peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


ceritaku.1.peperonity.net

KAFE BUGIL ONLINE 3




KAFE BUGIL ONLINE 3
Hening sejenak.
"Mas, kalau Mas maunya diapainn," katanya sambil memegang penisku.
"Terserah Titin aja," kataku.
"Titin kocokin seperti semalem yaach."
Lalu dia jongkok, mengocok-ngocok penisku yang tegang. Aku mendesah keenakan. "Aaahh.. Ooohh... sshhh.." Penisku makin tegang saja rasanya.

Tiba-tiba penisku terasa geli, basah dan hangat? kutengok ke bawah. Ternyata Titin sedang menjilat-jilat kepala penisku. Aku tidak tahu belajar darimana dia, yang penting yang kurasakan saat itu nikmat sekali. Mimpi dipegang tititku oleh perempuan saja aku tak pernah. Apalagi sekarang dijilat. "Aduuuhh Tiinnn.. aku kamu apaiiinn.. aaahh.."

Saat sedang enak-enaknya mengerang, tiba-tiba kok hangatnya tidak di kepalanya saja. Kulihat ke bawah, "Astaga..!" Penisku diemut. Belum berfikir yang lain, tiba-tiba ada rasa aneh di penisku, ternyata selain diemut, Titin pun menghisapnya. Tak tahan akan gelinya, aku semakin mengerang. "Tiinnn.. aku kamu apaiiinn.. Tiinnn.. kamu kok tegaaa.." Tak berapa lama aku kepengin pipis. "Tiinnn.. udaaahh.. Mass mau pipisss.." Karena tidak tahan dan Titin tidak melepaskannya, akhirnya, "Croottt.. croottt.. croottt.." Empat atau lima kali penisku menembakkan cairannya di mulut Titin. Titin kaget sekali. Sebagian ada yang tertelan dan sebagian lagi meleleh keluar dari bibirnya.
"Mas Pri jahat.. pipis kok di mulut Titin.." katanya sambil berdiri dan mengelap mulutnya dengan kain jarik. Lalu dia minum air putih.
"Titin juga siihhh.. Mas bilang udah.. udah, tapi Titin nggak mau lepasin," balasku.
"Udah sini tiduran. Mas kelonin," sambungku.

Sambil kukelonin, kucium pipinya.
"Titin kok mau ngisep singkongnya Mas? Apa nggak jijik. Khan jorok," pancingku.
"Lho, kata Mas kalau sayang kan nggak jijik."
"Tadi pipis Mas gimana rasanya? Enaakk?"
"Enak Mas. Kayak santen tapi agak asin."
"Titin belajar dari mana?"
"Waktu Titin ngintip, Titin liat Mbak Nunung ngisep tititnya Oom. Kayaknya Oom itu keenakan. Terus Titin mau Mas juga keenakan. Ya Titin ikut-ikutan Mbak Nunung."
"Mas, Titin malu mau ngomong sama Mas."
"Ngomong aja. Sama Mas kok malu."
"Titin juga punya bacaan. Titin dapet sewaktu beli koran bekas untuk bungkus. Ada dua Mas. Yang satu Eni Arrow, yang satu Nick Carter."
"Sewaktu Titin baca, badan Titin merinding semua. Terus susu sama tempek Titin jadi gatel."
Ooohh pantes dia cepet belajar. Dari situ toh sumbernya. Ditambah live show.

Selama kelonan, dadanya menghimpit dadaku. Terasa hangat dan kenyal. Lama-lama penisku keras lagi. Kucium pipi dan bibirnya lagi. Dia pun menyambutnya dengan mesra. Kami berciuman, bergulingan. Tanganku pun mulai bergerilya lagi. Ke susunya, punggungnya, lehernya, selangkangannya. Akhirnya tangan kananku berhenti di daging lunak di selangkangannya. Aku mulai mengusap-usap klitorisnya. Dia makin mendesah-desah nggak karuan. "Aaahh.. Maaass.. Titin sayang sama Mas Pri.. shhh.. aaahh.. enak Masss.. teruuuss Masss.." Sementara tangannya mulai meremas-remas punyaku. Penisku sudah pada puncaknya sekarang.

Tiba-tiba Titin melepaskan pelukannya.
"Masss.. Titin mau seperti Mbak Nunung.. Mas mau khaaann.." katanya sambil menatap mataku.
Ada permintaan tulus di sana, ada gelora di sana, ada sesuatu yang aneh di sana.
"Tapi Mas takuutt.. Nanti gimana? Kita khan belum pernah.."
"Tapi Titin mau Masss.." katanya lagi.
Lalu penisku diusap-usapkan ke mulut vaginanya yang sudah basah.
"Aaahh.. sshhh.." dia mendesah.

Mendengar desahannya, aku mulai bertindak. Kukangkangkan pahanya, terlihatlah vaginanya yang tembem dengan rambut halus dan jarang, bagian dalamnya yang merah muda dan ada tonjolan daging sebesar kacang kedele. Vaginanya ternyata sudah basah sekali. Merah berkilat-kilat. Kusentuh kacang kedele itu.
"Aaccchh.. Masss.. ssshh.."
Oh, jadi ini toh yang bikin dia menggelinjang itu. Kusentuh lagi.
"Aaccchh.. Masss.. ssshh.. diapain siiicchh Mas.. nakal amat siihh.." desahnya.
Kudekatkan wajahku supaya bisa melihat lebih jelas. Bentuknya lucu sekali. Aku coba menjilatnya.
"Aaacchh.. Masss.."
"Ayooo.. doonnngg.. Mass.. cepetannn.." katanya tak sabar.

Kuarahkan kepala penisku ke mulut vaginanya, kutekan sedikit.
"Aaahh.." ada rasa hangat di kepala penisku. Kutekan sedikit. Kok mentok? Kutekan lagi. Mentok lagi.
"Tin, lubangnya yang mana?" tanyaku.
"Agak ke bawah sedikit Mass, di bawah yang Mas pegang tadi."
Kuperhatikan dengan seksama. Oh, itu toh lubangnya. Kok kecil sekali? Apa punyaku bisa masuk?Kuarahkan penisku ke sana, kutekan. Kok melesat. Coba lagi. Meleset lagi.
"Tiinn.. bantuin doonngg.."
Titin memegang penisku lalu mengarahkannya.
"Teken Mas.. ya.. ya.. di situ teken Mas."
Kutekan pelan-pelan. Kok meleset? Tekan lagi meleset lagi. Gimana sich caranya? Kupegang erat-erat penisku lalu tekan agak keras. Dan..

"Aaa.. Maasss sakiiitt. Pelan-pelan dooong ...



...Maaass.."
Terasa kepala penisku terjepit sesuatu yang hangat.
"Tahan Mas.. tahan.."
Dia meringis sepertinya menahan sesuatu.
"Ayo teken lagi Mass.. pelan-pelan Masss.. aaahh.."
Kutekan perlahan-lahan dengan kekuatan penuh. "Aaahh.." Kepala penisku terasa ngilu. Hangat. Kulihat sudah separuhnya tertancap, Titin meringis, kutahan sebentar.

Setelah Titin terlihat tenang, dengan tiba-tiba kutekan penisku sekuat tenaga, "Blesss.. bret.."
"Aaawww.. sakiittt Masss.. tahan Mass.. diem dulu Masss.." Titin berteriak.
Lalu kutahan. Ujung penisku seperti menyentuh sesuatu yang hangat. Aduh, rasanya seluruh penisku seperti terjepit oleh sesuatu yang hangat dan berkedut-kedut. Rasanya linu, sakit, enak, semuanya jadi satu.

"Tiinnn.. tahan sedikit ya.." kataku.
Lalu aku menarik pantatku dan menekannya secara perlahan-lahan. Berulang kali. Kulihat Titin meringis-ringis. Begitu juga aku ikut meringis. Tapi kami sama-sama tidak mau berhenti.Setelah mungkin ada sekitar 15 kali naik turun, vagina Titin mulai agak licin. Dan Titin pun mulai tidak meringis lagi.
"Ayoo.. Mass.. ayoo Mas.. enak.. aaduuuhh enaaakkk Masss.. aaacchh.. ssshh.."
Aku pun merasa sudah tak begitu linu lagi.
"Ayooo Mass.. yang cepet Mass.. yang dalem Masss.. Sshhh.. aaacch.."

Mendengar desahan itu aku makin cepat memompa penisku naik turun. Makin cepat, secepat aku bisa. Titin kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tangannya memegang sisi dipan. Susunya bergoyang-goyang. Badannya basah oleh keringat begitu juga rambutnya. Pantatnya yang tadi diam, sekarang mulai bergoyang. Naik, turun, kiri dan kanan. Tak lama aku merasa penisku semakin linu dan geli yang tak tertahan, dan terasa ada sesuatu yang mau keluar. Tapi aku merasakan tak ingin berhenti memompa.

Tiba-tiba Titin merangkulku dengan keras, menggigit pundakku. "Aaahh.. Aaauuw.. Aku pipiiss.. Masss.." Aku yang juga merasa mau pipis, kutekan sekuat tenaga penisku sampai mentok dan kutahan. "Samaaa.. Massss juga pipisss.. aaacchh.." dan, "Crooott.. crooott.. crooottt.." Empat kali penisku menyembur ke vagina Titin. Aku tergolek lemas di atas tubuh Titin. Tubuh kami sama-sama banjir oleh keringat. Kami diam beberapa saat. Penisku sudah lemas tapi masih tertancap di vaginanya.

Setelah mengatur nafas masing-masing, Titin berbisik, "Terima kasih banyak Mas.. bukan main.. Masss.. enak banget ya Maaass.."
"Eee.. Tiiinnn.. jangan gerak dulu. Masih linuuu.." desahku.
Karena tak tahan kucabut punyaku, dan aku tergolek di sebelahnya.
"Pantesan aja Mbak Nunung sering beginian. Nggak taunya enak banget." desahku setelah bisa mengendalikan diri.

Tiba-tiba kami sadar bahwa ada tugas yang harus kukerjakan. Aku langsung bangun. Dan kulihat ada bercak-bercak kemerahan di dipan Titin dekat selangkangannya.
"Tiinnn.. punya kamu berdarah ya.. masih sakit..?"
"Sedikit Mas.. Linunya ini yang belum hilang."
"Udaahh bangun aja. Nanti siapa tahu ilang sendiri." kataku.

Lalu kubantu dia bangun, mengelap dipan dengan kain basah sambil melirik jam beker. Ya ampun 2 jam lebih aku bergelut dengan Titin. Setelah dia berpakaian, kubantu dia merendam cucian sementara dia mencuci beras. Dia mencuci baju, aku memotong-motong ubi dan singkong. Karena sudah hampir terlambat, kami mandi bareng berdua. Di dalam kamar mandi itu kami saling ciuman lagi, saling meremas lagi.

Sesampainya di warung, ibuku bertanya, "Titin Kenapa, kok jalannya agak pincang?"
"Terpeleset waktu nyuci baju Bu.." aku yang yang menyahut.
Memang Titin jalannya agak sedikit pincang. Siang itu kami sekolah bergandengan tangan seakan tak mau dipisahkan.

Malam harinya saat belajar, Titin datang lagi. Kali ini sebelum belajar kami bercumbu dulu.
"Tiinnn.. maafin Mas ya.. Mas khilaf.. Mas sudah mengambil keperawanan Titin."
"Nggak Mass, Titin dong yang seharusnya minta maaf. Khan Titin yang minta. Mas nyesel ya.. perjaka Mas udah ilang?"
"Lho, yang seharusnya nyesel itu khan yang perempuan bukan laki-laki."
"Tapi Titin nggak nyesel sama sekali, malah bangga bisa ngasih sama Mas."
"Sekarang Titin nggak mau pisah sama Mass.. Titin mau sama Mas terus.. Dan Titin janji nggak mau sama yang lain selain Mas." sambungnya lagi.
Kok air matanya netes? kucium dia dengan lembut.
"Terima kasih Tin.. Mas juga janji. Mas juga nggak mau dengan orang lain selama ada Titin."
Dia memelukku lama sekali. Seakan tidak mau dipisahkan.

Aku sekarang sudah terbiasa kalau sedang mencium, tanganku mengelus-elus punggungnya, lalu meremas-remas dadanya. Eh, dia nggak pake kaos lagi. "Aaahh.. Masss.." dia mendesis. Tanganku mulai turun ke arah bongkahan pantatnya, kuremas-remas. Desahannya semakin keras saja. Tangganya pun mulai masuk ke dalam sarung. Mulai memegang sesuatu yang mulai mengeras. "Mass.. Titin mau lagi doonng.." Busyet, ini anak sepertinya maniak banget.

Beberapa saat kemudian ...




...kulepaskan daster dan celana dalamnya. Dia pun menurunkan sarung dan celana dalamku, lalu kaosku. Bugillah kami berdua. Kukecup lehernya sambil kuremas-remas dadanya. Kupuntir putingnya, dia mendesah. "Ssstt.. jangan berisik dong.. nanti Ibu bangun.." dia pun mengecilkan suaranya. Hanya mulutnya yang meringis-ringis saja. Tangannya tidak tinggal diam. Mulai menggenggam penisku dan mengocok dengan perlahan. "Mass.. kuhisap yaa.." katanya.

Lalu dia berbalik arah. Mulutnya yang mungil mulai menjilati kepala penisku. Seperti ada tegangan tinggi yang mengalir di tubuhku. "Aaahh.. Tiiinn.." desahku perlahan saat dia mulai mengulum kepala penisku. Sementara itu vaginanya ada di depanku. Posisi 69 ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.