Kent benar-benar
sempurna kerana well-tanned (menjadi coklat kerana terbakar matahari secara merata).
Nampak berminyak berpeluh, tubuh itu sungguh menggairahkan dengan sedikit bulubulu
di dadanya. Hmmm,.. gumam Shima dalam hati, bagaimana rasanya menciumi
dada yang bidang itu?

"Now ... it feels lots better!" sergah Kent langsung melipat baju Sambil menyuap, Shima
tak lekang mengerling melihat tingkah laku lelaki di hadapannya. Restoran teman
mereka makan tidaklah terlalu formal. Lagipula, ini Genting , orang boleh makan tanpa
baju ye tak!!! . "Aku tidak boleh mengikutimu….bukak baju ," ucap Shima dengan mulut
penuh, "Kecuali kalau ingin semua orang melihat ke sini." Kent memandang ke arah
dada Shima, lalu bercakap pendek, "I see ..." Mereka tertawa-tawa lagi sambil
melanjutkan santapan. Sungguh senang rasanya Shima mendapatkan teman makan
seperti Kent. Lelaki ini tanpa pretensi, selalu apa adanya. Selain itu, ia juga penuh
dengan humor dan sebaliknya selalu mahu tertawa mendengar kelucon dari Shima.
Makan petang terasa bertambah nikmat, walau udara sangat panas. Mahu rasanya
berlama-lama dengan lelaki ini, dan kepala Shima pun sebenarnya sudah dipenuhi
rencana. Bagaimana caranya mengundang lelaki ini ke hotelnya??????

Selesai makan petang , Kent mengajak Shima naik motor Viragonya….. Motor itu
nampak hebat , berwarna hitam dihiasi metalic di sana-sini. Wow!.. betul-betul gagah
lelaki itu di atas motor besarnya. Shima segera memeluk pinggang Kent erat-erat ketika
motor melesat meninggalkan Rambut Shima yang perang berkilauan diterpa mentari ,

sementara Kent masih terbuka dadanya membiarkan tubuhnya diterpa angin kencang.
Dengan cepat mereka meninggalkan Pub di Theme Park yang ramai, melintas Awana
menuju ke bahagian selatan Genting . Enjin motor menderu mantap dan kedua
pasangan ini riang hati menikmati pemandangan disekitar Genting Resort.

Akhirnya mereka tiba di Apartment Kent, indah permai di bahagian selatan Genting , dan
Kent memarking motornya dibawah. Ah, inilah rupanya tempat yang tadi diceritakan oleh
Kent: studio musik tempat lelaki ini menghasilkan lagu-lagunya. Kent adalah seorang
pencipta musik film, tetapi ia merahasiakan judul film yang saat ini sedang digarapnya.
Katanya, nanti kalau film sudah hampir selesai, ia pasti akan memberitahu Shima. The
first lady!

Studio itu "disembunyikan" di dalam apartment bergaya Hindustan , lengkap dengan
beranda dan patung-patungnya. Dari luar, apartment itu tak berkesan apa-apa, sama
dengan apartment lain di sekitarnya. Tetapi di dalam, setelah melewati ruang tamu,
terdapat ruang besar yang dirancang sedemikian rupa sehingga kedap suara. Di sinilah
terdapat alat-alat musik dan audio-recording canggih. Sungguh tak boleh diduga dari
luar!

"Menakjubkan!" ucap Shima sambil melihat berkeliling. Kent tersenyum bangga,
merentangkan tangannya, menjelaskan sepintas tentang alat-alat yang ada di sana.
Sungguh hebat studio ini, jauh dari keramaian tetapi juga tidak mengganggu lingkungan
kerana ruangannya kedap suara. Lebih hebat lagi, ada sebuah jendela cukup besar di
sisi timur, sehingga pemusik dapat melihat keluar, ke arah hamparan bukit yang
menghijau. Shima berdiri di depan jendela itu, menikmati pemandangan bagai sedang
melihat lukisan bogel . Kent berdiri di belakangnya, menjelaskan bahwa kaca jendela itu
berlapis dua dan bersifat satu-arah. ( one side mirrorr) Artinya, orang di dalam boleh
melihat keluar, tetapi orang di luar tidak boleh melihat ke dalam. Dibuat berlapis dua,
agar suara juga tidak keluar dari sana. Shima berdecak-decak kagum.

Sambil melihat keindahan hamparan bukit Shima merasakan tubuh Kent dekat sekali di
belakangnya. Sangat dekat, bahkan. Sebuah aliran birahi samar-samar menjalari tubuh
wanita yang sejak tadi sebenarnya sudah terpikat oleh lelaki jantan ini. Sambil berpurapura
bertanya dan menunjuk ke suatu tempat, Shima mengundurkan badannya. Kedua
bukit belakangnya yang kenyal segera menempel di tubuh bahagian depan Kent.
Mmmm……... Kent menjelaskan dengan sabar, sementara tangannya ringan memeluk
bahu Shima, membuat wanita ini merasa nyaman berada di dekatnya. Suara Kent yang
agak berat tetapi tenang, menambah daya pikatnya. Suasana yang sepi (para pemain
musik lainnya sedang berlatih) menambah syahdu suasana, dan Shima semakin
merasakan kehangatan sensual memenuhi tubuhnya.

"Mahu minum apa?" tiba-tiba Kent bertanya sambil merengkuh Shima yang masih sibuk
berpikir tentang bagaimana caranya memulai percumbuan Shima tidak menjawab, ia
mengangkat mukanya untuk memandang wajah Kent yang dekat sekali dengannya.
Lelaki itu memandang lembut, tersenyum tipis dan menunggu jawaban Shima. Tetapi,
melihat mata biru bening dan bibir yang mengembang menggemaskan itu, Shima
seperti kehilangan kata-kata. Ia diam saja, mencari-cari reaksi di mata Kent.
...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.