peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


ceritaku.2.peperonity.net

BESANKU


BESANKU
Walaupun usiaku baru saja memasuki kepala 5, tetapi aku pun sudah sejak lama menjadi salah satu penggemar situs ini.
Selain untuk mengisi waktu, juga untuk mengetahui siapa tahu ada hal hal yang baru yang belum pernah kualami sebelumnya. Nah, selama ini aku hanya membaca tulisan tulisan orang lain, sekali ini aku ingin membagi pengalamanku kepada pembaca lainnya. Aku yakin pasti ada diantara pembaca yang mempunyai komentar "sudah tua kok nggak tahu diri" dan komentar2 semacam itu aku anggap wajar2 saja, tetapi yang menjadi pertanyaanku apabila ada yang memberikan komentar seperti itu, apakah sex itu hanyalah untuk orang2 muda saja ? Tentu tidak bukan ?

Kejadian ini berlangsung beberapa bulan yang lalu ketika anakku melangsungkan pesta pernikahannya di kota kecil Pr di Jawa Timur yaitu di tempat calon mertuanya bernama Pak Har (60 Thn) dan Bu Har (46 thn) yang masih menjadi kepala Desa. Aku dan istriku sebetulnya tidak setuju kalau anakku yang baru saja lulus dari salah satu universitas di Jawa Tengah harus segera kawin dengan pacarnya yang sama2 baru lulus. Rencanaku biar anakku dapat kerja yang mapan dahulu sebelum kawin, tetapi Pak Har dan Istrinya terus mendesak agar mereka berdua cepat cepat di kawinkan agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan dan Bu Har sudah ingin menimang cucu, katanya. Tetapi karena anakku setuju dengan permintaan keluarga yang perempuan, ya sebagai orang tua tidak bisa berbuat lain selain merestuinya.

Tiga hari sebelum hari pernikahannya, aku dan istriku sudah berada di kota Pr. dan disambut dirumahnya dengan hangat oleh calon besanku Pak Har dan bu Har serta keluarganya. Aku dan istriku benar2 dibuat surprise dan tidak terbayangkan sebelumnya, orang2 yang ada di rumah itu begitu hormat kepada keluarga Pak Har dan yang lebih mengherankan lagi, rumahnya begitu besar dikelilingi tanaman buah2an dan ada pendoponya yang luas serta di salah satu sisinya ada seperangkat gamelan jawa. Bagaimana tidak heran, jabatan Pak Har hanyalah kepala desa yang tidak menerima gaji, tetapi hanya menerima tanah bengkok selama dia menjabat. Yang membuatku lebih terpesona adalah Bu Har calon besanku perempuan, walaupun usianya sudah tidak muda lagi, tetapi dengan tubuh yang semampai tidak terlalu tinggi serta kain kebaya yang dipakainya serasi dengan warna kulitnya yang putih bersih dan kuperhatikan Bu Har terlihat sangat anggun, apalagi sisa2 kecantikan diwaktu mudanya masih terlihat, sehingga membuatku terpesona dan tidak ingin melepas memandangnya dan kadang2 aku harus mencuri curi pandang, agar istriku tidak mengetahuinya apabila aku memandangnya soalnya kalau sampai ketahuan, bisa2 terjadi perang besar. Bu Har bukannya tidak tahu kalau sering kupandangi dengan penuh kekaguman dan ketika beberapa kali bertemu pandang, kuperhatikan dia selalu tersenyum sehingga terlihat giginya yang putih dan rata.

Hari pertama kedatanganku di kota ini, setelah makan siang bersama calon besanku, Bu Har lalu disuruh suaminya menghantarkan aku dan istriku untuk beristirahat di rumah sebelah… "Buuuu….. sana antar calon besan kita untuk istirahat di tempat yang sudah kita siapkan", kata Pak Har dan sesampainya di rumah sebelah yang masih satu halaman dengan rumah induk, tenyata rumahnya pun cukup besar dan kamar yang disediakan untukku dan istriku pun sangat besar walaupun tidak ada kamar mandi didalamnya. Setelah menunjukkan tempat2 yang dianggap perlu termasuk kamar mandi yang agak jauh dibelakang, lalu bu Har pamit untuk kerumah sebelah. "Terima kasih… mbaaak… atas semuanya, kataku sambil menjabat tangannya dan jabatan itu tidak kulepas dengan segera dan Bu Har pun tetap tidak menarik tangannya dan kembali kulihat senyumannya yang manis, sambil tiba2 menarik tangannya setelah mungkin merasa tangannya kujabat terlalu lama dan terus meninggalkanku kembali ke rumah sebelah.

Sore harinya ketika aku dan istriku sedang duduk di teras, kulihat Pak Har dan istrinya muncul dari belakang lalu duduk ngobrol menemani kami berdua dan tidak lama kemudian datang dua wanita dengan membawa pisang goreng serta teh panas. Setelah ngobrol kesana kemari membicarakan acara untuk pernikahan, Bu Har segera pamit kebelakang entah untuk apa, sehingga obrolan dilanjutkan oleh kami bertiga saja. Karena tadi aku terlalu banyak minum air, terasa aku ingin buang air kecil dan setelah permisi kepada pak Har untuk kebelakang sebentar lalu aku beranjak kebelakang menuju kamar mandi yang tadi ditunjukkan oleh bu Har, karena sudah begitu kebelet untuk kencing lalu sambil menurunkan resleting celanaku serta mengeluarkan meriamku, kudorong pintu kamar mandi dengan bahuku dan terus masuk kamar mandi, tetapi alangkah kagetnya ketika didalam kamar mandi itu kulihat bu Har sedang berada di kamar mandi serta telanjang bulat seraya menggosok gosok badan dengan tangannya. Kulihat bu Har pun begitu terkejut ketika mengetahui ada orang masuk kekamar mandi dan secara reflek bu Har berteriak kecil….. "maaaaaaas," sambil berusaha menutupi badannya dengan kedua tangannya. Setelah pintu kamar mandi kudorong tertutup, kudekati dia sambil kupegang kedua bahunya serta kukatakan dengan suara sedikit berbisik karena takut ada yang mendengar…. "mbaaaak…… maaa’aaaaaf….. saya tidak tahu kalau… embak lagi mandi……" "Sudah… laaaah," sahut bu Har juga sedikit berbisik…. sana… keluar…… nanti ada yang lihat….. lagian ...

...mau apa siiiih… maaaas…?" "Saya… kebelet kencing… mbaaaak…," sahutku dan disambutnya dengan kata2….. "cepaaat….. kencingnya….. dan cepat keluar….." Tanpa komentar lagi aku keluarkan meriamku yang setengah berdiri karena melihat tetek dan memek bu Har yang ditumbuhi bulu jembut yang hitam lebat dan aku terus kencing dengan posisi menyamping dan sambil kulirik, kulihat mata mbak Har sepertinya sedang tertuju kearah meriamku. Setelah selesai menyelesaikan kencingku dan kumasukkan meriamku kembali kedalam celana, sambil beranjak keluar pintu kamar mandi kusempatkan tangan kananku mencolek teteknya yang tertutup setengah oleh tangannya sambil kuucapkan….. "mbaaaak….. maaaa’aaaaf….. yaaaaa…" dan bu Har secara reflek menampar tanganku seraya berkata setengah berbisik …… "kurang…. ajaaaar….. awas…. nanti."
Aku segera kembali ke depan dan kulihat istriku dan Pak Har masih ada sambil ngobrol dan aku kembali duduk seolah olah tidak terjadi apa apa, tetapi istriku tiba2 nyeletuk… "Paaak….. buang air kecil saja…. bajunya sampai basah semua……," aku tidak menanggapi kata2 istriku itu dan kucoba menenangkan diri sambil kuambil minumanku di gelas. Setelah beberapa saat kami meneruskan obrolan, Bu Har datang dari arah belakang dan sekarang sudah tidak memakai setelan kebaya lagi tetapi memakai rok terusan, walaupun begitu tetap saja membuatku terpesona apalagi bentuk kakinya yang kecil dam putih mulus, setelah dekat dengan kami bertiga serta duduk disalah satu kursi yang kosong, lalu berkata …. "buuu… paaaaaak…..," seraya menengokku dan Istriku bergantian…. "silahkan mandi dulu biar terasa segar sebelum kita makan….." dan setelah itu bu Har menggeser kursi nya sedikit membelakangiku. Tidak berlama lama, aku langsung ke kamar mengambil pakaian ganti dan langsung pergi ke kamar mandi. Sengaja kamar mandinya tidak kukunci dengan harapan siapa tahu bu Har pun berbuat yang sama seperti tadi, tapi… kupikir mana mungkin… jadi segera saja kubuang jauh jauh pikiran itu dan sambil mandi kubayangkan tubuhnya bu Har yang walau sudah berumur dan teteknya yang terlihat sedikit karena tertutup tangannya tidak begitu besar kira2 36D serta sudah agak turun dan memeknya yang tertutup tangan satunya juga mempunyai bulu jembutnya yang lebat tetapi menurutku masih cukup mempersonaku, sehingga meriamku menjadi bangun dan menjadi lebih tegang ketika batangnya kugosok gosok dengan sabun. Sampai mandiku selesai, ternyata harapanku tinggal harapan saja….. dasar pikiran bejat. Ketika kembali ke depan ternyata kedua calon besanku serta istriku masih asyik ngobrol dan sambil duduk kembali aku langsung nyuruh Istriku untuk gantian mandi.

Malam harinya sewaktu makan ber empat diruang makan, entah kebetulan atau karena Istriku dan Pak Har telah duduk berhadapan terlebih dahulu, sehingga mau tak mau aku dan bu Har jadi duduk berhadapan. Ketika sedang enak2nya makan, tiba2 kakiku tersentuh kakinya bu Har dan anggapanku mungkin tidak sengaja sewaktu menggeser kakinya, apalagi ketika kulihat wajahnya bu Har tetap biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu dan meneruskan makannya dengan agak menunduk. Untuk membuktikannya, sambil melepas sendal yang kupakai dan kulirik dimana posisi kaki bu Har di kolong meja, lalu pelan pelan kuletakkan kakiku diatas kakinya yang memakai sendal jepit sambil kupandang wajahnya. Kulihat bu Har tidak bereaksi dan tetap saja meneruskan makannya serta kakinya yang kuinjak itu didiamkannya saja, dan pelan pelan injakanku itu kuberi tenaga sedikit dan terasa bu Har secara perlahan lahan menarik kakinya. Aku diamkan saja kakiku ditempatnya seolah olah aku menginjaknya secara tidak sengaja, tetapi beberapa saat kemudian terasa kakiku di injak oleh kakinya yang sudah tidak memakai sendalnya lagi, jadi aku mengambil kesimpulan kalau tendangan kaki bu Har tadi itu pasti disengajanya. Aku diamkan saja injakkan kakinya dan tidak lama kemudian telapak kakinya di geser2kan di atas kakiku dan tentu saja hal ini tidak kubiarkan, jadi sambil tetap meneruskan makan kaki kami terus bermain dikolong meja makan dan lama2 jadi bosan juga. Lalu kutarik kaki kananku yang diijaknya menjauh dari kaki bu Har dan sambil mengambil gorengan tahu yang agak jauh dari jangkauanku, kugeser kursiku maju kedepan merapat di meja makan dan pelan pelan kuangkat kaki kananku agar tidak ada kecurigaan dari istriku dan Pak Har serta kuselonjorkan kedepan, maksudku untuk kuletakkan dikursi diantara kedua paha bu Har, eh…… tidak tahunya terantuk salah satu dengkul bu Har dan kulihat bu Har agak terkejut sehingga garpu yang dipegangnya terjatuh diatas piringnya dan semua mata tertuju kearah bu Har dan Pak Har berkomentar…. "buuuuu…. makannya jangan buru buru…. bikin malu calon besan sajaaaaa…..," dan kesempatan ini kugunakan untuk menggeser kakiku dan kuletakkan di ujung kursinya sehingga telapak kakiku terasa hangat terjepit diantara kedua pahanya dan secara perlahan lahan kuelus elus salah satu pahanya dengan telapak kakiku dan bu Har kulihat ...

...memandangku sejenak dengan matanya sedikit melotot dan kembali meneruskan makannya. Aku mencoba menjulurkan kakiku lebih dalam lagi agar dapat mencapai pangkal paha bu Har, tetapi tetap saja kakiku tidak dapat mencapainya, karena kursi yang diduduki bu Har agak renggang dari meja makan dan aku mencari akal bagaimana kakiku bisa menyentuh memek bu Har. Ketika aku sedang memutar otakku, eh tidak tahunya bu Har menggeser tempat duduknya maju kedepan mendekati meja makan ketika akan mengambil buah2an setelah makannya selesai dan kesempatan ini tidak kusia siakan, dengan hanya mengulurkan kakiku sedikit tersentuhlah pangkal pahanya yang terasa sangat halus dan membuat bu Har agak terkejut sedikit tetapi setelah itu diam saja. Lalu kugesek gesekkan jari kakiku ke memeknya yang terasa tertutup dengan celana dalamnya dan sesekali kuperhatikan mata bu Har tertutup agak lama yang mungkin sedang menikmati enaknya gesekan jari ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.