peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


ceritaku.1.peperonity.net

PENGALAMANKU




PENGALAMANKU...
Perkenalkan dulu, namaku Nina. Kisah ini kutulis untuk Pembaca. Maaf barangkali kisah ini tidak tersampaikan dalam bahasa yang bagus, karena aku tidak mempunyai pengalaman sedikitpun dalam hal tulis-menulis dan olah kata.

Sampai aku lulus SMA. Pada saat itu aku dilamar seorang pria yang masih ada ikatan saudara, sebut saja Mas Wira. Orangnya ganteng dan orangtuanya cukup kaya. Aku waktu itu baru berusia 19 tahun. Sebenarnya memang aku sudah naksir sama Mas Wira. Maka waktu aku dilamar, walaupun masih sangat muda, aku sih mau saja. Kupikir walaupun sekolah terus, toh nanti juga akan di rumah mengurus keluarga, karena Mas Wira tidak mengizinkan aku bekerja. Kasihan anak-anak katanya. Tentu saja yang paling penting, bagaimana setelah kami dikawinkan dan mengarungi hidup ini bersama Mas Wira.

Beberapa bulan sebelum perkawinan kami, dalam masa pacaranku yang singkat, aku mendapatkan pengalaman mengenai penis laki-laki. Pada hari libur aku dan Mas Wira sering berpergian berdua dengan sepeda motor. Tetapi pacaran kami yang nyerempet-nyerempet bahaya justru terjadi di rumah Mas Wira. Ciuman pertama berlangsung di gedung bioskop, waktu nonton berdua. Itupun belum dapat dinikmati betul. Tapi karena pertama kali rasanya luar biasa. Kalau untuk ukuran jaman sekarang, ciuman di bioskop itu rasanya lucu dan hambar. Kurang nafsu. Setelah menjadi suami istri aku sering diledek oleh suamiku mengingat ciuman di bioskop itu. Pertama kali aku melihat kemaluan laki-laki adalah punya Mas Wira. Hal itu terjadi waktu aku hanya berdua di rumah Mas Wira. Kami berdua ditinggal kondangan oleh orang tua Mas Wira. Kami berciuman sepuasnya dan Mas Wira meremas-remas buah dadaku dengan penuh nafsu. Karena nafsu semakin naik, Mas Wira sampai merogoh kemaluanku. Aduh rasanya takut-takut nikmat. Celana dalamku dipelorotkan sampai ke pahaku.

"Nin kamu pengin lihat punyaku nggak?" tanya Mas Wira. Aku diam saja, rasanya takut dan malu sekali. Tapi Mas Wira langsung membuka sarungnya dan melorotkan celana dalamnya. Aku kaget juga melihat penis Mas Wira yang tegang tegak berdiri. Kepalanya 'mbendol,' dan aku jadi teringat waktu aku melihat penis kuda waktu aku masih kecil. Kelihatan urat-uratnya menonjol di kiri-kanan batang penisnya. Tanganku dituntun Mas Wira untuk memegangnya. Aku segera menggenggamnya dan memijit-mijitnya. Aduuh, rasanya berdebar-debar sekali. Aku betul-betul telah memegang dan menggenggam penis laki-laki. Aku mengelus-elus kepalanya. Mas Wira menggeliat dan mendesis, "Aduuh geli... Nin", katanya. Saat itu kami hanya sampai memegang-megang saja. Kami belum berani bertindak lebih jauh. Itupun malam harinya aku teringat-ingat penis Mas Wira yang tegang dan besar. Apakah nanti muat kalau masuk ke vaginaku? Dan ini aku ketahui pada malam pengantin kami.

Setelah pesta selesai dan saudara-saudara telah pulang, baru terasa betul bahwa kami sangat capai dan mengantuk. Kami berdua masuk kamar pengantin kami. Karena sudah suami-isteri rasanya justru tidak malah santai dan tidak tergesa-gesa, tidak begitu menggebu-gebu untuk mulai bercumbu. Kami ganti pakaian, aku pakai daster dan Mas Wira pakai sarung dan kaos oblong. Kami berhadapan dan berciuman dengan mesra, saling meraba dan membelai. Entah siapa yang memulai, tahu-tahu dasterku telah terlepas, celana dalamku telah lepas pula, BH-ku telah jatuh. Mas Wira membuka sarung, celana dalam dan kaos oblongnya. Telanjang bulat berdua. Mas Wira sudah nafsu sekali. Aku dibaringkannya di kasur. Mas Wira menciumi seluruh wajah dan badanku dari atas sampai bawah. Tangannya berhenti di vaginaku, dielus, dibelai dikilik-kiliknya kelentitku. Liangku sudah basah. Tidak kalah semangat, penis Mas Wira kugenggam kuat-kuat dan kuelus-elus kepalanya. Mas Wira mulai menindihku, menciumiku. Ternyata berat juga!

"Sekarang, ya Nin." Aku mengangguk. Kakiku aku kangkangkan, tangan Mas Wira memegang penisnya diarahkan ke vaginaku. Tangannya menuntun tanganku memegang penisnya. "Tolong dipaskan ke lubangnya Nin", kata Mas Wira serak. Aku paskan kepala penisnya ke lubang vaginaku. Mas Wira menekan, nekan lagi, nekan lagi nggak masuk-masuk juga. Aku semakin takut, nafsuku justru menurun. Mas Wira membasahi kepala penisnya dengan ludahnya. Aku paskan lagi ke lubangku. Ditekannya, dan blees masuk kepalanya. Aku menjerit lirih. "Sakiit ya Nin. Sakit yaa", bisik Mas Wira. Aku mengangguk. Ya Ampun penis Mas Wira baru masuk sepertiganya. Rasanya perih dan mengganjel sekali di liang vaginaku. Mas Wira menekan masuk lebih dalam, seret sekali. Nampaknya ludah Mas Wira hanya membasahi kepalanya saja, sehingga batangnya tetap kering. Kalau penisnya digerakkan rasanya sakit. Aku takut sekali. Kalau nanti sakit terus, lalu nanti gimana? Akhirnya aku menangis. Mas Wira kaget. Dicabutnya penisnya pelan-pelan dan aku diciuminya, "Aduuh, sakit sekali ya Nin. Sudah-sudah dulu nggak usah diterusin dulu", katanya menghiburku.
"Nanti Mas Wira gimana kalau sakit terus", bisikku sambil memeluknya.
"Nanti, lama-lama kan nggak sakit. Sabar saja deh", hiburnya. Tapi aku yakin Mas Wira pasti kagok malam itu.

Ceritanya malam pengantin kami tidak selesai. Mas Wira ...



...gagal memerawaniku. Kami tidur karena memang capai dan mengantuk. Pagi-pagi bangun. Mas Wira berkata "Nin, sarungku basah. Spermaku keluar sendiri semalam waktu kutidur." Nampaknya karena sudah nafsu sekali, dan persetubuhan kami tidak selesai, spermanya yang sudah siap muncrat akhirnya keluar sendiri waktu Mas Wira tidur. Kasihan Mas Wira. Pagi itu setelah mandi, aku masuk ke kamarku. Kemaluanku masih agak panas rasanya. Kulihat lubang vaginaku dengan cermin. Kulihat liangnya masih tampak rapat, Kelentitnya juga nampak jelas dan agak kebiruan. Kasihan Mas Wira. Aku berjanji malam nanti harus dapat diselesaikan.

Malamnya kami masuk kamar tidur sekitar pukul 21.00. Mas Wira langsung memeluk dan menciumku. Aku sudah siap-siap, sehingga tidak pakai celana dalam dan BH.
"Mas, ayo kita selesaikan Mas!" kataku. Mas Wira juga hanya pakai sarung saja. Dilepasnya sarungnya, dan dasterku disingkapkan ke atas sampai ke leherku, sehingga buah dadaku juga terbuka. Mas Wira sudah akan naik di atasku.
"Mas.. penisnya dibasahi sampai kuyup semua yaa. Sampai belakang ke pangkalnya, biar licin", kataku. Mas Wira diam saja, terus meludahi telapak tangannya dan dioleskan ke penisnya. Benar juga, penisnya relatif mudah masuk walaupun terasa mengganjel banget. Akhirnya masuk semuanya. Mas Wira mulai turun naik. Aku mulai menikmatinya. Makin basah, makin licin, dan makin nikmat, makin nikmat, makin nikmat. Mas Wira juga makin bersemangat mengocokku. Dia merangkulku, menciumiku. Penisnya terasa keluar-masuk vaginaku yang sudah semakin licin. Benar-benar penis itu rasanya nikmat sekali. Otot vaginaku makin berkontraksi menjepit keras penis Mas Wira. Mas Wira makin cepat mencoblos vaginaku, dan akhirnya dia menekan penisnya masuk dalam-dalam sampai habis ke pangkalnya. Mas Wira. Memang haknya dia. Aku bahagia sekali, Mas Wira sudah bisa muncrat spermanya di vaginaku. Malam itu aku belum benar-benar merasakan nikmatnya bersetubuh. Tapi aku sudah punya keyakinan vaginaku sudah tidak akan sakit lagi.

Setelah malam itu, kami hampir setiap malam bersetubuh. Aku sudah bisa merasakan orgasme beberapa kali sampai lemas. Aku tidak malu-malu lagi untuk bergerak, menggeliat, mencengkeram, melenguh, merintih menikmati coblosan suamiku. Mas Wira juga mengajariku beberapa variasi dalam berhubungan seks. Tetapi sampai saat ini Mas Wira tidak mau aku mengulum penisnya. Katanya penis itu tempatnya di vagina bukan di mulut. Dia kasihan kalau aku harus mengemot dan mengulum penisnya. Rasanya dia kayak orang yang sewenang-wenang sama istrinya. Demikian juga aku juga tidak tega kalau suamiku sampai mengulum dan menjilati vagina dan clitorisku. Memang betul Mas Wira, vagina itu rumah penis, kalau lidah ya di mulut.

Kehidupan seksual dengan suamiku baik-baik saja, sampai aku hamil. Pada saat hamil kami tetap bersetubuh dengan teratur, walaupun dengan berhati-hati. Bahkan malam sebelum anakku lahir, kami masih bersetubuh. Kata Mas Wira setelah hamil tua, vaginaku menjadi semakin lebar dan licin, tetapi nikmat juga. Aku juga tetap merasa nikmat. Aku melahirkan bayi laki-laki yang cakep banget dan sehat. Kata Mas Wira anak ini pasti sehat karena setiap malam "disepuh" atau dilumuri sperma ayahnya waktu di dalam kandungan. Terang saja, sampai hamil besarpun kami tetap bersetubuh minimal dua kali seminggu.

Satu bulan lebih setelah melahirkan, Mas Wira sudah nggak tahan lagi. Tiap malam penisnya tegang banget. Walaupun kupijit dan kukocok, tetapi spermanya bandel nggak mau keluar-keluar juga. Lama-lama aku kasihan juga sama Mas Wira. Nampaknya persediaan spermanya sudah penuh dan pengin muncrat keluar.
"Mas.. sekarang boleh dicoba yaa. Tapi pelan-pelan lho", ajakku suatu malam setelah aku mengocok penisnya.
"Sudah berani Nin.. sudah sembuh." Aku mengangguk. Dasterku kusingkapkan ke atas. Buah dadaku yang besar karena sedang menyusui, kelihatan putih menggunung. Mas Wira membuka celana dalamku. Buah dadaku diciuminya dan mengenyot pentilku pelan-pelan.
"Mas.... jangan kuat-kuat nanti air susunya keluar lho",
"Habis gede banget dan putih Nin. Aku gemes banget."
Kakiku aku kangkangkan, dan Mas Wira mulai naik ke atas tubuhku. vaginaku siap dicoblos. Pelan-pelan kepala penisnya menempel ke lubangku, ditekan pelan, masuk, masuk dan akhirnya masuk semuanya. Kami langsung menikmatinya. Karena sudah satu bulan lebih tidak masuk ke vaginaku, waah Mas Wira langsung ngotot deh, nafsu banget. "Mas.. alon-alon lho. Kok langsung ngotot siih." "Nin.. aku pengin banget. Begitu masuk pelirku langsung nikmat banget. Aku pasti cepat keluar niih. Nggak apa-apa ya Nin. Aduuh nikmat banget Nin", katanya dengan terus mengocokku.
"Kalau sudah mau keluar langsung dicrootkan saja lho Mas. Nggak usah ditahan-tahan. Aku juga sudah nikmat kok. Dicrotkan di luar saja lo Mas", kataku sambil mengelus punggungnya. Mas Wira tidak menjawab, ...

...hanya terus menyetubuhiku dengan penuh semangat.
"Nin aku mau keluar... mau keluaar. Aduuh keluar.. Nin." Mas Wira cepat mencabut penisnya. Cepat kusambar dan kugenggam kuat-kuat. Spermanya muncrat-muncrat di atas perutku. Mas Wira langsung lemas dan terguling di sampingku. Aku membersihkan penis Mas Wira dan sperma yang berantakan di atas perutku.
"Enaak Mas.." bisikku sambil tersenyum.
"Aduuh nikmat banget Nin. Sudah ngampet sebulan. Sayang 10 menit sudah keluar yaa... Kamu sudah puas belum Nin", katanya sambil memandangku.
"Nggak apa-apa Mas. Ini kan percobaan. Nanti dipuas-puasin deeh. Tadi aku agak takut juga. Habis Mas langsung ngotot saja. Tapi ternyata lama-lama nikmat juga. Besok lagi ya Mas." Kami tertawa, berciuman lagi. Mesra. Aku bahagia sekali.

Mungkin bagi sebagian pembaca menganggap hubungan suami-istri seperti kisahku ini adalah hal yang sudah semestinya. Sehingga sensasinya tidak begitu mencekam lagi, karena itu sudah hal yang biasa dan wajib dilakukan oleh sepasang suami istri. Dan kami memang selama ini berhubungan badan secara normal-normal saja. Konvensional dan tidak pernah aneh-aneh. Paling-paling Mas Wira masuk lewat belakang dengan berbaring miring atau aku menungging. Aku juga tidak senang berada di atas, karena aku malah capai dan masuknya terlalu dalam. Aku lebih senang di bawah ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.