peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


ceritaku.5.peperonity.net

Affair Antar Penulis (Versi Dio) - 1

Affair Antar Penulis (Versi Dio) - 1

Jum'at kali ini adalah hari yang paling melelahkan setelah deadline demi deadline, meeting demi meeting dan ditutup dengan klien yang 'sulit', ditambah lagi dengan undangan pesta berakhir pekan yang tidak bisa aku penuhi, karena harus tinggal dikantor sampai tengah malam. Komplit sudah akhir minggu yang menyebalkan. Apalagi kalau membayangkan kawan-kawan yang berpesta, tambah menyesakkan dada, pesta yang pasti wow! Boosters, music and girls, kombinasi kenikmatan duniawi yang selalu jalan beriring sejak jaman Mesir kuno. Mau bilang apa? Tanggung jawab kerja memang harus selalu nomor satu di atas segalanya.

Sementara menungu rekan-rekan desainer menyelesaikan pekerjaannya, kulanjutkan membaca karya klasiknya Frederick Forsyth "The Negotiator" yang baru kubaca beberapa halaman. Kenikmatan membacaku terusik dengan bunyi HP.. hmm pasti kawan-kawan di pesta, hanya tertera nomor di layar HP, tanpa nama, dengan rasa enggan kutekan tombol 'yes'.
"Halo..", sapaku, hening tidak ada jawaban.
"Halo..", sapaku lagi.
"Selamat malam. Nngg.. Ini dengan Dio?", baru terdengar suara dari seberang sana, suara wanita!
"Ya, dengan siapa ini?"
"Mm.. Cleo"
"Cleo? Yang bener. Kok nomornya nomor Jakarta. Kamu ada di Jakarta?", aku surprise!
"Iya, pa kabar?"
"Baik. Pa kabar juga? Kok ga cerita-cerita sih kalo akan ke Jakarta?", aku masih belum percaya itu suara Cleo.
"Hehe.. mau bikin surprise", jawabnya singkat.
"Ohh.. gitu ya. Terus sampai kapan? Ketemu dong.."
"Sampai hari ini. Besok pulang".
"Lho kok cepet. Ketemu dong, Cleo..".
Sesaat kembali hening, sepertinya Cleo bingung menjawab permintaanku.
"Halo.. masih di situ? Ayo dong, pleasee..", pintaku lagi dengan memelas.
"Ok then. Temui aku besok malam di cafe di bawah ya", jawabnya sambil menyebutkan nama hotel tempatnya menginap dan cafe yg dimaksudnya.
"Ok, sampai ketemu besok", aku memastikan, lega mendengar jawabannya.
"Yes!", gumamku senang setelah menekan tombol 'off'.

Pertama kali aku melihat namanya di 17Tahun.com, dia, Cleo, 28, seorang senior marketing executive dari negeri 'Singa'. Sebagai penggemar situs itu banyak sudah cerita yang kubaca, tapi cerita Cleo sangat berbeda. Cerita-ceritanya seakan merefleksikan pribadinya dengan lugas, blak-blakan dan 'wild'. Timbul pertanyaan dalam diriku, apakah yang diceritakannya itu 'true story' atau hanya kreatifitas sebagai luapan dari 'sexual drive' yang tinggi? Sudah tentu aku langsung melayangkan email, memperkenalkan diriku sekaligus menanyakan hal tersebut. Tidak disangka emailku dibalasnya, tapi Cleo tidak pernah menjawab pertanyaanku, akupun tidak pernah bertanya lagi, mungkin ia enggan menjelaskannya. Sejak itu kami sering berkomunikasi lewat email, Semakin lama aku dan Cleo semakin akrab, sampai-sampai kehidupan 'tempat tidur' pun kami ungkapkan. Suatu kali Cleo menyarankan agar aku juga menulis cerita berdasarkan pengalaman-pengalamankuku.

Enggan juga pada awalnya, tapi Cleo selalu memberikan dorongan untuk mencoba, akhirnya, di sela-sela kesibukan kucoba juga menulis dan Cleo menjadi 'mentor'ku, hingga terbitlah 'karya' pertamaku di 17Tahun.com berjudul 'Bandung Lautan Birahi' yang mendapat tanggapan positif dari para pembaca karena 'karya'ku mendapat rate tiga setengah bintang. Lumayan bagi pemula sepertiku, komentar Cleo di-emailnya. Terima kasih Cleo dan terima kasih juga kepada pembaca yang telah memberikan nilai.

Esoknya, pukul 7 malam, aku sampai di hotel tempatnya menginap. Kutelepon dia untuk memberitahu kedatanganku.
"Hello..", suara halus Cleo menyapa.
"Cleo.., aku sudah di bawah."
"Aku tunggu, ya", sambungku lagi.
Beberapa menit menunggu di sudut kafe, kulihat sosok wanita tinggi semampai mengenakan rok sportif putih sedikit di atas lutut dan atasan berwarna putih.., ketat, kelihatan mencari-cari. Cleo!, akupun berdiri dan melambaikan tangan ke arahnya. Cleo membalas dengan lambaian kecil dan menuju ke arahku. Walaupun aku sudah pernah melihat fotonya namun tak urung aku tercekat juga melihat diri aslinya! Putih, tinggi 170 dengan atasan yang ketat seakan tidak mampu menahan tonjolan dadanya! ditambah dengan rambut pendek 'wet look' kemerahan membuat penampilannya jauh lebih sexy daripada fotonya.

"Hai.. Cleo..", Ia mengulurkan tangan dengan senyum paling manis yang pernah kulihat.
"Dio..", balasku sambil menyambut uluran tangannya.
Kutarik kursi supaya ia bisa duduk dengan mudah.
"Terima kasih..", ujarnya sambil menatapku.
Agak sedikit 'grogi' juga dengan tatapannya, hanya sesaat. Setelah itu dengan lancar kami berbicang-bincang. Mungkin karena pekerjaan kami yang walaupun berbeda namun sebenarnya masih 'satu jalur' sehingga membuatku mudah berkomunikasi dengannya. Suasana kemudian mengalir dengan lancar, tidak lagi kaku.

Setelah memesan makanan penutup, aku mulai mengarahkan perbincangan ke cerita kami di 17Tahun.com.
"Jadi.., cerita-cerita kamu itu terjadi beneran atau sekedar fantasi kamu saja?", pertanyaan yang tidak pernah dijawabnya dalam email akhirnya kutanyakan langsung.
"Mm.. ada deh..".
"Kok ada deh.. rahasia segala sama aku".
"Mm.. memangnya kenapa?".
Dengan agak hati-hati, aku bertanya, "Beneran udah pernah ngerasain dildo?".
"Hahahahaha.." tawanya terlepas.
"Uppss.. sorry, aku nggak ber maksud ngetawain pertanyaan kamu, lho..", sambungnya.
"Jadi?", terus kukejar untuk mendapatkan jawabannya.
"Mm..", dia bermain 'hard to get' hingga benar-benar membuatku panasaran.
"Tuh kan, sengaja ya, ngulur-ngulur?".
"Iya..", sahutnya sambil menahan tawa, uuhh.. wajahnya membuatku semakin gemas.
"Jadi?", tanyaku ingin lebih memastikan.

Ia mengangguk sambil menikmati es krim dengan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Kok ngangguk aja?", semakin gemas aku melihat mimiknya yang menggoda.
"Udah", akhirnya! Terjawab sudah tanda tanya yang selama ini menggantung di kepalaku.
"Wow! rasanya sama nggak dengan yang asli?", tanyaku.
"Hampir.. tapi enakan yg asli dong".
"Enaknya?".
"Enaknya.. kalo yang asli bisa terasa banget pas membesar, siap-siap meluapkan isi", jawabnya sambil melirik, mungkin ingin tahu reaksiku.
"Juga.. bisa bikin kelojotan si empunya karena dihisap-hisap punyaku", tambahnya dengan sikap wajar.
Gila! Cool banget, aku sendiri sudah gelisah dengan pembicaraan yang mulai mengarah ke erotis.

Dengan hati-hati kudekatkan tubuhku seraya mengelus halus lengannya.
"Punyaku juga bakalan seneng banget kalo dihisap-hisap", ujarku setengah berbisik.
"Juga..", lanjutnya mengabaikan ucapanku sambil mengangkat sendok yg berisi penuh es krim ke mulutnya.
"Enaknya.. aku bisa merasakan cairan kenikmatan si empunya", ujarnya sambil menjilat es krim dari sendok secara perlahan-lahan.
Wow! Gerakan lidahnya saat menjilat es krim membuatku meradang.

"Kalo dildo, mana punya cairan yang sangat kunikmati itu", sambungnya lagi.
Aku benar-benar menelan ludah melihat semua itu, kuangkat gelas rum cola-ku meminum isinya untuk menenangkan diri.
"Kamu sendiri, udah pernah lihat atau pakai dildo?", tanyanya.
"Belum.. eh ngga.. untuk apa?", terkejut dengan pertanyaannya, membuatku terbata-bata.
"Siapa tahu.. hehe..", kerlingnya nakal.
"Wah nggak deh. Aku masih normal kok".
"Ohh.."
"Mau lihat?", sambungnya lagi.
"Mau lihat? Kamu bawa?", sahutku lebih terkejut lagi.
"Yah, namanya jalan sendirian. Sibuk terus, nggak ada waktu, ya self service lah", jawabnya ringan.

Betul, seperti dugaanku ia memang seorang yang blak-blakan.
"Di kamar?", tanyaku masih tidak percaya akan ajakannya.
"Ya, iya lah. Masak di rumah.. mau lihat nggak?", tanyanya lagi melihat kebingunganku.
"Mau dong..!", jawabku pasti, setelah yakin ajakan itu bukan basa-basi.
"Ke kamarku yuk..", ajaknya kemudian.

Setelah menyelesaikan pembayaran, kami menuju ke kamarnya. Kekecewaanku karena tidak bisa memenuhi undangan 'wild party' kawan-kawanku seketika terobati. Sudah terbayang apa yang akan terjadi di kamarnya, membuat birahiku perlahan merayap ke bagian sensitifku, menegang! Di lift, kami tidak hanya berdua, kugunakan kesempatan itu untuk berdiri sangat dekat ke tubuhnya seraya memeluk pinggangnya. Cleo menggeser lebih mendekat, kupeluk ia lebih erat. Begitu dekatnya hingga dapat kucium parfum yang digunakan di belakang telingannya, membuat birahiku semakin menggelegak lagi. Sampai di pintu kamar aku sudah tak tahan, sementara Cleo berusaha membuka pintu, kupeluk dia dari belakang dan kucium tengkuknya.

Sampai di dalam, kukecup bibirnya dengan penuh perasaan. Cleo memejamkan matanya menikmati kecupanku. Tiba-tiba Cleo mendorong tubuhku.
"Katanya mau lihat dildo", ujarnya sambil mengajakku berjalan ke sofa.
"Nanti aja, yang ini lebih asyik", sambil kuraih mukanya dengan kedua tanganku dan kembali kecupan-kecupanku mengalir!
"Nakal ya..", ucapnya.
"Aku buka ya kemejanya", lanjutnya membuatku terkejut, tapi kuturuti saja apa maunya.
Kulepas genggaman di mukanya, Cleo dengan leluasa membuka kemejaku. Kutatap ia dengan kebingungan, permainan seperti apa yang akan dilakukannya? Gumamku dalam hati.
"Tunggu sebentar ya..", ujarnya sambil memberiku sun jauh dan menuju ke kamar mandi.

Cleo keluar dengan mengenakan kemejaku yang terlihat kebesaran di badannya, tiga kancing atas dilepas membuat belahan buah dadanya mengintip serta puting yang membayang! Pemandangan yang mencekat tenggorokan! Aku masih bersandar di sofa menanti dengan sabar dan penasaran. Cleo menjauhkan meja di depanku dan menarik kursi kerja kemudian diletakkan di depanku, kira-kira dua kali jangkauan tanganku. Apa yang sedang dilakukannya?, pikirku sambil terus memandangnya dengan tanda tanya yang besar.

"Mau lihat aku dance di depanmu?", tanyanya.
"Great.. mau dong", ujarku dengan antusias, terbayang sudah apa yang akan terjadi.
"Duduk aja di situ ya. Boleh nonton tapi nggak boleh pegang", kerlingnya nakal.
"Yaa.. kok nggak boleh", protesku.
"Yah, mau lihat nggak?", nadanya sedikit mengancam.

Sedikit kecewa, tapi aku mengangguk saja. Dikeluarkannya lempengan CD dari dalam tas, dipasang di laptopnya, mengalunlah musik. Kompilasi Cafe del Mar! Favoritku, Cleo sepertinya telah mempersiapkan semua ini.
Ia melangkah ke arah kursi dan duduk di depanku. Hentakan-hentakan musik mulai membahana. Digoyangnya badannya mengikuti irama, sambil menatapku tajam. Tangannya mulai bergerak. Berawal dari mulut, ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.