peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


kumpul.peperonity.net

Nikmat Buah Kesabaranku

Namaku Suharto Mulyo Waspodo dan biasa dipanggil Harto, pada waktu naik ke kelas 2 SMU karena kondisi keluargaku maka 5 tahun yang lalu aku diikutkan pada keluarga pamanku di Cirebon. Pamanku (sebut saja om Hardomo) adalah pengusaha pakaian jadi yang menurut ukuran keluargaku termasuk sukses. Oleh Om Hardomo, aku dididik menjadi seorang pengusaha dengan ikut membantu semua aktifitas usahanya, diharuskan bias nyetir mobil agar bisa mengantar barang dll. Tidak jarang kalau libur sekolah diajak om sampai ke Jawa Tengah. Yang jelas kehidupanku menjadi lebih baik dan wawasanku lebih luas. Namun apa hendak dikata tiga tahun yang lalu Om Hardomo di usia 42 th meninggal karena sakit dengan meninggalkan istrinya Tante Atun 39 th tahun beserta 2 orang anaknya Diah 15 th yang duduk di kelas 3 SMP dan Aditya 12 th yang duduk di kelas 6 SD. Sepeninggal beliau kehidupan kami menjadi kurang baik, usaha yang telah dibangun Om Hardomo mengalami penurunan karena sebagian modal waktu itu dipakai untuk biaya pengobatan dll.
Hasil musyawarah keluarga aku diharuskan tetap ikut pada keluarga almarhum dan membantu usahanya agar dapat berjalan syukur kalau kembali seperti semula. Aku tahu diri, karena pada waktu itu Diah dan Aditya akan melanjutkan sekolah, maka akupun harus mengalah untuk menunda kuliah dan terfokus pada usaha untuk menopang kehidupan kami.
Satu tahun begitu cepat berlalu, aku sering mengantar tante ke Tegal Gubug mencari bahan pakaian yang dibutuhkan, mengantar ke tempat-tempat rekan bisnis almarhum di sekitar Cirebon. Usaha sudah mulai lancar dan kehidupan kami sedikit demi sedikit membaik. Aku salut dengan Tante Atun dalam pembukuan dan pengelolaan usaha yang rapi dan teliti (hampir semua yang ada dalam usahanya dapat termonitor) tidak jarang pula tante menyetir mobil sendiri untuk mengantar barang dan mencari bahan. Namun tetap aku harus memendam keinginanku untuk melanjutkan kuliah walaupun tante pernah memberi lampu hijau tapi selalu kujawab ”nanti saja kalau usaha tante sudah mapan”.

Suatu saat tanteku ingin mengembangkan usahanya ke Jawa Tengah seperti yang dilakukan almarhum dulu. Kami merencanakan perjalanan dengan matang ke beberapa kota di Jawa Tengah selama 4 hari. Aku dan tante berangkat ke Jawa Tengah dengan bergantian menyetir, kami berusaha untuk ketemu dan menjalin kerjasama kembali dengan beberapa rekan kerja almarhum. Seharian di jalan dan bekerja ternyata sangat capek sekali. Habis makan malam kami langsung ke hotel melati untuk menginap dan kami hanya menggunakan satu kamar saja karena untuk menghemat biaya.

Setiba di kamar hotel kami sudah lelah sekali, setelah beres-beres tante langsung mandi dan aku juga mandi setelah tante selasai mandi. Di kamar mandi sayup-sayup saya dengar tante menelphon Diah, itu hal yang biasa dari seorang ibu, tapi bagi saya luar biasa karena dalam kondisi yang demikian lelah tante masih sempat memperhatikan anak-anaknya.

Selesai mandi saya lihat tante menngunakan daster (seperti biasa kalau dirumah) sedang tiduran di tempat tidur.
” To, tante tidur dulu ya. Tante capek sekali ”
“ Iya tante, Harto juga mau terus tidur “
Akupun pakai kaos dan celana pendek, jam 8 malam kamipun sudah tidur karena rasanya lelah sekali.

Kira-kira antara jam 10 – 11 malam aku terbangun mau ke kamar mandi buang air kecil, aku lihat tante sedang duduk nonton TV, perasaan saya bertanya-tanya ada apa dengan tante.
” Kok tante tidak tidur ”
” Tante tidak bisa tidur, badan tante pada sakit, mungkin terlalu capek ya to” sahutnya
Aku langsung ke kamar mandi dan setelah buang air kecil saya naik ke tempat tidur lagi. Tiba-tiba tante bicara.
” To, tante tahu kamu capek sekali, tapi tante mau minta tolong pijitin tante, apa kamu mau?”
” Mau tante, tapi apa sebaiknya tidak dikerok saja tante, biar anginnya keluar”
Sejenak tante diam terus menjawab
” Ya kalau kamu mau beli dulu minyak gosok untuk ngerokin tante”

Kuambil dompet dan rokokku terus keluar. Sambil merokok saya beli minyak gosok dan langsung kembali lagi ke kamar. Aku melihat tante masih tidak berubah duduknya dan tetap lagi nonton TV.
” Ayo tante, aku kerokin ”
Tante Atun kemudian pakai kain terus dasternya dicopot dan naik ke tempat tidur, terus tidur telungkup. Saya melihat punggung tante sampai batas pinggang saja karena kebawah tertutup kain. Aku terkesima, ternyata tante yang 41 th ini walaupun tidak terlalu putih tapi mulus sekali.
” Tante tali BH nya dilepas ya, supaya gampang ngeroknya ”
Tante diam saja, jadi langsung aku lepas tali BH nya kemudian aku mulai ngerok.

Sepanjang mengerok, naluri kelelakianku berjalan dan terus berjalan semakin cepat. Bagaimana bentuk dan rupa tante yang polos tanpa apa-apa, bagaimana rupa kemaluannya dan bagaimana rasanya. Terus dan terus tanpa bisa aku hentikan dan semakin lama semakin nikmat aku dibawa khayalanku itu terus dan terus imajinasiku terus melambung. Otakku diperas dan akhirnya ”Aku harus mendapatkan Tante Atun sekarang, aku harus merasakan enaknya tubuh tante harus dan harus sekarang” gumanku.
Tapi bagaimana caranya sekarang?
Terus mulainya dari mana ?
” Ada apa, to? “ kata tanteku bak pedir yang membuyarkan semua khayalanku.
” Tidak ada apa-apa, Harto urut sekalian ya tante. Biar tante terus tidur pulas”
“ Apa kamu bisa? Tapi tidak ada salahnya kalau dicoba”
Hatiku bersorak horreee! pokoknya kalau tujuan sudah ditetapkan pasti selalu ada jalan.

Aku mulai mengurut leher terus ke belikat. Disitu agak lama saya urut, karena saya mulai menjalankan rencanaku, sambil urut sesekali saya pegang buah dadanya yang tertindih badan tante dan saya lihat tidak ada reaksi dari tante.
” Lumayan juga, kamu bisa ngurut” katanya
” Iya tante, ini tukang urut dadakan ”
” Bisa saja, kamu ”
Saya mencoba serelak mungkin agar tidak ada kecurigaan dari tante dan aku terus mengurut sampai ke pinggang.
” Kenapa kamu buka kaosmu, to? Keringatan ya kalau capek ya sudah dulu ”
” Sudah kepalang capek tante, sekalian saja ” Hampir saja rencanaku gagal
Aku mulai mengurut kaki tante, aku mulai dari telapak kakinya secara bergantian terus ke atas sampai dengkul, aku melihat tante sering meringis menahan sakit, sehingga kakinya bergerak dari posisi demula dan mulai sering kulihat CD nya yang berwarna merah muda. Sementara senjata biologisku semakin meronta-ronta di dalam celana pendekku.

Oh ya perlu saya ceritakan juga, sewaktu aku SMP dan SMU kalau pagi di kamar mandi sering kontolku kurendam dengan teh basi (kemarin) yang buket terus diurut-urut. Katanya bisa tambang panjang dan besar. Tapi benar Sekarang punyaku panjangnya tidak kurang dari 18 cm dengan diameter 4cm.

Aku melihat tante melonggarkan ikatan kainnya yang ada di perut, dan terus kuurut sampai ditengah-tengah pahanya. Terus terang ingin rasanya mengurut sampai pangkal pahanya tapi takut ketahuan rencanaku. Sabar dan sabar pasti ada buah kesabaran.
Aku kembali berpindah mengurut punggungnya, tapi sasaranku sudah beda. Bagaimana harus kulepas CD merah jambu itu. Kulumuri tanganku dengan minyak gosok lagi dan mulai mengurut kemba


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.