peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


ceritaku.3.peperonity.net

Anti, sang pembuka gerbang

Anti, sang pembuka gerbang


Malam ini sesuai dengan janjinya di telepon, Dino berangkat kearah Soreang hendak menemui Anti, gadis manis yang telah beberapa bulan ini selalu menghiasi hari-harinya. Mreka bertemu pada sebuah acara ulang tahun temannya Dino yang diadakan pada sebuah diskotik di pusat kota Bandung. Saat mereka berkenalan Anti bersama ?sama dengan 2 orang temannya yang lain, Fitri dan Wida. Mereka bertiga adalah sahabat yang tinggal di sebuah kost-an dengan kamar yang berbeda. Mereka bertiga bekerja pada sebuah perusahaan yang sama.

Mereka bertiga memang berasal dari kota yang sama. Bertemu setelah masing-masing mereka menyadari ternyata berasal dari kota yang sama.

Anti yang lebih kalem dengan cepat menarik perhatiaan Dino, meskipun Fitri yang lebih lincah sering menarik perhatiannya juga. Hanya Wida yang termuda diantara mereka yang kelihatannya tak menampilkan sikap yang menonjol.

Anti berkulit bersih, hitam manis tetapi dengan postur yang sedang-sedang saja. Tingginya juga hanya sepundak Dino yang 170 cm. tetapi yang menarik padanya adalah tutur sapanya yang lembut, sopan tetapi sangat berisi. Kata-katanya sangat tertata rapi dengan isi pembicaraan yang bernas. Sense of humornya juga bagus. Tidak vulgar dan cenderung penuh dengan arti-arti tersirat.

Hubungan Dino dan Anti dalam berpacaran juga seperti biasanya anak muda yang lain, penuh dengan kemesraan, konflik-konflik kecil yang membumbui jalinan yang tercipta, Kadang percik-percik nafsu birahi juga timbul di sela-sela percumbuan mereka. Membuat mereka harus menghentikan percumbuan mereka sebelum terlalu jauh.

“Aa’…?kita kerumah teteh dulu ya..?”ajak Anti saat ia menghenyakkan pantatnya di jok di samping Dino. ‘Aa?Memang begitulah ia memanggil Dino.
“Kemana itu…………? ?Tanya Dino balik sambil memutarkan setir carry putih milik orang tuanya itu.
“Sekeloa…………?., tau kan..??sambung Anti kembali.
“Ooo……?.?sahut Dino.

Mobil pun meluncur, mencoba menerobos jalan Mohammad Toha yang selalu penuh kemacetan sore itu, terus ke arah pusat kota. Meluncur perlahan sepanjang Alun-alun, berbelok ke kanan di samping kantor pos, terus melaju.

Tak lama kemudian mereka telah berada di sekitar jalan Dipatiukur dimana terletak sebuah kampus yang cukup terkenal. Meluncur ke kanan, turun ke jalan Sekeloa yang di maksud.

“Aa?ga usah turun, Anti Cuma sebentar ko……..”ujarnya menutup pintu mobil.
“Jangan lama ya……?”sahut Dino.

Gadis manis itu melangkah ringan sambil tersenyum menganggukkan kepalanya. Menghilang di sebuah gang.

Dino menarik napas pendek. Ingatannya kembali saat-saat awal percintaannya dengan Anti. Gadis manis kalem dan lembut ini mempunyai hasrat yang meledak-meledak. Begitu titik peka erotisnya terkena rangsangan, dia berubah marah apabila tidak di tuntaskan.

Pernah saat –saat percumbuan mereka di awal-awal hubungan mereka, di kost-annya Anti, mereka telah bertelanjang separuh badan ke atas. Dino tengah mencumbui bagian cuping telinga Anti, mengecup dan menjilati dengan lidahnya yang kasar. Aroma wangi tercium oleh Dino dari setiap kulit Anti yang mendapatkan belaian lidah Dino.

“Oh…….Aa’…………”desis Anti perlahan.
Matanya hanya bisa terpejam menikmati rasa yang timbul dari setiap jalinan percumbuan mereka. Kamar yang panas itu kini melantunkan desahan, rintihan dan jerit tertahan Anti. Dimbangi dengus-dengus Dino dalam setiap gerakannya.

Jemari lentik Anti meluncur ke bawah, menemukan rits jean Dino, menariknya perlahan ke bawah. Menemukan tonjolan mengeras di balik jeans tersebut, meremasnya perlahan. Kontan Dino terlonjak?

Tak leluasa jemari lentik itu melepaskan ikat pinggang dan kancing jeans Dino. Kini jemari itu meluncur ke balik celana dalam dan mengurut serta meremas langsung disana……

Dino hanya dapat mengeluh dan menikmati keliaran jemari lincah tersebut pada batang kejantanannya.

Anti bangkit duduk dan dengan cepat menyambar celana Dino, melepaskannya, begitu juga dengan rok panjangnya meninggalkan tubuh bersih pemiliknya, terlontar begitu saja. Kini mereka hanya dilapisi secarik kain saja pada pinggang mereka. Tubuh sintal yang mulus itu kini kembali merebah terlentang. Tangannya menggapai ke arah Dino.

Dino dengan perlahan menutupi tubuh mulus itu dengan tubuhnya menempatkan pinggulnya diantara kedua paha Anti. Naluriah kedua kaki jenjang itu melebar memberikan persetujuannya.

Dino bergerak. Menggerakkan pinggulnya mendesak menghunjam, hanya carik kain yang memisahkan kedua kelamin mereka. Tubuh Anti tersentak-sentak merasakan hunjaman itu. Terasa kan olehnya batang kejantanan Dino yang tegar berbalut kain tipis itu menggerus, menggesek.

“Uhh…….Aa’…..buka deh……..”bisik Anti di telinga Dino.

Dino paham dan segera menarik lepas segitiga di pertemuan kedua paha jenjang tersebut. Kembali Dino bergerak seperti awalnya. Carik kain yang menutupi selangkangannya tak cukup lebar membungkus batang kejantanannya. Sehingga sebagian batang tersebut muncul di luar kain tersebut.

Dino bergerak teratur. Sesekali ujung membola kejantanannya menyentuh langsung lepitan lembab kewanitaan Anti. Kontan Anti melolong tersengal-sengal.

“Ohhh……………….”desisnya seraya membeliakkan matanya. Kadang hanya putihnya saja yang terlihat. Badannya sontak mengejang. Merasakan ujung membola batang tegar Dino yang bergerak konstan……

“Eh……..aa ngelamunin apa……..?”tredengar suara merdu yang tak asing lagi di telinganya.
?Ah…ga………………………………?sahut Dino terbata-bata.
“Udah ketemu tetehnya………….”Tanya Dino sambil meredakan gairahnya mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Udah?, ayo kita jalan……………”ajak Anti sambil mengunci pintu.
Mobilpun bergerak.

“Ngelamunin apa sih Aa?tadi…”Ulang Anti.
“Ngga ada……………………..”jawab Dino berbohong.
“Ada cewe lain ya…………?.??tembak Anti langsung.
“Bukan itu,……pengen tau……..?Tanya Dino balik.
“Iya dong……………………?.”jawab Anti cepat.
“Ngg…anu?.aku tadi ngelamunin waktu kita bercumbu tempohari itu……..”ujar Dino pelan.
“Ih..Aa?pikirannya…………?.”tukas Anti.
“He…he……………………?.Dino terkekeh.
“Pingin ya……………………..?”Tanya Anti tergelak.
“Kamu juga kan……………….??Tembak Dino.
“Siapa bilang, Anti ga pengin itu, Cuma penginn……..”sahutnya sengaja tak selesaikan kalimatnya.

Dengan cepat kecupan dijatuhkan Anti pada pipi pemuda kasihnya itu. Dan menatap Dino dengan tatapan yang berjuta makna. Dino tak dapat mengartikan tatapan itu. Hanya batinnya bergumam bahwa gadis kekasihnya ini sangat bergairah saat ini.

Seperti biasanya mereka berkencan, mobilpun bergerak ke utara meninggalkan kota Bandung, melalui perkebunan teh yang menghiasi sepanjang perjalanan. Canda mereka terus mengisi perjalanan mereka. Tak lama kemudian mobilpun menepi pada sebuah warung tempat langganan mereka. Penjualnya sepasang suami isteri yang akrab dengan mereka. Telah berulang kali mereka berkunjung kesana.

Di warung itu terdapat sebuah bale-bale agak menjorok ke dalam, dan disanalah mereka duduk seperti biasanya. Bale- bale tersebut dihalangi sebuah dinding dari bilik bambu yang di anyam setinggi kepala orang duduk sehingga gerak-gerik mereka tak terlihat langsung dari luar.

“Biasa mang………”pinta Dino pada bapak pemilik warung tersebut.

Mereka duduk berdampingan menghadap hamparan kebun teh yang menghijau. Anti merebahkan kepalanya di bahu Dino. Dino pun melingkarkan tangannya ke bahu gadisnya itu mencoba memberikan kehangatan mengimbangi udara yang mulai dingin di senja hari yang mulai gelap tersebut. Angin dingin bertiup kencang sepertinya hujan akan turun tak lama lagi karena sedari tadi mendung hitam telah bergayut di ufuk langit.

“Ini den?., kopi jahe dengan roti bakarnya, dan untuk neng yang ini teh manis dengan ketan bakar…” suara pemilik warung yang muncul mengagetkan mereka berdua. Dino dan Anti bergegas menyambut sajian yang di antarkan bapak dan ibu pemilik warung tersebut.

“Terimakasih mang…………..”sahut Anti saat mengembalikan nampan kosong.

Lapar dan ditambah pengaruh udara dingin dengan lahap mereka menyantap sajian hangat tersebut. Tak menyisakan sedikitpun makanan yang telah disajikan tersebut.

“Ih…….lapar apa hobby……..”kelakar Anti.
“Dua ?duanya………………..?sahut Dino dengan mulut yang penuh.

Tergelak mereka berdua berbicara dengan mulut yang penuh. Sungguh kemesraan yang wajar. Tak ada kepura-puraan dalam setiap tindak tanduk dan ucapan mereka berdua.

“Sini..Anti hapus……………….”ujar Anti mendekat dan menggosokkan tissue ke bibir Dino. Wajahnya sangat dekat dan tercium wangi yang khas gadis yang telaten merawat diri. Dino membiarkan saja jemari lentik tersebut membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di luar bibirnya.

Tak di duganya sama sekali. Kecupan Anti mendarat pada ujung bibirnya sebelah kanan. Sambil tersenyum paham Dino bereaksi dengan cepat, dirangkulnya tubuh sintal gadis manis tersebut dan lansung di jatuhkannya kecupan-kecupan sporadis pada bibir merah tersebut. Langsung mereka berdua terseret gelombang yang memabukkan.

Lidah mereka kini saling membelit dalam mulut Anti yang basah. Sementara tangan Dino telah menyelusup ke balik blouse biru yang di kenakan Anti, merabai kelembutan hangat dada yang membusung di balik bungkusnya itu dengan lincah

Perasaan hangat timbul dalam diri mereka, sangat nyaman ditengah dinginnya udara yang dihantarkan oleh gerimis. Kedua tangan Anti telah mengunci di belakang leher Dino. Kadang bergerak gelisah menggerumas punggung Dino.

“Uhhh…………”bisik Anti melepas debur napasnya hampir tak terdengar.

Kini tangan Dino menarik bra yang dikenakan Anti keatas, menyembulkan bukit dadanya yang membusung padat. Bentuknya indah dihiasi noktah kecoklatan dengan puncak yang tegak. Langsung saja bibir Dino beraksi melumat bukit membusung tersebut. Hisapan yang di barengi gerakan melingkar lidahnya pada puncak bukit itu sontak mengelinjangkan tubuh Anti.

...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.