peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


ceritaku.1.peperonity.net

KAFE BUGIL ONLINE 2



KAFE BUGIL ONLINE 2
Tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dengan wajah yang merah padam dan berkata, "Maass.. Titin sayaangg banget sama Mas. Mas sayang nggak sama Titin?" tanyanya.
"Lho.. tadi kan Mas udah bilang kalau Mas juga sayang sama Titin," sahutku.
"Masss.. tadi waktu Mas pegang susuku, rasanya enaak sekali.. habis sewaktu cerita-cerita tadi susu sama tempek Titin jadi gatel lagi," sahutnya.
"Singkong Mas sekarang keras nggak?" sambungnya.

Tiba-tiba tangannya memegang penisku dari luar. Memang saat itu aku hanya memakai celana dalam sama sarung saja. Aku kaget setengah mati. Langsung kutepis tangannya.
"Huusss jangan.. nggak sopan.." kataku.
"Udah sekarang kamu tidur giihh udah malem. Besok kamu khan harus ke pasar. Nanti telat.." kataku lagi.
Akhirnya Titin pulang. Tapi sebelum pulang Titin mencium pipi kananku.
"Titin sayang Mas," katanya singkat.

Sepulangnya Titin, segala macam perasaan berkecamuk di dadaku. Ada perasaan apa antara aku dan Titin? Apa ini yang dinamakan cinta? Kalau cinta, berarti kita akan pacaran seperti cerita teman-temanku di sekolah? Tanpa kusadari akhirnya aku tertidur dan dibangunkan ibuku keesokan harinya.

Keesokan harinya, sepulang dari pasar, aku bingung kemana si Titin ya? Biasanya setiap aku pulang dari pasar, dia sedang mencuci baju di sumur. Aku masuk ke rumahnya dari pintu belakang, melewati dapur terus ke kamarnya. Ternyata dia sedang tidur, masih memakai daster yang semalam. Mungkin masih ngantuk karena tidurnya terlambat tadi malam pikirku. Ketika aku akan meninggalkan kamarnya, dia menggeliat. Kaki kanannya menekuk ke samping sedang kaki kirinya lurus. Maka terpampanglah kemaluannya yang masih terbungkus celana dalam nilon tipis warna cream.

Aku deg-degan melihat hal itu, kudekati dia. Wajahnya tampak damai sekali. Dadanya yang sedikit membusung itu turun naik dengan teratur. Sepertinya dia pulas sekali. Makin ke bawah kulihat pahanya yang putih mulus, makin deg-degan aku. Kuperhatikan dengan seksama vaginanya yang sedikit menggembung di selangkangannya. Ada garis samar-samar melintang dari atas ke bawah. Bulu-bulu halus tipis membayang. Kuelus perlahan-lahan. Terasa ada alur melintang. Kugesek-gesek perlahan takut dia bangun. Aku dekatkan wajahku ke sana. Ada aroma yang khas sekali, kucium perlahan. Baunya tak bisa aku definisikan tapi yang pasti segar sekali.

Kutempelkan hidungku, kutarik nafas dalam-dalam. "Aaahh.. segar sekali.." Berkali-kali kulakukan itu sampai kudengar dia mendesah. "Aaahhh..." Kukaget langsung mundur. Tapi dianya kok nggak bangun ya.. Aku jadi sedikit mengerti mengapa lelaki yang tidur sama Mbak Nunung suka menjilati kelaminnya Mbak Nunung. Menjilat? Apa nggak jijik ya. Tak terasa penisku mengeras. Aku betulkan posisi penisku karena miring kanan.

Setelah beberapa saat, aku beralih ke dadanya. Kuperhatikan ada tonjolan samar di puncak bukitnya. Kupegang susunya perlahan-lahan, kubelai-belai, kucium dari luar dasternya. "Aaahh.." baunya pun segar. Kuulangi bergantian kiri dan kanan. Lama-lama kok tonjolannya semakin keras? Kenapa? Tiba-tiba dia menggeliat. Aku kaget sekali. Refleks kugoyang-goyangkan badannya.
"Tin.. Tin.. banguuunnn.. udah nyuci beluuumm?" kataku supaya dia tidak curiga.
Dia bangun sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia kaget ada aku di sebelahnya.
"Terima kasih Mas, udah mbangunin aku. Aku belum nyuci," balasnya.
"Udah cepetan bangun. Nanti telat.." kataku.

Dia duduk sebentar lalu bangun dan mengambil cuciannya. Direndam, lalu dia mencuci beras. Aku menemaninya sambil memotong-motong pisang, singkong dan ubi. Setelah itu dia masak dan keluar lagi untuk mencuci baju. Aku membuat adonan. Aku agak heran dia kok jadi pendiam gitu ya. Setelah aku selesai, aku langsung mandi dan siap-siap berangkat.

Dalam perjalanan ke sekolah dia cerita.
"Mas, waktu aku tidur tadi aku mimpi aneh lho Maass.."
"Mimpi apa?" tanyaku.
"Aku mimpi aku sedang seperti Mbak Nunung."
Aku kaget sekali. Apa karena kuraba-raba ya.
"Kamu begituan sama siapa?" tanyaku.
"Sama Mas Pri," sahutnya.
"Aaahhh.. kamu siang-siang kok mimpi. Itu namanya mimpi di siang bolong," kataku.
"Udah jangan dipikirin banget entar di sekolah kamu banyak bengongnya lho," sambungku lagi.

Malam itu aku belajar seperti biasa. Dengan celana dalam dan sarung. Sekarang Titin datang dengan persoalan Fisika-nya. Masalah gelombang elektromagnetik. Seperti biasa kujelaskan panjang lebar. Akhirnya dia mengerti. Saat dia sedang mengerjakan tugas, kuperhatikan seluruh tubuhnya. Dia duduk di sebelahku. Kok dia tidak memakai kaos dalam lagi? Apa masih basah?Sambil dia mengerjakan tugas, kutanya dia, "Tin, kaos dalemmu masih basah ya.. kok nggak dipake?" tanyaku.
"Lho Mas Pri kok merhatiin Titin siihh.."
Aku diam saja. Bingung mau ngomong apa. Hening karena masing-masing mengerjakan tugasnya.

Setelah selesai semua, Titin membuka pembicaraan.
"Maasss.. Titin sengaja nggak pake ...



...kaos karena Titin pengen Mas Pri pegang susu Titin seperti kemarin. Abis enak lhoo.. Mas.. Mas mau khaannn.." kata Titin.
"Mas kan sayang aku," sambungnya.
Penisku mengeras dengan perlahan-lahan mendengar permintaan Titin.
"Eeee.. mmm gimana yaa.." jawabku bingung dan senang.
"Oke deh Mas mau. Tapi Mas mau tutup dulu pintunya. Takut ada yang liat.."

Setelah menutup pintu, aku berkata, "Sekarang Titin duduknya mepet Mas.."
Dia menggeser duduknya, kurengkuh pundaknya, dia menatapku. Kukatakan, "Mas sayang sama Titin.." Lalu dengan penuh perasaan kucium pipi, kening, mata, hidung akhirnya bibirnya. Dia hanya merem saja. Seperti biasa kami hanya berciuman bibir. Tangan kananku memeluknya, tangan kiriku ke dadanya. Kuremas perlahan-lahan kiri dan kanan bergantian. "Aaacchhh.. Enak banget Masss.. aaaccchh.." desahnya. Saat dia mendesah, tanpa sengaja lidahnya bertemu dengan lidahku. Aku memainkan lidahnya dengan lidahku. Dan dia sepertinya mengerti dan membalas. Lidah kami saling membelit. Senjataku sekarang sudah keras sekali. Agak sakit karena posisinya miring. Aku biarkan. Terbayang semua adegan Mbak Nunung. Kuturunkan ciumanku ke lehernya. Dia makin mendesah-desah. "Aduuuhh.. Maasss.. ooohh.. ooohh.."

Aku ingin memegang susunya langsung tapi Titin marah nggak ya?. Kucoba telesupkan tangan kiriku melalui celah ketiak dasternya. Oh halusnya daging kenyal itu. Besarnya kira-kira sebesar bola tennis. Ternyata Titin tidak marah. Malah dadanya makin dibusungkan ke depan. Kurasakan putingnya makin menonjol. Aku sentuh. Dia tersentak dan mendesah, "Ya.. ya.. Mas.. yang sebelah situ enak Mass. Terusin Mass.. aaacchhh.." Kupuntir puttingnya, dia makin menggelinjang.

Akhirnya aku tak tahan lagi. Aku bilang ke Titin, "Tin, Mas mau cium susumu boleh khaann?" Titin diam saja sambil memandangiku tapi jawabannya adalah dia melepaskan dasternya. Aku kaget atas reaksi Titin. Di hadapanku sekarang Titin sudah telanjang dada. Dadanya bagus sekali bentuknya. Susunya bulat. Kira-kira sebesar bola tennis. Putingnya merah muda agak ke atas dengan putingnya yang menonjol keluar. Aku terpana.

"Mass.. ayo dong jangan diliatin aja. Katanya mau nyusu.." Aku tersadar dan langsung mencium susunya. Kulumat putingnya bergantian. Kurebahkan dia di bangku. Nafasnya semakin memburu. Susunya semakin keras. "Ochh.. Masss. ooohh.. aaahh.. aduuhhh.. aaahh Mass nakaalll.."Tanganku yang tadinya memeluknya, secara refleks mulai mengusap-usap pahanya. Dari dengkul sampai selangkangan. Berkali-kali kulakukan hal itu. Setiap sampai di selangkangannya, pahanya membuka. Kusentuh vaginanya dari luar CD-nya. Dia makin menggelinjang dan makin keras pula desahannya. Kok basah? Ah paling-paling keringat. Memang saat itu badannya sudah basah dengan keringat. "Mass.. oohhhh.. hhaahh.. oohh ahhh.."

Takut ibuku bangun, kucium mulutnya. Kami saling melumat lagi. Lumatannya sudah seperti orang yang kesetanan. Tangan kiriku di dadanya, dan tangan kananku di atas vaginanya. Tanganku mulai menyelusup ke dalam CD-nya. Terasa olehku bulu-bulu halus. Makin ke bawah kutemukan garis belahan. Kumasukkan jari tengahku ke belahan vaginanya. Basah dan licin. "Ooohh.. ternyata basahnya dari sini," pikirku. Kumainkan jari tengahku. Kutekan dan kugosok dengan pelan, makin lama makin cepat. Pantatnya bergerak-gerak seirama dengan gosokanku. Tak lama, tiba-tiba dia menjerit dan tersentak, "Maasss.. aku pipiisss.. aaahh.." Tanganku basah dengan cairan lengket licin. Dia langsung terlentang lemas dengan nafas yang tersengal-sengal seperti orang yang habis dikejar anjing.

Wajah Titin merah, berkeringat dan terlihat amat cantik dengan senyumnya yang mengembang.Saat itu aku tidak tahu apa itu orgasme, G-spot, atau istilah seks lainnya.
"Maass.. Titin lemeesss.." katanya.
"Mas.. tangannya ada pipis Titin tuuhh.." sambungnya lagi.
Kutarik tanganku dari celana dalamnya. Aku bingung. Kok pipisnya lengket begini? kucium. Kok nggak pesing yaa?

Aku teringat lelaki yang bersama Mbak Nunung. Dia saja mau jilatin punyanya Mbak Nunung. Kucoba jilat cairan yang ada di tanganku. Rasanya asin semu manis gurih dan agak sepet. Ini apa ya..? Kucoba jilat lagi. Enak kok.
"Mas Pri joroookkk.. pipis Titin kok dijilat.."
"Tin, pipismu kok lengket begini?" tanyaku pada Titin sambil kudekatkan tangan kananku ke wajahnya.
Dia perhatikan dengan seksama tanganku.
"Biasanya nggak begini Mass.. biasanya seperti air. Tapi yang ini kok lengket ya..?" gumannya dengan bingung.
"Dan waktu Titin pipis tadi, Titin rasanya seperti melayang-layang lho Mas. Enaakkk banget. Sekarang Titin lemes," sambungnya.

Tiba-tiba dia bangkit seperti teringat sesuatu. Padahal tadi dia mengaku masih lemes.
"Singkongnya Mas Pri keras nggak?" tanyanya sambil tangannya masuk ke dalam sarungku. Aku kaget karena tiba-tiba Titin memegangnya, kutepiskan tangannya. Tapi sepertinya dia tidak ...



...rela.
"Tadi Mas Pri megang-megang tempekku, aku diemin. Sekarang kok aku pegang singkong Mas Pri Masa nggak boleh?" rajuknya.
Aku bingung. Akhirnya kudiamkan, dia pegang penisku. Aku didorongnya supaya tiduran terlentang.Dia mengangkat sarungku, dia pegang dari luar CD-ku.
"Besar sekali Maass.." katanya.
"Kok celana dalemnya basah? Mas Pri pipis ya?" sambungnya.
Mungkin dia membandingkan dengan saat kita mandi bersama dulu. Dulu memang penisku tidak tegang karena sudah terbiasa bersama. Dielus-elus penisku. Waaahh.. rasanya penisku jadi tegang lagi setelah agak melunak.
"Waahh.. Mass makin besar tuuhhh.. sakit nggak?" katanya sambil terus mengelus.
"Aaahh.." aku mengerang keenakan dielus seperti itu.

Karena semakin tegang, kepala penisku akhirnya nongol di atas karet celana dalamku. Kepala penisku diusapnya.
"Aaahh.." aku seperti kena setrum listrik.
"Air apa ini Mas, kok bening, agak licin?" tanyanya. ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.