peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


ceritanabsu.peperonity.net

Kirani

KIRANI

Aku mengenal Kirani sebenarnya melalui no. telp di phonebook HP-nya temanku. Waktu itu, aku hanya sekedar iseng mengecek nomor-nomor cewek yang ada di situ. Dan, voila! Kulihat nama KIRANI. Ah, pertama kali tentu saja aku tidak berharap banyak. Siapa tahu toh tampangnya kayak kuntilanak, hueheuheuhe.... tapi suatu hari, tapatnya tanggal 9 Desember 2000, karena nganggur abis, di samping pingin merasakan `fresh meat', kucoba menghubungi nomer telponnya.
"Hallo."
Lah kok suara bapak-bapak?
"Selamat malam, bisa dengan Kirani, Pak?" sahutku dengan nada sesopan mungkin.
"Dari siapa?" jawab suara di seberang.
"Dari Ray, Pak."
Dan bapak itu memintaku menunggu.
"Halo?"
Eh merdu juga suara si `neng' ini. Dan karena ia di rumah, padahal ini malam minggu, berarti.....
"Halo? Kirani?" tanyaku dengan suara dimaniskan.
"Siapa ini?" gadis itu bertanya.
"Ray." Jawabku singkat.
Sistemnya begini, kita tidak bisa membuat cewek tertarik pada konversasi kita hanya dengan menggunakan interogasi lapuk seperti `rumahnya di mana', `kuliahnya di mana',`udah punya pacar belum'. Namun kita pasti bisa menarik perhatian seorang cewek apabila kita menyerbunya dengan sebuah cerita atau pertanyaan spesifik di luar identitasnya. Dan itulah yang kulakukan, tanpa memberinya kesempatan untuk menanyakan identitasku.
"Ah, cuman Ray saja." jawabku, dan dengan cepat kulanjutkan, "aku pingin curhat..." dan membiarkannya bingung dan merasa lucu sendiri, akhirnya (90% cewek selalu begini) ia berkata, "oke deh, curhat apa?"
Masuk, kan? Kalau dia tidak bilang begitu, tinggal saja. Cewek seperti itu takkan bisa masuk perangkap... hehehehe.
"Begini, Rani......." dan akupun mengarang cerita tentang betapa cintaku dikhianati seorang gadis yang sudah kukasihi sekian tahun lamanya, betapa hatiku sedih membayangkan seluruh pengorbananku sia-sia dan sebagainya (pokoknya yang sedih-sedih dan semua salah si cewek).
".....begitu." aku mengakhiri ceritaku, "bagaimana menurutmu?"
"Gimana, yaa..." suaranya terdengar ragu, "menurutku sih, yang salah ceweknya ...."
Sampai di sini aku menarik nafas lega, jadi aku sudah berhasil menarik simpatinya atas penderitaanku. Dan kami berbincang-bincang cukup lama mengenai masalah itu sampai akhirnya ia kembali menanyakan, "Ray siapa sih? Tahu nomer telponku dari mana?". Namun tentu saja dengan nada yang lebih akrab. Oh, satu hal yang selalu kupegang, jangan pernah terlalu banyak cerita mengenai diri sendiri, karena mendengar cerita lawan bicara dengan baik akan memberikan kesan yang baik pula, cerita mengenai diri sendiri justru akan bernuansa membosankan. Jadi kujawab apa adanya dan kuajukan pertanyaan universal yang membuatnya banyak omong kepadaku, sampai akhirnya ia bertanya sendiri, "dih, aku cerewet yah?" Oh, tentu tidak. Ceritamu sangat menarik, walaupun aku ngantuk mendengarnya, dan rokokku hampir habis. Hehehehehe.

Jadi aku berhasil mendapatkan alamatnya, cukup, jangan mendesak lebih lanjut, kukatakan aku akan menelponnya besok, ia setuju, dan tanpa menunggu lebih lama, aku langsung menuju ke jl. Gubeng Airlangga xx no. xx. Tidak mampir, aku hanya melihat dan melewatinya saja. Santai, tak perlu terburu-buru. Dan daripada nganggur, aku langsung berangkat ke kos-kosan te-te-em (teman tapi mesra) ku di Barata Jaya xx. Mengajaknya keluar jalan-jalan dan membujuknya hingga dia mau menghisap penisku di dalam mobil.

Keesokan harinya, tepat pukul tujuh malam, sesuai janji kemarin, aku melancarkan serangan berikutnya. Kali ini kuawali dengan bercerita tentang sebuah tabrakan maut yang entah di mana (aku lupa, soalnya aku hanya mengarang saja, hehehe), yang membuatnya sangat tertarik, lalu menarik simpatinya dengan pengalamanku dengan mantan kekasihku, si narkoba, dan membahas topik permasalahan kemarin, sehingga aku berhasil berbicara dengannya kurang lebih satu jam setengah. Seperti biasa pula, cewek akan merasa akrab kalau kita bisa membuatnya tertawa, senang, dan banyak omong. Sehingga....
"Rani, aku pingin tahu wajahmu loh." kataku tiba-tiba.
"Kapan? Sekarang? Udah malam lagi." kudengar Rani berkata di seberang. Jadi
sudah boleh, kan.
"Besok, jam lima sore."
Jangan membuat langkah ragu, dan pilih waktu yang tak membuatnya curiga.
"Okeh, ngga papa. Kutunggu."
Pembicaraan yang lama akan membuat seseorang lupa ketika berjanji, sehingga Rani lupa bahwa besok masih puasa, jadi aku bisa menawarkan berbuka puasa bersama setibanya di kosnya. Lumayan cerdik? Tentu saja. Oh, beberapa hari ini kukonsentrasikan energiku untuk mengejarnya, jadi sejenak aku mengesampingkan tuntutan nafsuku, paling tidak sampai aku mendapatkan Rani.

Semuanya berjalan lancar-lancar saja. Jangan pernah menunjukkan perubahan dari gaya bicara di telpon dengan saat bertemu, seburuk apapun kemungkinan yang akan terjadi. Dan ternyata, wow, sangat jauh dari buruk. Heran juga kenapa temanku bisa dapat no. telpon si Rani.
Hehehehe.... anaknya cantik, kulitnya putih bersih, rambutnya bergelombang mengingatkanku kepada Bella Saphira, hanya dadanya sedikit kecil untuk tipeku, selebihnya oke-oke saja, bahkan sangat oke. Kuusahakan membuat ia tertawa terus, dengan mengarang cerita-cerita konyol dan memainkan raut wajahku. Matanya berbinar-binar, sebagai pernyataan keakrabannya denganku. Dan ketika aku mengingatkannya pada waktu buka puasa, setelah menunggunya shalat (aku shalat darurat di mobil, hehehe), kamipun meluncur mencari tempat makan. Oh, tentu saja kuusahakan mencari tempat kelas menengah yang menimbulkan kesan atraktif, seperti Wapo Airlangga, misalnya.
Selama perjalanan, aku agaknya berhasil membuatnya terpesona dengan sikap gentle-ku. Ia tersenyum manis saat kuberikan sebatang Toblerone (yang sudah kusiapkan sebelumnya), dan mengucapkan terima kasih saat kubukakan pintu mobil untuknya. Dan ketika aku menanyakan kapan ketemu lagi (bukan `boleh ketemu lagi?'), ia langsung mengatakan ,"Jumat aku kosong." Dan lihat, semuanya sangat perfect!

Hari Jumat aku mengajaknya jalan, dengan terlebih dahulu memberikan alasan bahwa aku paling bosan duduk terus, dan dengan keakraban yang sudah terjalin, alangkah mudahnya mengajaknya keluar. Hari itu aku mengajaknya ke Pizza Hut di Plasa Tunjungan untuk sekedar minum dan makan salad, karena kami sudah berbuka puasa sendiri-sendiri sebelum aku ke kosnya. Kali ini perbincangan kami seputar tipe cewek idamanku, dan tipe cowok idamannya. Dan tentu saja, dengan menjadi pendengar yang baik, aku bisa mencocokkan tipe cewek idamanku dengan sifat-sifatnya yang sudah kukira-kira dari cerita-ceritaya selama beberapa hari yang lalu. Dan aku tahu, tipe cowok idamannya pastilah sudah kupenuhi semua, kecuali studi tentu saja, soalnya aku paling malas kuliah... heuheuehueh. Aku tahu, kemungkinan untuk me'nembak'nya saat itu masih 80% berhasil. Jadi kuputuskan untuk menahan sabar. Aku hanya memancing dengan kata-kata, "Enak yah, punya cewek kaya kamu." Dan itu bisa membuatnya tersanjung, membubung tinggi ke awang-awang... dan....... brukkkkk?? Oh, itu nanti saja.

Sabtu besoknya, nah ini yang seru. Pukul sembilan malam, aku menelponnya tiba-tiba, yang tentu saja membuatnya bertanya-tanya. Dan kubilang, ada hal penting yang membuatku harus ke sana sekarang juga. Karena itu `hal penting' akhirnya ia bersedia menemuiku.
Hohoho... sesampainya di kosnya, aku langsung berlutut, tanpa memperdulikan teman-temannya yang lagi nonton tv di ruang tamu. Memegang tangannya dan memintanya menjadi pacarku. Hehehe, wajahnya tersipu, dan aku tahu dalam keadaan begini, dilihat oleh teman-temannya, hanya 1% kemungkinanku untuk ditolak. Dan begitulah, ia ikut berlutut dan menganggukkan kepalanya, diiringi suit-suit teman-temannya yang menyaksikan kami. Dengan luapan kegembiraanku (berhasil! berhasil!) kupeluk pinggangnya yang ramping dan kuangkat tinggi-tinggi, membuatnya menjerit-jerit kecil dan teman-temannya tertawa.
Aku, langsung pulang, membiarkannya larut dalam kejadian yang mungkin baginya sangat luar biasa, hahaha... jahatnya aku.

Minggu besoknya, kami berdua menghabiskan waktu di Dunkin's Donuts, sambil bercerita `ngalor-ngidul'. Oh, Rani yang lugu. Tarkadang terselip rasa menyesal........ masa? Hohoho......
Hari Selasa, minggu lalu, aku berhasil mencium bibirnya, untuk hal ini, aku selalu menjaga reputasiku yaitu dengan tanpa harus mengajukan pertanyaan bodoh seperti `boleh kucium bibirmu?'. Kalau pingin cium, ya cium saja. Itu prinsipku, buat apa tanya?

Jumat kemarin, aku mengajaknya shalat tarawih. Setelah itu, aku mengajaknya berputar-putar di jalanan Surabaya, sambil memeluk dan menikmati lengan kiriku yang tertekan `susu'-nya. Dan sampailah kami di saat setan lewat, dimana kami diam menikmati `kebersamaan' kami.
Nah, saat itulah kubisikkan di telinganya, "Rin, ke rumahku yuk.".
Rina hanya menggelendot manja di pelukanku. O.. hohoho....... ho..

Ah ya, aku tinggal di Surabaya dengan mengontrak sebuah rumah yang lumayan di daerah Rungkut Harapan. Aku tinggal bersama dua orang temanku. Yang tentu saja sudah kusuruh ngacir ketika aku berhenti untuk mengisi bensin.
Lalu...........

Rani tidak meronta ketika sambil berdiri kupeluk dan kulumat bibirnya. Aku tidak pernah menutup mataku kalau sedang berciuman, hal yang bodoh, karena melihat matanya yang terpejam dan hidungnya yang kembang-kempis merupakan sebuah kenikmatan tersendiri bagiku.
Ahh.... kudengar nafasnya yang mendesah saat kupegang dan kuremas payudaranya dari lapisan bajunya, ohhhhh... hhh.... kurasakan nafasku juga sedikit memburu, kumasukkan tanganku ke dalam bajunya, meraba raba cup BH-nya, menikmati kekenyalan `bemper'nya. Kubiarkan saja tangannya tergantung di sisi-sisi tubuhnya, lagipula, Rani (sesuai pengakuannya) kan masih hijau dalam berpacaran.. hehehe..... bingung kali dia harus ditaruh di mana tangannya, tidak seperti Eci yang pasti sudah langsung merogoh celanaku... hehehehe....

Mmmmmmhhh.... kulumat bibirnya yang terbuka, dan kutekan pantatnya dengan tangan kananku sehingga menekan penisku yang mulai `siap grak'. Hhhhh..... hembusan nafasnya terasa mulai cepat... dengan tetap memeluknya (dan tanganku masih meremas payudaranya), kubimbing dia memasuki kamarku. Toh ngga ada orang, jadi kubiarkan pintu kamar terbuka. Kududukkan dia di tepi ranjangku, sip. Kuangkat kakinya dan kujatuhkan kepalanya sehingga ia berada dalam posisi terlentang, sementara aku berjongkok di sebelah ranjang. Mmmmm.... kulumat lagi bibirnya, sementara tangan kananku mengangkat bajunya hingga BH nya menyembul keluar, dan menyelipkan tanganku di BH-nya, merasakan putingnya yang mulai mengeras di ujung jari-jariku.
Ahhh... uhhh.... Rani mulai mendengus-dengus menikmati sentuhanku. Tanpa pikir panjang, langsung kuraih kancing celananya dan menarik retsletingnya, ehk, tangannya memegangi tanganku, matanya mendadak terbuka... ups...
"Sssshh.... kamu percaya kan sama aku?" bisikku di bibirnya. Dan kulumat bibirnya sebelum ia sempat menjawab apapun. Kurasakan pegangannya pada tanganku melemas, matanya mulai terpejam lagi. Jadi kuteruskan saja. Kumasukkan tanganku di lipatan celana dalamnya yang berwarna krem, merasakan bulu-bulu vaginanya yang lebat, memijat-mijat permukaan vaginanya, merasakan tanganku basah oleh `cairan'nya... ahhhhh... hhhh.... mmmm..... kudengar nafasnya yang mendesah-desah dan matanya berkerut-kerut saat kujepit labia majoranya dengan jari-jariku, memainkannya, memijat-mijatnya, dan kepalanya tertarik ke belakang saat jari tengahku menemukan kelenjar vaginanya dan menekan-nekan serta ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.