peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


ceritaku.1.peperonity.net

Bonus Mandi Subuh Di Sumur Tua - 2

Bonus Mandi Subuh Di Sumur Tua - 2

Dari bagian 1

Setelah Mamanya Sari mengutarakan keadaan Sari pada saya dengan suara agak lembut dari sebelumnya, iapun lalu berkata.

"Sebenarnya saya tidak melarang kamu dit, bermain-main seperti yang kamu lakukan tempo hari di sumur ini, tapi jangan di depan anak saya Sari, sebab ia masih anak gadis yang tidak tahu apa-apa, nanti urusan sekolahnya terganggu. Jika kamu benar-benar mau begitu, kan banyak perempuan lain yang menyukai hal seperti itu. Saya sendiri sudah tua, tapi masih senang dengan hal seperti itu. Suamiku tidak pernah memperlihatkan penisnya pada saya seperti yang pernah kamu perlihatkan pada anakku Sari di sumur ini. Padahal sudah lama saya ingin sekali melihat secara jelas, tapi tak pernah ia mau dan saya pun tak pernah meminta ia telanjang bulat sebab saya malu dan takut meminta atau menyuruh ia lakukan di depanku. Nanti ia menyangka aku ini macam-macam atau hiper sex".

Alangkah bahagianya dan mengherankan saya ketika mendengar kata-kata polos dari Mamanya Sari itu. Apalagi ketika ia berterus terang pada saya bahwa,
"Saya pun sebenarnya tidak pernah berani dan diminta oleh suami saya untuk telanjang bulat di depannya sekalipun kami sudah mau kerjakan perbuatan itu yakni bersetubuh atau bersenggama. Kalau suamiku mau menggauliku, ia tak pernah banyak bicara, banyak tingkah dan tak pernah meremas-remas tetekku atau vaginaku. Ia langsung saja bangun, lalu duduk, lalu mengangkat sedikit sarungku, lalu ia tarik kebawah rok dan celanaku. Pada saat seperti itu, saya sudah ngerti maunya, lalu saya renggangkan sedikit kedua pahaku, kutarik sedikit kedua bibir kemaluanku, lalu ia masukkan penisnya, sebab sebelum bangun biasanya penisnya sudah berdiri lalu bangun langsung mengangkangiku. Kedua tangannya ditellakkan di samping kiri kanan sebagai penyanggah, lalu ia dorong bolak balik penisnya hingga amblas seluruhnya."

Mamanya Sari cerita panjang lebar padaku, katanya, "Ketika suami saya sudah masukkan penisnya ke dalam vagina saya, saya hanya membantu menggerak-gerakkan pinggul saya supaya amblas seluruhnya, jika perlu dengan biji plernya sekalian biar lebih nikmat rasanya ha.. Ha. Saya rasanya bahkan takut dan malu mengajak lebih dulu senggama meskipun sebenarnya saya sudah ingin sekali. Apalagi telanjang bulat tanpa permintaannya. Jadi hingga keluar sperma dari penisnya, tak pernah sama sekali merobah posisi atau gerakannya. Tak pernah ia mencium susu, pipi, bibir, kemaluan atau kelentitku seperti yang sering saya dengar dalam cerita orang-orang yang biasa nonton film porno dari vCD". Cerita Mamanya Sari pada saya dekat sumur yang merangsang saya.

Cerita terus terang dan panjang lebar itu, mungkin disengaja oleh Mamanya Sari karena ada maksud lainnya pada saya, tapi yang jelas ia kelihatannya agak kesal atas kepasifan suaminya dalam bersetubuh, sehingga ia seolah-olah ingin menikmati lebih daripada itu, misalnya dirangsang lebih dahulu atau diperlihatkan segala alat vital suaminya, seperti yang ia lihat pada saya tempo hari. Ia nampanya ada keinginan praktekkan cerita porno yang sering ia dengar dari teman pergaulannya, sebab ia sendiri belum pernah menyaksikan langsung adegan sex dalam film atau membaca cerita porno. Ia hanya dengar dari orang lain bahwa banyak posisi dan model gerakan sex yang dapat dilakukan dan rasanya lebih nikmat dari pada posisi biasa yang ia kenal dan sering lakukan.

Setelah membeberkan pengalamannya dengan suaminya, Mamanya Saripun berbegas ke sumur untuk mandi sambil berkata,
"Tunggu saya dulu yah, nanti kita sama-sama pulang" ucapannya sambil berjalan ke pinggir sumur.
Spontan saja belum sampai di tempat cucian pinggir sumur, ia sudah buka sarung dan bajunya, sehingga dari belakang saya sempat melihat kait BH-nya dan CDnya yang warna kuning.
"Dasar perempuan penasaran" (dalam kati saya).
Sesaat setelah itu, ia sudah bugil, sebab memang ia tidak pakai rok dan baju dalam, namun kali ini baru terlihat dari belakang. Tapi berselang beberapa detik saja, ia sudah menyiram seluruh tubuhnya yang polos itu dengan air. Saya sempat terperangah dan tersentak sejenak ketika ia berbalik ke arah saya, apalagi saya berdiri tak jauh dari tempatnya mandi, sehingga susu dan putingnya yang menantang serta gundukan yang ada di selengkangannya terlihat dengan jelas sekali.

Jantung saya berdebar ingin menyaksikan pemandangan itu lebih lama, bahkan memegangnya sekalian, tapi ada rasa malu dan takut dalam hati saya, sehingga saya mencoba untuk terus terpaku di situ. Susu dan putingnya yang tidak jauh beda dengan milik Sari, mungkin karena baru dua anaknya yang pernah mengisap dan itupun sudah lama sekali, sementara bapaknya memegangpun jarang, apalagi menjilatinya, sehingga wajar jika masih indah, montok dan menantang. Hanya yang kurang wajar bagi saya adalah gundukan yang ada di selangkangannya, ternyata bersih, agak mengkilap seolah belum pernah melahirkan, bahkan tak satupun bulu-bulu yang tumbuh di atasnya. Padahal menurut perkiraan saya usianya sudah di atas 40 th. Umumnya orang mengatakan bahwa rata-rata kemaluan orangtua setengah baya ditumbuhi bulu yang agak lebat, sedang kemaluan Mamanya Sari justru gundul dan tidak ada bekas dicukur.

Keadaan alat sensitif Mamanya Sari saya ketahui setelah ia tiba-tiba memanggilku, "Dit, ke sini dulu, bantu saya gosokkan dengan sabun pada bokong saya sebab tangan saya tak sampai."

Dia memanggilku sambil sedikit melambaikan tangannya ke arah saya. Tentu saja walaupun diselingi rasa takut bercampur malu, tapi sebagai pria normal yang pernah dan ingin menikmati keindahan tubuh wanita, saya harus lebih memberanikan diri dan membuang jauh-jauh rasa takut dan malu agar kesempatan emas ini dapat saya nikmati. Segera saja saya lebih dekat dan meraih sabun dari tangannya, lalu pelan tapi pasti saya coba sentuh bokongnya dan menggosoknya dengan sabun sampai bersih. Dalam hati kecil saya sudah yakin jika Mamanya Sari justru mau menikmati barang saya yang telah disaksikan tempo hari, apalagi setelah saya kaitkan dengan ceritanya tadi dengan suaminya yang seolah kurang puas bersetubuh dengannya, maka tidak ada lagi rencana lain kecuali ingin menjadikan aku sebagai pemuas nafsunya.

Setelah beberapa menit saya gosok-gosokkan tangan saya di daerah belakan, kini tiba-tiba ia berbalik menghadap ke arah saya sehingga tanpa sengaja tangan saya bersentuhan sedikit dengan payudaranya. Iapun kelihatannya merinding dan merasa nikmat atas sentuhan tangan saya, dan saya langsung.

"Maafkan saya bu, saya tak sengaja" kata saya pada Mamanya Sari saat menyentuh susunya tanpa sengaja.
"Mmm.., Tak apa-apa, jika perlu kamu boleh pegang, remas, cium dan isap putingnya" itulah yang sempat diucapkannya sambil menarik tangan saya ke arah teteknya, sehingga tanpa perintah sayapun memegang dan meremasnya sedikit.

Bahkan kali ini ia telanjangi aku dengan menarik sarung saya ke atas hingga keluar lewat kepalaku, selanjutnya ia tarik celana dalam saya ke bawah hingga lepas, sehingga saya dalam keadaan bugil seperti dirinya. Sungguh luar biasa kenikmatan dan kebahagiaan di subuh hari ini, ternyata impian saya untuk menikmati tubuh Sari jatuh pada tubuh Mamanya yang tak jauh beda bentuk dan segalanya.

Mula-mula berjalan agak pelan dan lembut remasan tangan saya atas kedua payudaranya, namun karena terdengar bisikannya

"Cepat-cepatlah dit.. Nanti ada orang ke sumur ini dan ia mendapati kita, pasti ia bunuh kita, isaplah cepat puting susuku" begitulah kata-katanya sambil menarik kepala saya lebih rapat lagi ke teteknya, bahkan tangannya juga sudah mulai berani memegang dan mengocok penis saya sehingga sayapun merasa kenikmatan.
Napas kami saling buruh, hingga "sstt.. Aaahh.. Mmm.. Nnn.. Ohh.. " itulah suara yang terdengar dari mulutnya di kesunyian subuh itu menambah indahnya untaian burunhg di atas pohon yang sudah mulai ramai kedengaran karena memang sudah menjelang pagi.

Saya merasa tak lama lagi para warga akan berdatangan mengambil air di sumur itu, sehingga kami tambah mempercepat aksinya. Tanpa ia minta dan perintahkan, saya segera menurunkan kepala ke selangkangannya ingin juga rasanya menikmati vaginanya yang bersih, indah, gundul dan montok itu lewat mulut saya.

Sesaat setelah itu, maka saya dengan cepatnya pun menjulurkan lidah saya ke lubangnya setelah saya sedikit membuka kedua bibir kemaluannya dengan kedua tangan saya setelah merenggangkan kedua pahanya karena ia masih dalam keadaan berdiri. Setelah terasa lidahku masuk ke lubang vaginanya, maka saya gerak-gerakkan biar dia menikmatinya dan tidak penasaran lagi seperti ceritanya tadi. Ternyata tindakanku itu tidak sia-sia sebab nampak dari rintihannya, ia sungguh menikmati gesekan kiri kanan atas bawah maju mundur lidah saya. Mungkin karena saking nikmatnya, maka ia tak tahan berdiri, ia segera jongkok, lalu mencari tempat duduk di atas batu yang ada dibibir sumur, sehingga saya lebih leluasa menjilati vagina dan kelentitnya, kadang saya gigit-gigit kecil sehingga pinggulnya maju mundur tanpa disengaja.

Setelah saya puas menjilati vagina dan kelentitnya serta saya yakin ia betul-betul puas menikmatinya, saya pun coba angkat pantatnya dan menurunkannya ke lantai tempat cucian sumur karena sejak tadi saya ingin sekali menembus vaginanya dengan penis saya. Baru saya berlutut di antara kedua pahanya yang berdiri, ia tiba-tiba jongkok sehingga kelihatan warna lubang vaginanya yang agak kemerahan yang di tengahnya tertancap suatu daging menumpang kecil dan bulat.

Ia segera meraih penis saya, lalu dikulumnya secara keras dan cepat seolah ingin memuaskan aku lebih cepat, apalagi kicauan burung sudah lebih ramai kedengaran sebagai tanda bahwa hari sudah menjelang pagi. Tak lama lagi warga akan berdatangan ke sumur itu, maka tak lama kemudian iapun segera mengakhiri kulumannya pada penis saya, lalu berbaring di lantai cucian dan menyanggah kepalanya dengan batu yang ada di pinggir sumur, lalu merenggangkan sedikit kedua pahanya, sebagai isyarat saya harus cepat-cepat memasukkan penis saya ke vaginanya yang dari tadi

Sesudah itu, sayapun segera berlutut di antara kedua pahanya, lalu sedikit demi sedikit mendorong penis saya kedepan hingga ujungnya terasa tertancap pada salah satu lubang yang menang menganga dan menunggu kehadirannya. Pada mulanya terasa agak sulit masuknya, sehingga sejenak ujungnya bertahan pada lubang bagian luar vaginanya, namun setelah berkali-kali saya gerakkan, ke kiri, ke kanan, maju, mundur, akhirnya amblas juga. Mulailah aku maju mundur dan gerakkan dengan cepat penis saya, sehingga kedengaran bunyi.

"Blak.. Blakk.. Decak.. Decik.. " seirama dengan kicauan burung di atas pohon.

Mamanya Sari hanya bisa mendesis seperti seekor ular yang mau mematuk, "sstt, ahh, mm.. Eeenakknya, ceepat dit" begitulah suaranya yang bisa keluar dari mulutnya hingga saya membalikkan tubuhnya dan saya tinggal di bawah. Iapun mengerti apa keinginan saya, dan langsung saja ia naik turunkan pinggulnya seperti orang naik motor di atas jalanan yang penuh dengan batu besar.

Kami secara bersamaan mengeluarkan suara-suara yang tidak pernah berobah, "Aaahh.. Mmm.. Ssstt.. Aduuhh.. Ennaakk" begitulah berkali-kali suara kami.

Akhirnya tanpa aba-aba ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.