peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


ceritaku.1.peperonity.net

'Selamat Pagi Cinta 2'


Selamat Pagi Cinta 2
Tiga keindahan hakiki dari hidup,
kebebasan jiwa, bebas dan lepas
kehangatan hati, hangat dan nyaman
dan ketenangan pikiran, tenang dan damai

Takkan muncul bila ditunggu,
datang bila dicari,
terasa bila dipahami
Satu tiada lain tiada

Maka,
terkutuk yang merenggutnya,
jahanam yang mengendalikannya,
kasihan yang tak kuasa memilikinya

Kesadaranku adalah pengakuanku, bahwa,
betapa ingin ku mencintaimu, aku sungguh-sungguh
Namun cintaku takkan pernah bersemi
Berharap dibalas saja ia tak berani
Karena tahu itu menyakitkan

Karena cintalah si jahanam, si terkutuk,
dan si pembuat kemalangan itu

Lalu tersodor kasih sayang, hanya untukmu,
gadisku
Sejauh apa yang bisa kuberikan,
di dunia yang terbentuk oleh keberadaan
kau dan aku,

yang ter-nyata dari segala ilusi.........

--------hakekat dunia kecil--------------

"Kita terlalu berbeda," isak Audrey, menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
"Tapi apakah perbedaan itu membuatmu tak ingin menemuiku lagi?"
"Aku nggak bisa, Ray. Aku bukan orang yang bebas seperti itu."
"Aku tahu, Lan," sahut Ray berbisik, memanggil nama kecil si gadis, dan mendekap tubuh Audrey semakin erat.
Lama mereka terdiam, masih berpelukan, meresapi kejadian semalam yang tak disangka-sangka. Saat mereka bercinta, dan saat semua kesadaran kembali menggumpal dalam benak.
"Dan kukira aku takkan pernah jatuh cinta lagi," bisik Ray lirih.
Audrey masih terisak beberapa saat lamanya, sebelum bisikan keluar dari mulutnya,
"Kalau begitu...... cintai aku......"
"Ya."
"Selamanya...."
"Ya.Selamanya......"
"Walau itu sebuah kesalahan besar."
"..............."

Dunia kecil. Satu bagian dari kehidupan individu, dimana tak seorangpun bisa menjamahnya, selain individu itu sendiri. Dunia yang terlahir dari kesadaran akan sebuah luka, yang ditimbulkan dari kenyataan-kenyataan pahit dunia nyata. Keterikatan, pola pikir masyarakat, tata dan aturan. Semua tak ada di dunia kecil. Hanya ada kebebasan, kehangatan, dan ketenangan. Kebahagiaan hidup yang hakiki.

Orang bilang, dunia semacam itu hanya ada dalam mimpi. Dan memang, semua itu hanya sebuah ilusi. Sebuah mimpi yang akan lenyap menjadi kenangan, saat mata membuka.

Ray dan Audrey. Mereka bertemu dalam dunia itu. Dunia yang mereka bentuk bersama. Tak satupun yang mengganggu mereka di sana. Tempat dimana mereka bisa saling menyayangi, memeluk, memberi kehangatan, tanpa khawatir orang-orang itu akan merenggutnya.

Ray tak pernah tahu apa yang membuatnya melakukan kesalahan yang sama sebanyak dua kali. Yang ia tahu, sejak kepergian Enni, dan kemunculan Audrey, hanyalah bahwa ia tak sanggup melepaskan Audrey dari sisinya. Tidak bahkan untuk sehari pun dalam hidupnya. Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa Audrey adalah milik keluarganya. Sang puteri yang sudah dipersiapkan sejak kelahirannya untuk mempertahankan keutuhan kerajaan keluarganya.
Gadis yang sama yang sudah menyaksikan bagaimana ia menangis. Gadis yang sudah memeluknya sepanjang malam, setiap hari, yang memberikan kehangatan dan kenyamanan luar biasa di hatinya yang kacau balau.

Audrey pun tak mengerti mengapa ia jatuh cinta pada Ray. Pemuda yang mampu membetot rasa sayang itu dari hatinya. Bukan Dendy, yang sehari-hari dipertontonkan sang ayah di depan matanya sebagai calon putera mahkota. Ia memuja pola pikir Ray yang penuh kebebasan, sebagai dampak dari keterikatan yang selama ini dihujamkan ke benaknya. Ray memberikan baginya sesuatu yang tak didapatkannya selama ini. Sebuah imaji tentang masa depan yang jauh berbeda dengan apa yang selalu didengungkan orang tuanya. Kehidupan yang bebas, pola pikir yang berasal dari diri sendiri. Keindahan yang selama ini selalu dirindukannya.

Mereka jatuh cinta, itu sebuah kesalahan yang meskipun mereka sadari namun tetap mereka jalani, dan terluka saat cinta itu memaksa mereka kembali pada kenyataan. Bahwa mereka takkan pernah saling memiliki. Ya. Memiliki. Sebuah hakekat menyedihkan dari kata cinta.

Lalu dunia itu pun berakhir.
Mata-mata pun terbuka.

----------------------------------------

Selamat Pagi Cinta (ep.2)

Sembilan tahun kemudian......

Day 1

Pengumuman untuk mengenakan kembali sabuk pengaman sudah terdengar. Ray mengencangkan sabuknya, dan memandang keluar jendela. Tak ada apapun yang bisa dilihatnya dalam suasana segelap itu, hanya sayap pesawat yang sedikit berguncang tergesek angin. Pikiran Ray terbang kemana-mana. Pada sebuah kejadian yang baru kemarin dialaminya.

-o-

"Hmm? Bali? Urusan kerja? Ah, hahaha....," gadis yang sibuk menjemur pakaian di halaman belakang tertawa terbahak-bahak. Ray merasa wajahnya memanas seketika.
"Hey, aku sungguh-sungguh," ucap Ray, mengangkat tubuhnya dari kursi dan melangkah keluar dari dapur. Pemuda itu berhenti di belakang gadis yang masih juga sibuk dengan pekerjaannya.
Lengan Ray terangkat, menyentuh lembut pundak Moogie.
"M...."
Moogie meletakkan kaus yang ...
· Soccer scores on Yahoo! oneSearch

...semula hendak dijemurnya, lalu berpaling sambil tersenyum. Bibirnya menemukan bibir Ray, lembut dan hangat.
"Aku tahu. Kamu hendak bersenang-senang, kan? Ya sudah, bersenang-senang saja lah. Aku kan ngga ngelarang kamu."
"Hmmm...," Ray hanya mengeluarkan gumaman panjang. Pemuda itu melumat bibir gadis yang dalam sekejap sudah dalam dekapannya. Tak berapa lama, sebelum Moogie mendorong tubuh Ray menjauh, lalu membalikkan tubuhnya sendiri untuk kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya.

"M, kamu pikir aku bohong, ya?"
"Aku kan ngga perduli," ucap Moogie tanpa berpaling.
"Ngga peduli? Benar?"
"Iya. Aku tahu, dari sinar mata kamu, kalau ada gadis lain di sana. Seperti yang sudah pernah kita bicarakan tentang semua omong kosong ikatan, aku tak mau membicarakan hal itu lagi."
Ray tak mampu berkata apapun. Lama pemuda itu terdiam, memandangi punggung gadis yang ada di depannya.

"Bahkan kalau itu membuatku meninggalkan kamu?"
Moogie berhenti bergerak. Masih membungkuk, gadis itu menghela nafasnya dalam-dalam. Sesaat kemudian ia menegakkan tubuhnya, meneruskan pekerjaannya. Tak satupun kata yang keluar dari bibirnya.
Ray menundukkan kepala. Ia tak ingin Moogie tahu bahwa ini bukan sekedar kerja biasa. Meskipun Ray sendiri berusaha menganggapnya demikian, namun yang ada di balik semua cerita keberangkatannya ke Bali bukan sesuatu yang semudah dibayangkan.
Ada sebuah lukisan `masa lalu' di sana.
Ray ingin jujur. Tapi ia tak tahu harus mulai darimana.

Moogie tidak mengantar keberangkatan Ray, gadis itu sudah kembali ke Jakarta pada malam setelah perbincangan itu. Tak ada pesan lain dari si gadis, selain sebuah kecupan yang mesra di bibir dan sebuah kata-kata,
"Aku sayang kamu. Sampai minggu depan."
Ray, yang hanya menatap punggung gadis itu berlalu, tak pula bisa mengatakan apapun. Ia sendiri tak yakin apa yang akan terjadi.

-o-

Benturan antara roda pesawat dengan landasan menimbulkan sedikit guncangan. Ray tersadar dari lamunannya. Beberapa saat kemudian sirip pesawat diturunkan. Ray masih juga memandang lewat jendela. Menyaksikan lampu-lampu gedung yang merambat menghilang.
Lalu pesawat berhenti. Ray menarik nafasnya dalam-dalam, melepaskan sabuk pengamannya. Orang-orang sudah berdiri dan terlihat sibuk mengambil barang bawaan masing-masing. Ray mengamati wajah-wajah mereka. Ada yang terlihat gembira, ada yang terlihat sedih, ada yang tegang. Pemuda itu bertanya-tanya dalam hati, apa yang mereka lihat saat menatapku? Mungkinkah wajahku terlihat bingung?

Ray lalu bangkit berdiri, dengan tanda nomor bagasi pesawat di tangannya. Ia tak membawa banyak dari Surabaya, selain tas besar yang lebih cocok dimasukkan ke bagasi pesawat daripada dibawa-bawa. Tas itu pun hanya berisi ransel, tiga potong baju, empat celana dalam, dan dua celana panjang.

Beberapa pasang mata dari antrian orang menatapnya dengan pandangan ingin tahu. Siapa tidak? Ray lah satu-satunya di antara sekian banyak orang, yang terlihat begitu mencolok. Rambut panjang tersisir rapi ke belakang, janggut tebal di dagu, jas hijau tua dan celana hip-hop kebesaran. Penampilan yang menimbulkan kebingungan, apakah pemuda itu seorang eksekutif muda, ataukah seorang anak jalanan.
Seperti biasa, Ray memang tak pernah perduli dengan apapun yang menempel di tubuhnya selain rambut dan janggutnya.

Ray melangkah memasuki ruang kedatangan bandara Ngurah Rai. Matanya mencari-cari tempat pengambilan bagasi. Usai mengambil tas, matanya kembali mencari-cari. Kali ini ia mencari sosok yang sudah berjanji akan menjemputnya dari bandara.

Ternyata tak susah menemukan Rose, karena gadis itulah satu-satunya dari sekian banyak orang yang memandangnya sambil tertawa. Ray menghampiri gadis itu dan mengulurkan tangan.
"Halo, Rose."
"Halo, Ray."
Lalu tawa terdengar dari mulut mereka.
"Ray, jadi kamu bukan kampret tukang tipu," itu komentar Rose yang pertama, saat mereka berjalan menuju taksi. Ray kembali tertawa. Dunia memang penuh tukang tipu, tapi Ray bukan salah satu dari mereka.
"Ray, cuma ada satu. Ya aku," ucap Ray kemudian, disambut anggukan kepala Rose.

"Kemana kita?" tanya Rose di dalam mobil.
"Check-in. Makan. Lalu selanjutnya terserah."

Taksi segera melaju keluar dari kompleks bandara.

Day 2

Pegi itu Ray pulang ke hotel dengan tersenyum. Semalam yang ia habiskan bersama Rose terasa begitu membekas. Tanpa sadar Ray tertawa. Sopir taksi yang ada di sebelahnya terheran-heran.
"Kenapa, Mas?" tanya si sopir taksi. Ray menggelengkan kepala, masih tersenyum.
"Tidak ada apa-apa. Jalan pelan-pelan ya."
"Iya, Mas."
"Bali itu indah ya, Pak?"
Si Sopir langsung saja mulai bercerita tentang keindahan Pulau Bali, semenit sebelum ia meraih sebuah peta wisata kecil dari laci dashboard, lalu tangannya mulai menunjuk berbagai tempat yang ...Gratis video hp sekretaris & pria!! klik

...menurutnya menyenangkan untuk disinggahi. Meskipun akhirnya Ray tertawa, kala mengetahui bahwa si Sopir ternyata berasal dari Nganjuk, namun tetap saja Ray harus mengakui bahwa apa yang dikatakan si Sopir benar. Pulau Bali memang indah, dan pasti tetap saja demikian, sejak lima tahun yang lalu terakhir kalinya ia menginjakkan kaki di sana.

Suasana memang indah di pagi yang lengang itu. Langit yang membiru dengan sdikit awan ...


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.