peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


edukatif.peperonity.net

Orang tua abei,anak terjebak dalam informasi tekno




Trend ajang narsisme di situs jejaring sosial telah membuat fatal pada anak. Para orangtua menjadi korban ulah anak yang lepas kontrol.

Kenapa? Dampak teknologi tak bisa dibendung. Sebab-sebab kejahatan karena teknologi, seperti pornografi dan pornovisual, komunikasi tanpa batas yang berujung pada hubungan seks, adalah akibat kelalaian orangtua, terutama karena tidak ditanamkannya pemahaman dan ajaran agama yang benar kepada anak.

Hal itu dikatakan Psikolog Elly Risman Musa, S.Psi menyikapi maraknya kasus pengaruh negatif situs jejaring sosial di Indonesia. "Anak cuma disekolahkan saja. Anak belajar tapi tidak terdidik," katanya Elly mengatakan, karena kelalaian tersebut, banyak orangtua yang malah didikte oleh sang anak dengan memaksakan diri memiliki benda-benda teknologi, seperti membelikan HP yang bisa koneksi internet.

Atau memberikan uang untuk ke warnet. Padahal sang anak sebenarnya tidak bisa menggunakannya dengan baik.

Selain kelalaian di atas, hal yang paling mempengaruhi pola gerak anak dalam menyikapi teknologi adalah orangtua yang gaptek (gagap teknologi). Akibatnya, orangtua tidak bisa menjelaskan dengan baik kepada anak tentang manfaat sebuah teknologi, atau sisi positif dan negatifnya.

Akhirnya karena tidak tahu menggunakan, banyak anak yang lepas kontrol. Ia mencontohkan dengan beberapa kasus remaja perempuan yang dibawa kabur oleh teman lelaki yang dikenalnya melalui Facebook, ketemuan di mall, dan sebagainya.

Akibatnya orangtua sendirilah yang direpotkan. Pengurus Yayasan Kita dan Buah Hati ini mengaku heran dengan beberapa kasus remaja perempuan, misalnya, yang dikabarkan hilang dibawa pacar, atau diajak pergi teman laki-lakinya.

"Orangtuanya ngapain saja dan ibunya ke mana, kok anaknya hilang. Lah, ketika hilang baru melapor," kata Elly, menyayangkan. Menurutnya, hal seperti di atas terjadi karena orangtua yang abai, yakni orangtua yang berada pada kultur budaya yang abai.

Hal itu itu bukan karena masa bodoh, tapi memang mengabaikan. "Kita absen dalam mengikuti teknologi.

Absen menyampaikan kepada anak tentang baik buruknya, termasuk memantau," jelas Elly. Peran Negara Menurut Elly, seharusnya negara berperan aktif dalam memberikan pencerahan dan pencegahan dampak negatif teknologi pada anak.

Di Perancis, pemerintah melarang anak SD untuk memakai HP, termasuk pula dengan negara China yang sangat antisipatif.

Indonesia bisa mencontoh, misalnya, pada negara Turki. Seperti diungkapkan Elly, Turki menerapkan software Naninet screening (filterisasi) untuk konten-konten internet yang tidak bermanfaat untuk anak.

Indonesia memang punya UU ITE, tapi hal itu tidak maksimal dan belum tersosialisasi dengan baik.

Bahkan Elly menilai, inilah hasil dari iklan layanan masyarakat di televisi yang sempat diputar dengan jargon "Internet Mau Datang". Iklan tersebut tidak memberikan dampak yang baik kepada masyarakat.

Iklan tersebut, hanyalah untuk kepentingan promosi bagi Diknas, Telkom, Depag, dan Menkoinfo. "Masyarakat tidak mendapat manfaat yang berimbang.

Ini lebih dari tsunami. Tsunami teknologi di Indonesia," katanya. Di sinilah peran orangtua dan sekolah sangat dibutuhkan. Orangtua, kata Elly, harus mampu menjelaskan kepada anak tentang positif dan sisi negatif teknologi.

Tentang proses ini, pemerintah harus terlibat memberikan penyuluhan-penyuluhan.

Orangtua tidak boleh secara sepihak menekan sang anak untuk melakukan ini dan itu. Seharusnya, orangtua bisa mencontoh gaya komunikasi yang pernah dipakai Nabi Ibrahim kepada anaknya,

Ismail. "Mau membunuh anaknya saja, Ibrahim meminta pendapat dulu kepada Ismail," jelas Elly. Sehingga orangtua harus bertanya mengenai pendapat anak tentang teknologi.

Tidak sebaliknya, dengan menggunakan pernyataan yang menyudutkan dan menekan mental sang anak.

"Tanyalah kepada anak, misalnya, apa pendapatmu tentang ini, bagaimana sikapmu, apa yang kamu harus lakukan.

Dengan begitu anak akan lebih kritis, itu yang penting," ujarnya.



This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.