peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


comzzz.peperonity.net

tante & anaknya

Waktu itu saya berenang di kolam renang milik sebuah Country Club, dimana saya tercatat sebagai membernya. Saat itu sudah amat sore, sekitar pukul 5. Saya baru saja naik ke pinggir kolam renang untuk handukkan. Saya melihat ada seorang gadis mungil bersama anak perempuan kecil, gadis itu kira-kira berusia antara 14-15 tahun. Karena gadis itu berdiri tidak jauh dari saya, saya liatin aja dia. Untuk usia segitu, badannya bolah dibilang bagus, wajah manis, kulit putih bersih, rambut panjang, swimsuit yang benar-benar sexy dan sekilas saya lihat bibir dan dadanya yang menantang sekali. Setelah saya perhatikan baik-baik, tiba-tiba ‘Adik kecil’ saya bangun, bagaimana tidak.., ternyata dia tidak mengenakan celana dalam. Hal ini nyata sekali dari belahan vaginanya yang tercetak di baju renangnya itu.

Eh.., nggak disangka-sangka, si anak kecil (yang ternyata adiknya), menghampiri saya, lalu dia bilang, “Om, mau main bola sama Grisa gak?”
“Eh.., mmh.., boleh.., kamu sama kakakmu ya?” tanya saya gugup.
“Iya.., itu Kakak!” katanya sambil menunjuk kakaknya.

Lalu saya hampiri dia dan kami berkenalan. Ternyata, gadis manis itu bernama Revi, dan juga, dia baru kelas 2 SMP.

“Mmh, Revi cuma berdua sama Grisa?” tanya saya mencoba untuk menghangatkan suasana.
“Nggak Om, kami sama Mami. Mami lagi senam BL di Gym diatas!” kata Revi sambil menunjuk atas gedung Country Club.
“Ooo.., sama Maminya, toh” kata saya.
“Papi kamu ndak ikut Rev?”
“Nggak, Papi kan kalo pulang malem banget, yaa.., jam-jam 2-an gitu deh. Berangkatnya pagii bener” katanya lucu.

Saya tersenyum sambil memutar otak untuk dapat berkenalan sama Maminya.

“Mmh, Mami kamu bawa mobil Rev? kalo ndak bawa, nanti pulang sama Om saja, mau ndak? Sekalian Om kenalan sama Mami kamu, boleh kan?”
“Boleh-boleh aja sih Om. Tapi, rencananya, habis dari sini, mau ke Mall sebentar. Grisa katanya mau makan McD.”
“O, .. Ya udah ndak apa-apa. Om boleh ikut kan? Nanti pulangnya Om anterin”.
Tapi yang menjawab si kecil Grisa, “Boleh.., Om boleh ikut..”

Sekitar 1/2 jam kami mengobrol, Mami mereka datang. Dan ternyata, orangnya cantik banget. Tinggi dan postur tubuhnya benar-benar mengingatkan saya pada Mirna, mirip abis. Buah dada yang besar dan ranum, leher dan kulit yang putih.., pokoknya mirip. Singkat cerita, kami pun berkenalan. Revi dan Grisa berebut bercerita tentang awal kami semua berkenalan, dan Mami mereka mendengarkan sambil tersenyum-senyum, sesekali melirik ke saya.

Nama Mami mereka Imel, umurnya sudah 29 tahun, tapi bodinya.., 20 tahun. Ngobrol punya ngobrol, ternyata Imel dan suaminya sedang pisah ranjang. Saya dalam hati berkata, wah.., kesempatan nih. Makanya setelah makan dari Mall, saya memberanikan diri untuk mengantarkan mereka ke rumah, dan ternyata Imel tidak berkeberatan. Setelah sampai di rumahnya di bilangan Cilandak, saya dipersilahkan masuk, langsung ke ruang keluarganya.

Waktu itu sudah hampir jam 8 malam. Grisa yang sepertinya capek sekali, langsung tidur. Tapi saya, Imel dan Revi ngobrol-ngobrol di sofa depan TV.

“Mel, suamimu sebenarnya kerja dimana?”, tanya saya.
“Anu Mas.., dia kontraktor di sebuah perusahaan penambangan gitu,” jawab Imel ogah-ogahan.
“Iya Om, jangan nanya-nanya Papi. Mami suka sebel kalo ditanya tentang dia,” timpal Revi, yang memang kelihatan banget kalo dia deket sama Maminya.
Mendengar Revi bicara seperti itu, Imel agak kaget, “Revi, nggak boleh bicara gitu soal Papi, tapi bener Mas, aku nggak suka kalo ditanya soal suamiku itu”.
“Iya deh, aku nggak nanya-nanya lagi..”, kata saya sambil tersenyum.
“Eh Iya.., Mas Vito mau minum apa?” tanya Imel sembari bangkit dari sofa, “Kopi mau?”
“Eh.., iya deh boleh..” jawab saya.
Tak lama kemudian Imel datang sambil membawa 2 cangkir kopi, “Ini kopinya..”, katanya sambil tersenyum.

Revi yang sedang nonton TV, dengan mimik berharap tiba-tiba berkata, “Om, malem ini nginep di sini mau ya? bolehkan Mam?”. Imel yang ditanya, menjawab dengan gugup, “Eh.., mmh.., boleh-boleh aja.., tapi emangnya Om Vito mau?”
Merasa dapat durian runtuh, saya menjawab sekenanya, “Yah.., mau sih..”,

Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan jam 1/2 12 malam ketika Imel berdiri dari sofa dan berkata, “Mas Vito, aku mau ganti baju tidur dulu ya?”

“Eh, iya..”, jawab saya.
“Kamu ndak tidur Rev, kan besok sekolah?”
“Mmh, belom ngantuk..”, jawabnya lucu.

Tak lama kemudian, Imel datang lagi ke ruang TV dengan mengenakan busana tidurnya yang tipis sekali. Di dalamnya dia hanya memakai celana dalam jenis G-string dan Bra tanpa tali. Revi yang sedang tidur-tiduran di karpet terbelalak kaget melihat Maminya memakai baju se-sexy itu.

“Ya ampun.., Mami.., bajunya itu lho, gak sopan banget.”
“Gak papa Rev’, Mami udah lama nggak pake baju ini. Sekalian nyobain lagi,” kata Imel sambil tersenyum ke arah saya.
“Om Vito aja nggak keberatan, masa kamu keberatan sih?”. Saya yang masih terkagum-kagum dengan kemulusan body Imel, tidak bisa bicara apa-apa lagi.
“Rev’ kamu tidur sana, sudah malam. Besok terlambat sekolah.., Mami masih mau ngobrol sama Om Vito.., sana tidur!” kata Imel.
Saya yang memang sudah pingin sekali mencoba tubuh Imel, juga ikut-ikutan ngomong, “Iya, Rev’ besok telat masuk sekolahnya.., kamu tidur duluan sana.”
Revi sepertinya kesal sekali di suruh tidur, “Aaahh.., Mami nih. Orang masih mau ngobrol sama Om Vito kok..”, tapi dia masuk juga ke kamarnya.

Setelah ditinggal Revi, saya mulai melakukan agresi militer.

“Mel, kok kamu pake baju kaya gitu sih? kamu tidak malu apa sama aku, kita kan baru kenal. Belum ada 1 hari.., kamu ndak takut apa kalo’ aku apa-apain?”
“Mas, aku memang sudah lama nggak pake baju ini. Kalaupun toh pake, suamiku sudah nggak peduli lagi kok sama aku. Dia lebih memilih sekretarisnya itu,” kata Imel dengan mimik muka sedih.
“Berarti suamimu itu tolol. Dia nggak liat apa, kalo istrinya ini punya badan yang bagus, kulitnya putih, bibirnya tipis.., wah, kalo aku jadi suamimu, thak perem kamu ndak boleh keluar kamar,” kata saya bercanda.
“Dan lagi kamu punya ‘itu’ mengkel banget..”, Si Imel menatap saya dengan wajah lugu.
“Itu apa Mas?”
“Mmh, boleh aku jujur tidak?”
“Boleh.., ngomong aja”
“Anu.., payudaramu itu lho.., mengkel banget, dan lagi aku yakin kalo ‘anu’mu pasti seukuran satu sendok makan” kata saya sambil melakukan penetrasi dengan mengelus pahanya.
“Ooo.., ini,” kata Imel sambil memegang buah dadanya sendiri.
“Mas Vito mau? terus apaku yang seukuran..”
Belum selesai Imel berbicara, Langsung saja aku potong dengan memegang dan mengelus kemaluannya, “Ini.. Mu.., buka dong bajumu!” kata saya asal.

Imel yang sepertinya sudah setengah jalan, langsung melepas kain tipis yang menutupi tubuhnya. Sambil mengulum bibirnya yang tipis dan hangat, saya langsung membuka bra-nya. Imel dengan gerakan spontan yang halus sekali, membiarkan celana dalamnya saya lucuti.

“Mas, aku sudah telanjang. Sekarang gantian ya..”, kata Imel tanpa memberi saya kesempatan bicara,

Imel langsung melepas baju dan celana serta celana dalam saya, akibatnya dia shock setengah mati melihat batangan saya yang sudah terkenal itu. Hebatnya lagi, dia tanpa minta ijin, langsung jongkok di bawah saya dan mengulum si ‘Adik’ dengan beringas. Sekitar 5 menit kemudian, dia berdiri dan menyuruh saya untuk menjilati bibir vertikalnya. Imel kelojotan setengah mati, ketika lidah saya menyapu dengan kasar klitorisnya.

Imel saya suruh terlentang di karpet dan membuka kakinya, ‘Veggy’nya yang sudah basah itu, saya hajar dengan gerakan tajam dan teratur. Sambil terus menyerang, saya meremas buah dadanya yang besar, dan menghisap lidahnya dalam-dalam ke mulut saya. Sekitar 10 menit kami melakukan gaya itu, kemudian dia berdiri dan membelakangi saya dengan posisi menungging dan berpegangan di meja komputer didepannya, dia membuat jalan masuk dengan menggunakan kedua jarinya.

Langsung saya pegang pantatnya dan saya tusuk dia perlahan-lahan sebelum gerakan makin cepat karena licinnya liang surga itu. Tak lama kemudian, Imel bergetar hebat sekali.., dia orgasme, tapi cairan sperma saya belum juga mau keluar. Saya percepat gerakan saya, dan tidak memperdulikan erangan dan desahan Imel, dalam hati saya berkata, dia enak sudah klimaks, aku kan belum. Tak lama kemudian saya sudah ndak tahan.

Saya tanya, “Mel, aku mau keluar.., dimana nih?”
Di tengah cucuran keringat yang amat banyak, Imel mendesah sambil berpaling ke arah saya, “Di dalam aja Mas! biar lengkap”.
Benar saja, akhirnya cairan saya, saya semprotkan semua di dalam liang vaginanya. Banyak sekali, kental dan Lengket.

Setelah itu, kami duduk di sofa sambil dia saya suruh menjilati ‘Mr. Penny’ saya. Hisapan Imel tetap tidak berubah, tetap penuh gairah, walaupun bibirnya terkadang lengket di kepala ‘Mr. Penny’ saya. Sekitar 5 menit, Imel menikmati si ‘vladimir’, sebelum dia akhirnya melepaskan hisapannya dan bangun.

“Mas, aku ke kamar mandi dulu ya,” katanya.
“Aku mau nyuci ‘ini’ dulu,” sambil dia mengelus vaginanya sendiri.
“Ya.., jangan lama-lama..”, kata saya.

Karena sendirian, saya kocok saja sendiri batangan saya. Tiba-tiba si Revi keluar kamar.., dia berdiri di depan pintu kamarnya sambil memperhatikan saya. Saya kaget sekali.

“Loh, Rev.. Kamu belum tidur?” tanya saya setengah panik.
“Belum.” Jawabnya singkat.

Lalu dia berjalan ke arah saya, sementara saya berusaha menutupi ‘Mr. Penny’ saya dengan bantal sofa.

“Om, tadi ngapain sama Mami?” tanyanya lagi.
“Eh.., anu.., Om sama Mami lagi..” belum selesai saya menjelaskan, Imel masuk ke ruang TV.

Dia kaget sekali melihat Revi ada di situ. Sambil tangan kanannya menutupi vaginanya dan tangan kirinya menyilang menutupi buah dadanya yang ranum (tidak semua tertutupi sih..), Imel berkata, “Rev kamu ngapain, kok belum tidur?”
Revi berpaling menghadap Maminya, “Aku nggak bisa tidur, Mami tadi berisik banget. Ngapain sih sama Om Vito?”

Akhirnya saya menjelaskan, setelah sebelumnya menyuruh Imel duduk di samping saya, dan Revi saya suruh duduk di karpet, menghadap kami.

“Revi, kamu kan tahu, Papi sama Mamimu sudah pisah ranjang selama hampir 4 bulan. Sebenarnya Om sama Mami sedang melakukan kegiatan yang sering dilakukan sama Mami dan Papimu setiap malam. Om dan istri Om juga sering melakukan ini,” kata saya sambil melirik Imel yang terlihat sudah agak santai.
“Tapi karena sekarang ndak ada Papi, Mami minta tolong Om Vito untuk melakukan hal itu.”
Revi terlihat sedikit bingung, “Hal itu hal apa Om?”
Di sini, Imel ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.