peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


ladiesman1287.peperonity.net

Ngc 9

Nightmare Campus 9: The Sweet Revenge

Juli 2, 2007 oleh shusaku



Jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam kurang seperempat, di luar sana langit sudah hampir gelap dan hujan masih turun cukup lebat. Diana (28 tahun) sedang mengoreksi hasil penelitian mahasiswa-mahasiswanya sendirian di laboratorium teknik industri. Wajahnya tersenyum manis saat membaca sebuah SMS yang masuk ke ponselnya yang bertuliskan, “Baru sampai di Bangkok nih say, jaga diri di rumah yah, I luv u”. Pesan itu dari suaminya yang sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri, diapun lalu membalasnya dengan kata-kata mesra pula lalu melanjutkan koreksiannya yang tinggal sedikit lagi. Ya, Diana adalah seorang dosen muda di Universitas ****** baru setahun mengajar sepulang dari Jerman menyelesaikan S2nya. Seorang wanita yang cantik, mandiri, dan pintar. Delapan bulan yang lalu dia baru saja mengakhiri masa lajangnya dengan seorang teman kuliahnya dulu, eksekutif muda tampan berusia 30 tahun bernama Alex, mereka saling mencintai tapi belum berencana mempunyai anak dulu karena kesibukan masing-masing. Kecantikannya dengan rambut ikal kecoklatan sebahu dan tubuh ideal berpayudara 32B serta kulitnya yang putih mulus menarik perhatian para mahasiswa, mereka mengagumi kecantikan dan kepintarannya, mereka bilang wajahnya mirip Olga Lidya, artis lokal berwajah oriental itu, beberapa bahkan sering menjadikannya objek fantasi seks mereka dan membayangkan lekuk-lekuk tubuhnya saat memberi kuliah, terutama kalau sedang memakai baju yang ketat sehingga menonjolkan bentuk tubuhnya yang indah itu.

Ketika sedang larut dalam koreksiannya tiba-tiba terdengar pintu diketuk, sehingga dia terpaksa meninggalkan sejenak pekerjaannya untuk membukakan pintu. Ternyata yang datang Imron, si karyawan kampus buruk rupa itu.
“Malam Bu, masih belum pulang yah, boleh saya mau nyapu dulu ?” sapanya.
“Ooo…silakan Pak, saya juga sebentar lagi selesai, cuma lagi ngoreksi aja kok” katanya sambil mempersilakan pria itu masuk.
Diana kembali ke mejanya dan Imron mulai menyapu, sambil bekerja matanya sesekali memandangi wanita itu, diperhatikannya wajah ayu itu yang sedang memakai kacamata yang menambah keanggunannya, rambutnya saat itu sedang diikat ke belakang sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Tatapan mata Imron seolah menembus tubuh Diana yang terbungkus kemeja kuning dan rok hitam selutut. Tak lama kemudian terdengar pintu diketuk lagi. Saat Diana mau bangkit berdiri, Imron yang menyapu dekat situ sudah terlebih dulu membukakan pintu itu.
“Sore Bu !” Jesslyn (eps. 2) memberi salam.
“Sore, ada apa ?”
“Nngg…saya mau konsultasi sebentar, boleh ga ?”
“Tentang masalah apa ?”
“Sebenarnya sih bukan masalah kuliah, mmm…coba Ibu nyalain bluetooth Ibu bentar, soalnya saya punya sesuatu yang penting buat Ibu” kata Jesslyn sambil menarik sebuah kursi dan duduk di depan Diana.

“Kalau bukan masalah kuliah apa ga sebaiknya dibicarakan nanti saja, saya lagi sibuk sekarang !”
“Tapi Bu, ini penting loh jadi ga bisa dilewatin gitu aja, ayolah Bu sebentar aja !” Jesslyn terus memohon.
Dengan agak kesal, Diana menyalakan juga bluetooth pada ponselnya karena dia juga penasaran dengan apa yang dibilang penting oleh mahasiswinya itu.
“Kenapa ga kamu kasih liat langsung aja sih, biar cepet !” kata Diana.
“Eehh…tenang dong Bu, kan biar Ibu bisa liat di HP punya sendiri juga !” jawab Jesslyn sambil menunggu file itu ditransfer.
‘Bip’ terdengar suara dari ponsel Diana setelah file selesai ditransfer. Buru-buru dia membuka file itu ingin tahu apa isinya. Betapa kagetnya dia ketika melihat video klip yang menampilkan gambar dirinya sedang mandi, wajahnya juga jelas tersyuting. Dia ingat betul adegan itu pasti disyuting dua hari lalu ketika mandi di kamar mandi setelah selesai berenang di kolam renang tidak jauh dari sini yang masih milik kampus. Waktu itu selain dia di kamar mandi terbuka itu juga ada beberapa gadis lain yang juga mahasiswi kampus ***** termasuk Jesslyn. Teringat lagi, saat itu Jesslyn sedang bersandar di dekat pintu kamar mandi sambil berbicara dengan ponselnya, barulah dia sadar ternyata Jesslyn saat itu hanya pura-pura bicara sambil mengarahkan lensa cameraphonenya yang bisa digerakkan ke arahnya dan mengabadikannya dalam bentuk video clip. Wajah Diana memerah karena marah dan malu, namun dia tetap berusaha menahan emosinya agar tidak sampai menggebrak meja atau bahkan menampar Jesslyn karena di situ masih ada Imron.
“Apa maksudnya ini !” katanya dengan geram.
“Ga ada maksud apa-apa kok, yah supaya cowok-cowok yang ngefans sama Ibu juga bisa lebih ngenal Ibu luar dalam hihihi !” jawab Jesslyn asalan sambil senyum-senyum.

“Ayo ikut saya, kita bicara di luar aja !” Diana bangkit berdiri lalu menarik lengan Jesslyn hendak menyeretnya keluar.
“Lepasin !” Jesslyn menyentak lengannya “Kalau mau bicara kenapa harus jauh-jauh Bu, disini aja napa? Malu kalau Pak Imron tau yah ?!” katanya dengan nada menantang.
“Jesslyn..!!” bentak Diana marah melihat tingkah mahasiswinya yang makin kurang ajar ini, apalagi membuka masalah ini di depan penjaga kampus.
“Oh iya, omong-omong Pak Imron udah ngeliat kok, ya kan Pak !”
“Ooo rekaman itu yah, bagus loh bodynya Bu Diana, jadi pengen liat aslinya juga !” sahut Imron dari belakang Diana.
“A-apa-apaan ini !” wajah Diana nampak bingung pandangannya berpindah-pindah antara Jesslyn di hadapannya dan Imron yang tidak jauh di belakangnya.
Belum hilang rasa kagetnya tiba-tiba Imron mendekap tubuhnya dari belakang.
“Hentikan ! kalian mau apa !” jerit Diana sambil meronta-ronta “Jess, kamu jangan keterlaluan yah !”
Jesslyn tersenyum mendekati dosennya itu dan ‘plak’ dia mendaratkan sebuah tamparan pada pipi kiri Diana sampai kacamatanya terlempar.
“Ini untuk minggu lalu mempermalukan saya di kelas !” kata Jesslyn.

Jesslyn sakit hati karena waktu itu ketika mengikuti kuliah Diana, dia sedang ngobrol dan cekikikan dengan temannya di belakang. Diana yang merasa terganggu menegurnya dan menyuruh keluar ruang kuliah. Jesslyn protes dengan nada bicara tidak sopan sehingga membuat Diana naik darah dan menamparnya di hadapan mahasiswa sekelas. Dengan rasa marah dan malu, Jesslyn keluar dari kelas sambil memegangi pipinya. Di luar, dia bertemu Imron yang memberinya isyarat mengajak berhubungan badan. Merekapun melakukannya secara quicky di sebuah gudang. Dengan hanya membuka pakaian seperlunya, Imron menggenjoti Jesslyn, satu tanganya memegangi paha kanannya yang terangkat dan mulutnya melumat bibir gadis itu. Tidak sampai sepuluh menit Imron sudah menyemprotkan spermanya di vagina Jesslyn. Saat itulah terbesit di pikiran Jesslyn sebuah cara untuk membalas perlakuan dosennya barusan. Diapun mengutarakan ide ini pada Imron. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman dalam hal-hal seperti ini, Imron memberi masukan pada Jesslyn tentang apa saja yang harus dilakukan untuk menjalankan rencana balas dendam itu. Seringai licik mengembang di wajah Jesslyn mendengar masukan dari Imron.
“Bapak emang hebat, kalau berhasil Bapak bakal saya kasih bonus !” katanya.
“Hehehe, ga apa-apa asal Non dan dosen Non itu mau ngelayanin Bapak aja itu udah lebih dari bonus kok” kata Imron sambil meremas payudaranya.

Setelah membereskan pakaiannya, mereka pun keluar dari tempat itu secara terpisah. Jesslyn mengintai gerak-gerik Diana selama beberapa hari sambil mencari-cari kesempatan bagus untuk mengambil gambarnya dalam pose memalukan. Penantian Jesslyn pun tidak sia-sia, kesempatan itu datang ketika Diana berenang di kolam renang milik kampus. Di kamar mandi kolam renang itu, Jesslyn merekam adegan Diana yang sedang diguyur shower sambil pura-pura bicara dengan cameraphonenya.
“Dikirain enak apa ditampar kaya gitu di depan kelas, sekarang saatnya saya buat perhitungan sama Ibu, o yah…by the way saya juga sebel tuh punya dosen yang sok cantik yang suka berlagak jadi idola semua mahasiswa !” kata Jesslyn sambil menjambak rambut Diana yang dikuncir.
“Kurang ajar kamu Jess, kamu tau apa yang kamu lakukan !” Diana menatap tajam mahasiswinya ini.
“Non Jesslyn itu temen saya Bu, jadi kalau Ibu nampar Non Jesslyn berarti juga berurusan sama saya !” kata Imron dekat telinganya.
“Calm down Bu, saya ga sejahat itu kok, rekaman Ibu ini baru saya sama Pak Imron aja yang tau, tapi kalau Ibu ngelawan, saya kuatir satu kampus bakal tau semua, atau mungkin saya masukin internet biar semua bisa liat body Bu Diana yang seksi ini !” kata Jesslyn.

Ketakutan mulai melanda Diana yang posisinya makin tidak menguntungkan.
“Jangan lakukan itu…kamu mau apa dari saya ?!”
“Saya cuma mau ngebagi kecantikan Ibu dengan Pak Imron, saya jamin Ibu bakal lebih puas daripada ML sama suami Ibu” jawab Jesslyn dengan tangan meraba payudara dosennya itu.
“Jangan, ini gila, lepasin saya tolong….To…mmmhhh !” dengan sigap Imron membekap mulut Diana begitu dia mau berteriak.
“Teriak…teriak aja Bu ayo ! buka mulutnya Pak, supaya orang lain datang dan melihat rekaman ini, kebayang ga sih jadinya apa ?” tantang Jesslyn.
“Jangan…jangan…saya mohon jangan sebarkan itu Jess !” Diana mulai mengiba dan matanya mulai berkaca-kaca.
Tangan Jesslyn mulai bergerak membuka kancing kemeja Diana sehingga branya yang berwarna krem mulai terlihat. Imron langsung menyusupkan tangannya ke dalam cup bra itu menyentuh payudaranya.
“Hehehe…montok banget yah toked ibu, udah ada susunya belum nih, Ibu udah beranak belum ?” kata Imron.
“Belum lah Pak, Bu Diana kan belum lama nikah, atau mungkin suami ibu ga bisa ngasih anak atau ga bisa muasin ibu ?” ejek Jesslyn dengan wajah puas karena berhasil membalaskan dendamnya.
Diana tertunduk lemas, air mata mengalir membasahi wajahnya tanpa dapat dibendung.

“Jangan…saya mohon…hentikan !” ucapnya sambil terisak ketika tangan Imron mulai mengangkat roknya.
Desiran angin malam terasa menerpa pahanya yang tersingkap, rasa dingin itu lalu berubah menjadi hangat seiring bulu-bulunya yang merinding ketika tangan kasar itu mengelusi paha itu terus makin ke atas hingga menyentuh bagian kemaluannya yang masih tertutup celana dalam.
“Silakan dinikmati sepuasnya Pak, saya jadi penonton aja dulu” sahut Jesslyn sambil mundur lalu mendudukkan pantatnya di meja terdekat untuk menikmati balas dendamnya.
Tangan Imron mempreteli sisa kancing bajunya sehingga baju itu terbuka sudah memperlihatkan payudaranya yang masih tertutup bra dan perutnya yang rata. Sedangkan tangannya yang satu lagi mulai menyusup lewat atas celana dalamnya. Diana memang sempat menahan tangan pria itu namun tenaganya tidak cukup kuat, permintaannya agar Imron tidak meneruskan perbuatannya tidak dihiraukan olehnya.
“Nnngghh…!” desahnya begitu tangan itu akhirnya masuk ke balik celana dalamnya dan menyentuh permukaan kemaluannya yang ditumbuhi bulu.

Diana merasa jijik dan terus meronta berusaha menghalangi Imron menggerayangi bagian-bagian terlarangnya. Namun semua itu sia-sia saja menghadapi maniak seks yang sedang kalap ini, apalagi ditambah intimidasi rekaman bugilnya akan disebarluaskan kalau tidak menuruti kemauan pria ini. Lelah meronta dan mulai terangsang karena permainan jari Imron di balik celana dalamnya, Dianapun pasrah. Mengetahui mangsanya telah takluk, Imron membaringkan tubuh Diana pada meja panjang yang biasa dipakai untuk ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.