peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


ceritaku.1.peperonity.net

" GEMEZ DECHHH "

November 1998
Bandung lagi sering-seringnya hujan, becek dimana-mana. I hate it ! Cuaca ini membuat hampir setiap aku selesai kuliah harus bengong dulu di kampus, nunggu hujan reda, abis naik motor sih ! Hingga sore hari sekitar jam 16.00 hujan mulai reda. Pada saat aku sedang kesulitan menyalakan motor, (platina basah, maklum.. motor keluaran 1961), ada seorang cewek yang kukenal -tapi bukan di kampus ini- sedang berjalan di selasar depan lapangan parkir dengan wajah kusut masam. Betul itu si Tira ! Kupanggil dia, dan ia menoleh. Ia menyapaku sekedarnya dan berhenti berjalan. Sambil berlari kecil kuhampiri tuh cewek, "Halo ! Apa kabar loe ? Ngapain di sini ? Nyari data ?", tanyaku seperti berondongan senapan M-16. Dengan senyum sedikit ia menjawab, " Ya gitu deh ! Gue musti nyari data di Fakultas Arsitektur buat skripsi gue nih !" sambil tetap mengenakan wajah kusutnya. "Lho ? Kan loe anak psikologi ? kok nyari data di arsitek?", tanyaku cepat karena memang sudah sekian lama nggak ketemu nih anak dan secara tak sadar ingatanku melayang..

Agustus 1998,
Di sebuah Sanggar Tari Bali di kotaku, ketika itu aku sedang menjemput sahabatku Jeannie (cewek blasteran Cina-Amerika) pulang latihan tari Bali. Telah berkali-kali aku menjemput Jeannie namun aku nggak pernah melayangkan perhatian pada cewek-cewek yang latihan di situ, abis cowok sendiri, males..
Nah, pada saat itulah aku dikenalkan oleh Jeannie kepada temannya, Tira. Cukup cantik, rambut sebahu, dengan tinggi sekitar 160cm, tubuhnya sangat proporsional, aku menebak vital measurementnya sekitar hmm… 34-27-34. Kulitnya putih berkeringat dengan pipi kemerahan segar, memakai kaos putih ketat dengan sarung Bali terikat santai di pinggangnya. Orangnya cuek abiss ! Cenderung sombong sih… but I liked her ! Pertemuan kita hanya segitu karena saya harus mengantar Jannie pulang dan aku pun harus bikin tugas buat besok. Sejak perkenalan kami, seringkali aku jemput sahabatku lebih awal dan seringkali aku masuk ke dalam sanggar untuk menonton mereka latihan. Ketika itu aku hampir selalu memperhatikan Tira yang menari dengan lekuk tubuhnya yang sangat lentur. Terpesona dengan keahliannya ia menari, sampai tak sadar Jeannie mengagetkanku,
"Dor ! Hahaha ! Loe jelék banget déh kalo lagi ngécéng, Nom !" ,éjéknya. Aku hanya kaget sebentar lalu kembali kepada posisi semula.. ngeceng dengan jeleknya !
"Ooo.. si Tira ya ?" tanyanya mengetahui bahwa aku sedang ngeceng si Tira.
Aku menoleh pada Jeannie lalu aku bilang aja langsung, " Iya nih ! Imut bener sih tuh anak? Gimana Jean kalo gue pacaran ama dia ?"
"Emang bisa loe ngedapetin die ?" tanya Jeannie sambil mencibir.
"Belon tau Anom loe Jean !", sahutku dengan pe-denya.
"Tuh anak susah banget Nom ! Udah punya cowok lagi !", katanya.
"Yaaaah…"sahutku dengan nada kecewa, namun langsung kulanjutkan, "Berarti semakin tertantang dong !huahaha !"
"Apaan yang bikin loe semakin tertantang ?" tanyanya lagi. Aku masih belum sadar bahwa itu bukan suara Jeannie.
" Ya semakin tertantang buat ngedapetin si Tira doong !" sahutku yakin namun keyakinanku itu hanya sedetik karena kulihat Jeannie sedang memelototiku dengan wajah menahan tertawa. Dan ketika itulah aku sadar bahwa Tira sudah berada di belakangku dan Jeannie. Aku menoleh dan kulihat wajah manis itu tersenyum ke arahku.. huwalaaaaaaahhhh !
Dan sejak itulah aku mulai dekat dengan Tira, meski hanya sebatas teman. Untung cowoknya di Jakarta jadi tidak pernah ketahuan (gosipnya cowoknya cemburuan !). Selang dua minggu kemudian Jeannie punya cowok, tapi aku masih sering ke sanggar tari itu, namun kali ini bukan untuk ngejemput Jeannie tapi ngejemput Tira ! Namun sejak awal September, aku kehilangan kontak dengannya karena ia pergi berlibur dengan cowoknya ke Australia. Sejak itu aku nggak pernah bertemu dia lagi hingga saat redanya gerimis ini.

"…Gue nyari data tentang efek ruangan terhadap perilaku manusia.." katanya.
"Hah ? Apaan ?", jawabku tersadar dari lamunanku.
"Huahahaha !", mendadak aku dikejutkan oleh tawanya yang renyah dan khas dari bibir seorang Tira.
"Masih sama aja blo’on-nya loe tuh ya ! Hahaha !", sambungnya.
Sambil menggaruk-garuk ranbut gondrongku yang tidak gatal aku tersenyum salah tingkah. Hari itu akhirnya aku berhasil menyalakan motorku dan mengantarkan dia ke tempat les bahasa Perancis. Karena sudah terlambat, aku belum sempat menanyakan kost dimana dia sekarang, jadi hilanglah lagi kontakku dengannya.
Sampai pada suatu hari aku menyempatkan diri untuk mengunjungi bekas guru Aikido ku ketika ia sedang mengajar di salah satu gelanggang olah raga di kotaku.Ketika aku memasuki ruang besar itu, kulihat sekitar 30 orang sedang berlatih berpasang-pasangan dan saling membanting. Takeshi Kawamura sedang memberikan aba-aba, dan melatih. Aku berdiri di pinggir ruangan sambil melepas jaket kulitku dan menggantungkannya di salah satu tiang volley. Kuperhatikan mantan guruku itu tidak berubah juga ...

...penampilannya, seorang Jepang gendut umur 30-an yang berimigrasi ke Indonesia hanya untuk mengajarkan Aikido, wah idealis sekali kedengarannya, tapi ya begitu tampaknya. Ia tidak memperhatikan kedatanganku sampai ketika ia berbalik badan menghadapku, ia melihatku dan serta merta membungkuk memberikan hormatnya kepadaku. Akupun memberi hormatku kepadanya, tindakan mendadaknya itu membuatku malu karena pasti aku disangka murid-muridnya lebih tinggi tingkatannya dari gurunya itu. Lalu ia memberikan aba-aba untuk beristirahat, dan dengan tersenyum ia mendekatiku, "Apa kabar Anom?"
"Baik-baik saja sensei.." jawabku dengan hormat.
"Bagaimana dengan krub beradiri di kampusmu itu ? Masih jaran ?", tanyanya tetap dengan suara dan aksen jepangnya yang lantang, membuatku malu dihadapan sekian banyak orang yang langsung melihatiku mendengar pertanyaan eks-guruku itu.
"Baik sekali sensei ! Bahkan kami sudah bertambah banyak anggotanya.", jawabku ramah.
"Bagus.. bagus ! Tapi semestinya kamu tidak berhenti ratihan Aikido, Anom !" tanggapnya.
"Ya, tapi sensei tahu sendiri bahwa aku merasa tidak cocok dengan Aikido.." jawabku.
Ketika aku selesai menjawab itulah, guruku itu tersenyum aneh kepadaku, aku bertanya-tanya dalam hati, "Ada apa nih ? Kok senyam senyum gak jelas gitu sih dia ?", sekitar 10 detik ia masih tetap tersenyum, dan ….ngekk ! Sebuah cekikan keras di leher dari belakang dan tanganku terkunci kebelakang badan membuatku sulit bernafas dan tak dapat bergerak. Secara refleks aku melakukan satu sikap beladiri yang sangat cepat dengan melakukan irimi (langkah dasar dalam ilmu beladiri Aikido), lalu mengatasi kuncian dan cekikan itu, kukunci balik orang yang mencekikku dari belakang, ketika aku meraih tubuhnya dibelakangku aku merasakan bahwa yang menyerangku ini adalah seorang perempuan, namun ia sudah terlanjur melayang setinggi satu setengah meter di udara ! Secepat kilat kuraih kembali tubuhnya dan kuarahkan arah jatuhnya kesamping dan kutahan punggungnya dengan tangan kiriku sementara tangan kananku sedang mengunci lengannya. Dengan posisi kedua tanganku yang tidak menguntungkan ini kubiarkan kami jatuh berguling-guling ke samping di atas tatami (tikar Jepang), hingga pada akhirnya posisiku berada diatas memegang kedua pergelangan tangannya. Serta merta aku kaget setengah mati bahwa yang menyerangku adalah…Tira !
"Gila kamu, Ra !" sahutku kaget ..
Posisi tubuhku yang rebah menelungkup tubuhnya ini membuat jarak antara wajahku dengan wajah Tira hanyalah tinggal 3 cm lagi ! Yang lebih membuat aku berdebar-debar adalah bahwa tubuh kita saling bertindihan. Lalu ia tersenyum manis sekali dengan mata sayu, wajahnya sangat khas dengan pipinya yang kemerahan. Melihat senyumnya itu aku terkesima dan tak dapat bergerak, cantik sekali ! Tak sadar, ‘adikku’ mulai berdiri dan mendesak di dalam celana jinsku. Tampaknya Tira menyadari hal itu, dan bukannya segera melepaskan dirinya dari dekapanku, ia malah semakin mendesakkan pinggulnya ke tubuhku, sehingga selangkanganku pun semakin tertekan dengan selangkangannya, untung gerakan ini tidak terlihat orang lain. Tira menggunakan celana silat dengan bahan kanvas tipis (bahan twill) yang secara langsung membuatku dapat merasakan tonjolan bukit venusnya dan belahan lunak dibalik celananya itu. Merasa sudah terlalu lama dalam posisi itu aku langsung berguling ke samping, berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Setelah berdiri, aku masih bengong menyadari apa yang telah kami lakukan tadi, ketika kulihat lagi, ia sudah berlalu sambil tersenyum dan memberikan tanda padaku untuk menunggunya sampai selesai latihan.
Masih dalam keadaan bengong tak kusadari ada yang bergerak-gerak disampingku, kulihat mantan guru Aikidoku sedang terkekeh-kekeh sendiri melihat kejadian tadi, dan ternyata semua orang sedang tersenyum sambil memperhatikanku. Waduh malunya !!!

19.15 BBWI
Malam itu aku menunggunya sampai selesai latihan, lalu kami bertemu kembali di luar gedung, berjalan menuju lapangan parkir, diam seribu bahasa, namun ia tetap tersenyum manis.
"Ra, kok gue gak pernah tau loe belajar Aikido sih ?", celetukku memecahkan suasana, ia hanya tersenyum sambil menunduk. Sesampainya di samping motorku, aku bingung bahwa aku hanya membawa satu helm.
"Waduh, Ra ! Gue cuma bawa satu helm nih ! gimana dong ?" tanyaku menyadari bahwa helmku hanya satu.
"Biarin aja ! Udah malem ini, gak akan ada polisi ! Lagian gue boleh dong nyobain ‘helm’ loe? Yang satu-satunya itu kan ?", tanyanya dengan menekankan kata ’helm’ lebih jelas.
"Hah ?", baru saja aku masih kaget dengan peristiwa barusan, kini dikagetkan lagi dengan pertanyaannya yang ‘geblek’ itu. Dengan tololnya kujawab, "boleh..nih gue pasangin..", sambil mengenakan helmku itu dikepalanya. Ia tertawa kecil dan membiarkan aku memasangkan tali pengikat helmku di lehernya yang putih mulus itu.Sembari kuikatkan tali helmku itu, aku sadar betul bahwa ia tetap memandangiku dengan ...

...tersenyum nakal.
"Hihihi… lucu banget sih loe !", katanya. Aku nggak ambil pusing dengan pertanyaannya dan langsung menyalakan motorku, lalu kita boncengan pulang. Di jalan ia bertanya lagi dengan sablengnya,"Cuma segini kecepatan motor loe ?".
Masih dengan perasaan yang tak karuan dan mulai kesal dengan dipermainkannya diriku, aku langsung tancap gas. Motor tuaku itu memang mengerti perasaanku, ia melesat cepat bagaikan angin di sepanjang jalan protokol di kotaku itu.
"Wuih ! Kenceng banget !", sahutnya agak ketakutan kini, rasain ! kataku dalam hati… baru tahu rasa kamu !
"Makanya ! Pegangan dong ! Kalo nggak nanti ketinggalan lho ! Hahahaha !", ledekku puas karena akhirnya bisa membalas jahilnya itu. Tanpa disangka, ia memeluk pinggangku dengan ...


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.