peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


minangsaiyo.peperonity.net

=CERPEN=

Cerpen Zulfeni Wimra

NILAM DR BUKIT TUSAM
Bukit Tusam? Seperti yg pernah kau dongengkan, mak, tak pernah restu menanggung orang-orang yg hidupnya mengundang petaka. Bukankah pernah kau kisahkan bahwa disini pernah lahir seorang perempuan semampai yg hidupnya berakhir kutukan. Ia disumpahi para lelaki karena ia enggan menyambut pinangan mereka.
Kehadirannya telah memancing sengketa para lelaki.
Ia dikutuk menjadi tibarau, yg tumbuh seperti tebu, tetapi hampa tanpa manisan. Akhir hidup yg tak berguna. Padahal perempuan itu hanya ingin berhasil menyeberangi batang Sinamar sebelum kemudian menerima pinangan lelaki yg diidam-idamkannya. Sedang adat di bukit Tusam, menyeberangi sungai itu hanya pekerjaan laki-laki. Hanya laki-laki yg boleh berangkat. Perempuan dirumah saja, menunggu kepulangan mereka?.? Nilam membatin didepan pusara ibunya. Ia ditunggangi pilihan: tetap bermukim di Bukit Tusam
atau hengkang ke seberang Batang Sinamar.

Orang-orang? Tidak lagi menerima kehadiranku disini, mak. Bukan lantaran menolak keinginan laki-laki. Bukan, mak. Aku dicap sebagai umpan bencana justru karena melayani laki-laki, karena tak ingin mengecewakan laki-laki?.? Nilam mulai disergap isak. Lihatlah?, setelah aku dikawin cerai laki-laki, lalu mencoba bertahan hidup bersama anaknya dengan jerih sendiri, aku masih disudutkan dengan tudingan yg memilukan. Oleh mereka aku serupa kucing betina yg tua di musim kawin. Aku janda gatal yg menggaruk sana
menggaruk sini; tak sadar kalau anak gadis sudah beranjak remaja.
Jika akhirnya? Aku harus berangkat meninggalkan tanah kelahiranku ini, Mak, pahamilah, ini bukan karena tak ingin menuntaskan usia disini. Aku hanya ingin lepas dari kungkungan tuduhan demi tuduhan yg miring itu. Sungguh, Mak. Tapi jika ternyata anakmu ini keliru, maafkanlah.?? seterusnya, Nilam menutup ziarahnya dengan serangkaian do?a. Sebab, setelah berangkat ke kota propinsi nanti, tentu ia tak punya banyak kesempatan mengunjungi pusara itu. Sengaja ia berlama-lama disana, mengurai kemelut dipikiran.

Bagaimana tidak akan risih hidup di tengah pergunjingan. Siapapun pasti tak mampu menahan ucapan-ucapan pedas setiap hari. Asal ada perkumpulan, di kebun-kebun, di sawah, di tepian mandi, di jalanan sehabis belanja ke pasar, disana tergelar cerita tentang nilam, si janda gatal yg jika terus dibiarkan hanya akan mengumpan bencana.
Bencana! Siapa yg ingin pontang-panting dilanda bencana?
Kenapa ya? Si Nilam itu tidak juga sadar-sadar?? demikian biasanya percakapan tentang Nilam diawali.
Siapa lagi? yang akan mewarisi ibunya, kalau bukan dia. Bukankah dulu, ibunya terkenal dengan sebutan Dayang Peluru. Dia yg mengepalai serombongan perempuan dikampung ini yg bertugas menyambut tentara pulang. Dia mengajari para perempuan disini cara mengurut yg baik. Mulai dari urut pelipur penat, urut terkilir, patah tulang, sampai pada urut sebatang tubuh. Bagi tentara pulang perang, urut yg terakhir
saya sebutkan sangat mereka rindukan?.?
Lagipula?, tanpa ada dia dikampung ini, kepada siapa kita mengadukan sakit. Dulu memang ada Mak Ngulu Sutan yg piawai soal urut-mengurut itu. Tapi sejak beliau meninggal, cuma dia yg pandai mengurut,?,..Benar?. Sekarang yg butuh jasa urutnya tidak orang yg ada dikampung ini saja. Orang kota sudah mulai mengetahui kehebatan urutnya,? (Bersambung)


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.