peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


ceritaku.3.peperonity.net

PRIVATE TEACHER Part III

Mulai Sekarang

PRIVATE TEACHER Part III
Rupanya kekhawatiranlah yang menang. Tak lama Aku di situ lalu masuk kamar. Tapi lagi2, di kamar godaan itu begitu kuat. Aku ingin ke ruang tengah lagi. Aku gagal menahan diri ! Aku ke belakang ingin tahu Mbak Mar lagi kerja apa. Kuurungkan niat untuk berteriak memanggil mBak Mar, takut Tante terbangun. Di dapur tak ada. Aku ke kamarnya, dan kuketok, tak ada jawaban. Kuulangi lagi, masih sunyi. Pelan kubuka kamarnya yang tak pernah terkunci. Mbak Mar tak ada. Aman.....

Aku kembali ke ruang tengah, kembali mataku melahapi paha Tante. Masih ada rasa kurang aman. Aku keluar rumah menjumpai Mang Pendi di taman depan.
"Mbak Mar kemana Mang?"
"Oh ya, dia keluar tadi, Den" Aku selalu risi orang paro-baya ini memanggilku dengan Den.
"Tadi udah pamitan ama Ibu kok"katanya lagi.
"Ibu kemana?"tanyaku ngetest.
"Di dalam ga ada?"Mang Pendi balik nanya.
"Engga tuh..."jawabku berbohong.
"Di atas kali"


Aku kembali ke dalam. Aku mengamati paha Tante dengan bebas. Penisku langsung menegang. Baru kali ini Aku tahu ternyata di paha Tante tumbuh bulu2 yang amat halus, menambah keindahannya. Aku tegang, nafas memburu. Gelisah. Lupa akan niatku yang selama ini berhasil. Ingin rasanya aku mengeluarkan penisku dan mengocoknya seperti minggu lalu. Tapi itu terlalu berbahaya.

Tiba2 Tante menggerakkan tubuhnya. Aku tercekat, celaka. Aku siap2 kabur tapi tak jadi. Cuman gerakan sebentar, terus terdengar lagi dengkuran halusnya. Gerakannya tadi malah membuka pahanya sedikit lebih lebar, sampai secuil kain putih di ujung sana tampak. Celana dalam Tante ! Ampuun .... ini menambah keteganganku. Aku malah berharap Tante bergerak lagi sehingga makin melebarkan bukaan kakinya. Aku ingin melihatnya lebih lagi.

Aku bukannya surut untuk masuk ke kamar, tapi malah semakin ingin tahu celana dalamnya lebih banyak. Dalam kondisi yang begini tegangnya mempengaruhi akal sehatku. Aku nekat. Dengan amat perlahan tanganku menggapai ujung dasternya, kemudian dengan amat hati2 dan perlahan kusingkap ke atas. Tak menemui hambatan, karena daster itu cukup longgar. Ke atas dan lebih ke atas lagi sampai celana dalam Tante tampak keseluruhannya. Bahkan sampai sedikit kulit yang bukan main putih bersih di atas celana dalam.

Celana dalam Tante yang tipis agak menerawang memberiku "pelajaran baru". Semburat kehitaman di bawah perut Tante itu memberitahuku bahwa di kelamin perempuan ternyata tumbuh bulu2 juga. Kelaminku memang telah mulai ditumbuhi bulu, tapi aku tak tahu bahwa pada kelamin perempuan juga tumbuh. Maklumlah selama ini yang pernah kulihat hanyalah kelamin perempuan anak2 yang tentu saja polos.
Wah.... kalau saja Aku tak mampu menahan diri, celana dalam putih ini sudah Aku pelorotkan ingin tahu isinya lebih jelas.

Aku hampir saja berlari masuk kamar ketika kaki Tante bergerak lagi sebentar, lalu diam. Dengkuran halus itu yang mengurungkan niatku untuk kabur. Gerakan kaki yang menguntungkanku karena makin membuka pangkal pahanya lebih lebar. Kini selangkangan Tante tampak lebih kebawah, sampai nampak olehku lekukan persis di tengah. Aku mengerti itu jelas itu lekukan lubang kelamin, yang tak kumengerti adalah kenapa pas di lekukan itu agak membasah sehingga kain celananya nempel. Terbayang 'kan, bagaimana gelisahnya Aku ....

Dengkuran halus berhenti, tangan Tante yang bergerak-gerak, majalah yang menutupi mukanya tersingkirkan. Dengan cepat Aku bangkit dan mundur ke dekat pintu. Tante membuka matanya, menoleh kanan-kiri lalu melihat Aku yang berpura-pura baru saja masuk pintu.
"Oooh ...... "Tante menguap. "Kamu Din.....baru pulang...."katanya kemudian.
"Iya Tante"kataku agak gugup.
Tante bangkit dan cepat-cepat membetulkan rok-nya yang tersingkap. Aku melihatnya, dan celakanya, Tante menangkap mataku yang sedang menatapi bagian bawah tubuhnya. Tapi Tante biasa-biasa saja. Aku langsung masuk kamar, malu sendiri...

Di dalam kamar Aku kembali memutar "video" memori dari awal, semua yang baru Aku lihat ketika Tante tidur yang membuatku tegang lagi. Yang membuat langkah kakiku menuju kamar mandi, membuka rits celana dan "membebaskan" penisku dari himpitan celana. Kuelus-elus batang tegang ini. Lalu kuambil sabun, lalu aku membayangkan batang yang keras hangat ini menyeruak lekukan yang agak basah di selangkangan Tante...

***

Siang ini sepulang sekolah Aku kembali merapikan isi rak buku itu. Sekelompok demi sekelompok buku kuturunkan, kususun, kupisahkan dari dokumen2 lain yang bukan buku, lalu buku2 kuangkat lagi dan kususun rapi ke dalam rak. Beres, sekarang tampak lebih rapi. Puas aku memandangi hasil jerih payahku ini. Tapi ... di deretan kedua dari atas agak ke kiri ada yang tampak kurang rapi. Rasanya Aku sudah merapikan bagian ini. Mungkin ada orang yang mengambil buku dari situ, bisa Oom atau Tante, atau mungkin Aku kemarin tak teliti bisa saja. Aku turunkan sekelompok buku yang susnannya kurang rapi itu untuk kurapikan lagi.

Diantara tumpukan buku2 terselip suatu majalah dengan cover mengkilap dan huruf kanji yang membuat jantungku berhenti. Aku yakin benar majalah ini kemarin tak ada disitu. Berarti ada seseorang yang menyimpannya disini sewaktu Aku sekolah tadi. Siapa ? Aku tak ambil pusing, majalah itu lebih menarik perhatianku untuk kuteliti.

Cover depan yang membuatku terkejut adalah gambar perempuan Jepang telanjang bulat. Kulitnya begitu putih dan mulus, buah dadanya yang ...

...membulat dengan puting berwarna merah jambu, pinggangnya yang ramping dan perut yang rata. Sayangnya, bagian kelaminnya tertutup oleh pahanya yang menyilang. Cuma kelihatan sedikit bulu2 bagian atas, yang membuatku makin penasaran saja.

Tapi penasaranku tak berlangsung lama, di halaman 3 cewe cover tadi tampil 'seutuhnya'. Mataku langsung ke selangkangannya, bulu-bulu halus rapi menutupi sebagian "segitiga terbalik" di selangkangan cewe Jepun ini. Halaman berikutnya cewe telanjang tadi terlentang di selembar kain di halaman berumput, terus disampingnya berdiri cowo bule bugil dengan penis yang tegang mengacung. Penis bule tadi ukurannya mirip punyaku, hanya warnanya saja yang beda. Punya dia putih kemerahan sedangkan punyaku coklat gelap.

Aku langsung membayangkan kalau cowo itu Aku dan cewe itu Tante, bentuk tubuh cewe itu memang mirip Tante. Aku mulai berdebar-debar. Gambar berikutnya lagi cowo itu mencium buah dada cewenya dan tangan cowo itu ke selangkangan cewe. Dan ketika Aku membuka lembaran berikutnya, jantungku berdegup kencang, tanganku gemetar, nafasku sesak.

Jelas sekali penis cowo itu menusuk masuk ke liang vagina cewe Jepang. Begitu bergetarnya tubuhku sampai kurasakan semua persendian runtuh, tubuhku lemas melihat gambar yang baru pertama kali aku lihat. Menurutku masuknya penis itu terlalu ke bawah, seakan tidak pada lubang vagina. tapi di bawahnya. Itu bayanganku selama ini (di kemudian hari Aku tahu ternyata memang disitu letak liang vagina). Ini pelajaran baru bagiku. Betapa tak karuan perasaanku waktu itu, susah kugambarkan. Aku malah bingung, akhirnya kuputuskan untuk ke luar rumah, pergi tanpa tujuan ....

***

Siang itu aku sedang nonton TV di ruang tengah ketika mendengar bunyi mobil memasuki garasi. Beberapa saat kemudian Tante masuk yang lagi-lagi membuatku kaget. Tante masuk dengan pakaian senam yang ketat, mencetak seluruh "seluk-beluk" tubuhnya yang sempurna.

Di bagian atas, kedua bulatan dadanya tampil penuh dengan tonjolan mempesona. Kemudian ke bawah menyempit mempertontonkan rampingnya pinggang, dan "mendadak" melebar lagi di bagian pinggul. Sama dengan di bagian dada, bokong Tante juga tercetak bulat menonjol ke belakang. Lalu sepasang kaki panjang yang ujungnya bermuara pada selangkangan yang menggembung indah. Aku segera ingat gambar tubuh telanjang cewe Jepang. Memang mirip.
"Kenapa Din?"
Oh.... tanpa sadar aku menatapinya dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Eh...mmm... tubuh Tante bagus" begitu saja kalimatku meluncur.
Mata Tante sedikit terbelalak. Dia kaget. Jangankan dia, akupun kaget atas apa yang barusan kuucapkan.
Setelah kaget, baru aku khawatir. Aku telah bicara yang tak sepantasnya.
"Ha...ha.. tahu apa kamu" Eh, Tante malah ketawa.
Belum sempat Aku "membela diri", Tante langsung menaiki tangga. Ampuuun ..... goyang pinggulnya, membuat penisku menggeliat, membayangkan tubuhnya seandainya tanpa pakaian. Dasar kurang ajar.

Khayalan berlanjut. Kubayangkan tubuh indah tadi terlentang di depanku tanpa pakaian. Tampak gundukan di tengah selangkangan yang diliputi oleh bulu2 halus. Kemudian ada penis besar dan panjang yang tegang, yah... itu mungkin penisku yang memasuki gundukan berbulu itu, persis seperti gambar-gambar yang kemarin kulihat, lalu ............. terdengar langkah kaki....

Tante turun dengan blouse santai dipadu dengan rok di atas lutut warna coklat gelap yang menambah putihnya kulit tubuh. Wajahnya terlihat segar, habis mandi. Dihempaskan tubuhnya ke sofa panjang.
"Huuuhhh...... capek banget"katanya.
"Kan udah sering senam Tante"
"Iya...tapi tadi high-impact-nya lama.... ampe pegel2 semua"
Tante selonjor. Roknya sedikit terangkat manampilkan sepasang paha yang makin putih dan indah.
"Mau dipijitin, Tante?" Gila, kamu berani benar Din. Kalimat itu meluncur begitu saja. Ini adalah kalimat spontan yang muncul, seperti dulu di desa kalau ayahku mengeluh pegal2. Tentu saja Tante kaget mendengarnya.
"Eh, emangnya kamu bisa?"tanyanya.
"Dulu di rumah saya suka mijitin Ayah"kataku.
"Kamu sekarang engga capek?"
"Engga Tante"
"Gak ada PR?"
"Udah selesai"
"Ya cobalah...."katanya. Diambilnya semacam bantal yang di sofa, ditaruhnya ke karpet. Lalu Tante berbarig di karpet, telungkup.

Aku mulai dari pijitan di telapak kakinya. Tentu saja tak melewatkan pemandangan indah juluran sepasang kaki putih mulus dan sedikit paha belakang.
"Ehmmm.... enak juga pijitanmu"katanya.
Kedua telapak kaki selesai, aku ke pergelangan kaki.
Untuk pertama kalinya Aku menyentuh kulitnya yang begitu haluuuus. Lalu ke betis. Tante begitu menikmati pijatanku. Jelas saja Aku juga menikmati halus dan lembutnya sepasang betis Tante. Ini sudah cukup membuat penisku menegang.

Dari betis kuberanikan diriku untuk menjamah bagian tubuh di atas lutut. Bagian belakang lutut memang tak boleh dipijat, begitu kata ayahku. Ah.... ...

...padat banget pahanya. Mungkin karena Tante rajin senam. Amboi .... gundukan pantatnya itu.... Batangku sudah keras. Tanganku makin ke atas. Tak ada keberatan dari Tante. Bahkan ketika aku ke atas lagi yang tentu saja harus menerobos roknya, Tante tak melarang. Tapi Aku tak berani sampai pangkalnya. Aku kembali ke bawah, terus ke atas lagi. Tak sampai ke pangkal pahanya aku kembali ke bawah lagi. Roknya terangkat lagi sedikit. Begitu terus berulang-ulang. Tapi aku ingin melihat celana dalamnya seperti minggu lalu. Aku tak punya keberanian untuk mengangkat roknya lebih ke atas.
"Udah Din.... masa di situ terus..."kata Tante tiba2.
Ini menyadarkanku, memang dari tadi aku terus-menerus memijiti pahanya.
...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.