peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


ceritaku.1.peperonity.net

Jeanny



Jeanny
Walaupun Aku memang terbiasa menulis (sewaktu SMP Aku pernah disuruh guru Bahasa membacakan karanganku -bukan cerita saru, tentu saja-- di depan kelas, sebagai contoh, katanya), tapi untuk menulis "yang saru" ya kayanya Cyber Love itulah yang pertama kali. Hasil evaluasi Sang Boss memang di luar dugaanku, setelah 3 bulan menunggu (bahkan Aku sempat menduga cerita saruku tak laku). Rasanya sekarang Aku seperti "diwajibkan" untuk menulis saru lagi, dan harus bermutu. Inilah yang Aku sebut dengan "tanggungjawab moral" itu. Celakanya, aksioma umum yang berlaku adalah: "Mempertahankan lebih sulit daripada mendapatkan". Contoh soal yang paling dekat: Mendapatkan cinta Alia sungguh suatu proses panjang dan sulit, dan Aku gagal mempertahankannya. ihik :-(

Terima kasih kepada puluhan pembaca yang telah memberiku komentar atas "Cyber Love". Anda semuanya (paling tidak sebagian besar) baik hati. Kecuali beberapa yang mengirim mail "naif" ingin ikut mencicipi Alia --emangnya kue :-d. Kalau boleh Aku memberikan gelar "komentator terbaik" atas tulisanku itu, Aku memilih Tia (d******o@yahoo.com). Makasih ya Tia. Sebagai hadiahnya, Aku mencantumkan namamu di sini (kalau ingin tambahan hadiah, kontak Aku, he he). Tak usah sungkan-sungkan ikut menuliskan pengalamanmu di forum ini. Percayalah, Boss Wiro itu memang profesional dalam hal begini dan fair dalam menilai. Ya engga Boss?
Terima kasih juga buat Anda, Wiro!

--sammy--

JEANNY

Bagian satu : MRT

"Damn!" umpatku dalam hati ketika baru saja melangkahkan kakiku memasuki gerbong MRT. Sepasang paha langsat mulus terhidang di depanku. Pemiliknya, Singaporean etnis chinese duduk tenang, matanya terpejam memamerkan bulu matanya yang sedikit lentik dengan kuping disumpal earphone 'walkman'. Ia sama sekali tak peduli ketika banyak pasang mata menikmati kemulusan pahanya. Tak hanya paha sebenarnya. Kalau kita lebih "teliti" dan sedikit nakal dengan berdiri di samping wanita itu, kita akan disuguhi "belahan" yang menjanjikan di dadanya. Banyak pasang mata? Kukira tidak juga. Umumnya orang memang terperangkap oleh pemandangan indah ini beberapa saat, tapi kemudian asyik dengan aktivitasnya sendiri. Membaca, menyumpal earphone, terkantuk-kantuk, atau hanya diam bengong. Pasangan muda tampak berbisik-bisik dekat diselingi kecupan romatis, atau si cowok memeluk cewe-nya dari belakang. Kelihatannya hanya Aku saja yang berlama-lama mengamati paha dan belahan indah ini.
Begitulah pemandangan sehari-hari yang kujumpai di gerbong MRT (Mass Rapid Transport) di Singapore, "angkot" massal yang murah, cepat, tapi nyaman (ber-AC) dan bersih. Sebenarnya, soal paha mulus sudah menjadi pemandangan yang umum dan biasa di sini. Para wanita Singapore, terutama wanita kantoran, memang gemar rok pendek. Dan umumnya memang memiliki kaki yang mulus. Tapi wanita yang satu ini memang beda. Kakinya panjang, atau rok mininya terlalu pendek (atau dua-duanya), dan tak berusaha menarik roknya agar sedikit "sopan", seperti yang biasa dilakukan pemakai rok mini lainnya. Blouse di balik blazernya, model V atau U selalu rendah, membiarkan mata siapapun menikmatinya. Dan setiap hari kujumpai. Dia selalu ada di gerbong paling belakang.

***

Kenapa aku harus mengumpat, harap pembaca maklum. Sudah tiga bulan Aku berjuang sendirian di negeri jiran ini, telah lama tak bertemu isteri. Keinginan menyalurkan "kebutuhan dasar" ini terus tertahan. Nah, suguhan setiap pagi ini makin membuat aktif syaraf-syaraf di otak dan seputaran bawah perutku, yang akhirnya cuma menambah kegelisahanku saja. Kegelisahan tanpa penyaluran yang tepat.
Penyaluran memang tersedia sih, kalau mau. Di "LP" building lantai 5 di kawasan Orchard Road menyediakan pelayanan pijat dan juga pelayanan seks. Tapi, sialan, Singaporean memang efisien dengan waktu, termasuk taxi-girl-nya. Apa nikmatnya bersetubuh 'single shot' dan diburu-buru? Mahal lagi. Kalau dirupiahkan dan di Jakarta, kita bisa dapat 'artis figuran' semalam suntuk. Istilahku 'artis figuran' adalah untuk high class call-girl Jakarta yang pernah muncul di majalah atau "numpang lewat" di sinetron atau film. Cara penyaluran lain apabila rangsanganku sudah tak tertahankan lagi, apa boleh buat, metode "tradisional", masturbasi. Cara yang murah, "sehat" dan "bebas". Sehat dalam arti bebas dari penyakit dan bebas mengkhayalkan bersetubuh dengan siapapun serta dengan kualitas "vagina" macam apapun. Mau longgar, sempit, basah, kering, atau bahkan "legit". Tapi, tentu saja, tetap tidak membuatku puas, dibanding hubungan seks yang sesungguhnya.
Aku benar-benar membutuhkan seorang wanita yang bersedia menampung hasratku kapan saja di negeri asing ini!

Bagian dua : PHK

"Okay Pak, saya mengerti," kupotong omongan Bossku, supaya dia tak tambah bertele-tele nyerocos tentang kondisi perusahaan yang mendekati bangkrut ini.
Sekilas wajah Boss nampak rasa kurang senang karena Aku memotong pembicaraannya. Aku tak peduli.
"Saya tahu semua Pak, justru sekarang ini saya kemari mau mengundurkan diri," lanjutku seperti menantang. Wajah yang ...



...tertekuk itu tambah kaget.
"Kita langsung saja bicara tentang pesangonku," tantangku lagi. Mata itu masih terbelalak kaget. Mungkin pikirnya, sementara pegawai lain menghiba-hiba supaya jangan diPHK, Aku malah nantang mau berhenti.
"Anda serius, Sam?"
"Saya kira sekarang bukan saatnya bercanda, Pak."
"Terus rencana Anda selanjutnya gimana?"
"Itu urusan saya Pak." Tentu saja sebelum menemui dia Aku sudah dapat pekerjaan baru yang lebih prospektif, bukan di Jakarta atau kota lain di Indonesia, tapi di Singapura.

Aku telah mempersiapkan semuanya. Isteri dan anakku (seorang, lelaki 3 tahun) Aku pulangkan ke rumah orang tuaku di Jawa Timur untuk sementara, menunggu rumahku yang di Jakarta laku. Rencananya Aku akan membeli rumah di kampung saja. Di saat seperti ini menjual rumah memang tak gampang. Uang pesangon yang kudapat cukup untuk hidup selama setahun tanpa kerja dan untuk modal awal Aku hidup di Singapura. Aku telah membuat keputusan penting dalam hidup kami. Perubahan drastis yang harus kulakukan untuk menghadapi multikrisis berkepanjangan di negeri ini.

***

Setelah mendapat kepastian Aku diterima bekerja di financiing company di kawasan -----, Aku baru mulai mencari tempat tinggal. Atas pertimbangan beberapa sahabat di Jakarta dan Boss baruku, Aku memilih apartemen di daerah Jurong. Ada ratusan gedung hunian bertingkat di kawasan ini. Dua minggu penuh Aku menjelajah kawasan ini sebelum akhirnya memilih satu di antara 4 pilihan terbaik sesuai kondisiku yang hanya sendirian dan keuangan yang cukup, tak berlebih benar. Suatu space dengan dua kamar di lantai 5, kira-kira mirip T-36 di Jakarta, tapi sedikit 'lux' dan lingkungan yang bersih. Pokoknya yang nyaman buat tinggal dan Aku masih mampu mengirim dollar ke rumah setelah dipotong sewa apartemen dan bermacam tagihan lainnya serta biaya hidupku. Hanya satu masalah yang belum terpecahkan, yaitu memenuhi kebutuhan seks. Tentu saja Aku tak bisa pulang kampung setiap bulan. Terakhir ketemu anak isteri sekitar dua bulan lalu, ketika mereka berkunjung melihat tempat tinggalku di negeri orang ini.

Mulailah Aku menjalani kehidupan rutin yang baru. Berangkat dan pulang kerja menggunakan MRT, makan pagi hanya roti dan sebangsanya yang kusiapkan sendiri, makan siang di kantor, makan malam berganti-ganti, di sekitar kantor, di shopping mall, atau restoran dekat apartemen.

***

Di stasiun berikutnya, Orchard, Aku harus turun untuk ganti kereta yang menuju utara. Demikianlah rutinitas pagi yang harus kujalani. Sepasang paha panjang itu masih tergolek di depanku, belahan dadanya hanya sedikit terlihat kalau dari depan. Sebelum turun, sekali lagi Aku puaskan mataku menatapi seluruh juluran kakinya. Tapi oops, paha itu kalau tidak sedang menyilang ya lurus merapat. Yang membuat jantungku serasa berhenti berdetak, kali ini sedikit membuka. Dan... oh tidak, aku tak melihat segitiga kecil warna cream atau putih, tapi semburat kehitaman. Tak mungkin. Tak mungkin dia berani tak berCD di ruang publik begini. Tapi mataku yang masih tajam menangkap warna kehitaman yang bukan kain. Aku yakin itu. Gila! Dalam beberapa detik ke depan ini Aku harus membuat keputusan, turun di Orchard atau menikmati bulu-bulu.

Kenyataannya sampai kereta beranjak dari Orchard Aku masih terpaku di tempat dudukku, masih menatapi helai-helai berombak --yang pemiliknya acuh beibeh--sambil sesekali menelan ludah. "Dasar" keputusanku untuk tetap duduk bukan semata karena bulu-bulu itu, tapi Aku juga ingin tahu di stasiun mana dia turun dan di mana dia ngantor. Di Somerset, stasiun setelah Orchard, "Si Bulu" ini tetap bergeming. Matanya masih terpejam, earphone-nya masih terpasang. Nah, ketika kereta melambat mendekati stasiun Dobyghout, Si Langsat ini melepas earphone dan bangkit.
Aku menahan keinginan untuk ikut bangkit, nanti saja, supaya tak ketahuan banget menguntitnya. Aku baru turun ketika pintu otomatis wagon itu hampir menutup kembali. Cepat-cepat aku ikuti dia dari jarak sekitar 10 meteran.

Wow! Indah nian gerakan sepasang "bola" yang bergantian naik-turun di pantatnya. Cara jalannya memang tak persis benar dengan peragawati yang harus menapak kedua kaki di garis maya lurus. Bentuk pantatnya yang membulat dan menonjol ke belakang itulah yang membuat gerakan jalannya indah. Ini kayanya memang bentuk pantat khas para Singaporean, bulat dan menonjol ke belakang (kubayangkan, jika menyetubuhi body seperti ini akan memberikan respons "lentingan" pada setiap tusukan!). Aku "menemukan" ciri ini ketika baru seminggu menetap di sini. Tentunya atas bantuan mata jelalatan dan "biologis" kelaparan!

Bagian tiga : EXB

Di eskalator panjang menuju keluar stasiun, Aku berdiri hanya beberapa anak tangga di bawahnya. Aku berharap ada angin nakal yang menerpa roknya, sedikit hembusan saja sudah mampu memperlihatkan kulit pantatnya. Rok mininya terlalu ketat untuk diterpa angin, sekaligus membuatku yakin, tak ada "garis" apapun yang tercetak di sana kecuali bulatan. Dia ...



...benar-benar tak berCD! Sialan benar.

Keluar dari stasiun dia menyusuri Orchard Road, memberiku peluang untuk menyapa dan berkenalan. Tapi kok rasanya cara kenalan yang kuno banget ya, Aku jadi ragu. Tepatnya, tak menemukan cara yang "elegan" untuk berkenalan. Ketika menunggu lampu hijau buat penyeberang, dia sempat menoleh sekejap. Tapi Aku tak yakin apakah dia melihatku, matanya tertutup sun-glasses. Ayo Sam! Gunakan akalmu!

Sampai dia menyeberang perempatan, Aku belum menemukan caranya. Ah, toh pagi ini Aku tak punya waktu, Aku harus ngantor. Masih banyak kesempatan lain. Itulah, kalau orang tak berhasil mencapai maksudnya, keluarlah alasan sebagai rasionalisasi kegagalannya. Anak-anak yang gagal menjangkau benda yang menarik hatinya lalu mengatakan benda itu jelek. Engga! Dia istimewa, jauh dari jelek.

Aku masih menguntitnya ketika dia menyeberangi taman di ujung Orchard Road itu dan lalu menuju gedung 8 lantai. Cukuplah buat hari ini. Dia berkantor di hotel yang di lantai satunya terpampang nama restoran ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.