peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


cerita.seks.4.peperonity.net

Shima 4 akhir


Shima Shake & Nora
episod
Di Saat Cipap Berlaga


Selepas daripada conference di genting tempoh hari , Shima mengajak Shake , lelaki
kacak yang ditemuinya semasa conference tersebut beserta dengan Nora untuk ke
apartmentnya menyambut hari lahirnya Shima sebenarnya sudah sangat "siap"
melayani Shake , kerana lelaki hendsome ini sepanjang party tersebut beliau tak henti
membujuk-merayu Shima. Dalam setiap kesempatan, ia memperlihatkan dan
menyatakan keinginannya untuk bercumbu. Terkadang Shima agak malu, takut
diperhatikan oleh geng dan temanya yang lain dan takut disangka terlalu
mengistimewakan Shake . Tetapi tamu lain nampak nya masing-masing sibuk dengan
urusan mereka. Cuma satu tamu yang tak hentinya memperhatikan mereka, kadang dari
kejauhan, kadang dari dekat. Dia lah Nora, gadis molek bermata erotis itu! Ketika Shima
pergi ke ruang tamu setelah mengantar para tamunya pulang, Shake nampak duduk
santai menonton siaran berita CNN ( Mega TV) di TV. Tadi ia kata tak ingin pulang dulu,
dan Shima tak boleh mengusirnya kerana setengah dari hatinya ingin lelaki ini tetap
tinggal. Nora juga tetap tinggal, tetapi ia tidak kelihatan di ruang tamu. Oh,.. ya! gadis itu
tadi minta izin kepada Shima untuk menggunakan bilik mandi. Kata gadis itu, badannya
berkeringat setelah menari tak kurang dari 2 jam. Shima tentu tidak dapat menolak. Ia
mengantar Nora ke biliknya, meminjamkan baju untuk mandi. Waktu itulah, Shima
sempat melihat gadis itu menanggalkan bajunya di bilik mandi yang pintunya tidak
ditutup (apakah ia sengaja?). Harus diakui oleh Shima, tubuh gadis itu sangat mulus
sempurna, penuh lika-liku yang menjanjikan. Sangat-sangat seksi!

Di ruang tamu, Shima menghempaskan tubuhnya di samping Shake . Kakinya agak
penat setelah sepanjang malam berdiri. Dengan santai, ditumpangkannya kedua kaki ke
atas meja. Shake mengalihkan pandangan dari TV , menoleh ke arah Shima sambil
tersenyum. Ah! Shima suka sekali senyum itu: manis dan juga terasa hangat-bergairah.
Dagunya nampak membiru kerana habis bercukur. Minyak wanginya yang semerbak
menambah kesan hendsome lelaki ini. Matanya, ya,... matanya itu juga pandai
membakar sesuatu yang memang mudah terbakar di dalam tubuh Shima!

"Mahu aku gigit?" ucap Shake setengah berbisik sambil menggeser duduknya lebih
dekat. Shima mengangguk sambil tersenyum tak kalah manis. Televisi menyiarkan
berita peperangan di Kamboja. Suara shower samar-samar datang dari bilik utama.
Shake segera memijat kedua kaki Shima setelah menyingkap gaunnya sampai ke lutut.
Betis Shima yang mulus nampak semakin mulus dalam suasana ruang tamu yang tidak
terlalu terang. Tangan Shake ternyata cukup ahli dalam memantat, menimbulkan rasa
nyaman yang perlahan-lahan merayap ke seluruh penjuru tubuh Shima.

Shima menyenderkan kepalanya ke sandaran sofa, memejamkan matanya, membiarkan
perasaan rileks menggantikan kegalauan yang sejak tadi membuatnya gelisah. Kini,
tangan Shake bagai menaburkan air sejuk, mengurangi kegelisahannya. Namun,
setelah kegelisahan itu hilang, muncul perasaan baru yang tak mengurangi debur
jantungnya. Itu lah birahi yang tadi ditahan-tahan; kini mulai bergejolak seirama gigit n
Shake .

Perlahan-lahan Shima lupa sekellilingnya, lupa pada pertanyaan-pertanyaan yang tadi
memenuhi kepalanya. Perlahan-lahan pula gigitan Shake semakin naik, dari

pergelangan kaki ke betis. Dari betis ke pangkal lutut. Dari pangkal lutut ke paha. Gaun
panjang Shima semakin tersingkap, sehingga kini sudah menampakkan seluruh paha
dan sedikit seluar dalam dalamnya. Shake berkali-kali menelan ludah memandang
kedua kaki Shima yang sangat sensual itu. Telapak tangannya terasa nikmat menyentuh
kulit mulus yang di sana-sini ditumbuhi bulu pirang halus itu.

Shima mengerang pelan ketika tangan Shake mengusap-usap permukaan kedua
pahanya. Oh... rasa geli menyelinap ke pangkal pahanya, ke lepitan-lepitan di sana.
Apalagi kemudian salah satu tangan itu naik semakin tinggi, mengusap-usap bahagian
depan cipap Shima yang agak menonjol itu.Shima menggeliat ketika merasakan nafas
Shake yang hangat menerpa lehernya. Bibir lelaki itu kini dengan leluasa menjalari
tengkuk dan bahagian bawah telinganya. Itulah bahagian-bahagian sensitif wanita yang
selalu akan membangkitkan api birahi. Shake nampak nya pro dalam hal ini. Sebentar
saja, Shima sudah merasakan tubuhnya terbakar api asmara.

Harum sekali wanita ini, pikir Shake sambil terus menciumi leher Shima yang jenjang.
Harumnya tak semerbak seperti kebanyakan wanita, melainkan lembut nyaris tak
tercium hidung. Harum yang mendatangkan perasaan rindu, selain juga gairah sensual.
Shake senang sekali membenamkan hidungnya di kulit putih mulus agak sedikit di
bawah telinga Shima. Lalu Shima tersentak terdiam ketika salah satu jari Shake tahutahu
sudah menyelinap ke bawah seluar dalam dalamnya, menyentuh si Kecil Merah
yang sudah sejak tadi menegang. Sentuhan itu sangat tiba-tiba dan tak terduga.
Menimbulkan sergapan birahi yang memenuhi seluruh tubuh dalam sekejap. Tak
terkendali, kedua paha Shima juga langsung membuka dengan cepat.

Shake pun kini leluasa mengelus-elus permukaan cipap Shima, menyelipkan jarinya di
antara dua bibir yang membasah di bawah sana. Ujung jarinya segera diselimuti air
mani tipis yang hangat. Wanita ini sudah sangat terangsang, pikirnya girang. Ia
menginginkan percumbuan walau pura-pura menolak! Shima kini sungguh tak ingat apaapa
lagi. Terutama, ia tak ingat bahwa Nora masih bersama mereka walaupun kini
sedang mandi di dalam. Sentuhan dan ciuman Shake membuatnya sangat bergairah,
dan kini dirinya cuma punya satu keinginan: segera disetubuhi oleh lelaki yang
mengagumkan hatinya itu. Tubuhnya telah terbuka-terpampang lebar. Cipapnya sudah
terkuak-tersedia, siap dihujam-ditikam oleh batang Shake yang pasti kekar dan kokoh
itu. (Shima sering memandang ke arah tubuh bawah Shake setiap kali lelaki itu
memakai jeans ketat).

Mulut Shake kini merayap turun, dan dengan dagunya lelaki itu mendorong gaun Shima
di bahagian atas hingga terkuak lebar. Kedua tetek wanita yang menggairahkan ini
segera tersembul keluar dari persembunyiannya. Wow,.. Shake menelan ludah
kembali,.. memandang dua bukit menantang-menggairahkan di hadapannya. Tak sabar,
ia sergap salah satu puting yang memerah-menonjol itu. Aaaaah...! .. Shima mengerang
keras, menggeliat merasakan panas mulut Shake mencengkram puncak dadanya.
Rasanya nikmat sekali diperlakukan serba penuh kejutan seperti ini! Lalu segalanya
berlangsung cepat. Shima tak pernah tahu, kapan seluar dalam dalamnya lolos
melewati kedua kakinya. Tahu-tahu ia sudah setengah telanjang, dan gaun panjangnya
sudah tak berfungsi lagi. Ia tersandar dengan kedua kaki mengangkang, duduk di
pinggir sofa, nyaris merosot jatuh. Cipapnya yang kini sudah basah, nampak terkuak
lebar, ditelusupi oleh jari-jari Shake yang sangat cekatan. Si Kecil Merah di lepitan di
bahagian atas, kini sudah nampak jelas, berkilat diselaputi lendir tipis. Berkali-kali ujung
jari tengah Shake bermain di sana, membuat Shima menggeliat kekiri-kekanan. Berkali

kali pula salah satu jari yang lain masuk menelusup ke liang cinta Shima yang sudah
sangat basah itu.

Kedua tangan Shima erat merengkuh leher Shake , membuat lelaki ini semakin erat
menindih tubuhnya. Salah satu kaki Shima terangkat sedikit ke atas, tersangkut di
tangan sofa, membuat cipapnya semakin terkuak lebar, terpampang bebas. Tangan
Shake semakin leluasa bermain di sana. Gairah Shima pun semakin membara. Tahutahu
Shima merasa tubuhnya melayang. Shake membopong wanita molek ini dengan
sekali rengkuh. Kuat sekali lelaki itu. Dengan santai ia membawa Shima ke ruang tidur
utama sambil menciumi bibirnya. Shima tetap memejamkan mata, membiarkan sang
pangeran membawanya ke peraduan cinta. Membiarkan pula bibirnya dilumat dan
digigit mesra. Membiarkan segalanya terjadi begitu saja.

Membiarkan pula Nora bergabung di ruang tidur! Di bilik tidur, Shake menurunkan tubuh
Shima dan mulai menelanjanginya. Shima berdiri saja diam seperti maneqquin yang
sedang didandani. Sekejap tubuhnya sudah telanjang bulat, mulus menantang
menakjubkan siapa pun yang melihatnya. Shake kmudian menciumi seluruh permukaan
dada Shima dengan bergairah, membuat wanita ini menggelinjang kegelian. Shima pun
merasakan dirinya melayang-layang di awan birahi di langit cinta yang luas. Ia terus
memejamkan mata, seakan-akan takut terbangun dari mimpi yang menggairahkan ini.
Rasa geli-nikmat memenuhi seluruh permukaan dadanya, membuatnya menggelinjanggelinjang
liar.

Lalu, samar-sama dirasakannya seseorang meraba-raba bahagian belakang tubuhnya.
Siapa itu? Nora!!.. sejenak Shima panik memikirkan kemungkinan seorang wanita
mencumbu dirinya. Sejenak tubuhnya menegang antara ingin menghentikan apa pun
yang terjadi dan ingin melanjutkan. Di belakang, Nora menggigit l pantat Shima Oh,
Shima terperangkap di antara dua serbuan-serbuan kenikmatan yang memenuhi
seluruh tubuhnya. Berdirinya sudah limbung, untung tangan-tangan Shake kokoh
menopang tubuhnya. Shima mengerang-erang saja, merintih-rintih nikmat, merasakan
dua mulut panas membakar badannya. Segala kepanikan tiba-tiba saja sirna, berganti
kenikmatan belaka. Lalu, satu tangan Nora bermain di cipapnya, mengusap-membelai
bibir-bibirnya. Jelas sekali, sebagai wanita, Nora tahu di mana harus meraba. Ahhh,...
Shima kegelian, membuka kedua pahanya semakin lebar. Mulut Shake telah pula
sampai di salah satu putingnya. Oohh,... Shima mengerang mendorong dadanya
semakin kedepan, mengundang Shake untuk lebih kuat mengenyot-menyedot.

Jari-jari Nora menguak bibir cipap Shima, lalu menggosok-gosok bahagian dalamnya.
Satu tangan Shake merayap ke bawah, menemukan si Kecil Merah tak terjamah.
Dengan jari tengah, Shake mengurut-menelusur tonjolan itu. Aaah..., Shima menjerit
tertahan merasakan kenikmatan datang dari mana-mana.

"Oooh..., yess!" erang Shima ketika merasakan lidah Nora menjilati celah-celah
bahagian belakangnya, turun perlahan menuju cipapnya yang telah mulai basah. Tanpa
sadar ia menunggingkan tubuhnya, memberikan semakin banyak keleluasaan kepada
gadis itu. Kini, sama sekali tidak ada panik di kepala Shima. Cuma ada kenikmatan dan
keinginan untuk segera melanjutkan permainan cinta ini ke tingkat yang lebih liar lagi,
lebih bergairah lagi.

"Nggg...!" rintih Shima ketika ternyata Shake juga turun, menciumi ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.