peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


mulan - Woman Asian
gaara.peperonity.net

majikan liar

Spontan aku menyetujuinya dan berterimakasih atas tawaran itu.Esoknya kami berangkat ke rumah Boss-nya Pak RT ku. Ketika memasuki halaman rumah yang besar seperti istana itu, hatiku berdebar tak karuan. Setelah kami dipersilahkan duduk oleh seorang pembantu muda di ruang tamu yang megah itu, tak lama kemudian muncul seorang wanitayang tampaknya muda. Kami memberi hormat pada wanita itu. Wanita itu tersenyum ramah sekali dan mempersilahkan kami duduk, karena ketika dia datang, spontan aku dan pak RT berdiri memberi salam ” selamat pagi”.

Pak RT dipersilakan kembali bekerja oleh wanita itu, dan diruangan yg megah itu hanya ada aku dan si wanita itu.
” Benar kamu mau jadi supir pribadiku ? ” tanyanya ramah seraya melontarkan senyum manisnya.
” Iya Nyonya, saya siap menjadi supir nyonya ” Jawabku.
” jangan panggil Nyonya, panggil saja saya ini Ibu, Ibu Maya ” Sergahnya halus. Aku mengangguk setuju.
” Kamu sudah pernah bekerja jadi sopir pribadi sebelumnya ?”
” Tidak nyonya eh…Bu ?!” jawabku. ” Saya tadinya masih kuliah, tapi saya pernah menjadi
supir angkot tidak tetap selama satu tahun” sambungku. Wanita itu menatapku dalam-dalam.

Ditatapnya pula mataku hingga aku jadi salah tingkah. Diperhatikannya aku dari atas sampai ke bawah.
” kamu masih muda sekali, ganteng, nampaknya sopan, kenapa mau jadi supir ?” tanyanya.
” Saya butuh uang untuk menghidupi keluarga saya, Bu ” jawabku.
” Baik, saya setuju, kamu jadi supir saya, tapi harus ready setiap saat. gimana, okey ? “
” Saya siap Bu.” Jawabku.
” Kamu setiap pagi harus sudah ready di rumah ini pukul enam, lalu antar saya ke tempat
saya Fitness, setelah itu antar saya ke salon, belanja, atau kemana saya suka. Kemudian
setelah sore, kamu boleh pulang, gimana siap ? “
” Saya siap Bu” Jawabku.
” Oh..ya, siapa namamu ? ” Tanyanya sambil mengulurkan tangannya. Sepontan aku menyambut
dan memegang telapak tangannya, kami bersalaman.
” Saya Leman Bu, panggil saja saya Leman ” Jawabku.
” Nama yang bagus ya ? tau artinya Leman ? ” Tanyanya seperti bercanda.
” Tidak Bu ” Jawabku.
” Leman itu artinya Lelaki Idaman ” jawabnya sambil tersenyum dan menatap mataku.

Aku tersenyum sambil tersipu. lama dia menatapku. Tak terpikir olehku jika aku bakal mendapatmajikan seramah dan sesantai Ibu Maya. Aku mencoba juga untuk bergurau, kuberanikan diriuntuk bertanya pada beliau.
” Maaf, Bu. jika nama Ibu itu Maya, apa artinya Bu ? “
” O..ooo, itu, Maya artinya bayangan, bisa juga berarti khayalan, bisa juga sesuatu yang tak
tampak, tapi ternyata ada.Seperti halnya cita-citamu yang kamu anggap mustahil ternyata suatu saat bisa kamu raih, nah…khayalan kamu itu berupa sesuiatu yang bersifat maya, ngerti khan ? ” Jawabnya serius.
Aku hanya meng-angguk-angguk saja sok tahu, sok mengerti, sok seperti orang pintar. Jika kuperhatikan, body Ibu Maya seksi sekali, tubuhnya tidak terlampau tinggi, tapi padat berisi, langsing, pinggulnya seperti gitar Spanyol. Yang lebih gila, pantatnya bahenol dan buah dadanya……, wah…wah…puyeng aku melihatnya.
Di rumah sebesar itu, hanya tinggal Ibu Maya, Suaminya, dan dua putrinya, yakni Mira - anakkedua yang masih sekolah kelas II SMU, dan Yanti si bungsu yang masih duduk di
kelas III SMP. Putri pertamanya saat ini sekolah mode di Perancis.

Pembantunya hanya satu, yakni Bi Irah, seksinya juga luar biasa, janda pula!
Ibu Maya memberi gaji bulanan yang besar sekali, dan jika difikir-fikir, mustahil sekali.
Selama satu tahun aku bekerja, sudah dua kali dia menaikkan gajiku. Katanya dia puas atasdisiplin kerjaku. Gaji pokok bulananku saja lebih dari cukup untuk membayar uang kuliahku.

Aku meneruskan mengambil kuliah di petang hingga malam hari di sebuah Universitas Swasta. Dengan satu bulan gaji saja, aku bisa membayar biaya kuliah empat semester, edan tenan, sekaligus enak tenan….!!! dasar rezeki, tak akan kemana larinya.
Masuk tahun kedua aku bekerja, keakraban dengan Ibu Maya semakin terasa.

Setelah pulang Fitness, seringkali Bu Maya minta jalan-jalan dulu. Yang konyol, dia selalu duduk di depan,disebelahku, hingga terkadang aku jadi kagok menyetir, eh…lama lama biasa. Di suatu hari sepulang dari tempat Fitnes, Ibu Maya minta diantar keluar kota. Seperti biasa dia pindah duduk ke depan. Dia tak risih duduk disebelah supir pribadinya.

Ketika kendaraan kami tengah berjalan di jalan raya yang tidak terlalu ramai, tiba-tiba Ibu Maya menyuruh berhenti sebentar. Aku menepi, dan mesin mobil BMW itu kumatikan. Jantungku berdebar,jangan-jangan ada kesalahan yang aku perbuat.
” Man,?, kamu sudah punya pacar ? ” Tanyanya.
” Belum Bu ” Jawabku singkat.
” Sama sekali belum pernah pacaran ?”
” Belum BU, eh…kalau pacar cinta monyet sih pernah Bu, dulu di kampung sewaktu SMP”
” Berapa kali kamu pacaran Man ? sering atau cuma iseng ?” tanyanya lagi.
Aku terdiam sejenak, kubuang jauh-jauh pandanganku kedepan. Tanganku masih memegang setir mobil. Kutarik nafas dalam-dalam.
” Saya belum pernah pacaran serius Bu, cuma sebatas cintanya anak yang sedang pancaroba”
Jawabku.
” Bagus…bagus…kalau begitu, kamu anak yang baik dan jujur ” ujarnya puas sambil menepuknepuk bahuku.

Aku sempat bingung, kenapa Bu Maya pertanyaannya rada aneh ? terlalu pribadi
lagi ? apakah aku mau dijodohkan dengan salah seorang putrinya? ach….gak mungkin rasanya, mustahil, mana mungkin dia mau punya menantu anak kampung seprti aku ini?

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan bahkan sampai jalan-jalan di kota Sukabumi. Aku heran, Bu Maya kok tumben-tumbenan menyuruhku hanya untuk mengantarnya putar-putar kota saja di Sukabumi, dan yang lebih heran lagi, Bu Maya masih memakai pakaian Fitness berupa celana training dan kaosolah raga, tanpa berganti pakaian seperti biasanya setelah selesai fitness.

Setelah sempat makan di rumah makan kecil di puncak, hari sudah mulai gelap dan kami meneruskan perjalananuntuk kembali ke kota kami. Ditengah perjalanan di jalan yang agak sepi dan gelap, Bu Mayaminta untuk berbelok ke suatu tempat. Aku menurut saja apa perintahnya. Aku tak kenal daerah itu, yang kutahu hanya berupa perkebunan luas dan sepi serta gelap.
Ditengah kebun itu Bu Maya minta aku berhenti dan mematikan mesin mobil. Aku masih tak mengerti akan tingkah Bu Maya. Tiba-tiba saja tangan Bu Maya menarik lenganku.
” Coba rebahkan kepalamu di pangkuanku Man ?” pintanya.
Aku menurut saja, karena masih belum mengerti. Astaga….setelah aku merebahkan kepalaku di pangkuan Bu Maya dengan kepala menghadap keatas, kaki menjulur keluar pintu, Bu Maya menarik kaosnya ke atas. Wow…!! samar-samar kulihat buah dadanya yang besar dan montok.
Buah dada itu didekatkan ke wajahku. Lalu dia berkata ” Cium Man Cium…isaplah, mainkansayang …?” Pintanya.
Baru aku mengerti, Bu Maya mengajak aku ketempat ini sekedar melampiaskan nafsunya. Sebagai laki-laki normal, karuan saja aku bereaksi, kejantananku hidup dan bergairah. Siapa nolak diajak kencan dengan wanita cantik dan seksi seperti Bu Maya.
Kupegangi tetek Bu Maya yang montok itu, kujilati putingnya dan kuisap-isap. Tampak nafas Bu Maya terengah-engah tak karuan, menandakan nafsu birahinya sedang naik. Aku masih mengisap dan menjilati teteknya. Lalu bu Maya minta agar aku bangun sebentar. Dia melorotkancelana trainingnya hingga ke bawah kaki. Bagian bawah tubuh Bu Maya tampak bugil. Tampak samar-samar oleh sinar bulan di kegelapan itu.
” Jilat Man…… jilatlah…… aku nafsu sekali…… jilat sayang ” Pinta Bu Maya agar aku menjilati m*m*knya. Oh….m*m*k itu besar sekali, menjendol seperti kura-kura. tampaknya dia sedang birahi sekali, seperti puting teteknya yang ereksi.

Aku menurut saja, seperti sudah terhipnotis. M*m*k Bu Maya wangi sekali, mungkin sewaktu di rumah makan tadi dia sempat membersihkan kelaminnya dan memberi wewangian. Sebab dia sempat ke toilet untuk waktu yang lumayan lama. Mungkin disana dia membersihkan diri. Dia tadi ke tolilet membawa serta tas pribadinya. Mungkin disana pula dia mengadakan persiapan untuk menggempur aku.

Kujilati liang kemaluan itu, tapi Bu Maya tak puas. Disuruhnya aku keluar mobil dan disusul olehnya. Bu Maya membuka bagasi mobil dan mengambil kain semacam karpet kecil lalu dibentangkan di atas rerumputan. Dia merebahkan tubuhnya diatas kain itu dan merentangnya kakinya.
” Ayo Man, lakukan…… hanya ada kita berdua disini…… jangan sia-siakan kesempatan ini Man……
aku sayang kamu Man ” katanya setengah berbisik, Aku tak menjawab, aku hanya melakukan perintahnya, sedikit bicara banyak kerja. Ku buka semua pakaianku, lalu ku tindih tubuh Bu Maya. Dipeluknya aku, dirogohnya kejantananku dan dimasukkan ke dalam m*m*knya yang hangat.
Kami bersetubuh di tengah kebun gelap itu dalam suasana malam yg remang-remang oleh sinar bulan di langit. Aku menggenjot m*m*k Bu Maya sekuat mungkin.
” jangan keluar duluan ya, Man…? saya belum puas ” Pintanya mesra. Aku diam saja, aku masih melakukan adegan mengocok dengan gerakan penis keluar masuk lubang m*m*k Bu Maya. Nikmat sekali m*m*k ini, pikirku. Kemudian Bu Maya minta pindah posisi, dia di atas…bukan mainpermainannya, goyangannya.
” Remas tetekku Man, remaslah….yang kencang ya ?” Pintanya. Aku meremasnya.
” Cium bibirku Man..cium…! “ Aku mencium bibir indah itu dan kuisap lidahnya dalam-dalam, nikmat sekali, sesekali dia mengerang kenikmatan.
” Sekarang isap tetekku, teruskan…terus…..Oh….Ohhhh…..Man…Leman.. .Ohhh…aku
keluar Man….aku kalah” Dia mencubiti pinggulku, sesekali tawanya genit.
” kamu curang….aku kalah” ujarnya. ” Sekarang giliran kamu Man….keluarkan sebanyak
mungkin ya? ” pintanya.
” Saya sudah hampir keluar dari tadi Bu, tapi saya tetap bertahan, takut Ibu marah nanti “
Jawabku.
” Oh Ya?…gila..kuat amat kamu ?!” balas Bu Maya sambil mencubit pipiku.
” Kenapa Ibu suka main di tempat begini gelap ?” tanyaku.
” Aku suka alam terbuka, di alam terbuka aku bergairah sekali. Kita akan lebih sering
mencari tempat seperti alam terbuka.

Kapan-kapan kita naik kapal pesiarku, kita main diatas kapal pesiar di tengah ombak bergulung. Atau kita main di pinggir sungai yang sepi, ah…
terserah kemana kamu mau ya Man?”
Setelah puas bermain cinta dan menuntaskan nafsu birahi Bu Maya, kami segera membersihkan alat vital masing-masing dengan kertas tisue dan air yang kami ambil dari jerigen di bagasi mobil.
Kami beristirahat sejenak. Bu Maya sekarang tidur di pangkuanku. Kami ngobrol panjang lebar, ngalor ngidul. Setelah sekian lama istirahat, penisku tegang lagi, dan dirasakan oleh
kepala Bu Maya yang menyentuh batang kejantananku. Tak banyak komentar celanaku ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.