peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


edukatif.peperonity.net

~sambungan~

CARA JAMA' TA'KHIR

Yang dimaksud dengan jama' ta'khir adalah, melakukan sholat dhuhur dalam waktunya sholat ashar, atau melakukan sholat maghrib dalam waktunya sholat, isya'. Sholat shubuh tidak dapat dijama' dengan sholat dhuhur. Pelaksanaan sholat jama' ta' khir antara sholat dhuhur dan ashar, dilakukan dengan cara, apabila telah masuk waktu dhuhur, maka dalam hati niat mengakhirkan sholat dhuhur untuk dijama' dengan sholat ashar dalam waktu sholat ashar.

Kemudian setelah masuk waktu ashar, melakukan sholat dhuhur dan sholat ashar seperti biasa tanpa harus mengulangi niat jama' ta'khir. Demikian juga cara melakukan jama' ta'khir sholat magrib dengan sholat isya'. Ketika masuk waktu maghrib berniat dalam hati mengakhirkan sholat maghrib untuk di jama' pada waktu sholat isya'.

SYARAT-SYARAT JAMA' TA'KHIR

Orang yang sedang bepergian, diperbolehkan melakukan jama' ta'khir apabila memnuhi syarat sebagai berikut :

1. Bukan bepergian maksiat.
2. Jarak yang ditempuh, sedikitnya brjark 80 ,64 km. ( mazhab Syafii)
3. Berniat jama' ta'khir didalm waktu dhuhur atau waktu maghrib.

KONDISI DIPERBOLEHKAN MELAKUKAN JAMA'

Ketntuan jama' dan atas adalh mengacu kepada pndapat mazhab Syafii. Berikut ini adalah kondisi- kondisi yang diperbolehkan melakukan sholat dengan jama' dari brbagai mazhab:

1. Prjalanan panjang lebih dari 80 ,64 km (Syafii dan Hanbali).
2. Perjalanan mutlak meskipun kurng 80 km (Maliki).
3. Hujan lebat sehngga menyulitkan melakukan sholat berjamaah khusus untuk sholat maghrib dan isya' ( Maliki, Hanbali).
Trmasuk kategori ini adalah jalan yang becek, banjir dan salju yang lebat.
Mazhab Syafii untk kondisi seperti ini hanya memperbolhkan jama' taqdim.
Dalil dari pendapat ini adalah hadist Ibnu Abbas bahwa Rasulullah s.a.w. sholat bersama kita di Madina dhuhur dan ashar digabung dan maghrib dan isya' digabung, bukan karna takut dan bepergian" (h.r. Bukhari Muslim).
4. Sakit
(mnurut Maliki hanya boleh jama' simbolis, yaitu melakukan solat awal di akhir waktunya dan melakukan sholar kedua di awal waktunya.
Mnurut Hanbali sakit diprbolehkan menjama' sholat).
5. Saat haji yaitu di Arafah dan Muzdalifah.
6. Mnyusui, karena sulit menjaga suci, bagi ibu-ibu yang  anaknya masih kecil dan tidk memakai pampers ( Hanbali).
7. Saat kesulitan mendapatkan air bersih (Hanbali).
8. Saat ksulitan mengetahu waktu sholat (Hanbali).
9. Saat prempuan mengalami istihadlah, yaitu darah yang keluar di luar siklus haid. ( Hanbali).
Pndapat ini didukung hadist Hamnah ketika meminta fatwa kepada Rasulullah s.a.w. saat menderita istihadlah, Rasulullah s.a.w. bersabda:" Kalau kamu mampu mengakhirkan dhuhur dan menyegerakan ashar, lalu kamu mandi dan melakukan jama' kedua sholat tersebut maka lakukanlah itu" (h.r. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi.
10. Karna kebutuhan yg sangat mendesak, seperti khawatir keselamatan diri sendiri atau hartanya atau darurat mencari nafkah dan seperti para pekerja yang tidak bisa ditinggal kerjaannya. (Hanbali). Para pekerja di kota-kota besar yang pulang dengan tansportasi umum setelah sholat ashar sering menghadapi kondisi sulit untuk melaksanakan sholat maghrib secara tepat waktu karena kendaraan belum sampai di tujuan kecuali setelah masuk waktu isya', sementara untuk turun dan melakukan sholat maghrib juga tidak mudah.

Pada kondisi ini dapat mengikuti mazhab Hanbali yang relatif fleksibel memperbolehkan pelaksanaan sholat jama'. Menurut mazhab Hanbali asas diperbolehkannya qashar sholat adalah karena bepergian jauh, sedangkan asas diperbolehkannya jama' adalah karena hajah atau kebutuhan.
Maka ktentuan jama' lebih fleksibel dibndingkan dengan ktntuan qashar.

SHOLAT DI ATAS
KENDARAAN

Plaksanaan sholat di atas kndaraan pesawat, sama seperti sholat ditempat lainnya. Jika dimungkinkan berdiri, maka harus dilakukan dengan berdiri, ruku' dan sujud dilakukan seperti biasa dengan menghadap qiblat. Namun jika tidak bisa dilakukan dengan berdiri, maka boleh sholat dengan duduk dan isyarat untuk sholat sunnah. Sedangkan untuk sholat fardlu maka ruku-rukun sholat seperti ruku' dan sujud, mutlak tidak boleh ditinggalkan. Sholat fardlu yang dilaksanakan di atas kendaraan sah manakala memungkinkan melakukan sujud dan ruku' serta rukun- rukun lainnya.
Itu dapt dilakukan di atas pesawat atau kapal api yang mempunyai ruangan atau tempat yang memungkinkan melakukan sholatg secara sempurna.
Apabila tidak mmungkinkan melakukan itu, maka sholat fardlu sambil duduk dan isyarat bagi orang yang sehat tidak sah dan harus diulang.
Dmikian pendapat mayoritas ulama. Pendapat ini dilandaskan kepada hadist-hadist berikut:

[1 ]. Dalm hadist riwayt Bukhari dari Ibnu Umar r.a. berkata:"Rasulullah s.a.w. melakukan sholat malam dalam bepergian di atas kendaraan dengan menghadap sesuai arah kendaraan,


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.