peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


ceritaku.4.peperonity.net

Cerita Asli 01


Sinopsis: Sesampainya di Kotabumi, Andi berkenalan dengan beberapa orang wanita, mulai dari teman ngebrik, siswi SLTP yang jual mahal, sampai penjual Indomie. Namun cintanya kepada Irda, membuatnya selalu kembali ke Ciganjur. Buku diary ini walau tidak penuh intrik seperti di telenovela, tapi cukup enak dibaca.

Awal Februari 1994

Aku menghampiri Lala dan menarik tubuhnya, kucium bibirnya, kulumat. Dia terperanjat dan hampir saja menampar wajahku, tapi niatannya itu urung dan dia hanya tersenyum simpul. Dengan raut wajah yang penuh tanya dia menatapku, "Kenapa?"
"Aku menciummu karena aku mau menciummu, kau keberatan?"
"Tidak!" raut wajah yang merahnya memudar mengatakan itu. "Aku hanya kaget dan senang.." meluncur itu dari bibirnya yang tebal sensual.
"Adi, kupikir kau mau menciumku bukan hanya karena kamu mau menciumku, tapi adakah hal lain dibalik semua itu?"
"Ada, aku ingin kau jadi pacarku."
Memerah lagi wajahnya dan ia kelihatan senang sekali.

Sejak saat itu hampir setiap malam minggu aku mendatanginya untuk bercumbu dan bercerita tentang apa saja, pekerjaan, percintaan, atau seks dan setiap kalinya kami bercumbu kami selalu melakukan hal-hal yang aku senangi, merayunya, merabanya, memangkunya, bahkan memasukkan tangannya ke dalam celanaku.

Aku senang ketika aku mencium telinganya yang bersih, meremas payudaranya yang besar dan kencang, merasakan kehangatan tubuhnya yang tak begitu tinggi namun mempunyai anggota badan yang mampu membuat semua pria melirikkan mata dan berdecak kagum. Aku suka mendengar lirihannya saat kutelusuri kemaluannya yang lembab dan bulu-bulu pemanisnya yang lembut dan memberikan imajinasi yang membuatku payah.

Dia suka sekali ketika aku memangkunya, dan dia menaikkan bajunya yang kemudian tersembul payudara yang putih jernih dengan puting yang masih merah senja, dan aku mengulumnya, menyedotnya dalam-dalam, dan dia mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun sehingga antara penis dan kemaluannya yang masih tertutup celana terjadi gesekan yang cukup membuatku bertambah semangat menyedot puting susunya.

Akhir Agustus 1994

Ayah mengajakku pergi camping ke Cikole - Lembang sore itu. Aku mau saja, walaupun sore itu aku baru saja kembali dari pekerjaanku. Jelek-jelek begini aku bekerja pada sebuah perusahaan yang cukup besar dan gajiku mencukupi kebutuhanku selama satu bulan. Aku pergi ke tempat camping bersama ayah dan seorang sahabat sejatiku. Di tempat camping aku berjumpa dengan dua orang gadis yang masih belia, dan kedengarannya dia masih duduk di bangku SMEA kelas dua. Aku dan sahabatku berkenalan dengan mereka, singkat kata kami mulai bercengkrama satu sama lain.

Pertemuan yang singkat. Memang aku baru mengenalnya beberapa jam yang lalu, tapi dari semua yang diceritakannya, tingkah lakunya, dan tutur sapanya padaku seolah dia memberikan apa yang sangat kubutuhkan, yaitu cinta dan nafsu.

Malam itu udara Cikole cukup dingin, membuat aku dan dia berpelukan untuk menghangatkan diri masing-masing, tapi rupanya "setan" berkata lain. Lama-lama aku menjadi tergoda untuk menciumnya, meraba bagian yang sensitive, dan mulai dengan sentuhan-sentuhan kecil di daerah yang katanya belum pernah dijamah sebelumnya oleh orang lain. Aku dan dia terlena dalam pelukan, sampai-sampai kami berpelukan dalam keadaan telentang, aku di atas, dan dia di bawah, oh hangatnya.

"Irda.." begitulah namanya, "Keberatan kalau aku mencintaimu?" kata-kata itu meluncur saja dari mulutku tanpa kusadari sebelumnya.
Dia tidak menjawab, sepertinya dia perlu cukup waktu untuk memikirkan hal tersebut. Tak apalah, toh umpan sudah kulempar, tinggal aku menunggu apakah dia mau makan umpanku.

Awal September 1994

Kejadian di Cikole itu berbuntut panjang yang akhirnya membawaku selalu ingin bertemu dengan Amry. Lalu bagaimana dengan Lala? Ah, aku hampir lupa dengan pacarku yang satu itu. Aku tidak akan melupakan semua yang telah terjadi dengannya, tapi kejadian di tempat kerjanya cukup membuatku kecewa. Sore itu aku mampir ke tempat kerja Lala, niatanku menjemputnya sambil jalan-jalan sore, tapi ketika aku masuk ke tempat kerjanya, aku melihat dia sedang mengelus-elus pipi seorang pria teman kerjanya. Aku sendiri heran Kenapa aku tidak marah! Aku malah mencuekkannya. Kusapa dia dan dia terbelalak. Ingin sekali dia menjelaskan perbuatannya, tapi sayangnya perbuatannya itu cukup membuat alasan bagiku untuk menyudahi hubungan kami.

Kali ini setiap malam minggu aku tidak lagi bertemu dengan Lala tapi aku punya gebetan baru, Irda yang bekulit kuning langsat, berambut panjang dan bertubuh ideal, oke deh. Tidak seperti hubunganku dengan Lala, dia gadis yang agak pendiam dan libidonya jauh di bawah Lala yang selalu bergairah. Hubungan intim kami hanya sebatas ciuman saja, tidak lebih, dan itu kurang kusukai. Tapi aku menghormatinya karena dia mungkin masih belia dan dia masih belajar dalam hal ini, dia masih anak sekolah.

Irda tak dapat menahan isakannya ketika aku memberitahu tentang mutasi pekerjaanku dari Ciganjur ke Kotabumi yang jaraknya lumayan agak jauh. Tapi "live must go on". Bagaimanapun aku harus tetap menjalankan semuanya dan itu tidak merubah yang sudah terjadi. Kucium bibirnya untuk meredakan isakannya. Aku berupaya membuat hatinya senang, tapi dia berkata lain. Dibalasnya ciumanku, dilumat, dikulum, dan memeluk tubuhku erat-erat seolah tak ingin berpisah jauh.

Kami saling berpelukan lama sekali, sampai-sampai kami bergulingan di lantai. Hasrat kami pun mulai menggebu. Irda yang menurutku pendiam ternyata pada waktu itu libidonya meningkat. Dia membuka pakaianku dan aku hanya memakai celana dalamku saja. Aku tak mengerti apa kemauannya, tapi kuikuti saja sampai dimana dia akan melakukannya. Ternyata dia membuka pakaiannya juga dan hampir telanjang bulat. Dia mengulum meremas puting susuku, dan menjilatinya. Tak kuasa lagi aku pun langsung merangkulnya, menciumnya dan membuka pakaian dalamnya sehingga dia dalam keadaan tubuh tanpa selembar benang pun. Dia sepertinya sudah rela memberikan tubuh dan jiwanya kepadaku.

Kuremas susunya, kupuntir putingnya dan kusedot-sedot dengan mulutku.
"Ahh Adi, teruskan sayang jangan berhenti, aku sayang padamu. oh." Irda merintih kenikmatan dan itu membuatku semakin bergairah.
Tangannya mulai menggerayangi alat vitalku, dan tanganku pun mulai meraba bagian yang berjumput kecil di bagian tengah di antara kedua pahanya. Terasa agak lembab, namun memberikan kesan yang membuat otakku semakin panas. Kemudian.. Semuanya terhenti tatkala berkumandang adzan maghrib, dan kami pun segera mengucap nama Tuhan kami, dan besyukur semuanya tidak terjadi.

Di tempat kerjaku yang baru.

Semula aku ragu apakah aku dapat berkembang di tempat kerjaku yang baru, sebab rasa pesimis dalam hati membuat sejuta pertanyaan. Tapi semua itu dapat kulalui, aku membuat suasana yang nyaman untuk diriku sendiri di sana. Tak banyak yang dapat kuceritakan, hanya pekerjaan yang terkadang agak membosankan, kadang membuat senang dan terkadang menantang.

Kantor baruku itu terletak pada ujung suatu perumahan yang agak besar dengan dibatasi dan dikelilingi oleh perkampungan, kebun dan sawah. Agak ramai memang, dan aku mulai menikmati keramaian di sekelilingku. Aku tidak mempunyai teman sebaya, yang kudapatkan hanya orang-orang yang usianya rata-rata jauh di atasku. Hal itulah yang membuatku terkadang bosan akan suasana ini, pikirku harus mendapatkan teman yang sebaya yang dapat diajak berbicara, diskusi dan lain-lain.

Sampai pada suatu hari, aku mengisi kebosananku dengan "berbicara melalui pesawat radio 2 meteran" atau lebih populernya ngebrik. Singkat kata aku kenalan dengan seorang gadis di udara, dan aku mengajaknya "kopi darat".

"Lusi nama aslimu?" aku bertanya.
"Ya, Lusia Anggiwening lengkapnya," dia menjawab, "Nama aslimu siapa?" dia balik bertanya.
"Adi, Adi Layung Gilar, kau boleh memanggilku Adi atau Gilar, atau apa sajalah, tapi jangan Layung, aku tidak suka dipanggil dengan nama itu."
"Kenapa?"
"Kedengarannya seperti jaman Majapahit, kataku."
Dia tersenyum dan menyibakkan rambut ikal sebahunya ke belakang, dan terlihat barisan gigi yang putih, bibir yang sensual. Pendeknya raut wajah yang agak melankolis. Aku menatapnya dalam-dalam dan dia agak tersipu.

"Mau tambahkan kopinya lagi, atau kamu mau yang lain?" pertanyaannya padaku membuat tatapanku memudar.
"Kalau boleh aku minta yang lain deh."
"Apa itu?" tanyanya.
"Besok ajak aku berkeliling kota ini. Aku ingin lebih jauh mengenal kota baruku ini. Itu juga kalau kamu tidak keberatan.." pintaku.
"Kamu mau pergi ke tempat seperti apa?" dia bertanya lagi sebelum sempat memjawab pertanyaanku tadi.
"Misalnya tempat yang ramai seperti mall, atau ke tempat yang sepi seperti pegunungan atau terserah kamu saja deh yang jadi tuan rumah.." jawabku.
"Baiklah, aku akan membawamu pergi berkeliling kota ini, asal syaratnya terserah aku, dan kamu jemput aku besok pagi, setuju?"
"Setuju."

Aku melewati hari itu dengannya, berdua, berkeliling kota, makan, jajan, jalan kaki, tertawa, bercanda, sampai tak terasa hari sudah menjelang sore.
"Pulang yuk." pintanya, "Sudah sore nih. Aku tidak mau terlambat pulang."
"Oke Non, kita pulang, tapi suatu hari nanti aku ingin kita pergi jalan-jalan lagi. Kamu mau kan?"
"Mau saja, tapi kalau nanti kamu yang ajak aku, yah."

Aku agak kecewa tentang teman baruku itu, halnya aku ingin berteman dengan seseorang yang mempunyai gender yang sama seperti aku, tapi malahan dapat seorang gadis. Aku takut aku lupa dengan pacarku, "Irda". Sejak itu hampir setiap malam aku bercengkrama dengan Lusi melalui pesawat radio HT, dan kami membicarakan hal-hal yang kami senangi.

3 bulan berlalu..

Aku pulang ke Ciganjur 2 kali setiap bulannya, dan tak kulewatkan aku menemui pacarku Irda, dan sepertinya dia mulai terbiasa dengan keadaan ini. Rindu terlepaskan setiap dua minggu sekali kami pergunakan dengan sebaik-baiknya, bercumbu, bercinta. Tapi sejak kejadian 3 bulan lalu, kami tidak terlalu jauh melangkah dalam hubungan intim, hanya sampai pada saling memegang alat vital, mengocok penisku, menguntil klitorisnya, sampai kami orgasme dengan tidak berhubungan suami istri, dan sampai detik itu aku juga tidak berani memasukkan benda apapun ke dalam vaginanya.

"Adi, aku kangen berat" suaranya lirih berbisik di telingaku.
"Aku juga, bagaimana kabarmu minggu ini, baik saja kan?"
"Aku baik-baik saja, tapi kangen ini selalu saja menggangu konsentrasiku mengikuti pelajaran sekolah. Aku terlanjur sayang sama kamu."
Aku hanya tertawa mendengar penjelasannya. Kupeluk dia dan kucium keningnya. Dia masih terlalu polos. Malam itu kami lewati dengan kerinduan masing-masing yang ada dalam hati dengan ngobrol, ciuman, pelukan, tapi tidak untuk yang satu itu.

"Ir, besok kita pergi yuk!" aku mulai mengalihkan pembicaraan.
...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.