peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


ceritaku.1.peperonity.net

Poppy Si Angsa Emas


"Stop! Stop di sini," serunya. Wajahnya terlihat cerah. Sepintas kulihat, ia seperti seorang kanak-kanak yang baru diberi mainan kesukaannya. Tersenyum, kuputar setir mobil, menepi dan berhenti pinggir jalan. Gadis itu mebuka pintunya, dan tanpa menungguku, ia berlari dan lenyap. Kulangkahkan kakiku keluar, dan menemukan sosoknya di balik deretan pohon jati. Gadis itu berputar, melompat dan berlari kecil sambil tertawa-tawa. Kukira mirip film India yang biasa disiarkan TV Swasta. Geli, kuikuti langkahnya, menuju ke tengah hutan jati.

Kudapati ia tengah berjongkok di depan sebuah batang pohon mati setinggi dua puluh sentimeter, kering dan menghitam.
"Sini, Ray! Sini!" panggilnya, melambaikan sebelah tangannya. Di wajahnya, masih juga raut yang ceria. Bergegas, kuhampiri ia. Belum seberapa dekat, gadis itu meraih pergelangan tanganku, memaksaku berjongkok.
"Lihat," ucapnya lirih, "di tengah batang pohon itu."
Kupicingkan mataku, dan tersenyum saat melihat sebuah tunas tanaman berdaun empat yang mencuat dari tengah batang pohon mati. Sedikit terkejut aku kemudian, saat merasakan kepalanya menempel di bahuku. Lengannya menyusup ke sela ketiakku, merangkulku dengan lembut.
"Ingatkah kamu, kamu pernah bilang sama aku, kalau di dunia ini ada sesuatu yang bisa hidup dari kematian?"
"Pop.....," bisikku, memanggil namanya. Sedikit rasa haru yang tak bisa kusembunyikan, tersirat dalam nada suaraku.
"Ah, sok sendu," mendadak gadis itu terkekeh, melepaskan pelukannya dan bangkit berdiri. Sesaat kemudian, ia sudah berlarian lagi kesana-kemari. Satu ketika, ia membalikkan tubuhnya menghadapku, matanya mengerling nakal.
"Hey, Ray," serunya, "kamu masih ingat danau kecil tempat pertama kali kita berciuman? Di bibir?"
Aku tertawa dan mengangguk. Tanpa menungguku berdiri, gadis itu sudah berlari. Aku tak perlu buru-buru, aku sudah tahu ke arah mana ia akan menuju. Itu bukan danau, bisikku dalam hati. Itu hanya sebuah rawa payau. Ah, romantisme dan imajinasi masa muda membuat segalanya tampak indah.

Sepuluh tahun yang lalu...

Tempat yang sama. Dua anak manusia yang sama. Suasana mendung hari itu. Semendung hati pemuda belasan tahun yang baru pertama kali mengecap pahitnya pengkhianatan. Ya, itulah aku. Sosok yang pathetic kala itu. Menganggap semua yang ada di dunia ini sebagai satu kesialan.
Saat itu, aku tak bisa menyalahkan keperihan yang datang. Bagaimana tidak? Aku yang berada di tengah hutan, merentangkan kedua lengan lebar-lebar, menengadah sambil memejamkan mata ke arah langit-adalah orang yang sehari sebelumnya percaya bahwa cinta sejati benar-benar ada. Tentu saja sampai kutemukan pemuda itu di dalam kamarnya, dengan hanya mengenakan kaus singlet dan celana pendek. Bekas-bekas kecupan di leher, yang biasa kutemukan di leherku sendiri, kulihat padanya. Sangat menyedihkan, saat aku menoleh dan melihat gadisku dalam terkejutnya, tak ada lain yang dikatakannya kemudian, selain `maafkan aku'.
Pertanyaan yang kuajukan ke langit saat itu, pada-Nya, adalah `apakah benar cinta hanya akan membawa kesengsaraan'? Ataukah kesengsaraan itu sendiri bagian dari penguatan sebuah cinta? Yang harus dihadapi, disabari, dimengerti dan dikomunikasikan untuk pencapaian kata sepakat, demi kelangsungan sang cinta?
BULLSHIT!
Yang ada setelah cinta-yang diagung-agungkan itu-hanyalah kesedihan, isak tangis, rasa perih dalam hati.
"...dan Ray, kamu seharusnya tidak memberikan seratus persen cintamu padanya."
Kata-kata itulah nasihat terbaik yang kudengar sejak kejadian menyakitkan itu. Dan kata-kata itu keluar dari bibir si gendut Poppi. Sahabat satu deret rumah yang selalu berbagi suka duka denganku, bahkan sejak aku masih kanak-kanak.

-o-

Dulu, masih kuingat saat kami berdua sama-sama berperan sebagai `anak itik buruk rupa' di sekolah. Cemooh, sindiran, dan tatapan sinis yang kami hadapi dengan canda dan tawa. Hanya kami berdua saat itu, tak ada yang lain-karena memang tak ada satupun yang mau menjadikan kami bagian dari mereka.
Orang-orang selalu tertawa saat melihat kami jalan berduaan, berboncengan dengan sepeda pancal, bercanda di sudut sepi kantin. Mereka bilang kami adalah pasangan yang `pantas'-sebuah sindiran-yang kalaupun dikatakan jujur, maka akan sangat salah. Sebab kami adalah sepasang sahabat sejati. Hanya sekedar sahabat. Bahkan saat aku menyadari pentingnya menjadi `sosok' untuk dapat diterima dalam pergaulan level atas-terima kasih pada seorang gadis yang menolakku, yang kemudian menjadi pemicu untuk mengubah segalanya tentang diriku-dan berubah ke arah lebih sempurna, Poppi masih tetap berada di sisiku.
Ia menyaksikan segalanya dari prosesi anak itik menjadi angsa emas. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana `sosok-sosok penting' satu demi satu berjatuhan di kakiku, berlutut dan memohon diriku untuk masuk ke dalam lingkungannya. Gadis-gadis yang kemudian menyebutku sambil memutar mata dan menyatukan jemari di depan dada-dan bagaimana kemudian aku mempermainkan mereka satu-satu, menjilat dan mengunyah kemaluan mereka, ...


...untuk kemudian mencampakkan dalam isak dan tangis.
Poppi hanya akan tertawa saat menyaksikan kejadian itu, saat gadis-gadis dengan wajah sendu dan penuh penderitaan mengemis cintanya padaku.
"Kamu memang benar-benar luar biasa," itu yang akan dikatakannya padaku. Sadar, kuakui memang perubahan yang luar biasa terjadi di diriku saat itu. Angsa emas, yang telah lahir untuk meraih apa yang menjadi mimpinya.

Kesadaran yang membingungkan kemudian, adalah bahwa lingkungan baruku tak pernah bisa menerima sosok Poppi di dalam mereka.
"Sampah!"
"Jelek!"
"Buruk!"
Saat Poppi perlahan menyingkir dari kehidupanku, kurasakan sesuatu yang hilang itu. Persahabatan kami. Dan kurengkuh kembali Poppi, meninggalkan kekecewaan di hati sahabat-sahabatku yang baru. Saat itu, Poppi hanya tersenyum dan bertanya, "Apa kamu ngga malu kelihatan jalan sama aku?"
"Tidak, karena persahabatan yang sejati lebih daripada segalanya."
Tawa darinya, merupakan janji tak tertulis, bahwa perahabatan kami akan kekal selamanya. Meskipun aku sudah menjadi seekor angsa emas, dan Poppi masih seekor anak itik buruk rupa.
Saling membantu, saling menjunjung dan menggendong, itu yang terjadi di hari-hari selanjutnya. Di sisi-sisi kehidupan yang paling menyakitkan, kami akan menyediakan tempat di hati masing-masing untuk bersama-sama saling menghibur. Saat kakakku pergi dari rumah bersama pasangan lesbinya, saat ayah dan ibuku memutuskan jarak dua ribu kilo untuk menemukan perasaan berkeluarga yang nyaris lenyap, Poppi akan ada di siiku, menghibur dan mengatakan, "Semuanya akan baik-baik saja, Ray."
Saat ayahnya dan adik laki-lakinya tewas dalam sebuah kecelakaan kereta api di tahun 1992, saat beberapa pemuda mencemoohnya dengan mengatakan, "Jangan lihat-lihat kenapa sih? naksir ya? Ngaca dong!"-aku akan menyediakan dadaku untuk tangisnya, mengelus dan mengatakan, "Semuanya akan baik-baik saja, Pop."

Semuanya demikian, sampai aku mengenal cintaku. Cinta yang untuk selanjutnya akan kupandang dengan sebelah mata, dengan cibiran di bibir dan kata-kata, "Bullshit! Ngga ada yang namanya cinta!"
Poppi lenyap begitu saja dari kehidupanku. Tak ada lagi ngobrol-ngobrol lewat telepon sampai jam tiga pagi, membicarakan tentang gadis-gadis bodoh dan gossip-gossip selebritis sekolah yang sangat digemari Poppi. Aku menjauh, saat menyadari bahwa cintaku membutuhkan lebih banyak perhatian dari sekedar menghabiskan waktu bersama Poppi.
Sahabatku itu, ia menyadari hal itu, tak lagi menghubungiku. Dan bodohnya, saat itu aku benar-benar merasa bahwa menjauhnya kami adalah sebuah kewajaran. Bagaimana tidak? Aku sudah punya seorang kekasih yang bisa mendengarkan semua keluhanku-bahkan lebih dari yang bisa ditampung oleh Poppi. Kekasihku memelukku, mencumbuku, dan kami bercinta segera setelah semua permasalahan terselesaikan. Poppi tak menyediakan hal itu, dan kutahu aku memang takkan pernah meminta, bahkan berharap darinya.
Dua tahun lamanya aku hidup sendiri, mencari petunjuk-petunjuk penyelesaian setiap permasalahanku dari diriku sendiri dan kekasihku. Tak ada orang lain. Tak ada ayah ibu-meski mereka sudah berbaikan. Dan tak ada Poppi.
Lalu kejadian yang membuatku menderita setiap malam tiba itu terjadi.
Betrayal. Pengkhianatan.

-o-

Kembali aku memandangnya saat itu, menikmati pepohonan di belakangnya, yang seolah menjadi bingkai sosoknya yang terlihat begitu lama hilang dari hidupku.
"Pop, aku ingin dipeluk dan dimaafkan," itu yang kukatakan, yang pula menjadi awal dari semua yang tak pernah ingin kulakukan. Poppi memelukku, di tepi hutan pohon jati, di pinggir sebuah rawa payau, yang menghijau karena lumut dan ditumbuhi enceng gondok di sekelilingnya. Saat itulah aku menangis pertama kali, sebagai seorang pria yang patah hati.
Poppi tak menganggap itu sebagai suatu hal yang memalukan, bahkan ia berkata, "Ray, menangislah kalau itu perlu. Karena menangis akan membuat beban di hati terasa lebih ringan."
Kata-katanya, belaiannya, dan hembusan nafasnya di ubun-ubun kepalaku, yang membuat aku menarik tubuhku dari pelukannya. Saat ia memandang dengan tatapan kasih sayang persahabatannya, kukecup ia.
Tepat di bibirnya.
Dan bisikku padanya, "Hidupku akan dimulai dalam kematian hati...."

-o-

Chapter II

Kudapati ia tengah memandang ke arah hamparan tanah retak di bawah kakinya. Sedikit sendu juga kala kusadari kekeringan yang membentang itu. Seolah tiada lagi kenangan yang patut diingat akan tempat yang dulunya terlihat sangat indah itu.
"Kering, Ray," bisiknya. Kulangkahkan kakiku sampai di sampingnya, dan menganggukkan kepala.
"Apa yang kamu harapkan dari tahun-tahun yang berlalu?" tanyaku.
Poppi menoleh. Ia memandangku dengan lirikan nakalnya.
"Hmmm, eternity? As a beautiful place, which existence is eternal, as memory does," ...



...katanya kemudian, lalu tersenyum meminta pendapatku.
"Ah," sahutku, terkekeh sejenak, "beauty is in the eye of the beholder."
Poppi menatapku, masih dengan senyuman yang sama. Tapi kutangkap kelegaan itu dari pancaran sinar matanya. Gadis itu lalu menekuk lututnya, berjongkok dan mengulurkan tangan, meraih segumpal tanah kering. Kepalannya membuat kepingan tanah itu berubah menjadi serpihan-serpihan halus, berjatuhan di atas rumput kering.
"Kalau aku tutup mata, mungkin nggak ya, danau kecil itu kembali?" Kudengar ia berkata, menimbulkan perasaan ingin tahu di hatiku.
"Mau mencoba?" ucapku kemudian. Poppi menoleh dan mengangguk. Tangannya menggapai pergelangan tanganku, mengajakku berjongkok untuk yang kedua kalinya di hutan jati itu.
"Coba, pejamkan mata. Kukira dengan kamu di sini, segalanya menjadi lebih mudah," katanya kemudian. Saat kutolehkan wajahku ke arahnya, kulihat ia sudah memejamkan mata. Bibirnya meruncing ke depan, alisnya berkerut. Tanpa sadar aku tersenyum. Poppi memiliki kedewasaan itu di wajahnya.
Kupalingkan wajahku ke arah tanah kering, dan kupejamkan mata. Semenit dalam kesunyian, seolah bisa kudengar kicau burung di kejauhan, desis angin yang lembut, gemerisik daun pepohonan, bahkan ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.