peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


ceritaku.4.peperonity.net

Mbak ratna, cream Tiramissu


Mbak ratna, cream Tiramissu
Minggu siang itu menjelang sore hari, gerimis baru saja usai. Udara terasa sejuk. Kulangkahkan kakiku menuju mall terdekat.

Sudah lama sekali aku tidak melihat “peradaban”, karena disibukan oleh pekerjaan kantor yg seperti tiada habisnya. Bahkan sabtu kemarin pun aku harus masuk kantor. Sungguh menyebalkan.

Karenanya siang ini, setelah puas menikmati tidur dan baru terbangun setelah matahari lewat tengah hari, kulewatkan sore ini dengan berjalan jalan di mall. Niatku ingin mencari film dvd di toko si enci langgananku lalu ke toko buku, siapa tahu ada buku baru yang bagus.

Namun yang terjadi malah aku asik memilih milih baju dan celana. Merk favoritku lagi discount! Sayang bila dilewatkan. Maka dengan antusias kucoba bandingkan beberapa baju.

“ Hmm…bagus bagus semua, bingung nih,” pikirku.

Bolak balik kupadankan beberapa kaos dan baju. Dan tanpa kusadari, sepasang mata tak lepas mengamatiku. Bukan, bukan tatapan penuh curiga Satpam toko, namun sepasang mata keibuan yang menatapku. Hal ini baru kusadari setelah beberapa saat asik mondar mandir di bagian pakaian dan aksesoris pria mall ini. Pernah kan celingukan karena merasa ada orang yang memperhatikan kita? Perasaan inilah yang kurasakan.

“ Aneh, kayaknya ada yang ngeliatin gue nih!” kutebarkan pandanganku ke sekeliling.

“Ah, gak ada tuh! GR banget ya gue?” batinku dalam hati.

Dengan geli hati kulanjutkan windows shoppingku. Akhirnya kuambil baju pilihanku dan segera berbalik untuk bergegas ke kasir, namun ..upssss! hampir saja aku menabrak seseorang.

“Eh, aduh, ma..maaf bu” ujarku spontan.

“Oh, gak apa apa kok mas…” balasnya sambil tersenyum kecil.

“Wihhh..manisnya senyum si ibu ini, wangi pula hmmm…”

Batinku sesaat kuteringat guru bahasa inggrisku yang cantik dan jadi favorit murid laki laki, Bu Eli, waktu di smp dulu. Kubalas senyumnya

“Permisi bu…” ujarku sembari bergegas ke kasir.

Sampai di kasir, sembari mengantri, iseng iseng kutebarkan kembali pandanganku

“Hmm…mana ya ibu tadi?” batinku sambil celingak celinguk.

Nah, itu dia!

Kuperhatikan wanita itu beberapa saat, wah dia lebih cantik dari bu Eli dulu. Merasa diperhatikan, tiba tiba saja ia menengok ke arahku. Segera kualihkan pandanganku, namun sedetik kemudian mataku tak kuasa untuk melirik kembali kearahnya.

Waduh, dia tersenyum lagi sambil memandangku.

Gugup, dengan reflek tanganku menggaruk garuk belakang leherku, sambil mengalihkan pandanganku, pura pura cuek. Ha ha ha… gaya standarku kalau sedang sal-ting alias salah tingkah.

“Terima kasih Mbak” ujarku tersenyum kepada Mbak kasir yang manis, setelah membayar dan menerima kantung belanjaanku.

Kulanjutkan jalan jalan soreku ke tempat dvd langgananku. Tidak lama disana, karena film yang kucari belum ada.

“Minggu depan deh u kesini lagi, eke pesenin dulu buat u orang” kata si enci endut centil.

“Ok deh ci, minggu depan ya?”

“Hm..kemana lagi ya?” batinku.

“Ah, kan mo nyari buku?”ujarku dalam hati.

Segera kuberlalu ke toko buku G*** di lantai bawah. Ketika turun eskalator, setengah gugup kubergumam “Sialan, ibu itu lagi!”.

Ya, wanita itu lagi! tengah menaiki eskalator yang berlawanan arah denganku. Sambil senyum senyum sendiri kutenangkan diriku yang sal-ting abis, tentu saja tanpa berani menatap kearahnya.

“Aneh, kenapa gue jadi gini?” tanyaku di hati.

Begitu sampai bawah, kualihkan mataku ke atas lagi. Eh, ibu itu turun lagi. Dan rasanya dia melihat kearahku lagi. Bagai dikejar hansip, kubalikkan tubuhku dan mempercepat langkah ke toko buku. Begitu tiba di pintu masuk, tiba tiba terpikir olehku

“Ngapain gue jadi panik gini? Nyolong baju enggak, ngutil barang enggak. Bego amat ya gue? lagian GR amat sih?”

“Kali aja si ibu itu emang mau pulang atau mau kemana gitu? Dasar!” umpatku pada diri sendiri.

Beberapa saat kemudian aku pun tenggelam dalam bacaanku. Ketika sedang asik menekuni bacaanku, tiba tiba sesuatu mengusik konsentrasiku.

Wangi parfum! Ya, wangi parfum siapa ini ya?.

“Hmm..seperti wangi si…” tanpa sempat berfikir jauh lagi, kudongakkan kepalaku, dan …astaga!

Hampir copot jantungku! Si ibu manis itu telah berdiri disampingku!

Aku gugup, panik, bingung harus bagaimana.

Melihat tingkahku, dengan tenang wanita itu menyapaku ramah.

“Wah, suka baca seri chicken soup juga ya, mas?” tanyanya sambil melirik buku bacaanku dan mencondongkan badannya ke arahku.

”Eh...eh, iya bu, eh..mbak..tante” jawabku panik.

Sial…disapa mahluk indah malah jadi bego kayak gini?

Mendengar jawabanku yang lucu, ia tertawa.

“Ih kamu lucu deh, jangan grogi gitu dong. Saya juga suka baca seri ini!” godanya.

Mukaku merah padam menahan malu. Mas mas di sebelahku yang melihat kejadian ini tersenyum simpul.

“Dasar bloon, diajak ngobrol cewe cantik, malah hah heh hoh aja!” begitu mungkin ejeknya dalam hati.

“Tenang, tenang….be cool man, don’t be panic, take it ...

...easy boy…kalem aja…everything is okey…” berbagai ungkapan untuk menenangkan diri berhamburan di kepalaku.

Sesaat kemudian aku telah dapat menguasai diri

“Eh..iya tante. Saya memang suka baca buku buku ini” balasku coba tersenyum ala tebar pesona.

“Aduh, jangan panggil tante ah, belum tua tua banget kan. Panggil Mbak aja, atau nama aja juga gak apa apa”

“Oh…iya deh…tapi panggil Mbak aja ya?gak enak kalo cuma manggil nama aja” jawabku mulai tenang.

”Nah kan enak kalo gitu. Lagi baca yang mana sih?”

“Oh yang ini…emang bagus kok. Aku dah baca”

Dengan santainya Mbak ini merapatkan badannya dan meraih buku yang sedang kupegang.

Wah wanginya….seperti kata iklan “bikin cowo nempeeelll kayak prangko”.

Bukan hanya itu, bagaikan mendapat durian runtuh sepohon, lenganku tanpa sengaja menempel bagian samping dadanya. Aih mak! Udah mencium wanginya dapat yang empuk empuk pula, mimpi apa aku semalam?

“Mbak lagi nyari buku apa?” tanyaku SASA, sok asik sok akrab nih ceritanya.

“Ah enggak, lagi liat liat aja” jawabnya sambil meraih satu buku, dan membolak balik isinya.

Sejenak kemudian ia pun berdiri mematung disebelahku dan mulai asik menekuni bacaannya. Sedikit kecewa karena dicuekin, aku pun coba melanjutkan bacaanku. Tapi mana bisa!

Pikiranku sudah tak bisa berkonsentrasi ke buku lagi. Apalagi dua bola mataku semakin ‘tak terkendalikan lagi’ mulai liar melirik kesebelah.

“Duh! Manis beneerrr”.

Meski sudah tidak ABG lagi, bentuk badannya padat berisi dan warna kulit lengan atasnya yang putih langsat, dengan sedikit bulu bulu halus.

“Gila! Sluurpp!Glek!”

Tanpa sadar kutelan air liurku sendiri, waduh berabe nih urusannya!

Sadar diperhatikan, si Mbak menghentikan sejenak bacaannya, lalu berbisik

“Kamu tau gak? Aku dah merhatiin kamu sejak kamu masuk ke toko baju tadi lho!” bisiknya pelan.

Setelah berkata itu ia tersenyum penuh arti lalu dengan santai melanjutkan bacaannya kembali.

Dia santai, sedangkan aku? Kagetnya gak ketulungan.

Pikiranku kembali ke beberapa saat yg lalu. Bermacam pikiran berkecamuk didiriku.

“Jadi perasaanku tadi bener dong? Emang ada yang diem diem merhatiin gue?”

“ Jadi senyum manis Mbak ini emang untukku dong? Jadi Mbak ini emang ngikutin gue dari tadi dong?”

Bangga, senang, GR, campur heran karena jarang jarang mendapat anugrah seindah ini.

“Eh, berarti Mbak ini model modelnya tante gir…” oh.. no..pikiran tabu langsung terlintas di benakku.

“Kalo bener gimana dong?”

“Waduh gimana nih! Apa yang harus kulakukan? Gimana mastiinnya?”

“Trus kalo diajak check in gimana? Wah, kuat gak ya ngeladeninnya? Bisa muasin dia gak ya?”

“Punyaku kan gak panjang and gede kayak di film porno vivid koleksiku?”

“Tapi, jangan jangan suaminya pejabat atau tentara? Bisa gawat!”

“Walah walah…pusinggggg aku!”

Sejenak kemudian kucoba menenangkan diri. Sudahlah, santai saja dulu. Jangan berpikiran terlalu jauh dulu.

“Just be ur self!” batinku teringat salah satu bagian di buku andalanku, chicken soup.

Ya, jadi diri sendiri saja dan apa adanya. Kalau memang dia memperhatikanku sedari tadi, berarti aku punya daya tarik tersendiri buat dia, iya ‘kan? Batinku coba membangun rasa percaya diri. Mainkan bung!

Kuputar otak untuk memulai obrolan kembali.

“Mbak, belum tau nama Mbak nih, namaku Fariz!” pancingku.

”Nah gitu dong, dari tadi lho Mbak tungguin” tolehnya sambil tersenyum, lagi lagi, dengan manisnya.

“Aduh, si Mbak godain terus, bikin gemes” batinku.

”Ratna” sambungnya sembari mengulurkan tangannya.

Kujabat lembut tangannya. Hm, lengannya sexy sekali! Terutama lengan atasnya. Putih mulus, berbulu halus. Tanpa sadar, sembari tetap menggenggam tangannya, mataku tak lepas menikmati lengan mulusnya.

”Faris, halo?” ujar Mbak Ratna sambil mengibaskan jari jari kirinya di depan mataku.

”Hah?” kutersadar malu.

”Kenapa? Suka ya liat bulu halus di lengan Mbak?” ujarnya dengan kenes.

Wah, semakin jelas sudah. Dari kata katanya yang ‘memancing’ aku semakin yakin. Ayo, keluarkan jurus “rayuan pulau kelapa”mu faris!

“Kok Mbak Ratna tau aja?”

“Boleh kan kita liat yang indah indah? Emang keliatan banget ya aku ngeliatinnya?” jawabku sok polos.

“Dasar!” balasnya sambil mencoba menggelitik pinggangku.

Dengan cepat kugenggam lengan atasnya yang menggairahkan. Sejenak kami bertatapan. Tanpa sepatah katapun, kami sama sama dapat merasakan gejolak birahi ketika mata kami saling beradu pandang. Dengan lembut mesra kuremas lengan atasnya yang kenyal itu.

Mbak Ratna membiarkan jari jariku meremas ...
...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.