peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


other.1.peperonity.net

Mulusnya Pacar kakak

Mulusnya Pacar kakak

--------------------------------------------------------------------------------

iang itu, ponselku berbunyi, dan suara merdu dari seberang
sana memanggil.

"Di, kamu ke rumahku duluan deh sana, saya masih meeting. Dari
pada kamu kena macet di jalan, mendingan jalan sekarang gih
sana."
"Oke deh, saya menuju rumah kamu sekarang. Kamu meeting sampai
jam berapa?"
"Yah, sore sudah pulang deh, tunggu aja di rumah."

Meluncurlah aku dengan motor Honda ke sebuah rumah di salah
satu kompleks di Jakarta. Vina memang kariernya sedang naik
daun, dan dia banyak melakukan meeting akhir-akhir ini. Aku
sih sudah punya posisi lumayan di kantor. Hanya saja,
kemacetan di kota ini begitu parah, jadi lebih baik beli motor
saja dari pada beli mobil. Vina pun tak keberatan mengarungi
pelosok-pelosok kota dengan motor bersamaku.

Kebetulan, pekerjaanku di sebuah biro iklan membuat aku bisa
pulang di tengah hari, tapi bisa juga sampai menginap di
kantor jika ada proyek yang harus digarap habis-habisan. Vina,
pacarku, mendapat fasilitas antar jemput dari kantornya. Jadi,
aku bisa tenang saja pergi ke rumahnya tanpa perlu
menjemputnya terlebih dulu.

Sesampai di rumahnya, pagar rumah masih tertutup walau tidak
terkunci. Aku mengetok pagar, dan keluarlah Marta, kakak Vina,
untuk membuka pintu.

"Loh, enggak kerja?" tanyaku.
"Nggak, aku izin dari kantor mau ngurus paspor," jawabnya
sambil membuka pintu pagarnya yang berbentuk rolling door
lebar-lebar agar motorku masuk ke dalam.
"Nyokap ke mana?" tanyaku lagi.
"Oh, dia lagi ke rumah temannya tuh, ngurusin arisan," kata
Marta, "Kamu mau duduk di mana Dodi? Di dalam nonton tv juga
boleh, atau kalau mau di teras ya enggak apa juga. Bentar yah,
saya ambilin minum."

Setelah motor parkir di dalam pekarangan rumah, kututup pagar
rumahnya. Aku memang akrab dengan kakak Vina ini, umurnya
hanya sekitar dua tahun dari umurku. Yah, aku menunggu di
teras sajalah, canggung juga rasanya duduk nonton tv bersama
Marta, apalagi dia sedang pakai celana pendek dan kaos oblong.


Setelah beberapa lama menunggu Vina di teras rumah, aku
celingukan juga tak tahu mau bikin apa. Iseng, aku melongok ke
ruang tamu, hendak melihat acara televisi. Wah, ternyata
mataku malah terpana pada paha yang putih mulus dengan kaki
menjulur ke depan. Kaki Marta ternyata sangat mulus, kulitnya
putih menguning.

Marta memang sedang menonton tv di lantai dengan kaki
berjelonjor ke depan. Kadang dia duduk bersila. Baju kaosnya
yang tipis khas kaos rumah menampakkan tali-tali BH yang bisa
kutebak berwarna putih. Aku hanya berani sekali-kali mengintip
dari pintu yang membatasi teras depan dengan ruang tamu,
setelah itu barulah ruang nonton tv. Kalau aku melongokkan
kepalaku semua, yah langsung terlihatlah wajahku.

Tapi rasanya ada keinginan untuk melihat dari dekat paha itu,
biar hanya sepintas. Aku berdiri.

"Ta, ada koran enggak yah," kataku sambil berdiri memasuki
ruang tamu.
"Lihat aja di bawah meja," katanya sambil lalu.

Saat mencari-cari koran itulah kugunakan waktu untuk melihat
paha dan postur tubuhnya dari dekat. Ah, putih mulus semua.
Buah dada yang pas dengan tubuhnya. Tingginya sekitar 160 cm
dengan tubuh langsing terawat, dan buah dadanya kukuh melekat
di tubuh dengan pasnya.

"Aku ingin dada itu," kataku membatin. Aku membayangkan Marta
dalam keadaan telanjang. Ah, 'adikku' bergerak melawan arah
gravitasi.

"Heh! Kok kamu ngeliatin saya kayak gitu?! Saya bilangin Vina
lho!," Marta menghardik.

Dan aku hanya terbengong-bengong mendengar hardikannya. Aku
tak sanggup berucap walau hanya untuk membantah. Bibirku
membeku, malu, takut Marta akan mengatakan ini semua ke Vina.

"Apa kamu melotot begitu, mau ngancem?! Hah!"
"Astaga, Marta, kamu.. kamu salah sangka," kataku tergagap.
Jawabanku yang penuh kegamangan itu malah membuat Marta makin
naik pitam.
"Saya bilangin kamu ke Vina, pasti saya bilangin!" katanya
setengah berteriak. Tiba-tiba saja Marta berubah menjadi
sangar. Kekalemannya seperti hilang dan barangkali dia merasa
harga dirinya dilecehkan. Perasaan yang wajar kupikir-pikir.
"Marta, maaf, maaf. Benar-benar enggak sengaja saya. saya
enggak bermaksud apa-apa," aku sedikit memohon.
"Ta, tolong dong, jangan bilang Vina, kan cuma ngeliatin
doang, itu juga enggak sengaja. Pas saya lagi mau ngambil
koran di bawah meja, baru saya liat elu," kataku mengiba
sambil mendekatinya.

Marta malah tambah marah bercampur panik saat aku
mendekatinya.

"Kamu ngapain nyamperin saya?! Mau ngancem? Keluar kamu!,"
katanya garang. Situasi yang mencekam ini rupanya membuatku
secara tidak sengaja mendekatinya ke ruang tamu, dan itu malah
membuatnya panik.
"Duh, Ta, maaf banget nih. Saya enggak ada maksud apa-apa,
beneran," kataku.

Namun, situasi telah berubah, Marta malah menganggapku sedang
mengancamnya. Ia mendorong dadaku dengan keras. Aku kehilangan
keseimbangan, aku tak ingin terjatuh ke belakang, kuraih
tangannya yang masih tergapai saat mendorongku. Raihan tangan
kananku rupanya mencengkeram erat di pergelangan tangan
kirinya. Tubuhnya terbawa ke arahku tapi tak sampai terjatuh,
aku pun berhasil menjaga keseimbangan. Namun, keadaan makin
runyam.

"Eh! kamu kok malah tangkep tangan saya! Mau ngapain kamu?
Lepasin enggak!!," kata Marta.

Entah mengapa, tangan kananku tidak melepaskan tangan kirinya.
Mungkin aku belum sempat menyadari situasinya. Merasa
terancam, Marta malah sekuat tenaga melayangkan tangan
kanannya ke arah mukaku, hendak menampar. Aku lebih cekatan.
Kutangkap tangan kanan itu, kedua tangannya sudah kupegang
tanpa sengaja. Kudorong dia dengan tubuhku ke arah sofa di
belakangnya, maksudku hanya berusaha untuk menenangkan dia
agar tak mengasariku lagi. Tak sengaja, aku justru menindih
tubuh halus itu.

Marta terduduk di sofa, sementara aku terjerembab di atasnya.
Untung saja lututku masih mampu menahan pinggulku, namun
tanganku tak bisa menahan bagian atas tubuhku karena masih
mencengkeram dan menekan kedua tangannya ke sofa. Jadilah aku
menindihnya dengan mukaku menempel di pipinya. Tercium aroma
wangi dari wajahnya, dan tak tertahankan, sepersekian detik
bibirku mengecup pipinya dengan lembut.

Tak ayal, sepersekian detik itu pula Marta meronta-ronta.
Marta berteriak, "Lepasin! Lepasin!" dengan paraunya. Waduh,
runyam banget kalau terdengar tetangga. Yang aku lakukan hanya
refleks menutup mulutnya dengan tangan kananku. Marta berusaha
vaginaik, namun tak bisa. Yang terdengar hanya, "Hmmm!" saja.
Namun, tangannya sebelah kiri yang terbebas dari cengkeramanku
justru bergerak liar, ingin menggapai wajahku.

Hah! Tak terpikir, posisiku ini benar-benar seperti berniat
memperkosa Marta. Dan, Marta sepertinya pantas untuk
diperkosa. Separuh tubuhnya telah kutindih. Dia terduduk di
sofa, aku di atasnya dengan posisi mendudukinya namun
berhadapan. Kakinya hanya bisa meronta namun tak akan bisa
mengusir tubuhku dari pinggangnya yang telah kududuki. Tangan
kanannya masih dalam kondisi tercengkeram dan ditekan ke sofa,
tangan kirinya hanya mampu menggapai-gapai wajahku tanpa bisa
mengenainya, mulutnya tersekap.

Tubuh yang putih itu dengan lehernya yang jenjang dan sedikit
muncul urat-urat karena usaha Marta untuk vaginaik,
benar-benar membuatku dilanda nafsu tak kepalang. Aku berpikir
bagaimana memperkosanya tanpa harus melakukan berbagai
kekerasan seperti memukul atau merobek-robek bajunya. Dasar
otak keparat, diserang nafsu, dua tiga detik kemudian aku
mendapatkan caranya.

Tanpa diduga Marta, secepat kilat kulepas cengkeraman tanganku
dari tangan dan mulutnya, namun belum sempat Marta bereaksi,
kedua tanganku sudah mencengkeram erat lingkaran celana
pendeknya dari sisi kiri dan kanan, tubuhku meloncat mundur ke
belakang.

Kaki Marta yang meronta-ronta terus ternyata mempermudah
usahaku, kutarik sekeras-kerasnya dan secepat-cepatnya celana
pendek itu beserta celana dalam pinknya. Karena kakinya
meronta terus, tak sengaja dia telah mengangkat pantatnya saat
aku meloncat mundur. Celana pendek dan celana dalam pink itu
pun lolos dengan mudahnya sampai melewat dengkul Marta.

Astaga! Berhasil!

Marta jadi setengah bugil. Satu dua detik Marta pun sempat
terkejut dan terdiam melihat situasi ini. Kugunakan kelengahan
itu untuk meloloskan sekalian celana pendek dan celana
dalamnya dari kakinya, dan kulempar jauh-jauh. Marta sadar,
dia hendak vaginaik dan meronta lagi, namun aku telah siap.
Kali ini kubekap lagi mulutnya, dan kususupkan tubuhku di
antara kakinya. Posisi kaki Marta jadi menjepit tubuhku,
karena dia sudah tak bercelana, aku bisa melihat vaginanya
dengan kelentit yang cukup jelas. Jembutnya hanya menutupi
bagian atas vagina. Marta ternyata rajin merawat alat
genitalnya.

Pekikan Marta berhasil kutahan. Sambil kutekan kepalanya di
sandaran sofa, aku berbisik,

"Marta, kamu sudah kayak gini, kalau kamu teriak-teriak dan
orang-orang dateng, percaya enggak orang-orang kalau kamu lagi
saya perkosa?"

Marta tiba-tiba melemas. Dia menyadari keadaan yang saat ini
berbalik tak menguntungkan buatnya. Kemudian dia hanya
menangis terisak. Kubuka bekapanku di mulutnya, Marta cuma
berujar sambil mengisak,

"Dodi, please... Jangan diapa-apain saya. Ampun, Di. saya
enggak akan bilang Vina. Beneran."

Namun, keadaan sudah kepalang basah, syahwatku pun sudah di
ujung tanduk rasanya. Aku menjawabnya dengan berusaha mencium
bibirnya, namun dia memalingkan mukanya. Tangan kananku
langsung saja menelusup ke selangkangannya. Marta tak bisa
mengelak.
Ketika tanganku menyentuh halus permukaan vaginanya, saat
itulah titik balik segalanya. Marta seperti terhipnotis, tak
lagi bergerak, hanya menegang kaku, kemudian mendesis halus
tertahan. Dia pun pasti tak sengaja mendesah.

Seperti mendapat angin, aku permainkan jari tengah dan
telunjukku di vaginanya. Aku permainkan kelentitnya dengan
...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.